MISIONARIS ASAL POLANDIA ITU TELAH TIADA : “DUA KEUSKUPAN BERDUKA !”

Suasana duka terpancar dari wajah mereka yang menghadiri pemakaman Pastor Marian Wiza, MSF di kompleks Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru – Kalimantan Selatan, Rabu, 5 Agustus 2009 kemarin. Tak sedikit dari antara mereka yang menitikkan air mata, ketika peti jenazah Pastor Marian dimasukkan ke liang kubur, terlebih bagi mereka-mereka yang mempunyai kenangan indah bersama almarhum. Siang itu cuaca tampak begitu cerah. Panasnya terik matahari di atas kepala tak menghalangi niat para peziarah untuk tetap bertahan, demi menghantarkan sang Pastor tercinta ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Siang itu waktu menunjukkan pukul 13.15 Wita ketika upacara pemakaman dimulai. Upacara dipimpin langsung oleh Provinsial MSF Kalimantan Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF. Hadir para Pastor, Suster, Biarawan/Biarawati dari berbagai Kongregasi, juga umat dari berbagai tempat di Keuskupan Banjarmasin maupun Keuskupan Palangkaraya; khususnya dari Paroki-paroki dimana Pastor Marian pernah tinggal dan berkarya.

Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Tepat pada pukul 11.00 Wita pada hari yang sama diselenggarakan Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Pastor Marian Wiza, MSF yang dipimpin oleh Konselebran Utama Uskup Keuskupan Banjarmasin Mgr. Petrus Boddeng Timang didampingi oleh sekitar 30-an orang Pastor dari Kongregasi MSF Kalimantan, Kongregasi MSF Jawa dan beberapa Kongregasi lainnya, terutama para Pastor yang berkarya di Keuskupan Banjarmasin dan Keuskupan Palangkaraya. Hadir pula dalam kesempatan ini Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin Mgr. W.J. Demarteau, MSF. Lantunan lagu-lagu Gregorian mengiringi perayaan ini. Suasana duka tercermin dari pakaian hitam yang dikenakan oleh mereka yang hadir ketika ini. Mengawali homili yang disampaikannya, Mgr. Timang mengutip perikop bacaan pertama hari itu yang menyatakan bahwa tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri (bdk. Roma 14:7). Lebih lanjut Uskup Banjarmasin berkisah tentang perjumpaannya yang terakhir kali dengan almarhum Pastor Marian. “Kendati kita tahu bahwa kematian adalah sisi lain daripada kehidupan, namun kepergian seseorang yang sangat kita kasihi pastilah tetap akan meninggalkan perasaan duka bagi kita! Sekitar 1 bulan yang lalu saya menjenguk Pastor Marian di Rumah Sakit Suaka Insan Banjarmasin. Pada hari Senin yang lalu, saya diberitahu oleh Suster bahwa Pater Marian telah pergi pada waktu subuh. Satu bulan yang lalu saya tidak pernah menyangka bahwa Pastor Marian akan pergi secepat ini. Maka kepergian seorang Misionaris yang agung ini merupakan suatu peringatan bahwa suatu saat hidup kita pun akan berakhir dengan kematian. Namun yang pasti – seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam bacaan tadi mengungkapkan bahwa hidup atau mati, kita ini milik Tuhan. Maka kita mesti siap menghadapi kematian itu, seperti halnya dengan apa yang telah dialami oleh Pastor Marian. Entah itu siang, ataupun malam, kita harus selalu siap untuk menerima panggilan Tuhan, entah kita diutus ataupun ketika kematian itu datang dalam hidup kita. Tiga puluh tahunan yang lalu Pastor Marian siap menerima panggilan sebagai seorang Misionaris. Beliau datang ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dengan mempersembahkan dirinya kepada Tuhan dengan jalan memberikan pelayanan kepada umat di wilayah-wilayah tersebut. Banyak umat yang kemudian mengenal Kristus karena keberanian beliau untuk hidup dan mati bagi Tuhan.” Kepada semua yang hadir, Mgr. Timang menghimbau supaya kematian Pastor Marian tidak menjadikan kita bersedih. “Karena seperti kata Injil, di saat kita mati kita bukannya masuk ke dalam kegelapan; melainkan masuk ke dalam fase yang lebih tinggi! Umat di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, khususnya umat di Paroki-paroki yang pernah dilayani oleh beliau : Buntok, Pangkalan Bun, Tamiyang Layang, Tanjung Tabalong, Kuala Kapuas dan Ampah dapat bersyukur karena ada begitu banyak umat yang dilayani oleh beliau. Seperti halnya dengan apa yang pernah disampaikan oleh umat dari beberapa Stasi ketika saya melakukan kunjungan kerja ke Paroki Ave Maria Tanjung beberapa waktu yang lalu. Banyak diantara mereka yang mengaku sebagai umat pertama di daerah tersebut semasa Pastor Marian berkarya. Kini tiba saatnyalah bagi Pastor Marian untuk pensiun. Beliau telah sampai pada ujung harapan. Kita percaya bahwa apa yang menjadi cita-cita dan motivasi beliau sewaktu meninggalkan negerinya, sekarang ini telah sampai pada kesudahannya. Sekarang beliau telah mendapatkan penghargaan atau trophy atas perbuatan baik yang dipersembahkannya kepada Tuhan. Kini tinggalah warisan beliau yaitu semangat bagi kita semua. Kita sekalian percaya bahwa apa yang selama ini diperjuangkan oleh Pastor Marian, sekarang juga menjadi obyek perjuangan kita; juga tempat yang kini dihuni oleh beliau juga akan kita warisi nantinya. Beliau adalah seorang Misionaris yang tangguh.” Dalam kata sambutannya, Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF mewakili Kongregasi MSF Propinsi Kalimantan, berkisah tentang detik-detik terakhir kematian Pastor Marian. Pastor Teddy menyebutkan bahwa Pastor Marian meninggal karena 2 sakit yang dideritanya. “Ketika Pastor Marian dibawa ke Rumah Sakit Elizabeth Semarang, beliau harus menjalani operasi karena seluruh rongga tubuhnya mengalami keracunan. Hal ini disebabkan oleh adanya kebocoran pada bagian sambungan antara usus halus dan usus besar, sehingga kemudian kotoran meracuni organ-organ penting dalam tubuh Pastor Marian. Dalam operasi tersebut diketahui kemudian bahwa Pastor Marian ternyata juga menderita kanker usus halus yang ganas. Selanjutnya dilakukan operasi kedua karena terjadi infeksi berat di paru-paru dan lambung yang dideritanya. Meski kondisinya lemah, operasi tetap dilangsungkan karena memang tidak dapat ditunda lagi pelaksanaanya. Dengan bantuan ventilator dan alat pacu jantung, operasi itu dilakukan. Kondisi Pastor Marian sesudah operasi naik turun sampai dengan Minggu malam. Pada hari Senin yang lalu, sekitar pukul 01.00 Wib hari saya mendapat kabar dari RS. Elizabeth Semarang bahwa kondisi Pastor Marian sangat kritis. Pada jam 02.40 Wib Pastor Marian pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.” Wakil dari Keuskupan Palangkaraya yaitu Vikaris Jenderal Keuskupan Palangkaraya Pastor Silvanus Subandi, Pr dalam sambutannya berkisah tentang pengalaman masa kecilnya bersama sosok Pastor Marian. Menurut Pastor Subandi, Pastor Marian adalah seorang Misionaris yang ulung. “Hari ini terutama bagi Keuskupan Palangkaraya adalah hari dimana kami mengalami kehilangan seorang Imam yang mempunyai semangat luar biasa. Saya kagum kepada beliau, bahkan saya mengenal beliau sebelum saya menjadi seorang Katolik. Karena beliau juga akhirnya saya menjadi seorang Imam. Dengan kesabaran yang dimilikinya, beliau menempuh perjalanan misi yang jaraknya jauh. Beliau adalah salah seorang Imam Pionir yang berkarya di daerah Barito Selatan dan Barito Timur, juga di Paroki Ave Maria Tanjung dan Kuala Kapuas. Terakhir beliau berkarya di Paroki Santo Yohanes Patas, Keuskupan Palangkaraya. Saat ini umat di Paroki Patas merasa kehilangan beliau setelah beliau dipanggil kembali ke pangkuan Bapa. Banyak dari umat di Keuskupan Palangkaraya yang mengalami kasih Allah lewat pelayanan yang diberikan oleh Pastor Marian, bahkan ada umat yang mengalaminya semenjak mereka masih kecil. Kami yakin bahwa nama Pastor Marian akan tetap diingat umat, juga pesan dan nasehat beliau – terutama bagi umat dimana beliau pernah berkarya.” Dimakamkan Diantara Para Misionaris Kalimantan Makam Pastor Marian terletak di sisi sebelah kanan lantai Altar kecil yang dibangun dalam Kompleks Pemakaman Misionaris Kalimantan. Di sisi lain sebelah kiri, berjajar beberapa makam dari para Misionaris Kalimantan lainnya, antara lain : Pastor G.H. Borst, MSF, Fr. M. Gregorius Rudolf, Pr, Pastor Karl Klein, MSF, Pastor Yohanes Henricus Wieggers, MSF, Br. Alexsander Apui, MSF, Pastor Jacobus Kusters, MSF dan Pastor Antonius van Rossum, MSF. Pastor Marian Wiza, MSF dilahirkan di Wielen – Polandia pada tanggal 24 Desember 1933. Beliau adalah putra pasangan Yosef dan Hedwig. Pastor Marian masuk Seminari Kazimierz Biskupi – Polandia pada tanggal 13 Nopember 1961. Tanggal 19 Mei 1966 menerima Tahbisan Imam di Poznan – Polandia. Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 23 April 1972, Pastor Marian tiba di Jakarta bersama beberapa orang Misionaris MSF Provinsi Polandia. Mereka adalah : Pastor Stanislaus Wrszesniewski, MSF, Pastor Stefan Kolodziej, MSF, Br. J. Falba, MSF dan Br. Wencenslaus Stelter, MSF. Kala itu kelima orang Misionaris MSF Provinsi Polandia ini dijemput langsung oleh Provinsial MSF Kalimantan Pastor M.C.C. Coomans, MSF. Awalnya mereka melakukan kunjungan ke Seminari Agung MSF di Yogyakarta, lalu melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Karena sakit, Br. Stelter akhirnya kembali ke Polandia, sedangkan 4 orang Misionaris lainnya tiba di Banjarmasin pada tanggal 13 Agustus 1972. Selama berada di Kalimantan, Pastor Marian pernah berkarya di beberapa Paroki di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Tahun 1972 – 1977 Pastor Marian bertugas di Buntok/Pendang, Kalimantan Tengah. Kemudian pada tahun 1977 – 1979 berkarya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pastor Marian bertugas di Tamiyang Layang (Kalimantan Tengah) dan Tanjung Tabalong (Kalimantan Selatan) sejak tahun 1979 hingga 1999. Lalu pada tahun 1999 – 2004 melanjutkan karya misinya di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Tahun 2004 – 2008 Pastor Marian bertugas di Ampah, Kalimantan Tengah. Mulai tahun 2008, Pastor Marian berkarya di Buntok. Akhirnya pada tanggal 3 Agustus, tepat pada pukul 02.40 Wib, Pastor Marian, MSF meninggal dunia dengan tenang di Rumah Sakit Elizabeth Semarang, Jawa Tengah. Terimakasih dan selamat jalan bagi Pastor Marian yang kami cintai!

8 responses to “MISIONARIS ASAL POLANDIA ITU TELAH TIADA : “DUA KEUSKUPAN BERDUKA !”

  1. Pozdrawiamy POLSKA

  2. Dziękujemy i łączymy się w duchu i modlitiwe z pastorem Marianem Wizą i z Wami…kochanymi parafianami.

    Pozdrawiamy serdecznie z Polski

  3. Spoczywaj w pokoju, Wujku!!!

  4. aduuuuuhhh…sdih bgt p.marin meninggal….c0z orgnya baek bgt n dia juga yang babtis aq nadek2 q……aq bru tau bbrp hri yang lalu, stlah bka intrnet…c0z wkt p.marin meninggal aq dah kuliah di jogja…

  5. aduuuuuhhh…sdih bgt p.marian meninggal….c0z orgnya baek bgt n dia juga yang babtis aq nadek2 q……aq bru tau bbrp hri yang lalu, stlah bka intrnet…c0z wkt p.marin meninggal aq dah kuliah di jogja…

  6. aduuuuuhhh…sdih bgt p.marian meninggal….c0z orgnya baek bgt n dia juga yang babtis aq nadek2 q……aq bru tau bbrp hri yang lalu, stlah bka intrnet…c0z wkt p.marian meninggal aq dah kuliah di jogja…

  7. Hermanus Susanto

    Aku pernah kenal Pastor Marian….saat aku tugas di Tabalong….Requestpac In Pacem.

  8. misionaris mmbrikan sumbang saran di daerah pedlman u.kmjuan pegetahuan msia seutuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s