PASKAH DAN SUARA KRITIS TOKOH AGAMA

Umat Kristiani memasuki Perayaan Paskah dalam suasana di Tanah Air yang ditandai kekerasan sosial. Kasus “bom buku” belum tersingkap, kini muncul teror bom di masjid Mapolres Cirebon yang mengakibatkan jatuhnya korban di kalangan aparat kepolisian setempat. Aksi kekerasan pun telah terjadi antara TNI dan rakyat kecil di Kebumen, Jawa Tengah dalam kasus sengketa tanah. Rangkaian kekerasan itu semakin meredupkan jalannya demokrasi yang ingin dibangun di negeri ini. Banyak hal menyangkut pengelolaan hidup bersama dirasakan tidak berjalan dengan baik. Telah beberapa kali para tokoh lintas agama menyuarakan kritikannya yang pedas terhadap pemerintah dan para politisinya. Kritik terakhir dilontarkan terkait enam kebohongan baru pemerintah dan sikap keras kepala para wakil rakyat untuk tetap membangun gedung DPR mewah di tengah penderitaan rakyat.
Bukankah pemimpin agama seharusnya berdiam diri di masjid, gereja, kuil, vihara atau di tempat pertapaannya untuk mengurusi hal-hal rohani? Mengapa kini mereka ikut mencampuri urusan “duniawi” dan “kotor” seperti politik? Pertanyaan-pertanyaan yang demikian kiranya telah membingkai serangan balik segelintir politisi yang menyamakan tokoh lintas agama sebagai “gagak hitam pemakan bangkai.”
Sejak Pascal dan kemudian Revolusi Prancis memang sangat disadari perlunya pemisahan antara tatanan kerohanian (mistica) dan tatanan politik (politica) di ranah publik. Ketika tatanan kerohanian terbaur politik, ia kehilangan watak religiusnya dan politik yang berbaju rohani akan menjelma menjadi pemerintahan tiran dan totaliter (bdk., Paul Valadier, Lo spirito e la politica, 2011: 5-8). Namun benarkah agama dan nilai kerohanian yang diusung para pemimpin agama harus dibersihkan dari politik?
Ketidakpuasan terhadap para wakil rakyat telah menyulut seruan agar rakyat mencabut mandat DPR, karena anggotanya dianggap arogan, tidak beradab dan telah kehilangan legitimasinya sebagai wakil rakyat. Ketika Ketua DPR menggangap rakyat bodoh dan tidak perlu diajak berbicara, demokrasi yang ingin dibangun di negeri ini kehilangan fondasinya. Hal itu menjelaskan pula mengapa Indeks Demokrasi Global yang dikeluarkan Economist Intelligence Unit tahun 2010, menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 167 negara. Indeks demokrasi Indonesia jauh lebih rendah dari negara-negara tetangga seperti Papua Nugini (ke-59), Thailand (ke-57) dan bahkan kalah dari Timor Leste (ke-42).
Penulis dan pemikir Perancis Charles Péguy (1873-1914), pernah berujar, “La politica si beffa della mistica, ma è ancora la mistica a innervare la politica”, (Politik memperolok hidup mistik, namun hidup mistiklah yang membuat panik dunia politik).
Situasi di Tanah Air memperlihatkan bahwa campur tangan para tokoh agama di ruang publik telah membuat panik para politisi. Para tokoh agama yang mewakili aspek “mistica” atau aspek kerohanian dalam ranah publik menggugat pemerintah dan politisi untuk memenuhi janji dan menuntaskan banyak kasus yang mencuat ke ranah publik  etapi kemudian tenggelam tanpa penyelesaian.
Sekali lagi mengapa para tokoh lintas agama merasa perlu angkat bicara dalam ranah politik saat ini? Jawabannya tidak semata karena kini semua saluran demokratis untuk menyatakan inspirasi telah tertutup. Krisis terdalam yang kini dialami pemerintah dan aparatnya adalah berkembangnya politik tanpa jiwa. Dipraktekkan politik tanpa “mistica” akni pengabaian nilai-nilai luhur bagi kepentingan bersama.
Sikap wakil rakyat yang seakan tercerabut dari kenyataan rakyat, semakin memperkuat dugaan bahwa politik dijalankan hanya untuk kepentingan dan kemakmuran para elite politik. Filsuf perempuan Hannah Arendt menegaskan bahwa hidup politik (baca: vita activa), tanpa dilandasi nilai-nilai kerohanian (baca: vita contemplativa), akan mereduksi manusia ke tingkat “animal laborans” (binatang pekerja). Maksudnya, politik tanpa kerohanian akan mereduksi manusia hanya pada aspek “kebinatangannya” karena tujuan kegiatannya hanya terarah pada mempertahankan kebutuhan dasarnya dan mereproduksi diri sendiri (Hannah Ardendt, Vita activa. La condizione umana, 2001).
Mengikuti logika Arendt, bagi rakyat kecil, politik hanya urusan rebutan rezeki dan kekuasaan antar elite partai dan pejabat pemerintahan. Tindakan dan keputusan yang dihasilkan lebih merupakan ekspresi watak “animal laborans” yang kerjanya mengejar kebutuhan tak terpuaskan akan harta, kenikmatan (baca: nonton video porno) dan mereproduksi diri dalam kekuasaan tanpa kontrol.
Para pemimpin agama yang memasuki arena politik di Tanah Air sejauh ini tidak ada yang ingin meraup kekuasaan dengan “menjelekkan” pemerintahan yang ada. Keberpihakan mereka terhadap nasib rakyat kiranya dipicu oleh semangat memberi pencerahan. Meminjam filsuf dan teolog Bernard Lonergan (1904-1984), sumbangan para tokoh gama di ruang politik adalah membantu para politisi mencapai transendensi diri (pemberian diri) dan pengorbanan diri (selfsacrifice) bagi kepentingan rakyat pada umumnya.
Memihak Kebenaran
Dalam perayaan Paskah, penderitaan Yesus dialami sebagai yang merangkum dan memantulkan derita manusia masa kini. Derita Yesus memberi pertanyaan kritis terhadap situasi mapan para penguasa yang inginmelanggengkan kekuasaan dan kenikmatan hidupnya dengan membiarkan kebenaran diperkosa dan ketidakadilan sosial membunuh kaum miskin.
Jika jiwa tamak akan harta, gaya hidup mewah dan arogansi kekuasaan yang lebih ditampilkan di ranah publik, para tokoh spiritual terpanggil menyuarakan nurani rakyat di ruang politik. Jika para pemimpin agama bungkam dihadapan derita rakyat, maka yang dipertaruhkan adalah otentisitas hidup keagamaan mereka.
Para tokoh lintas agama menghayati apa yang telah dilakukan Yesus, yakni memihak kebenaran dan rakyat kecil. Cara perjuangan Yesus tidak dilakukan untuk polularitas dan keuntungan politis melalui kekerasan. Ia melakukan embelaan dengan memberi diriNya sendiri. Tindakan pengorbanan diri yang mengatasi egoisme.
Yesus tampil di hadapan para penguasa bukan karena senang bermain politik, sampai dihukum mati, tetapi karena kasihnya yang berpihak terhadap semua yang terpinggirkan dan berada dalam kegelapan hidup.
Sikap seperti itulah yang kiranya telah diambil para tokoh lintas agama. Memasuki ranah politik sebenarnya bukan sebuah kenikmatan bagi seorang rohaniwan. Ia lebih merupakan sebuah panggilan batin dan tangisan rohani yang diekspresikan untuk menghentikan penderitaan rakyat kecil yang menjadi korban kebijakan para elite politik di negeri ini.

Paulinus Yan Olla

3 responses to “PASKAH DAN SUARA KRITIS TOKOH AGAMA

  1. siang
    nama saya noldhy. apa persyaratan masuk msf.kebetulan saya merasa tertarik untuk megikutinya. ini alamat e-mail saya noldhy_jemadu@yahoo.co.id

  2. semoga bermanfaat
    salam hangat gan

  3. […] prepare for planning goals foru00a02016 I am reviewing the past year. Here is a look back at the top five books I read in […] Click https://twitter.com/moooker1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s