MENGGALI HARTA KARUN YANG TERLUPAKAN

Tahun 1984, Rm. Prier SJ, Bpk. Paul Widyawan bersama saya, menelusuri sungai Barito dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan menuju Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, dengan menumpang kapal penumpang yang berfungsi juga sabagai pengangkut barang-barang kebutuhan masyarakat pedalaman.. Belum ada jalan darat yang layak dipakai. Kapal penuh sesak dengan penumpang yang berjejal. Dapat dibayangkan kalau manusia berdesakan dengan barang-barang kebutuhan dengan seribu satu bau menyengat. Makan minum bisa dibeli di warung kapal. Menanak nasi, memasak kuah sayur dan air minum untuk kopi dan teh diambil semuanya dari air sungai yang keruh, (juga digunakan untuk MCK) yang sudah diendapkan dalam beberapa drum bekas. Mandi dan sikat gigi menggunakan air sungai yang sama. Belum ada Aqua atau minuman air jernih sejenisnya. Ketika makan, minum, orang juga tidak mempertanyakan sumber air untuk memasak itu dari mana. Semua makan dengan lahap dan minum dengan kepuasan seorang musafir yang kehausan. Perjalanan ditempuh dalam jangka waktu kurang lebih 24 jam. Keletihan diatasi dengan menikmati keindahan lika-liku sungai, memandang kampung-kampung penduduk setempat, dengan pemandangan khas tepi sungai, orang mandi dan melakukan aktivitas khas sungai (MCK). Bagi pendatang baru, merasa sangat rugi kalau tidak menikmati semuanya ini. Hutan masih menampilkan hutan perawan dengan bekantan (sejenis kera hidung panjang), kera-kera panjang ekor, burung-burung aneka warna yang masih berlompatan dan terbang di atas pepohonan, Kadang-kadang menyaksikan ular menyeberangi sungai, atau kadang-kadang memandang buaya yang bermalasan berjemur di pantai. Semua berjalan seperti aliran sungai, tidak saling mengganggu. Kadang-kadang ada penumpang yang mengajak bicara, tetapi bagi pendatang sering agak bingung karena menggunakan bahasa Banjar atau bahasa Maanyan / Dusun, bahkan bahasa Ngaju. Kalau menggunakan bahasa Indonesia, logat kedaerahan sangat kental. Itulah rutinitas dalam suatu perjalanan menggunakan jalan air.
Loka Karya Musik Liturgi.

Dalam pertemuan nasional musik liturgi pertama di Yogyakarta yang mencetuskan ide untuk menciptakan buku nyanyian baru sabagai pengganti buku nyanyian JUBILATE  yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan liturgi baru, ditugasi PML untuk mempersiapkan buku baru, yang kemudian diterbitkan buku nyanyian MADAH BAKTI, waktu itu masih menggunakan cover merah dan kuning. Pada waktu itu diperkenalkan beberapa lagu dari Jawa dengan nada khas Jawa, lagu Papua dengan nada khas Papua, lagu bergaya Melayu dan Kal-Bar.

Beberapa komponis menggubah lagu-lagu tsb. dan masih sporadis. Sepulang dari pertemuan tsb. hati selalu terusik, mengapa tidak menggali khasanah daerah yang hampir punah dan sudah mulai terlupakan. Mengapa budaya daerah yang sangat kaya tidak dimanfaatkan. Mengapa budaya yang beraneka itu tidak digali dan dikembangkan? Hampir semua lagu liturgi adalah terjemahan lagu-lagu liturgi di Eropah. Banyak yang sangat indah. Tetapi Indonesia sangat kaya dengan budayanya, yang bisa menelorkan sebuah karya nyanyian liturgi yang khas budaya setempat, termasuk tarian dan upacara adat yang sangat kaya dan variatif. Bpk. Soedjasmin alm., seorang komponis besar, yang hadir pada konggres musik liturgi pertama itu, dan duduk di samping saya, mendukung upaya menggali khasanah budaya lokal. Cukup lama wacana penggalian itu terpendam dalam hati. Sepulang dari Manila, PML diundang untuk datang ke Buntok untuk bersama-sama menggali khasanah budaya yang hampir tenggelam ini. Budaya setempat pasti masih tersimpan melalui para kepala adat, orang tua-tua, tokoh-tokoh agama asli Hindu-Keharingan,  tukang-tukang belian, dukun-dukun dan para pemerhati budaya. Kabupaten Barito Selatan terdiri atas beberapa sub suku Dayak: Ma’anyan, Dusun, Taboyan dan Ngaju’ Ketiga sub-suku ini telah lama menganut agama Kristen dan agama sepertinya tidak mengijinkan untuk memelihara dan mengembangkan budaya karena dianggap ada hubungan dengan kekuasaan kegelapan. Dalam istilah mereka, masih ada hubungan dengan budaya kafir, terutama dari agama-agama beraliran fundamentalis. Terlepas dari pemahaman tsb. seorang pendeta dari suku Ma’anyan, Pendeta Dr, Fridolin Ukur, mengadakan penelitian dan menulis sebuah buku: Tantang-Jawab Budaya Dayak. Gubernur pertama Kalimantan Tengah, Bpk. Tjilik Riwut alm. juga menulis sebuah buku mengenai budaya Dayak. Ada juga seorang pemerhati budaya yang mengumpulkan lagu-lagu daerah Ma’anyan, Dusun dan Taboyan. Jumlah mereka dapat dihitung dengan jari.

Disamping pengaruh agama yang tidak mendukung, budaya Banjar sangat dominan dalam budaya sub-sub suku ini. Bahasa pergaulan didominir oleh bahasa Banjar. Pakaian adat sangat dipengaruhi oleh pakaian adat Banjar. Sub-sub suku ini bahkan tidak tahu lagi bagaimana pakaian adat mereka. Hanya beberapa tarian: Belian Bawo, Tari Giring-Giring dan Belian Dadas masih cukup popular dan dipertahankan. Dan budaya sub suku di pedalaman Barito ini, pelan-pelan terpendam, dan generasi selanjutnya tidak mengetahuinya lagi.

Dasar pemikiran untuk mengadakan suatu loka karya music liturgy di Buntok adalah kenyataan berkembangnya Gereja Katolik yang sangat pesat. reka menjadi Katolik sebagai seorang Dayak. Iman mereka terhadap Allah adalah iman seorang Dayak. Allah bagi mereka adalah Allah yang dikenal sebagai Allah orang Dayak. Seperti orang Yahudi yang hanya mengenal Yahwe sebagai Allah orang Yahudi. Maka pada jaman itu, siapun yang ingin menjadi pengikut Kristus, harus disunat yang berarti harus menjadi Yahudi agar bisa mengenal Allah Yahudi. Konsili Yerusalem membatalkannya karena Gereja sudah berkembang ke manca Negara. Orang Dayak harus mencari wajah Allah dalam budaya Dayak sehingga kehadiran dan relasi timbal balik Allah dan orang Dayak harus dilihat dalam warna budaya Dayak. Berkaitan dengan pemahaman seperti itu, seharusnya banyak upacara keagamaan yang harus diinkulturasikan dalam budaya Dayak. Mengapa upacara permandian, perkawinan dan kematian tidak menggunakan unsur-unsur budaya setempat, yang juga mempunyai upacara-upacara seperti itu, dengan memperhatikan unsur-unsur hakiki dari Katolik? Memang harus dijaga jangan sampai muncul sinkretisme. Perayaan Ekaristi memang tidak bisa dirombak, karena sudah baku untuk seluruh dunia. Tetapi mengapa tidak meng-akkulturasi-kan tarian-tarian khas daerah? Banyak hal bisa di-akkulturasi-kan. Disamping tarian, pakaian misdinar bisa menggunakan busana setempat, bahan persembahan disamping bahan pokok persembahan, roti dan anggur, dapat menggunakan bahan-bahan khas daerah. Salah satu hal yang sangat perlu dikembangkan adalah bagaimana menciptakan suatu lagu dengan nada dan warna daerah, dan musik iringan dengan alat musik tradisional. Berangkali masa kini bisa dibandingakan dengan Tony Waluyo Sukmoasih (Tony Q Rastafara) yang membalut musik reggae dengan balutan musik tradisional, mengaloborasikan alat-alat musik tradisional.

Ketika ada rencana team dari PML akan datang, maka tokoh-tokoh adat, para pemimpin upacara adat, dukun-dukun, pemerhati budaya dari sub-sub suku Dayak Barito Selatan dan Utara dikumpulkan. Mereka yang diundang, sungguhpun transportasi pada waktu itu sangat sulit, semuanya datang dengan penuh antusias dengan hanya bermodalkan pengetahuan mengenai budaya mereka. Beberapa masih sangat menguasai lagu-lagu dan tarian tradisional.
Proses loka karya dimulai dengan memberikan beberapa potongan teks dari mazmur untuk lagu pembuka, dan membiarkan mereka untuk menciptakan sebuah lagu dengan warna khas suku masing-masing. Hasilnya luar biasa. Dengan kesederhanaan mereka, mereka mampu menciptakan lagu-lagu baru. Beberapa mengambil lagu yang sudah ada, dan menyesuaikan lagu dengan teks yang diberikan. Teks tidak harus diikuti secara harafiah. Mereka bebas mengarang syair yang sesuai dengan taks. Teks hanya untuk bahan acuan. Teks yang sudah jadi, dikoreksi dan hasil akhir dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi. Metoda inilah yang dikembangan selama seminggu. Malam hari dalam kesempatan rekreasi, para peserta dengan spontan mempersembahkan tarian-tarian khas daerah masing, tanpa menggunakan busana tarian. Dampaknya, banyak ember plastik yang jebol karena dijadikan gendang. Perlu diperhatikan bahwa suku Ma’anyan, Dusun, Teboyan pada umumnya menggunakan tambur, gong dan bonang untuk iringan tarian, sedangkan suku Ngaju banyak menggunakan alat musik karungut, sejenis gitar kecil dengan tiga senar.

Suatu sore, sebuah grup tarian khas Ma’anyan mempresentasikan upacara syukur panen dalam bentuk tarian yang sangat indah. Gerak tarian mereka menggunakan unsur dasar tarian sub-suku Ma’anyan. Dan alangkah indahnya kalau upacara ini di-inkulturasi-kan dalam upacara syukur panen Katolik.
Setelah rangkaian loka karya selesai, kami masih mengunjungi beberapa desa untuk menemui beberapa tokoh adat yang masih banyak mengetahui mengenai budaya setempat.
Loka karya pertama ini bisa menelorkan tidak kurang dari 15 (lima belas) lagu dengan warna budaya sub-suku Ma’anyan, Dusun, Teboyan dan Ngaju’. Sekarang kebanyakan dari para komponis etnis sub suku tsb telah dipanggil Tuhan dan mereka telah merintis sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Perhatian pemerintah untuk mengembangkan budaya sekarang telah membangkitkan lagi upaya pengembangan dan penggalian budaya setempat.

Samarinda, 20 Januari 2011
P. Frans Huvang Hurang MSF
Paroki st. Lukas, Samarinda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s