40 tahun imamat P.Sinnema MSF

Dilahirkan di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, yaitu pada tahun 1943 di Duivendrecht sebuah desa di sebelah tenggara kota Amsterdam, negeri Belanda. Pieter dibesarkan di sebuah keluarga kecil dengan tiga orang anak. Pieter adalah anak yang pertama, satu adiknya seorang laki-laki dan yang satunya seorang perempuan.
Ayah Pieter (yang berasal dari keluarga Sinnema) bekerja di rumah pemotongan hewan sebagai seorang jagal, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang dengan kasih dan kesetiaannya mengasuh dan mengasihi anak-anak mereka.

Pieter kecil, seperti anak-anak yang Iainnya bersekolah di TK dan SD di desa tempatnya dilahirkan. Selain kegiatan rutin bersekolah, Pieter ikut menjadi anggota misdinar di Parokinya. Ketertarikannya akan panggilan menjadi imam tumbuh pada waktu belia, ketika usianya baru 12 tahun (1956), dimana pada waktu itu ada pameran misi yang diadakan di kota Amsterdam (pada waktu itu pameran misi yang besar diadakan rutin setahun sekali). Ketertarikan Pieter akan panggilan menjadi seorang imam diwarnai kebimbangan antara bergabung dengan ordo OFM/Fransiskan atau bergabung dengan kongregasi CM (Lazaris). Namun kebimbangan tidak berkepanjangan karena minatnya tersebut diketahui oleh seorang pastor dari Serikat MSF, yakni Pastor Bartels. Pastor Bartels-lah yang dahulu memberkati pernikahan kedua orang tua Pieter. Dan akhirnya Pastor ini yang cuti dari Chile mengajak dan mengarahkan Pieter dalam melangkah ke seminari yang diasuh oleh kongregasi MSF.
Masa pendidikan di seminari menengah ditempuh Pieter selama 6 tahun (3 tahun setingkat SMP dan 3 tahun setingkat SMA), kemudian dilanjutkan dengan Masa Novisiat selama satu tahun, dan kemudian masa 6 tahun dihabiskan Pieter di bangku seminari tinggi. Seminari tinggi tersebut merupakan gabungan dari beberapa kongregasi dan berkembang menjadi semacam institut dan terakhir suatu fakultas teologia Katolik. Pieter menjalani masa TOP di biara, dalam masa TOP ini dijalani kegiatan sebagai guru agama dan sewaktu-waktu menyampaikan khotbah / homili di Paroki.
Pada tanggal 27 Juni 1970, Pieter Sinnema ditahbiskan oleh Mgr. Romeijn MSF sebagai seorang imam. Sampai saat ini Pastor Pieter Sinnema adalah Pastor MSF yang terakhir dan termuda yang berasal dari Negeri Belanda. Pastor muda ini langsung mendapatkan tugas untuk mengabarkan Injil di Indonesia. Selama beberapa waktu Pastor ini menunggu visum dan mempersiapkan diri dengan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengemban tugas mulia tersebut. Pada Bulan Januari 1971, Pastor Sinnema terbang menuju Indonesia. Perjalanannya yang pertama ke Indonesia ini ditemani oleh Pastor S. Hoek MSF yang pada waktu itu selesai menjalani cuti di Belanda.
Begitu menginjakkan kaki di Jakarta, serasa nampaklah perbedaan antara Amsterdam dan Jakarta. Bangunan-bangunan sekolah maupun   perkantoran,   nampaknya   begitu   tertinggal.   Ketika melewati jalan-jalan di Jakarta, tercium bau yang aneh … ternyata bau sate dan makanan-makanan lainnya … di Eropa semuanya tertutup (dimasak di tempat tertutup), tetapi di Jakarta, penjual makanan menggelar dagangannya dan memasaknya di pinggir jalan. Telinga juga terasa aneh ketika mendengar bunyi adzan … karena di Belanda tidak pernah mendengar bunyi adzan.
Setelah menginap di salah satu bruderan Jakarta,  Pastor Sinnema melanjutkan perjalanan ke Balikpapan. Perjalanan ini harus ditempuh dengan melewati Surabaya dan Banjarmasin dimana di masing-masing kota itu harus menginap untuk menunggu penerbangan selanjutnya. Sesampai di Balikpapan, Pastor Sinnema bertemu dengan Pastor Van den Burg MSF yang pada waktu itu menjadi Pastor Paroki di Balikpapan. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan darat via Handil, sampailah pastor Sinnema di Samarinda.
Tidak banyak waktu yang dihabiskan Pastor Sinnema di Samarinda, sekitar satu minggu kemudian, Pastor mendapat tugas untuk melayani di Paroki Meiapeh, Tering, Kutai Barat (pada waktu itu masih Kabupaten Kutai). Dalam pelayanannya di Melapeh, Pastor Sinnema harus naik sepeda sekitar 2 jam. Di Melapeh pastor Sinnema bertugas bersama dengan Pastor Groot. Pengalaman bertugas pertama di pedalaman tentu bukan perkara yang mudah. Pastor mesti menyiapkan meja dan memasang tempat tidur sendiri. Pastor menuturkan bahwa badannya menjadi kurus, karena menyesuaikan diri dengan makanan yang ada. Pastor yang biasanya makan makanan Eropa tiba-tiba harus menerima makan nasi dengan lauk pucuk daun singkong dan ikan asin. Belum Iagi kendala bahasa, meskipun sebelum berangkat ke Indonesia pastor sudah belajar Bahasa Indonesia, namun dia belum bisa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Dalam menyusun khotbah/homili pun, selain ditemani Alkitab, Pastor mesti selalu akrab dengan Kamus Bahasa Indonesia. Ya .. diakui Pastor bahwa dia lebih banyak belajar dari umat daripada mengajar mereka. Ketika bertugas di hulu Mahakam ini, Pastor 2 kali menderita penyakit malaria. Satu kali kena malaria tropika, namun beruntung Pastor mendapat perawatan di RS Dirgahayu Samarinda, karena pada waktu terkena sakit itu Pastor sedang daiam perjalanan ke Samarinda. Meskipun tidak mudah dijalani, tetapi semangat melayani yang menyala-nyala, selalu menguatkan dalam setiap perjalanan hidupnya.
Tahun 1973 Pastor Sinnema mendapat tugas di Tiong Ohang di huiu Mahakam. Di sana tidak ada Pastor Iain yang menjadi teman sekerja. Satu tahun kemudian kembali ke Melapeh dan pada tahun 1975 pindah tugas Iagi ke Ulu Mahakam (kecamatan Long Apari dan Long Pahangai). Setelah itu 17 tahun dijalani Pastor di Ulu Riam Mahakam, kemudian 9 tahun di Barong Tongkok, dan pada tahun 2005 Pastor Sinnema bertugas di Paroki Santa Theresia Balikpapan sampai sekarang.
Saat ini kedua orang tua Pastor Sinnema telah tiada, seorang adik laki-lakinya menjadi seorang Diakon Tertahbis di Tilburg (negeri Belanda). Adiknya ini pernah mengenyam pendidikan di seminari, tetapi tidak sampai selesai. Seorang adiknya lagi mengikuti suami di Australia.
Tokoh favorit Pastor Sinnema adalah Santo Fransiscus dari Asisi.

Iklan

5 responses to “40 tahun imamat P.Sinnema MSF

  1. damai bagimu,
    pater sinnema yang terkasih, proficiat dan selamat pesta ulang tahun imamat yang ke-40 pada tanggal 8 juli 2010 yang lalu, semoga senantiasa selalu dilindungi TUHAN YANG MAHA BAIK dalam setiap karya pater. terimakasih.

    salam&doa,
    dhionys_agus

  2. selamat ya Pastor, setia selalu. Tuhan Yesus beserta kita

  3. Proficiat…., salam buat teman2 di paroki Ave Maria Tanjung Tabalong. Apa khabar Ruehina Andreany

  4. Na erg veel zoeken kwam ik op deze pagina en kan ik je ook nog een keer feliciteren. Kennelijk heb je het zo druk met je feest dat je geen tijd hebt om te mailen.
    Ik heb verschillende foto’s van je kunnen zien.
    Ik zag je met Nacy, een nichtje van Demarteau
    veel foto’s van een begrafenis
    veel kerkgebouwen en en veel congretaioneel nieuws.
    interessant
    groeten vanuit Tilburg.
    tot later

  5. Helaas las ik dat hij op 10 september is overleden tijdens een vakantie in Melbourne bij Ria. Petra de Gijsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s