SENGSARA YESUS (dan Maria)

Kisah diawali peristiwa Yesus dielu-elukan oleh orang banyak. Yesus disambut bagai raja. Tapi Yesus tidak mau menjadi raja. Penyambutan Yesus hanya berlangsung sesaat, karena Dia lalu masuk dalam sengsara.  Kisah sengsara Yesus bisa jadi juga dialami orang pada jaman sekarang, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Misal: buruh ditindas majikan, istri ditindas suami atau bahkan suami direndahkan istri, anak-anak ditekan orangtua. Atau, orang yang menderita sakit bertahun-tahun, orang yang dihina, dilecehkan, dsb. Ada begitu banyak “kisah sengsara” yang terjadi di dunia ini.
Saat kita mengalami kesulitan hidup, penyakit, penindasan, mungkin kita bertanya-tanya: “Tuhan di manakah Engkau? Mengapa Engkau meninggalkan aku?” Persis itu yang dikatakan Yesus ketika dipaku di kayu salib: “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”  Lalu Yesus berkata: “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Yesus Kristus telah membuka hati kita, bahwa dalam penderitaan dan kesengsaraan, masih ada harapan. Ketika kita mengalami sengsara, ketika harapan seakan menghilang, ketika iman mulai pudar, ketika cinta mulai layu; kita ingat kepada Yesus, dan berkata: “Tuhan Yesus, kuserahkan diri hamba ke dalam tangan-Mu”.

Kita dapat memberi arti bagi penderitaan kita, jika kita menerima penderitaan itu bersama dengan Yesus. Hal ini mudah untuk orang-orang yang dapat menerima penderitaannya; misalnya sakit yang ringan-ringan saja, yang dapat diterima dengan sabar. Tapi akan menjadi sulit jika penderitaan kita begitu berat. Kita ingat akan mereka yang sedang menderita akibat banjir di Situ Gintung, Merapi, Wasior,Tsunami Aceh, Gempa Bumi Jogja, dsb.. Harta benda, bahkan keluarga yang dicintai tiba-tiba musnah. Pasti penderitaan mereka yang mengalami Situ Gintung dsb. amat berat untuk diterima dengan sabar dan penuh iman.
Yesus mengajarkan kepada kita bahwa penderitaan kita sungguh-sungguh tidak berarti, jika kita tidak mampu menerimanya dengan sadar dan bebas. Penderitaan itu punya arti apabila kita mampu menghadapinya seperti yang dilakukan oleh Yesus; jika kita menerimanya bersama dengan Yesus.
Kisah sengsara bukan sekedar cerita belaka. Kisah sengsara memberi pelajaran bagi kita. Orang yang berpasrah kepada Allah seperti Yesus, akan memperoleh kehidupan abadi seperti Yesus yang bangkit dari kematian. Kisah sengsara bukan untuk menimbulkan perasaan haru, tetapi untuk membuat kita makin menyadari bahwa Allah menyertai kita. Kisah sengsara ingin menunjukkan bahwa Allah selalu bersama kita. Allah tidak bakal meninggalkan kita sendirian. Inilah kabar baik bagi kita semua.
Yesus tergantung di salib! Merupakan bukti kasih Allah; ini menunjukkan akhir dari Dirinya Sendiri, yang dilakukan Inkarnasi Sabda di atas bumi ini – sungguh, suatu manifestasi sengsara, tetapi, terlebih lagi, manifestasi kasih. Kita kadang kala suatu hari merenungkan Kasih Ilahi dalam pribadi Yesus yang Tersalib, kita tak akan pernah mampu memahami betapa luar biasanya kasih ilahi yang dilimpahkan atas kita, hingga Ia rela wafat demi kasih kepada kita.

Jika kita memandang tubuhNya yang tergantung di atas salib, tiadalah yang kita lihat selain dari luka-luka dan darah; lalu, apabila kita mengarahkan perhatianku pada hati Yesus, kita mendapati hati-Nya sepenuhnya sengsara dan berduka. Di atas salib kita melihat ada tertulis bahwa Engkau adalah raja; tetapi tanda-tanda kerajaan apakah yang ada pada-Nya? Kita melihat tak ada tahta kerajaan, selain dari pohon salib kehinaan ini; tak ada jubah ungu, selain dari daging-Nya yang penuh luka dan darah; tak ada mahkota, selain dari anyaman onak duri yang menyiksa-Dia. Itu semua menyatakan bahwa Yesus adalah raja kasih! ya, sebab salib ini, paku-paku , mahkota duri, dan luka-luka, semuanya, adalah tanda kasih.

Yesus, dari atas salib, tidak menuntut belas kasihan dan kasih sayang yang begitu besar dari kita; dan, jika toh Ia meminta belas kasihan kita, Ia memintanya semata-mata hanya agar belas kasihan itu menggerakkan kita untuk mengasihi-Nya. Karena Ia adalah kebaikan yang tak terbatas, sudah sepantasnyalah Ia mendapatkan segenap kasih kita; tetapi, saat tergantung di atas salib, seolah-olah Ia merindukan kita untuk mengasihi-Nya, sekurang-kurangnya karena belas kasihan kepada-Nya.

Siapakah gerangan yang tak hendak mengasihi Yesus, kita mengakui bahwa Yesus Tuhan, dan merenungkan bahwa Dia yang tergantung di atas salib adalah Tuhan. Luka-luka Yesus, kobaran api kasih memikat, mengundang kita dalam kobaran api cinta kasihNya. Dengan api kasih yang kudus Yesus rela wafat bagi kita yang sebenarnya layak untuk masuk neraka (jauh dari Allah). Yesus mau menerima manusia pendosa, yang menyesal yang telah menghina Dia dengan segala perbuatan dosa. Manuasia yang tulus hati rindu untuk mengasihi Yesus yang kebaikanNya tak terbatas, yang kasihNya tak terhingga

Yesus di atas salib disengsarakan oleh khalayak ramai yang tak berperikemanusiaan. Apakah ini yang Ia lakukan? Ia berdoa bagi mereka dengan mengatakan: “Ya BapaKu, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Dalam sakrat maut Yesus memanjatkan doa kepada Bapa memohon pengampunan bagikita juga, kita manusia yang telah begitu sering menghina Nya. Kemudian, Yesus berpaling kepada penyamun yang baik, yang berdoa mohon belas kasihan-Nya, dan menjawab: “Pada hari ini juga engkau akan bersama-Ku di Firdaus”  Dalam kitab Yeheskiel dikatakan bahwa apabila seorang pendosa bertobat atas dosa-dosanya, maka Ia akan menghapus dari ingatan-Nya segala pelanggaran yang telah dilakukannya: Tetapi, apabila orang fasik bertobat … Aku tidak akan mengingat-ingat segala kesalahannya (cf. Yeheskiel 18: 27; 33; 19).

Yesus, dalam sengsara-Nya di atas salib, dengan setiap bagian tubuh-Nya penuh siksa dan aniaya, dan segala dukacita dalam jiwa-Nya, mengarahkan pandangan-Nya ke sekeliling dan tak mendapati seorang pun yang memberi-Nya penghiburan. Yesus mohon penghiburan kepada BapaNya, bahkan Ia juga meninggalkan-Nya; dan saat itulah Yesus berseru dengan suara nyaring:’ AllahKu, ya AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ditinggalkan oleh Bapa yang Kekal mengakibatkan penderitaan Yesus Kristus menjadi semakin pahit, lebih pahit dari yang pernah dialami siapa pun; sebab wafat-Nya adalah wafat dalam sengsara yang sempurna, dan tanpa adanya penghiburan sedikit pun.

Di sana, dekat salib Yesus, berdiri Bunda-Nya. Kita melihat dalam Ratu Para Martir ini, suatu kemartiran yang lebih kejam daripada kemartiran lain manapun – bahwa seorang ibunda hadir demi menyaksikan Putranya yang tanpa dosa dijatuhi hukuman mati dengan tiang kehinaan: “ia berdiri”. Sejak Yesus ditangkap di taman, Ia telah ditinggalkan oleh para murid-Nya, tetapi Bunda Maria tidak meninggalkan-Nya. Ia ada bersama-Nya hingga ia menyaksikan-Nya wafat di hadapan matanya: “ia berdiri dekat salib”. Para ibu, pada umumnya, menghindarkan diri dari hadapan anak-anaknya ketika mereka harus menyaksikan anak mereka menderita, sementara dirinya tak dapat melakukan apa-apa untuk meringankan beban anaknya itu: mereka akan lebih suka andai mereka sendiri yang menanggung penderitaan anaknya; sebab itu, ketika mereka melihat anaknya menderita tanpa berdaya meringankan beban mereka, para ibu tidak memiliki kekuatan untuk menanggung dukacita yang demikian besar, dan karenanya menghindarkan diri dan pergi menjauh. Namun, tidak demikian halnya dengan Bunda Maria. Ia melihat Putranya dalam sengsara; ia melihat bahwa segala kesakitan-Nya akan menyebabkan kematian-Nya; tetapi ia tidak melarikan diri ataupun pergi menjauhkan. Sebaliknya, ia datang mendekati Salib di mana Putranya sedang meregang nyawa.

Maria berdiri dekat salib. Jadi, salib adalah pembaringan di mana Yesus menyerahkan nyawa-Nya; ranjang sengsara, di mana Bunda yang berduka memandangi Yesus, sekujur tubuh-Nya diliputi luka-luka akibat dera dan duri. Bunda Maria mengamati bagaimana Putranya yang malang, yang tergantung di antara tiga paku besi, tak dapat menempatkan tubuh-Nya  dengan nyaman ataupun beristirahat. Betapa ingin ia meringankan beban derita Putranya; ia berharap, setidak-tidaknya, karena Ia harus wafat, diijinkan baginya agar Ia wafat dalam pelukannya. Tetapi, segala kerinduannya hanyalah sia-sia belaka.

Bunda ini harus menyaksikan Putra yang sedemikian, wafat dalam sengsara tepat di hadapan matanya!

Kesetiaan

TUHAN menuntut KESETIAAN kita kepada-Nya. Sebab lebih dari sekedar sebuah pertanyaan, MELAYANI atau DILAYANI, hal yang paling hakiki dari kehidupan kekristenan adalah dibangun diatas sebuah kesetiaan. Sebab bila kesetiaan hadir dalam hidup kita, maka kita tidak akan mempersoalkan kapan kita akan dilayani melainkan dengan senang hati kita akan melayani oleh karena sebuah kesadaran bahwa hidup kita hanya berdasar pada kasih setia TUHAN.

Kesetiaan ini bukan sesuatu yang ”given”, atau datang dengan sendirinya, tetapi harus diupayakan dan ditumbuhkembangkan. Sebab orang yang setia tidak dilahirkan tetapi dibentuk. Ada upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk menjadi seorang yang taat sehingga kelak menjadi pemenang iman.
Pertama, kesetiaan harus dimulai dari perkara-perkara kecil. Untuk berjalan seribu langkah, kita harus memulai dengan satu langkah. Untuk menjadi seorang mahasiswa, kita harus mulai dari Sekolah Dasar. Begitu juga dalam hal kesetiaan. Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).
Sulit mengharapkan seseorang dapat tetap teguh dan setia menghadapi berbagai kesulitan hebat, kalau janji saja seringkali tidak ditepati. Sulit mengharapkan seseorang bisa dengan gagah berani bertahan menghadapi tantangan dan ancaman demi imannya kalau, misalnya, ke gereja saja jarang dan malas-malasan, baca Alkitab atau berdoa saja sesekali kalau lagi mau.
Kedua, kesetiaan harus diperjuangkan. Ada harga yang harus dibayar. Untuk setia ke gereja, membaca Alkitab, berdoa dan melakukan tanggung jawab lain sebagai orang beriman, kerap kita harus berjuang melawan kemalasan, keengganan, rasa lelah. Bahkan kita juga harus berjuang menghadapi banyak rintangan yang datang dari luar diri kita, mungkin cuaca yang buruk, acara bagus di TV, atau berupa sikap tidak simpatik dari orang lain.
Tetapi memang justru di situlah letaknya arti mengikut Kristus, seperti yang dikatakan-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku.” (Markus 8:34). Menyangkal diri berarti menahan diri dari segala keinginan yang secara lahiriah enak dan menyenangkan. Memikul salib tidak hanya berarti dalam perkara besar, tetapi juga dalam keseharian, yaitu ketika kita mau melakukan sesuatu yang tidak kita senangi tetapi toh harus dilakukan sebagai bagian tanggung jawab hidup beriman kita.

F.X. Sumantoro P. MSF

(bahan refleksi untuk unio Samarinda)

One response to “SENGSARA YESUS (dan Maria)

  1. tarcisius tjan fen fat

    mohon tolong alamat rm Vincentius Wahyu Haryanto MSF,asal Semarang,konon skrng di Tanjungselor.trmksh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s