Category Archives: Adat Istiadat

MENGGALI HARTA KARUN YANG TERLUPAKAN

Tahun 1984, Rm. Prier SJ, Bpk. Paul Widyawan bersama saya, menelusuri sungai Barito dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan menuju Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dengan menumpang kapal penumpang yang berfungsi juga sabagai pengangkut barang-barang kebutuhan masyarakat pedalaman.. Belum ada jalan darat yang layak dipakai. Kapal penuh sesak dengan penumpang yang berjejal. Dapat dibayangkan kalau manusia berdesakan dengan barang-barang kebutuhan dengan seribu satu bau menyengat. Makan minum bisa dibeli di warung kapal. Menanak nasi, memasak kuah sayur dan air minum untuk kopi dan teh diambil semuanya dari air sungai yang keruh, (juga digunakan untuk MCK) yang sudah diendapkan dalam beberapa drum bekas. Mandi dan sikat gigi menggunakan air sungai yang sama. Belum ada Aqua atau minuman air jernih sejenisnya. Ketika makan, minum, orang juga tidak mempertanyakan sumber air untuk memasak itu dari mana. Baca lebih lanjut

Keling

Ceritera dari Alexius Nyangun Along, Tiong Ohang

Diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh pastor L. v.d. Sanden msf, Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh pastor H. v. Kleijnenbreugel msf

Keling adalah seorang bangsawan, bangsawan yang luar biasa; kemashurannya tersebar di seluruh dunia. Kemashuran Keling bahkan sampai di surga.

Ketika para penghuni surga mendengarkan ceritera tentang Keling mereka menghendaki bahwa ia akan tinggal bersama mereka. Kesibukan mereka hanya terdiri dari mencarikan daun rokok dan menggulung rokok mereka. Mereka ingin bahwa Keling tinggal bersama mereka maka Keling berangkat menuju surga.

Sumpitan dengan tabung anak sumpit diambilnya lantas ia turun tangga lamin tanpa diketahui orang. Ia mudik sampai di bawah sebuah air terjun. Keling menaiki air terjun itu sampai di atas di mana air turun dengan deras.

Setelah tiba di atas air terjun Keling dilihat oleh ibu Jaai:

“Mau ke mana engkau”, ibu itu bertanya.

“Saya berjalan-jalan saja; saya tidak mempunyai ayah, saya anak yatim-piatu.” Baca lebih lanjut

Asung dan Alut Kiut

Ceritera Pnihing:                     

Ditulis dalam bahasa Belanda oleh past. L. v.d. Sanden msf (1954), Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh past. H. v. Kleijnenbreugel msf

Karena ayah Asung berencana mengadakan perjalanan untuk mengayau maka ibu Asung mulai menumbuk padi sebagai bekal dalam perjalanan.

Tetapi Asung menangis kuat-kuat dan karena itu ibunya melepaskan anting-anting lantas memberikannya kepada puterinya karena dia menangis begitu kuat.

Anak itu mengamat-amati lewat celah dinding dan melihat ibunya sedang menumbuk padi. Pada akhirnya anak itu tertidur dan membiarkan anting-anting jatuh. Anting-anting jatuh tepat ke dalam lobang lesung sehingga tertumbuk oleh ibunya. Tetapi ketika ibu mulai menampi padi dilihatnya sesuatu yang mengkilat dalam padi. Ia mengumpulkan barang yang mengkilat itu lantas membawanya ke dalam rumah. Ia menaruh bambu-bambu yang berisi air ke dalam keranjang rotan, membangunkan anaknya dan kemudian mereka bersama-sama pergi mandi. Seusai mandi mereka kembali ke rumah.

Ibu menyusui anaknya sambil bertanya:

“Asung, dimana anting-antingku?”

“Saya tidak tahu,” jawaban anak. “Boleh jadi ia jatuh waktu saya tidur.”

Kemudian ibu mengutuk anaknya: Baca lebih lanjut

Batu Bavui

Bila bertemu dengan batu biasa orang Dayak melewati begitu saja tetapi bila bertemu dengan batu yang menyerupai sesuatu, entah kenyataan entah dalam khayalannya, batu itu menjadi bagi dia orang atau benda yang telah membatu. Kemudian ia menceriterakan bagaimana orang laki-laki atau perempuan ini, kampung ini, pondok ladang ini, tumpukan kayu ini atau perahu ini tiba-tiba pada suatu saat dijadikan batu oleh roh-roh sebagai hukuman.

Itulah beberapa catatan saya tentang sejarah batu suku Dayak yang belum saya terbitkan. Baca lebih lanjut

Ekaristi dan Keutuhan Lingkungan

Apa kaitan antara Doa Syukur Agung dan keutuhan alam ciptaan?

Pengantar

Petaka dan musibah yang sering terjadi di negara kita kerap disikapi oleh umat beriman dengan berdoa bersama. Tak jarang munculnya banjir, tanah longsor, kekeringan, meluapnya lumpur Lapindo, menjadikan kita termenung: apa alasan semua kejadian itu? Tegakah Tuhan memberi hukuman kepada umat sedemikian berat dan bertubi-tubi? Atau: sejauh mana sebenarnya manusia sendiri “ikut ambil bagian” dalam memunculkan musibah itu? Ditengarai, kerusakan lingkungan yang dibuat oleh manusia sendiri menjadi penyebab utama dari pelbagai malapetaka yang muncul akhir-akhir ini. Kalau hal ini bisa dibenarkan, maka pertanyaannya: usaha apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan keutuhan lingkungan?

Sebagai umat Katolik, kita bisa merenung bertolak dari kegiatan sentral ibadat kita, yaitu: Perayaan Ekaristi. Sebenarnya tak mudah menghubungkan secara langsung Ekaristi dan Keutuhan Lingkungan alam semesta. Ekaristi adalah ibadat yang menjadi pusat, puncak dan sumber kehidupan umat beriman, sedangkan dunia dan lingkungan alam semesta merupakan kenyataan yang menjadi tempat hidup dan berkiprahnya umat manusia. Ibadat, sejauh dimengerti sebagai ungkapan iman formal kurang bersinggungan langsung dengan soal-soal kongkrit, nyata dan bersifat duniawi. Apabila kita bertolak dari makna Liturgi sebagai puncak dan sumber kehidupan Gereja, namun bukan satu-satunya kegiatan Gereja, maka kita dapat menegaskan bahwa kegiatan amal kasih, kerasulan dan tindak kesalehan umat beriman selayaknya menjadi terang dunia dan dimaksudkan untuk memuliakan Bapa (bdk. Konstitusi Liturgi, art. 9). Dari sisi ini kita dapat lebih memfokuskan permenungan pada makna Ibadat Ekaristi yang intinya ada pada Doa Syukur Agung. Hasilnya diharapkan dapat memberi terang pada usaha untuk melestarikan dunia dan lingkungannya. Baca lebih lanjut

Mahakam Yang Tak Lagi Ramah

Hutan rimba dengan aliran sungai Mahakam yang jernih, dalam sejarah awal bumi Borneo sebagai simbol kekuatan dan keramahan penghuninya kini tinggal cerita. Sejarah alam Kalimantan Timur yang ramah dengan alamnya, kini mengisahkan duka dan jeritan kemiskinan bagi para penghuninya. Ketamakan dan keserakahan manusia telah menciptakan bencana baru yang salah satunya adalah bencana sungai Mahakam yang tak lagi jernih sejernih nurani para pengguna jasa kebaikannya. Menjadi nyata bahwa penyebab segalanya ini adalah melunturnya kearifan budaya lokal yang seharusnya menampakkan wajah dan identitas para anggotanya.

YESUS YANG RAMAH LINGKUNGAN Baca lebih lanjut

Perjalanan Banjarmasin – Danum Paroi

M. Gloudemans

Maret sampai Mei 1936

27 Maret 1936 Kami mudik, singgah sebentar di Tenggarong tetapi kami diminta oleh seorang petugas Sultan untuk terus mudik karena jamban itu khusus untuk kapal Sultan. Memang pertaturan itu benar tetapi alangkah baiknya ada kelunakan sedikit dari Yang Mulia.

Malam hari kami tiba di Muara Kaman. Hari berikutnya kami sampai Kota Bangun di mana kami bertemu dengan tuan v.d. Woude.

Malam hari kami sampai Muara Pahu. Sungai menjadi indah dengan panorama bergantian. Suasana tenang. Baca lebih lanjut