Surat dari Jenderalat untuk Tahun Imam

Berkenaan dengan Tahun Imam yang diumumkan oleh Benediktus XVI, kami dari Jenderalat menulis surat yang terpusat pada keterlibatan kita bersama Gereja. Surat ini mengajak kita para MSF untuk menghidupi kembali kesetiaan pada panggilan mengikuti Allah. Tugas ini hendak dilihat lagi dalam terang kehadiranNya. Dia akan berpaling kepada kita dan membarui batin supaya kita makin mampu meneruskan perjalanan kesucian dan kesempurnaan kasih. Diapun akan makin hadir, meneguhkan tugas misi yang dipercayakan pada kita.

Kami telah mengumpulkan butir-butir pokok dari Pesan Bapa Paus dan surat Kongregasi Kepausan untuk urusan Klerus. Dalam pesannya, Paus menghadirkan sosok Yohanes Maria Vianney, Imam dari Ars yang mengembangkan hidup dan pelayanannya. Baru saja kita merayakan Centenario Pater Berthier; iklimnya masih kita rasakan. Lewat hidup Jean Berthier, Bapa Pendiri, kita ingin mengangkat pelayanan dan tulisan-tulisannya, gagasan-gagasan pokoknya seputar imamat dan hidup bakti. Imam dari Ars dan Pendiri kita hidup dalam periode yang hampir bersamaan. Ada kemiripan gagasan teologi. Perhatian keduanya seputar imamat dan misi juga menunjukkan sebuah kedekatan.

Kita mengetahui perhatian mendasar P. Berthier untuk panggilan demi pelayanan Injil, Kerajaan Allah, dan misi. Pada periode itu, keselamatan jiwa-jiwa merupakan alasan mendasar untuk bermisi. Termotivasi oleh Injil, ajakan Leo XIII, dan pengalaman pastoralnya, Berthier ingin menyumbangkan dari dirinya “butir-butir mutiara bakatnya“ demi pelayanan misi Gereja. Dengan seluruh adanya, ia hendak berpartisipasi dalam sukacita “Gereja yang lahir untuk mewartakan.“

Berthier membaktikan hidup dan kemampuannya pada pelayanan Injil. Ia melakukannya dari semua sisi hidupnya: sebagai misionaris La Salette ia wartakan pesan rekonsiliasi manusia dengan Allah; ia bertindak sebagai misionaris umat dan pembimbing retret untuk para imam di berbagai keuskupan di Perancis; sebagai misionaris-penulis, ia selalu berupaya datang dengan tulisan-tulisannya di mana ucapan-ucapan langsungnya tidak dapat hadir; akhirnya ia menjadi Pendiri Kongregasi Misionaris yang melayani Injil Kerajaan Allah.

Seandainya kita tahu mengikuti jejak-jejaknya, kiranya tiada keraguan bahwa kita anak-anaknya mampu berjalan menuju kesempurnaan kasih dan kesucian. Ini semua kita awali dari cara hidup sebagai anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus, dari kesatuan mendalam dengan Allah yang memberikan makna pada hidup bakti, dari berbagai ragam aktifitas yang kita lakukan dalam upaya mewujudkan kerasulan pada pelayanan demi Kerajaan Allah. Kita akan membangun sebuah dunia di mana Kasih merupakan hukum utama yang memungkinkan untuk membangun sebuah Dunia yang Lebih Baik: damai, bebas, adil…, dan lebih-lebih penuh persaudaraan. Hal ini diwujudkan dengan meletakkan Allah pada pusat hidup kita dan melakukannya sedemikian rupa sehingga saudara-saudari kita memilih Allah sebagai nilai mendasar hidup mereka.

Dalam kesatuan dengan Gereja semesta dan Gereja setempat dan dengan bertolak dari identitas kita sebagai MSF, kita akan mampu memberikan sumbangkan untuk tercapainya sasaran Tahun Imam ini. Dengan kegembiraan murni, kita mampu mempersembahkan diri kita untuk pelayanan pada Allah dan bagi keselamatan saudara-saudari kita.

Para Konfrater terkasih,

Sebagaimana Anda sekalian ketahui, Bapa Suci bermaksud membaktikan sebuah Tahun Imam dengan tema “kesetiaan Kristus, kesetiaan Imam” yang berlangsung dari Pesta Hati Kudus 2009 sampai pesta yang sama tahun 2010. Tahun khusus ini memiliki sasaran untuk menawarkan kepada kita para imam sebuah kesempatan guna memperdalam identitas dan panggilan kita, untuk pembaruan batin menuju kesempurnaan rohani dan kekudusan, serta demi memantapkan karya misi kita.

Tahun Imam ini tidak saja ditujukan bagi para imam, melainkan juga bagi seluruh Umat Allah agar mereka menghargai rahmat imamat, peran imam dalam komunitas kristiani, identitas karya pastoral para imam dan kesaksian hidup mereka. Dikatakan dalam surat Kongregasi Kepausan untuk urusan Klerus bahwa umat katolik mengasihi para imam mereka dan ingin melihatnya suci serta penuh kebahagiaan dalam karya-karya kerasulan. Surat yang sama juga mengundang umat untuk mendoakan para imam, menghormatinya, dan menghargai pelayanan imamat dalam Komunitas kristiani.

Sebagaimana dalam Tahun Paulus, Santo Paulus merupakan model dan referensi kita, Benediktus XVI mengarahkan perhatian kita pada Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung para pastor paroki di seluruh dunia, tepat pada ulang tahun wafatnya yang ke-150. Dalam dirinya, terpancarlah nilai-nilai yang pantas kita renungkan: kesaksian hidup kerasulannya yang mengagumkan, kasihnya untuk Kristus dan InjilNya, penyerahan dirinya tanpa tanggung-tanggung pada pelayanan komunitas kristiani yang dipercayakan kepadanya. Semoga kita mampu meresapkannya dalam hidup dan pelayanan.

Kita – para Misionaris Keluarga Kudus, imam, bruder, frater yang baru saja merayakan Centenario Bapa Pendiri, Jean Berthier – diundang untuk membuka diri menyambut Tahun Imam, terlebih lagi untuk merenungkan gagasan dalam mengidentifikasikan diri kita setiap hari dengan Kristus lewat pelayanan misionaris yang berkobar demi pelayanan Injil. Kita mengawalinya dari kasih serta dari niat untuk setia pada panggilan menjadi sahabat-sahabat Tuhan.

1. Imamat: rahmat bagi Gereja dan umat manusia

Hidup para imam tidaklah mudah sebagaimana pada masa-masa lalu, termasuk pada zaman para rasul. Banyak imam menderita. Ketika sedang tidak ada penganiayaan, mereka menderita karena tidak dimengerti, mendapatkan cemooh atas gaya hidup mereka, dan memperoleh rintangan dalam misi mereka. Zaman ini kesulitan yang dihadapi oleh para imam di banyak negara lahir dari akibat orang melupakan Allah, penolakan akan Allah dari kehidupan manusia. Kesulitan juga berasal dari godaan materialisme, konsumisme serta hedonisme yang mengungkung orang zaman ini.

Perlu juga kita catat bahwa tampak beberapa situasi yang amat merugikan Gereja karena ketidaksetiaan para pelayannya, karena batu sandungan yang mereka buat, maupun karena mereka meninggalkan imamat. Penting juga melihat hal sehari-hari seperti kurangnya pelayanan dan dedikasi dalam karya pastoral, kurangnya hormat pada pribadi-bribadi, surutnya perhatian akan permasalahan konkrit. Kenyataan akan jarak dan keterpisahan imam dari umat menambah jumlah kerugian besar bagi komunitas kristiani.

Dalam suratnya, Paus mengangkat kembali model hidup Pastor suci dari Ars: kesucian dan teladan hidupnya yang dilandasi kerendahan hati dan kesederhanaan, semangat pelayanan, hidupnya yang merupakan berkat harian bagi komunitas parokinya, kesinambungan kesaksian akan Allah Yang Maha Rahim, serta suka cita dalam warta keselamatan. “Seorang pastor yang murah hati, seorang pastor seturut hati Tuhan merupakan kekayaan terbesar yang dapat dianugerahkan Allah pada sebuah paroki,” ucap sang Pastor suci, Yohanes Maria Vianney.

Dengan mengikuti jejak hidup dan kesaksiannya, Bapa Suci Benediktus XVI mengajak dan memotivasi para imam. Uskup yang mentahbiskan Yohanes Vianney mengatakan padanya sewaktu mempercayakan paroki tempatnya berkarya: “Di paroki ini kasih Allah tidak banyak terlihat, Anda perlu menghadirkannya.” Dia pun berjuang keras menyatakan kehadiran Kristus dan memberi kesaksian akan suka cita keselamatan. Jika dalam suatu hal sekarang kita harus berjerih lelah lewat pelayanan kita, ini sudah tentu kita lakukan karena hendak membawa kesaksian akan Allah Kasih, akan Bapa yang mencintai kita tanpa kenal batas dan telah menganugerahkan Putera yang menjelma menjadi manusia. Dia pulalah yang sudah menganugerahkan Roh Kudus yang menjaga kasih terus berkobar dalam pezirahan hidup kita.

Lewat kesaksian hidup pribadinya, Pastor dari Ars mengajarkan nilai doa pada para umatnya, kasih pada Yesus Ekaristi, penerimaan komuni secara lebih sering yang pada saat itu belum lazim, makna dan keindahan Sakramen Pengakuan Dosa, kasih pada para miskin dan yang kekurangan… Karenanya menjadi aktual dan terus bermakna apa yang dikatakan Paulus VI: “Orang zaman ini lebih mendengarkan kesaksian dari pada mendengarkan para pengajar. Jika orang zaman ini mendengarkan mereka, itu dikarenakan para pengajar memberikan sebuah kesaksian.”

Dalam suratnya, Paus Benediktus XVI mengingat Beato Yohanes XXIII dan kata-katanya seputar makna nasihat Injili dalam perjalanan pengudusan hidup kristen. Dalam Konstitusi, kita ingat bahwa komitmen pada nasihat-nasihat injili merupakan wujud hidup bakti kita pada Allah dengan mengikuti model hidup Kristus. Berkat nasihat itu, kita beroleh kebebasan yang makin memampukan kita dalam memenuhi tugas misi.

Juga gagasan comunio ditekankan secara khusus dalam Tahun Imam ini. Misalnya pentingnya kesatuan dengan uskup dan para imamnya yang diwujudkan lewat konselebrasi Ekaristi. Persaudaraan imamat memiliki makna penting dari sudut pandang hidup pribadi Imam dari Ars: memelihara selibat dan kemurnian merupakan cara hidupnya yang terpancar dalam karya-karya pastoral. Dari situ, ia hayati pentingnya kerja sama dalam kesatuan dengan para imam dari Gereja lokal.

Di sisi lain, terdapat comunio dan kerja sama dengan para awam, sebuah bidang yang amat ditekankan oleh Vatikan II dalam pahamnya akan Umat Allah. Kesatuan dengan para awam mengungkapkan segi kesatuan dan menghadirkan makna penting dari aneka karisma yang terarah demi terbentuknya tubuh Gereja. Lebih jauh, Paus meminta agar para imam berjalan bersama para awam untuk mewujudkan cita-cita kesucian dalam hidup, kesatuan mendalam, serta kerjasama gerejani. Juga Konstitusi mendorong kita pada kerjasama ini supaya kita bergiat dengan penuh kesadaran memenuhi panggilan misi.

Santo Paulus membuka mata kita dengan menghadirkan sebuah model pelayanan total: “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami… Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Kor 5, 14-15)

Dari sudut pandang ini, Tahun Imam mendorong kita untuk berjaga.

Pertama-tama, kita memelihara dan melindungi identitas imamat kita, kesetiaan pada panggilan Allah, kehadiran bersama Kristus lewat meditasi Sabda Tuhan, serta lewat perayaan Ekaristi. Penting juga menghargai keindahaan dan makna Imamat, menghidupi hidup bakti kita dengan suka cita dan mewartakan Allah Kasih pada segenap orang.

Menghidupi tugas pelayanan kita. Seorang imam harus menghadirkan Allah dalam masyarakat. Menjadi imam bagi Umat Allah dan orang zaman ini akan menyemarakkan hidup anak-anak Allah, sebagaimana dikatakan Santo Ireneus: “Kemuliaan Allah dijumpai dalam orang yang sungguh hidup.” Pelayanan seorang imam perlu diwujudkan dalam kerja sama yang erat dengan para awam. Bersama mereka, kita harus membangun sebuah komunitas “manusia baru.” Komunitas ini terwujud dengan sakramen-sakramen, dalam relasi dengan Allah Tri Tunggal, dengan menghidupi Sabda Tuhan dan menjadikannya bagian terutama dalam hidup.

2. Berthier dan Pastor Suci dari Ars

Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859) ditahbiskan imam di kapel Seminari Tinggi Grenoble, Perancis sebagaimana juga Santo Giuliano Eymard (1811-1868). Dua imam yang suci dan berkobar dalam pelayanan pastoral ditahbiskan di tempat yang sama.

Yohanes Maria Vianney merupakan model imamat bagi Berthier. Seminari-seminari di Perancis pada periode Berthier mengutamakan untuk mendidik para calon imam agar menjadi orang-orang suci. Bapa Pendiri kita, seorang yang amat peka, menceritakan bahwa ketika ia masuk seminari dan melewati pintu kamarnya terlintas dalam benaknya kesan betapa banyak imam suci telah menggunakan kamarnya. “Betapa banyak tindakan dan keutamaan heroik, sebegitu panjang doa-doa telah dipanjatkan di sini. Dinding-dinding ini menjadi saksi dari itu semua…! Segalanya ini mengundangku untuk menjadi orang kudus.”

Berthier memiliki seorang pembimbing rohani bernama Mgr. Orcel, seorang guru spiritual. Darinya, Berthier tumbuh dalam kebebasan rohani yang sehat. Kriteria-kriteria yang ditanamkan Mgr. Orcel adalah: tiada keragu-raguan dan kemunafikan. Godaan-godaan dikalahkan oleh kejernihan batin, sikap bakti, dan doa. Hal-hal yang pokok adalah kerahiman ilahi, kerendahan hati, serta ketaatan. Ini semua dapat diwujudkan pertama-tama dengan sikap hidup yang positip.

Jean Berthier merupakan seorang murid yang baik. Ia menerapkan semboyan: perlulah belajar agar dapat memberi bagi sesama. Ilmu yang dipelajarinya perlu untuk pengudusan diri, demikian ucapnya. “Betapa indahnya hidup – tulisnya kemudian – memiliki semangat seorang seminaris muda yang hatinya berkobar dalam doa dan kasih pada Yesus dan Maria sementara kecerdasannya terlatih dengan berolah keutamaan demi keselamatan. Terus-menerus ia digembirakan oleh keutamaan itu dan bersiap diri untuk mewartakannya dengan membawa buah yang berlipat ganda.”

Ia sungguh mempergunakan waktu belajarnya untuk terus meringkas dan menulis catatan, gagasan, dan kalimat-kalimat penting. Di kemudian hari, semuanya ini amat bermanfaat bagi karya-karya pastoralnya. Hal yang telah ia praktikkan ini selanjutnya ia anjurkan pula bagi para imam.

Berhtier melihat secara jernih bahwa imamat merupakan sebuah pelayanan, pengabdian pada sesama. Imamat bukan sebuah jenjang karier. “Lewat tahbisan imamat suci, kita tidak mencari jalan untuk menaikan derajat agar kita menjadi terkenal. Siapapun yang bertindak dengan cara yang tidak benar ini kiranya akan kecewa dan membiarkan dirinya dalam bahaya besar” (De Lombardi h. 95). Kepada anak-anak rohaninya Berthier mengatakan bahwa dalam pelayanan imamat “hendaknya kita memilih tempat yang dipandang kurang penting, hampir-hampir tanpa ketenaran, di mana kasih kepada sesama menjadi lebih dihidupi dan dibagikan sebagai santapan rohani. (Jost, 44)

Pada suatu hari ia menceritakan, “Sebelum aku ditahbiskan, aku melihat para diakon yang amat berbakat dan pintar. Mereka mencita-citakan posisi yang terhormat dan berangan-angan segera dapat merintis karier yang tinggi. Demikian mereka mengharpkan agar mereka segera dapat mempraktikkan kemampuan dan keterampilan akademis yang dipercayakan Allah kepada mereka. Bagiku ini semua merupakan pemandangan yang kurang berjiwa kerasulan… Sementara itu, kenangan akan Pastor suci dari Ars selalu terbentang jelas di depan mataku.” (Jost, 45)

Seorang saksi pada proses beatifikasi Bapa Pendiri mengatakan: “Suatu ketika, di depan khalayak, ia menceritakan pada kami bahwa ia berpegang pada ideal hidup Pastor suci dari Ars. Setiap awal minggu, sebagai imam ia sudah siap mengumpulkan kentang dan roti dari para umatnya dan memasukkannya dalam baskom; ini semua akan cukup untuk hidup selama seminggu” (Positio, Summarium hal. 31, ad 20)

3. Berthier: imamat dalam hidupnya, beberapa refleksi

3.1. Allah, pusat hidupnya

Di atas segala-galanya, Berthier merupakan seorang abdi Tuhan: “Tuhanku, betapa aku mengasihiMu!” “Begitu banyak penghiburan dan damai terdapat dalam hidup yang semata-mata demi Tuhan.” Dia tidak memiliki maksud dalam hidupnya selain melaksanakan kehendakNya: “Aku tidak akan mampu memuliakan Allah secara penuh sebelum aku mengosongkan diri demi kasih kepadaNya dan sebelum aku menyatakan dalam tindakanku hal-hal yang semata-mata merupakan pemenuhan kehendakNya.” Dan inilah hal paling penting dalam hidup seorang imam: “doa yang merupakan cara ampuh untuk pengudusan pribadi-pribadi, kewajiban paling penting untuk seorang imam, kekuatan paling dahsyat untuk pertobatan bagi para pendosa dan bagi kebahagiaan jiwa-jiwa.”

3.2. Masa awal imamatnya

Kesehatannya yang buruk selama masa novisiat – yang diperpanjang hingga tiga tahun – membawanya untuk berkarya sebagai pastor pembantu pada suatu daerah bernama Veyssileu. Mengikuti teladan Mgr. Dupanloup, Uskup Orleans yang mengatakan “janganlah menunggu, kalau jiwa-jiwa tidak datang mencari kalian; pergilah menjumpai mereka,” Selanjutnya, Berthier mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang menakjubkan dalam komunitasnya. Dalam waktu 15 bulan, ia berhasil mengubah wajah paroki dengan 400 umat: perayaan-perayaan, pengakuan dosa, katekese, kelompok-kelompok umat, koor, kunjungan pada keluarga-keluarga, dan sebagainya: “Aku akan berdoa sebelum naik ke mimbar… supaya Tuhan berkenan menyentuh hati dan jiwa mereka.” Dia juga memperhatikan baik-baik persiapan untuk Misa Kudus: “Aku akan menyatukan diri dengan Yesus yang tersalib.” Diapun menyatukan diri dengan Maria yang berdiri dekat Puteranya yang tersalib. Pada setiap pelayanan, “aku akan berdiri pada kaki Maria, sambil memohon agar ia meneruskan terima kasihku pada Putra ilahinya. Sebelum aku duduk dalam ruang pengakuan, aku pun melepaskan setiap perasaan dan pikiran duniawi. Aku menyatukan diri dengan Yesus dan Maria.”

3.3. Perhatian pada para miskin

Tidak meragukan, Berthier memilih aktifitas pastoral yang memihak orang miskin. Para lemah-miskin, mereka yang tidak terhitung dalam masyarakat, mereka yang tidak mencapai jenjang layak dalam hidup sosial… mereka adalah juga yang diperhatikan Kristus. Para pengikut dan rasul Kristuspun harus memperhatikan mereka. Gereja mengutamakan pilihan pertama-tama pada kaum miskin.

“Tuhan, buatlah agar aku pertama-tama mencintai pemenuhan pelayanan pada kaum sederhana dan miskin yang telah Engkau percayakan kepadaku. Karena cinta, Engkau merendahkan diriMu menjadi lemah dan miskin demi keselamatan kami. Untuk memberi teladan kepada kami, Engkau memilih kaum miskin.”

Berthier memberikan perhatian khusus pada para kaum lemah-miskin. “Para sakit, miskin, kurang pandai, mereka yang kurang terpandang … merekalah harta paling berharga untuk seorang murid Yesus Kristus. Sementara itu, ia tidak mengabaikan kaum yang beruntung dan berkecukupan; merekapun layak mendapat pelayanan rohani yang diperlukan,” tulisnya dalam Le prêtre.

Demi memihak orang kecil, ia senantiasa memperhatikan agar khotbah-khotbahnya dipahami oleh orang-orang sederhana: “Kita kadang terbang terlalu tinggi, tanpa memperhatikan umat yang kurang pandai dan tanpa pendidikan, yang kerap pulang ke rumah tanpa mencerna pemahaman karena tidak menangkap uraian dalam khotbah. Aku selalu bertanya pada diriku apakah seorang pekerja rumah tangga paham akan apa yang aku katakan.”

3.4. Seorang Misionaris umat

“Kita memiliki banyak misionaris hebat, tetapi tidak sehandal P. Berthier. Dia merupakan model gemilang seorang misionaris,” tutur P. Besson yang mengenalnya dari dekat karena ia pernah berkhotbah bersamanya dalam berbagai perjalanan misi. “Kata-katanya sederhana, jelas, persuasif, langsung menyentuh hati. Pastor yang begitu terhormat itu memiliki khotbah yang merupakan perpaduan dari kejernihan, ketepatan, ajaran yang solid, serta kasih tak berkesudahan yang memberikan kekuatan dahsyat pada kata-katanya” (p. 82). Inilah sasaran yang ia tuju: “satu-satunya hal yang harus dilontarkan oleh seorang misionaris pada para umatnya adalah gambaran jiwa dalam relasi dengan Allah” (p. 82). Masih dalam Le Prêtre Berthier menulis: “Idam-idaman seorang murid adalah kasih, api yang dibawa Tuhan kita waktu datang ke dunia dan yang ditujukan supaya membakar semua hati.”

Misi merupakan pusat perhatian P. Berthier. Ia seorang misionaris yang membawa Injil dan ingin agar jiwa-jiwa beroleh keselamatan. Pokok perhatian ini membuat ungkapan-ungkapan teologinya transparan. Dilandasi oleh motivasi ini, pentinglah mempromosikan panggilan untuk melayani Kerajaan Allah. Demikian juga memberikan jalan bagi terwujudnya benih-benih panggilan amat penting sehingga mereka mampu melayani pewartaan Injil. Tentu saja ini semua dijalankan seturut ajaran Kristus yang mengatakan: “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Sebagai seorang formator para misionaris, ia tidak jemu-jemunya berupaya membentuk sebuah spiritualitas yang solid dalam diri para calon misionaris dan bersamaan dengan itu sebuah formasi imamat. Dengan segala daya, ia mengembangkan pada anak didiknya sebuah kemampuan kerja yang akan membantu mereka dalam menanggung tugas-tugas berat selama menyebarluaskan Injil di tanah-tanah misi.

Sasaran pokoknya saat itu adalah memperkenalkan cinta dan belas kasih Allah pada semua manusia. Untuk tujuan ini, ia mengerahkan berbagai cara: misi umat untuk menanamkan iman pada orang-orang kristiani yang sederhana dan selanjutnya untuk mendorong mereka untuk terlibat bersama Allah. Selain itu, ia juga memberikan retret-retret bagi para imam untuk mengobarkan hati mereka demi pelayanan Injil dan cita-cita hidup suci.

Lebih dari itu, ia menempuh jalan pena. Ia menjadi misionaris juga lewat tulisan-tulisannya kepada para imam dan umat awam. Lewat jalan ini, ia mampu hadir pada mereka yang tidak dapat ia jumpai muka dengan muka, sambil mendengarkan percakapannya yang sederhana, jelas, menggugah, dan membawa suka cita. Pada zamannya, Berthier merupakan seorang pewarta ulung. Ia ingin memperkuat iman dan membantu semua untuk menghidupi jalan hidup kristiani. Untuk para imam, karya-karyanya terasa lebih padat, serius, dan menggerakkan. Ia menulis sekitar 40 karya yang mampu mencapai sukses dan tersebar di seluruh Prancis pada zaman itu. La Croix, salah satu koran di negeri ini, menulis bahwa Berthier bagaikan “sebuah gudang peluru Katolik.”

Seorang Bapa Pengakuan

Tinggal dan melayani di ruang pengakuan merupakan salah satu tugas pokok dan khas yang dimiliki tempat ziarah La Salette. Berthier terkenal sebagai seorang pastor yang bertahan selama berjam-jam dalam melayani pengakuan dosa. Bilik pengakuannya merupakan salah satu tempat yang paling dikunjungi. “Para peziarah, terutama umat laki-laki, mencari dia untuk mengaku dosa.” Ia merupakan rahmat pada zamannya, demikian tulis P. Jost (Jost, 78).

Ruang-ruang pengakuan pada saat itu juga merupakan momentum puncak dari misi umat: sasaran pada mereka adalah pertobatan dari dosa-dosa dan pengakuan kembali hidup kristiani. P. Berthier sendiri mengaku dosa sebelum masuk ke ruang pengakuan. Dengan demikian ia memberikan sebuah teladan. Ia tiada jemu-jemunya menaklukkan jiwa-jiwa dengan kelembutan hati dan keramahan. Dengan ini ia mampu mengundang para pendosa untuk bertobat.

Di ruang pengakuan ia bertindak sebagai ayah sekaligus ibu. Semuanya semata-mata hanyalah cinta dan belas kasih. Ia memadukan kelembutan persahabatan dan keteguhan dalam prinsip secara bersama-sama. Ia menggalakan kebiasan untuk lebih sering hadir pada pengakuan dan menyambut komuni kudus. Pada zaman itu, orang belum terbiasa untuk sering menerima kedua sakramen ini. Tambah lagi, datang ke ruang pengakuan dipandang sebagai tindakan yang merendahkan diri seseorang. Di La Salette terlihat lain. Anak-anak muda berdatangan, terutama mereka yang karena pergi berdansa dan tidak memperoleh absolusi di gereja parokinya. Kebanyakan imam di tempat lain bersikap keras sehingga para muda-mudi yang pergi berdanza tidak mendapatkan absolusi di paroki mereka. Dengan pendampingan dan dalam suasana belas kasih, mereka menemukannya di La Salette.

Seorang Pengkhotbah

Pada nomor pertama majalah le Messager, Berthier menuliskan bahwa ia “telah melakukan misi umat dan retret rohani selama lebih dari 33 tahun di 16 keuskupan.”

Menurut Berthier, “dialog yang betul adalah yang bersumber dari Injil.” Model utama dalam dialog adalah selalu Kitab Suci. Di dalamnya, para Bapa Gereja dan santo-santa menemukan dialog: ini merupakan model mereka (83). Untuk alasan ini, Berthier menganjurkan pada anak-anak didiknya agar “lebih sering membaca Kitab Suci: halaman-halamannya sungguh merupakan sumber inspirasi.” “Tujuan dari dialog suci saat itu adalah mempertobatkan jiwa-jiwa dan mengarahkannya pada Allah saat mereka jauh dariNya. Sementara bagi mereka yang tetap setia dalam iman, dialog itu dimaksudkan untuk makin meneguhkan iman. (Jost 83)

Sesuai dengan kebiasaan zaman itu, imam biasanya membawakan khotbah secara lantang. Dari atas mimbar ia memberanikan umat untuk bertobat. Ia melakukannya dengan segenap kekuatan jiwa dan raga. Senantiasa dibawakan tema-tema pokok seperti kematian dan neraka sementara dipaparkan juga belas kasih ilahi yang tak kenal batas. Berthier mengingatkan pada para muridnya: “selalu perlulah memberanikan hati para umat.”

3.5. Pilihannya pada hidup membiara

Suatu hari, ketika sudah ditahbiskan sub-diakon, ia naik ke tempat ziarah La Salette bersama teman-teman seangkatan di seminari. Ia amat terkesan: “Sejauh memandang dengan mata telanjang tiada yang menarik… tetapi dengan mata batin, ya: kehadiran Sang Perawan Maria yang telah menguduskan tempat ini … jiwa-jiwa para misionaris..”. Dan pada dirinya sendiri ia mengatakan: “ke sini aku akan kembali.”

“Saya harap Anda tidak takut pada salib, karena Bunda telah menanamnya di setiap tempat, mulai dari tempat ini,” demikian ucap P. Archier. “Kalau Bunda menanam kayu-kayu salib, ia akan mengirim juga sinar mentari yang cukup untuk membuatnya tumbuh,” jawab Berthier muda. Akhirnya pada Bulan Juli 1862 Berthier bergabung dengan para misionaris La Salette.

“Tiada yang melebihi status hidup religius.” “Para Bapa Gereja yang kudus menyebutnya bunga paling indah, mahkota tiada tara yang dimiliki Gereja. Jalan hidup religius telah menghadiahkan kepada surga rombongan para kudus.”

“Hidup bakti merupakan berkat begitu besar. Lebih baik mati seribu kali dari pada kehilangan itu.” Berthier meyakinkan dalam hati orang-orang kesempurnaan kasih lewat hidup seturut nasehat injili dan konstitusi. Pribadi-pribadi yang menjalani hidup bakti tidak akan mampu sampai pada kasih sempurna tanpa sungguh menjalani hidup khusus ini.

Pada Konstitusi tahun 1895 dapat kita baca: “Para MSF membentuk sebuah lembaga dengan kaul-kaul sederhana yang memiliki tujuan untuk menguduskan anggota-anggotanya yang merupakan satu-satunya hal penting seturut nasihat Kristus. Selalu menguduskan hidup kita bagiNya dan membaktikan hidup kita untuk pelayanan pada orang yang paling lemah, inilah makna dari hidup seorang misionaris.”

3.6. Teladan hidupnya

Pater Berthier merupakan seorang pribadi yang baik hati, selalu penuh perhatian pada anak-anak rohaninya, selalu berbelas kasih… Semuanya ini membantu untuk menciptakan suasana persahabatan. Dia merupakan seorang yang beraskese; ia mencukupkan diri dengan hal seperlunya dan selalu siap berbagi. Dalam keterbatasan usianya, ia tetap berbagi dengan para murid-muridnya. Semua mengagumi kemampuannya dalam bekerja. Seluruh talenta pribadinya, hidup utamanya, pengetahuan intelektualnya merupakan kemampuan yang ia miliki dan bagikan kepada orang-orang di sekitarnya.

Di Grave, Belanda, masyarakat menceritakan bahwa orang amat istimewa ini menjadikan segala-galanya jadi mudah; berdekatan dengannya, orang menjadi lupa akan kondisi yang minim dari bekas barak militer yang mereka tinggali. Dia merupakan seorang pribadi yang terpadu, sejalan dengan apa yang ia khotbahkan, ia tulis, dan ia hidupi. Berthier menjadi model dan teladan bagi semua. “Kesan baik dan kekaguman akan dia memberiku kekuatan,” ungkap seorang saksi.

“Tak pernah ada seorang yang kaya dengan kemampuan dan bakat hidup jauh dari sikap membangakan diri, seperti dia. Tiada seorang dengan limpahan keutamaan tinggal sebagai orang yang tidak mau dikenal seperti dia. Tak pernah ada seorang pribadi yang mencapai banyak sukses dalam berbagai karya namun tinggal jauh dari sikap menonjolkan diri dan mengabaikan banyak pujian… Begitu besar di mata banyak orang, ia justru merendahkan diri, begitu hidup biasa dan menjalani hidup secara wajar,” tutur Sprangers, pastor Paroki di Grave, pada kesempatan upacara pemakaman Pater Jean Berthier.

Para konfrater terkasih,
Bersama-sama Pater Berthier, kita telah menapaki kembali berbagai pokok gagasan yang ia pandang amat penting bagi kita anak-anaknya. Kita berharap agar hari ini kita didorong oleh kasih akan Kristus. Kita berharap agar makin bersatu dengan Kristus Sang Kepala hingga akhirnya kita mampu berseru seperti Santo Paulus: “Kristuslah yang hidup dalam diriku.” Semoga ini semua mendorong untuk keluar dari diri sendiri menuju sesama kita dan makin mampu mewartakan Kabar Baik. Santo Paulus mengatakan: “Celakalah aku bila tidak mewartakan Injil.” Untuk membawakan kabar gembira akan kasih Allah pada umat manusia yang ditampakkan pada Kristus, “disingkapkanlah maksud baik Allah dan kasihNya pada manusia.” Pada akhirnya, dalam sikap syukur, kita dapat berseru bersama-sama dengan Sang Rasul: “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.” (1 Tim 1,12)

Roma, Desember 2009
Dewan Jenderal MSF

One response to “Surat dari Jenderalat untuk Tahun Imam

  1. SUCILAH IMAM ITU…
    IMAM SUCI ANUGERAH TUHAN…
    SUNGGUH LUAR BIASA..
    KARENA MELALUI DIA MENJADI PERPANJANGAN TANGAN YESUS!!!

    SUCILAH KAU IMAM-IMAMKU….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s