KELUARGA, SEKOLAH IMAN DAN NILAI-NILAI MANUSIAWI

Keluarga

Gereja menegaskan bahwa ada 3 komunitas yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak dan kaum muda, yaitu: Keluarga, Masyarakat/negara, dan Gereja. Ketiga komunitas ini secara kodratnya dianugerahi Allah tanggungjawab mendidik anak-anak dan kaum muda.Keluarga adalah komunitas pertama dan utama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak, karena di dalam keluarga lah anak-anak lahir, hidup dan bertumbuh dewasa. Lebih dari itu, anak-anak mampu merealisasikan panggilan hidupnya sebagai manusia dan orang beriman kristiani dalam keluarga ( Paus Yoh. Paulus II, Surat kepada Keluarga-keluarga).

Paus Pius XI menegaskan dalam ensiklik Divini Illius Magistri (Pendidikan Kristiani untuk anak-anak dan kaum muda), bahwa Allah memerintahkan keluarga (suami – isteri) untuk melahirkan dan mendidik anak-anak. Dalam mendidik anak-anaknya, orangtua harus membangun suasana rumah tangga yang dipenuhi oleh cinta kasih, agar anak-anak mengerti bagaimana menjadi orang yang dicintai dan harus mencintai.

Dengan demikian keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama yang membimbing anak-anak untuk beriman dan berbakti kepada Allah dan sesama, dan keutamaan-keutamaan sosial, yang dibutuhkan oleh masyarakat (GE. 3; GS. 52; FC. 21).

Orang tua

Baik masyarakat/negara maupun Gereja mengakui dan menegaskan bahwa orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. “Karena orang tua telah memberikan kehidupan kepada anak-anak, terikat kewajiban amat berat untuk mendidik mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik mereka yang pertama dan utama”. (GE., 3; PIUS XI, ensiklik Divini Illius Magstri).

Tugas mendidik berakar dalam panggilan utama suami isteri untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. Orang tua adalah pribadi-pribadi yang mempunyai kesempatan pertama untuk memperkenalkan realitas kehidupan duniawi kepada anak-anak. Karena itu sudah sewajarnya, orang tua juga menjadi pendidik pertama dalam iman melalui perkataan dan teladan, yang juga wajib memelihara panggilan anak-anak, terutama panggilan rohani (LG. 11).

Jika keluarga disebut sebagai Gereja rumah, maka orang tua adalah pewarta dan saksi iman bagi anak-anak. Dengan mendidik iman anak, mereka turut ambil bagian dalam tugas misi Gereja universal: mewartakan iman. Mengenai hal ini, Paus Yohanes Paulus II mengatakan dengan kalimat yang sangat indah, yakni orang tua menjadi duta Injil yang pertama. Pendidikan iman dalam keluarga harus didasari dengan kasih, kesederhanaan, kesaksian harian (FC. 53).

Dalam mendidik anak-anak itu, orang dituntut untuk menyampaikan kepada anak-anak semua pokok yang dibutuhkan, supaya mereka bertumbuh menjadi dewasa secara kristiani. Orang tua harus menunjukkan bahwa iman kristiani dan cinta kasih akan Allah memberikan makna yang dalam bagi kehidupan mereka. Misi orang tua untuk mendidik anak-anak diteguhkan oleh sumber istimewa: sakramen perkawinan. Sakramen perkawinan itu memberi martabat menjadi “pelayan” Gereja, demi pembangunan para anggotanya (yakni anggota keluarga, terutama anak-anak) (FC. 38). (Rm. B.R. Agung Prihartana, MSF)

One response to “KELUARGA, SEKOLAH IMAN DAN NILAI-NILAI MANUSIAWI

  1. Wening Damayanti

    Bgi sy peran ortu dlm prkmbgn iman qt sngat berpengaruh bsr…sy d-lahirkan dr ortu yg seiman(kristen)tp bapak sy sblum menikah dg ibu adl seorang muslim.Sy tmbh d-lingk yg kbykan muslim,sya sering share,bgi sy smu agama baik,trgntung yg mnjlnkan.y.thx.GB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s