Monthly Archives: Januari 2011

Khotbah Misa Syukur HUT Ke-94 Mgr. Demarteau MSF – 24 Jan 2O11

Dari perjumpaan dengan Mgr. Demarteau MSF, salah satu hal yang saya pelajari bagi kehidupan saya (sekurang-kurangnya) dari pribadi Beliau adalah upaya tak kenal putus dan tak kenal lelah untuk membuat hidup menjadi “tidak berkarat”. Ketakberkaratan itu terjadi karena Mgr, Demarteau mengisi kehidupannya dengan membaca dan menulis. Dengan cara itu, seperti yang pernah dikatakan oleh Mgr. Demarteau sendiri, otak Beliau menjadi tidak berkarat, dan karenanya hidupnya pun menjadi tidak berkarat. Hampir semua orang yang mengenal Mgr, Demarteau tahu bahwa dalam usia yang ke-94 ini banyak hal dalam kemampuan fisik Mgr, Demarteau sudah menurun, tapi hidupnya sebagai pribadi tidak menurun; tidak berkarat. Pastilah hal itu bukan baru saja te{adi dalam kehidupan Mgr. Demarteau. Pilihan menjadikan hidup tidak berkarat adalah sebuah proses panjang dalam kehidupan yang dilatih terus-menerus, Beliau membuat pilihan dan menekuninya. Baca lebih lanjut

KELUARGA KUDUS NAZARETH CERMIN PELAYAN KREATIF

“Dengan mengarahkan pandangan  yang sabar dan penuh kasih kepada seseorang, sebuah benda, sebuah situasi,kita mencapai pengertian yang semakin benar dan karena itu kita seakan-akan dengan sendirinya sudah tahu apa yang wajib kita lakukan.” (Iris Murdoch )

Manusia seringkali terperangah dengan sistem dan cara kerjanya sendiri. Bahkan tidak jarang pula manusia jatuh dalam pemiskinan dan arogansi moral yang berlebihan. Anak-anak yang mulai khawatir bahkan lari dari kehidupan orang tuanya. Ayah, ibu, maupun anak-anaknya mulai bertindak tanpa dilandasi dengan sebuah nilai-nilai moral yang benar. Pimpinan yang selalu menuntut ini dan itu tanpa dibarengi dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasionalistis. Anggota-anggota Gereja yang mulai enggan untuk mengikuti kegiatan peribadatan, dan lain sebagainya. Terhadap fakta-fakta ini Romo Magnis Suseno, S.J.  mengatakan demikian: “manusia mewujudkan nilai moral bukan dengan memperhatikan realitas  melainkan dengan bertekad untuk  bertindak secara moral. Dalam dunia kersang bebas tanpa nilai itu kehendak bergerak secara lepas, terisolasi tanpa substansi, bak bayang-bayang berpegang pada bayang-bayang, sebuah solipsisme moral yang menyedihkan”. Baca lebih lanjut

MENDENGAR SUARA RAKYAT

Bangsa ini semakin hari seakan berjalan menuju lorong gelap demokrasinya. Produk hukum banyak kali melukai rasa keadilan. Pengelolaan ekonomi dan sumber daya alam gagal menyejahterakan rakyat.
Integritas diri para pengambil kebijakan publik hilang oleh godaan kekuasaan dan korupsi. Yang ditunjuk sebagai penyebab segala persoalan itu adalah lemahnya karakter sebuah bangsa (Kompas, 8/1).
Namun, keprihatinan yang kiranya lebih mendasar adalah semakin terabaikannya suara rakyat di satu pihak dan tidak dibukanya ruang bagi partisipasi politik rakyat di pihak lain.
Sekali rakyat memberi atau ”dibeli” suaranya, seakan tamatlah haknya untuk didengarkan. Pemerintah menjadi pemain tunggal dan rakyat terus dijadikan penonton yang cemas tetapi tidak berdaya mengubah kesengsaraan nasib.
Baca lebih lanjut