“AINAN, SEKALI-SEKALI BUKAN YANG TERKECIL….”

MISI MSF DI ATAMBUA:

 

Satu tahun sudah kami ditugaskan untuk menjajaki tempat yang akan dilayani oleh MSF Kalimantan di wilayah paroki Kiupukan, keuskupan Atambua. Sesuai pembicaraan awal antar uskup Atambua dan Provinsial MSF, bahwa MSF Kalimantan menjajaki di wilayah bagian selatan dari paroki Kiupukan. Dalam penjajakan tersebut, ada beberapa tempat yang memungkinkan untuk membangun sebuah paroki.

 

Keadaan Geografis

Wilayah selatan paroki Kiupukan merupakan daerah pegunungan dan berbatu. Sebagian besar tanah belum digarap oleh masyarakat. Keadaan tanah sangat subur untuk menanam Jambu Mete, Kayu Jati dan Pisang. Sampai sekarang masyarakat hanya mengolah tanah untuk menanam jagung. Sebagian kecil masyarakat yang berusaha menanam Jambu Mete, Jati dan Pisang tetapi tidak terawat dengan baik.

Jalan-jalan masih berbatu. Belum ada tanda-tanda usaha pemerintah untuk pengaspalan jalan. Untuk mengujungi stasi-stasi wilayah selatan kami dapat menggunakan kendaraan roda 4 atau 2. Jarak antar stasi kurang lebih 10-25 km.

Salah satu kendala di sebagian besar wilayah selatan adalah air. Untuk mendapatkan air minum, masyarakat harus jauh berjalan kaki. Di musim hujan masyarakt harus menyediakan drum untuk menampung air hujan untuk keperluan sehai-hari. Pemerintah maupun masyarakat (umat) pernah berusaha membuat sumur bor tetapi tidak ada hasil.

 

Situasi Sosial

Kebiasaan gotong royong masyarakat wilayah selatan sudah terbina dengan baik. Setiap kampung memiliki ketua adat/kepala suku sebagai pemimpin. Kepala adat inilah yang memberi komando kepada Umat untuk bekerja baik itu program pemerintah maupun dari gereja.

Sistem kerajaan masih kuat berpengaruh. Raja sangat dihormati dibandingkan dengan pemerintah. Masyarakat lebih taat kepada raja daripada pemerintah. Raja mempunyai bawahan yang disebut Fetor. Seorang Fetor mempunyai kedudukan yang sejajar dengan camat karena dia membawahi beberapa desa. Fetor inilah yang mengontrol kehidupan sosial masyarakat. Semua tanah yang ada di wilayah yang dipimpin oleh seorang Fetor dikuasai oleh Fetor. Fetor mempunyai kuasa untuk menyerahkan tanah kepada suku-suku atau siapa saja. Masyarakat dalam satu kefetoran terdiri dari beberapa suku.

Wilayah selatan dari Paroki Kiupukan adalah satu kefetoran yaitu kefetoran Ainan. Kefetoran Ainan terdiri atas tiga desa yang terdiri dari terdiri dari berbagai suku.

 

Situasi Ekonomi Umat

Hampir semua umat Katolik di wilayah selatan adalah petani. Setiap tahun mereka menanam jagung. Pola pertanian berpindah-pindah. Hanya panen jagung satu kali dalam setahun. Selain bertanam jagung, beberapa umat memelihara sapi yang dijual untuk menambah penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan juga membiayai anak sekolah

 

Sumber Daya Manusia

Kesadaran akan pendidikan bagi masyarakat selatan masih kurang. Masih ada anak yang tidak tamat sekolah dasar (buta huruf). Rata-rata umat selatan lulusan Sekolah Dasar. Hal ini disebabkab karena kemampuan ekonomi yang tidak mencukupi, sehingga anak-anak tidak bisa melanjutkan ke SMP atau SMA. Kurangnya sumber daya manusia berdampak pula pada pola hidup ekonomi yang sederhana.

Berdasarkan data yang terkumpul, wilayah selatan terdiri dari 5 stasi dengan total jumlah umat 2.762 jiwa (atau 579 KK). Anak-anak dapat belajar di dua Sekolah Dasar Katolik, Dua Sekolah Dasar Negeri dan satu SMP Negeri. Umat di wilayah selatan belum memilik gedung gereja yang layak. Selama ini mereka berdoa di Gedung Gereja yang sangat sederhana. Mereka mempunyai semangat untuk bersama-sama membangun tempat Ibadat yang layak agar dapat berdoa bersama. Sebetulnya di kampong Boni, salah satu kampung dari wilayah selatan ini, pernah dimulai pembangunan sebuah gedung Greja stasi. Pembangunan itu kemudian macet ketika proses itu baru sampai pada tahap pengecoran tiang-tiang beton untuk bangunan itu. Mudah-mudahan tiang-tiang beton itu segara mendapat “teman-teman” berupa dinding yang utuh dan atap….

 

Penutup

Laporan Panorama ini tentunya kurang lengkap karena baru “emat mata” memandang. Siapa menyusul kami, atau mengiringi langkah kami, dengan doa dan perhatian dalam aneka bentuk, menatap masa depan Gereja dan masyarakat Kefetroan Ainan? Di Wilayah Selatan? Apakah “Selatan” mesti selalu terlupakan sama seperti “pembagian dunai kita yang lebih besar: “Utara-Selatan”. Semoga bukan demikian.

 

(P. Kasmir Agung, MSF)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s