PERKAWINAN CAMPUR: ANTARA LOGIKA, IMAN DAN CINTA

Di mana logika hatiku
Jatuh cinta kepadanya
Tetapi ternyata asmara
Tak kenal dengan logika..”

Sebait lagu tadi dinyanyikan oleh Vina Panduwinata belasan tahun yang lalu. Cinta memang bukan urusan logika, tetapi soal hati, bahkan soal cinta itu sendiri. Seringkali cinta mengalahkan segala-galanya, sehingga kita sepakat mengatakan bahwa love is blind, cinta itu buta. Kalau cinta berbicara, semua hal bisa menjadi lain dan hidup terarah ke sana begitu kuatnya.

Kita tidak tahu kapan cinta itu datang, dan kapan cinta itu menguasai kita. Bahkan, kita tidak kuasa menahan gejolaknya. Segala halangan logis, hambatan fisik, social, bahkan idealitas pribadi tiba-tiba berubah menjadi lain, ketika kita mabuk kepayang dalam rasa cinta. Orang yang kita sayangi dan kita jatuhi cinta atau jatuh cinta kepada kita kadang bukanlah orang yang telah sejak semula kita idealkan. Bahkan agama bisa menjadi tantangan yang tidak terlalu sulit dikalahkan demi sepotong cinta.

Memang tidak selamanya demikian. Ada yang bisa mengalahkan rasa cinta dan membela idealitas atau prinsip pribadi. Beberapa orang lebih suka menderita demi iman, daripada menderita karena kasih tak sampai. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang terpaksa membuat toleransi iman demi cinta yang sudah matang.

Cinta bisa berlabuh di pelabuhan lintas iman. Ada yang berlabuh di lain gereja, kita sebut mixta religio, dan ada yang berlabuh di lain agama, yang kita sebut disparitas cultus. Cinta yang datang selalu tidak kita duga ke mana menambatkan dirinya. Kita hanyalah manusia yang mencinta dan dicinta. Iman yang kita yakini berada di belakang semua itu dan biasanya baru menjadi persoalan sesudah cinta menunjukkan bentuknya dalam relasi pribadi yang menjadi semakin kuat, dekat, dan masuk dalam lembaga perkawinan.

Bukan menjadi keanehan kalau orang baru berpikir ,mengenai agama setelah hubungan menjadi semakin akrab dan serius. Kita memang tidak selalu sedang diatur oleh iman kita. Kita mungkin lebih sering diatur oleh pikiran, hati, dan kepentingan sehari-hari yang berlangsung begitu saja, demikian juga ketika cinta melanda.

Krisna tidak pernah menyangka sebelumnya kalau ia akhirnya harus mempunyai kekasih seorang muslimat. Ia yang rajin mengikuti kelompok Mudika di parokinya dan rajin menjadi misdinar semasa SD dan SMP, sekarang malah jatuh cinta pada teman kuliahnya, Nurita yang beragama Islam itu. Kadang ia dihantui rasa malu jika bertemu dengan teman-teman waktu berjalan bersama Nurita. “Malu juga nih kalau ketahuan enggak dapet cewek Katolik!” Begitu juga ketika harus mengajaknya datang ke pesta teman Mudikanya, ia selalu dilanda kegalauan untuk mengajak atau tidak temannya itu.

Meskipun ia berkeputusan untuk menikah dengan kekasihnya muslimnya itu, dengan proses yang agak berbelit-belit, soal keluarga maupun administrasi Gereja, akhirnya mereka menikah di Gereja. Persoalan rasanya selalu datang ketika harus berbicara soal iman dalam keluarganya, mulai pendidikan iman anak sampai membina kesatuan dengan saudara seiman di lingkungannya. Tetapi, hatinya tidak pernah barang sekejap pun berpaling dari isteri yang beda agama itu. Ia masih tetap amat mencintainya, demikian juga sang isteri kepadanya.

Apa yang salah dalam hidup rumah tangganya? Bukankah kebahagiaan keluarga menjadi nomor satu? Mengapa tiba-tiba lingkungan menjadi “sebentuk sebab” yang membuatnya ragu memberi judul bahwa keluarganya itu biasa-biasa saja dan baik?

Tidak semua kita dapat berharap mendapatkan keluarga ideal seperti logika kita. Tidak semua aktivis katolik, orang orang yang rajin menggereja, mendapatkan jalan hidup berkeluarga yang katolik-katolik. Akan tetapi, kebahagiaan tidak mesti selalu diukur dari kesamaan iman dalam keluarga. Bahkan kita harus juga menginsyafi bahwa yang berbeda juga bisa menjadi sarana kebahagiaan dan keselamatan bersama. Iman tetap harus dibela, tetapi kenyataan jangan diabaikan.

Cinta memang mengalahkan segalanya di awal relasi, tetapi tidak demikian seterusnya. Cinta selanjutnya mesti berkembang menjadi jalan agar Tuhan dapat menyatakan diri-Nya dalam keluarga kita. Meskipun kesulitan mungkin kita temui, tetapi kesungguhan untuk membangun keluarga yang sejahtera dan bahagia harus menjadi semangat utama. Iman adalah dasar membentuk kebahagiaan itu secara rohani. Maka, perlulah hidup beriman mendapat perhatian kita meskipun kita berada dalam situasi yang dianggap rawan masalah.

St. Paulus mempunyai keyakinan bahwa kesucian/kekudusan pihak Kristen “menguduskan” pihak bukan Kristen. Kekudusan orang beriman mengalahkan keburukan orang tak beriman (I Kor.7:12-14). Mereka yang menikah dengan orang dari iman lain tidak berlawanan dengan kemandirian dwi tunggal yang terbentuk antara Kristus dan orang beriman sehingga tidak termasuk dalam golongan perzinahan. Keyakinan ini dapat meneguhkan mereka yang terpaksa menikah campur.

Dalam konteks Indonesia yang mayoritas masyarakatnya bukan Katolik, tentu saja kita harus mempunyai kebijaksanaan khusus agar iman saudara saudari segereja kita tetap terjaga, kendati harus berhadapan dengan situasi kawin campurnya. Pergaulan tidak dapat kita batasi, seperti perasaan kita yang tanpa batas meraih siapa saja dan bertaut pada siapa saja yang dianggapnya pantas dicintai. Pluralitas ini mengundang kita untuk lebih bijak menilai kawin campur.

Kita perlu mengingat bahwa kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan, dan cinta kasih dalam keluarga menjadi tiang utama yang mesti diperhatikan. Kita membutuhkan iman, tetapi sekali lagi, bukan iman logika, melainkan iman dalam konteks, iman dalam pengalaman konkrit dengan susah senangnya, dengan untung dan malang. Iman yang membumi dan sekaligus mengatas, ke arah Allah.

Kita bersama harus menjaga keutuhan keluarga sebagai yang terpenting. Dengan tidak mengabaikan masalah iman, sosial, dan pendidikan iman anak, keluarga dari pasangan campur mempunyai beban dan tanggung jawab istimewa untuk menjaga agar semua berjalan harmonis dan memuaskan semua pihak.

Kewajiban yang muncul dari hukum Gereja mengenai perkawinan campur tidak dengan mudah-mudah saja kita laksanakan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Perjuangan itu dihargai oleh Gereja. Gereja tidak memandang dengan sebelah mata tragedi dan persoalan keluarga kawin campur. Karena itu, Gereja melindungi pihak yang beriman dan keturunannya dengan hukum. Betapapun demikian, hukum kadang justru takluk di kaki kenyataan yang dihadapi keluarga. Persoalan yang timbul kadang melampaui jangkauan hukum, karena melibatkan hati.

Marilah kita renungkan bersama: perkawinan dalam setiap keluarga tetaplah sakral, sejauh pasangan yang menikah menganggap dan memperlakukannya demikian. Kekudusan itu terletak dalam cara bagaimana pasangan memulai, melangsungkan, dan memutuskan segala sesuatu dalam terang cinta kasih yang memulai segala-galanya. Komunikasi dan keterbukaan satu sama lain menjadi sarana paling ampuh agar suara Tuhan saling diperdengarkan. Cinta memulai segalanya, tetapi sekali lagi bukan hanya cinta dalam logika yang sempit. (Rm. Erwin Santoso, MSF)

Iklan

One response to “PERKAWINAN CAMPUR: ANTARA LOGIKA, IMAN DAN CINTA

  1. Memang lebih besar dan berat tantangan pasangan kawin campur, apalagi hakekat perkawinan menurut gereja katolik adalah tidak sekedar menyatunya pria dan wanita dalam kerelaan dan penuh keikhlasan, pun malah pula untuk berbuah — sebagai kelanjutan procreation — dengan kewajiban melekat untuk mendidik buah hati yang dipercayakan kepadanya — yang katolik — secara katolik. Ini seringkali tidak terpikirkan terlebih dahulu — cinta memang buta ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s