KELUARGA KUDUS NAZARETH CERMIN PELAYAN KREATIF

“Dengan mengarahkan pandangan  yang sabar dan penuh kasih kepada seseorang, sebuah benda, sebuah situasi,kita mencapai pengertian yang semakin benar dan karena itu kita seakan-akan dengan sendirinya sudah tahu apa yang wajib kita lakukan.” (Iris Murdoch )

Manusia seringkali terperangah dengan sistem dan cara kerjanya sendiri. Bahkan tidak jarang pula manusia jatuh dalam pemiskinan dan arogansi moral yang berlebihan. Anak-anak yang mulai khawatir bahkan lari dari kehidupan orang tuanya. Ayah, ibu, maupun anak-anaknya mulai bertindak tanpa dilandasi dengan sebuah nilai-nilai moral yang benar. Pimpinan yang selalu menuntut ini dan itu tanpa dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasionalistis. Anggota-anggota Gereja yang mulai enggan untuk mengikuti kegiatan peribadatan, dan lain sebagainya. Terhadap fakta-fakta ini Romo Magnis Suseno, S.J.  mengatakan demikian: “manusia mewujudkan nilai moral bukan dengan memperhatikan realitas  melainkan dengan bertekad untuk  bertindak secara moral. Dalam dunia kersang bebas tanpa nilai itu kehendak bergerak secara lepas, terisolasi tanpa substansi, bak bayang-bayang berpegang pada bayang-bayang, sebuah solipsisme moral yang menyedihkan”. Baca lebih lanjut

Iklan

MENDENGAR SUARA RAKYAT

Bangsa ini semakin hari seakan berjalan menuju lorong gelap demokrasinya. Produk hukum banyak kali melukai rasa keadilan. Pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam gagal menyejahterakan rakyat.
Integritas diri para pengambil kebijakan publik hilang oleh godaan kekuasaan dan korupsi. Yang ditunjuk sebagai penyebab segala persoalan itu adalah lemahnya karakter sebuah bangsa (Kompas, 8/1).
Namun, keprihatinan yang kiranya lebih mendasar adalah semakin terabaikannya suara rakyat di satu pihak dan tidak dibukanya ruang bagi partisipasi politik rakyat di pihak lain.
Sekali rakyat memberi atau ”dibeli” suaranya, seakan tamatlah haknya untuk didengarkan. Pemerintah menjadi pemain tunggal dan rakyat terus dijadikan penonton yang cemas tetapi tidak berdaya mengubah kesengsaraan nasib.
Baca lebih lanjut

Akhirilah Pembiaran Kekerasan!

Menjelang berakhirnya Ramadan, terjadi sebuah peristiwa langka dan menarik. Pihak-pihak yang sering berseberangan pendapat, berinsiatif mencegah kekerasan. Gerakan Peduli Pluralisme (GPP) menyelenggarakan dialog terbuka bertempat di gedung Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Cikini, Jakarta. Dialog terbuka itu dihadiri wakil-wakil dari KWI, Front Pembela Islam (FPI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dan sejumlah tokoh lintas agama (Antara 1/9).

Baca lebih lanjut

40 tahun imamat P.Sinnema MSF

Dilahirkan di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, yaitu pada tahun 1943 di Duivendrecht sebuah desa di sebelah tenggara kota Amsterdam, negeri Belanda. Pieter dibesarkan di sebuah keluarga kecil dengan tiga orang anak. Pieter adalah anak yang pertama, satu adiknya seorang laki-laki dan yang satunya seorang perempuan.
Ayah Pieter (yang berasal dari keluarga Sinnema) bekerja di rumah pemotongan hewan sebagai seorang jagal, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang dengan kasih dan kesetiaannya mengasuh dan mengasihi anak-anak mereka.

Baca lebih lanjut

Rekoleksi Unio Samarinda Sengata, 08-09 Juni 2010

KITA DIPANGGIL & DIUTUS SEBAGAI PEKERJA YANG MULIA UNTUK KESELAMATAN ALLAH

(bdk. Luk 4:18; Konst MSF. 2; DU. 01)

Membaca riwayat dan pelayanan Pater Berthier semuanya bermuara pada Pelayanan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Mendampingi para peziarah, mendengarkan pengakuan dosa, konsultasi, misi umat (rekoleksi/retret/kunjugan umat), berkotbah, menulis sampai pada puncaknya mendirikan tarekat MSF dalam kerja sama dengan kaum awam dan mengirim para misionaris ke tanah misi merupakan bentuk konkret yang dikerjakan oleh Pater Berthier sebagai yang dipanggil oleh Allah untuk menghadirkan daya penyelamatan Allah bagi keselamatan jiwa-jiwa.

Baca lebih lanjut

RIWAYAT HIDUP PASTOR RAYMUNDUS PRAWIRO SUYONO, MSF (1937 – 2010)

Pastor Raymundus Prawiro Suyono dilahirkan tanggal 30.08.1937 di kota Muntilan. Beliau adalah ke-2 dari 2 bersaudara. Sekolah Rakyat (SR) dijalani pada tahun 1947 – 1953, Seminari Menengah diselesaikan selama 6 tahun dari tahun 1954 sampai tahun 1960 di dua tempat, yaitu Seminari di Sanga-sanga Dalam selama 1 tahun, kemudian dilanjutkan di Seminari Garum Malang dengan tujuan untuk memperlancar Bahasa Jawanya. Selepas Seminari Menengah, beliau kemudian menjalani pendidikan Novisiat di Ungaran Jawa Tengah. Pada tanggal 08.09.1960 Pastor Suyono mengikrarkan kaul pertama di Ungaran. Masa pendidikan Skolastikat dilalui beliau di Jln. Supadi No. 7 Yogyakarta hingga beliau mengikrarkan Kaul Kekal pada tanggal 08.09.1963 di Banteng Yogyakarta.

Baca lebih lanjut

Tersingkirnya “Bonum Commune”?

Setelah berhari-hari menanti hasil kerja Pansus Bank Century, pada klimaksnya, rakyat disuguhi kekaburan berkaitan tindak lanjut pencarian kebenaran dan penegakan hukum atas kasus itu. Tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas hasil kerja Pansus dianggap menabur ketidakpastiaan untuk jalannya pemerintahan. Diramalkan akan ada pertarungan dan benturan kekuasaan antara Presiden dan DPR di hari-hari mendatang (SP, 8/3).
Proses politik yang tampak menyerap energi dan menghabiskan dana yang tidak kecil ini seakan hanya menghasilkan kekisruhan, kekaburan, dan ketidakpastian di ranah publik. Rakyat kecil dalam hati tentu bertanya: demokrasi seperti apa yang sedang dijalani? Jika masih ada sebagian besar warga mempertahankan hidup berbekal nasi aking, untuk kepentingan siapa segala keributan itu?

Baca lebih lanjut