TAPAK-TAPAK KESUCIAN

Pater Jean Berthier MS adalah seorang pribadi yang layak dipuji, seorang kristiani tersohor dalam pelbagai keutamaan. Dia seorang yang luar biasa dengan kasih berlimpah-limpah kepada Allah, dengan kesetiaan mendalam kepada Gereja. Berikut ini beberapa kesaksian dari tokoh yang mengenalnya dari dekat.

Kesaksian dari Jan Sprangers,

Imam dan Deken di Grave (Cuyk)

PATER JEAN BERTHIER MS: BAPA YANG MURAH HATI

Pater Jan Sprangers menyampaikan khotbah istimewa dalam kesempatan pemakaman P. Berthier. Ia mengenal P. Berthier baik dari luar maupun dari dalam, baik karya maupun pribadi Bapa Pendiri. Ia memuji kepribadian dan keutamaanya, khususnya mengenai (1) kasih kebapakan dan (2) kemurahan hatinya.

P. Jan Sprangers mengungkapkan bahwa Allah mengirimkan hati kebapakan untuk anak-anak P. Berthier saat itu. Ia mengenang beberapa hal dalam buku P. Berthier yang berjudul Imama. P. Berthier menggarisbawahi hal ini: di antara sebutan yang diterapkan pada para imam, sebutan yang paling terhormat adalah ‘bapa’. Di depan para murid Berthier, P. Sprangers menegaskan: “Dia mencintai kalian dengan hangat dan sepenuh hati. Tentunya kalian sungguh menangkap perhatiannya yang dilimpahkan untuk mendampingi perkembangan kalian dalam rangka mendidik dan menguduskan kamu sekalian… Kamu masing-masing kiranya mampu mengatakan suatu kelemahlembutan yang luar biasa yang dimilikinya bagi kalian, untuk tiap-tiap orang dari kamu, dan untuk karya panggilan imamat yang telah ia rintis demi kemuliaan Allah”.

P. Jan Sprangers melanjutkan bahwa Pater Berthier dikasihi juga oleh pelbagai pribadi dengan perhatian yang istimewa bagi dunia saat ini. Hidupnya yang transparan, keluhuran jiwanya, sifat tidak mencari keuntungan dirinya, serta sikap mengorbankan dirinya; semuanya itu memberinya penghargaan, simpati, serta pujian dari mereka yang beruntung telah berjumpa dengannya. Yang mengenalnya secara tidak langsung pun merasa beruntung. Ia sungguh dikasihi karena ia seorang yang baik di mata semua orang; menyenangkan hati karena kesahajaannya, kebaikannya, serta kesederhanaan sikapnya untuk menanggapi tiap pendapat dengan bebas.

“Meski ia memiliki aneka kemampuan, tak pernah ia menyombongkan diri. Walaupun ia merupakan pribadi yang sungguh berkualitas ia tidak menonjolkan diri. Meskipun ia beroleh begitu banyak keberhasilan dalam karya-karyanya, ia tidak ingin diagung-agungkan, justru ia menjauhkan diri dari sikap supaya dielu-elukan… Ia begitu besar di mata sesamanya dan begitu sederhana, biasa, dan sahaja di depan matanya sendiri.”

Simpati dan pujian besar dari semua orang ini merupakan ujian dan godaan yang bertubi-tubi untuk seorang beriman, sekalipun sungguh suci. Ia tidak jatuh dalam godaan supaya dipuji-puji; ia tinggal dalam kesederhanaan di hadapan Allah. Dikuatkan oleh teladannya, marilah kita ikuti jejaknya sambil berupaya menjadi ragi Kristus dan menjadi harum karena tinggal dalam Dia.

Kesaksian dari P. Marie Auguste Rivoire, seorang abbas Cartusian, yang pernah menjadi murid P. Berthier di Corps (dekat La Salette).

PATER JEAN BERTHIER MS: SEORANG SANTO DAN CENDEKIAWAN

“Pater Berthier merupakan sekaligus seorang santo dan cendekiawan; seorang model misionaris, pekerja yang rajin, seorang pribadi yang terbakar oleh semangat kerasulan, sunguh aktif dan memiliki kekayaan hidup interior, keras namun sekaligus lunak dan penuh kasih, mampu memikat hati dan menyatukan jiwa.

Ia seorang abdi Tuhan dan pendoa, amat berbakti kepada Maria, peka dalam bertutur-kata, terpuji, dianugerahi iman yang menyala, serta kaya akan gagasan ilahi. Ia merupakan sosok jiwa yang cekatan dengan kegigihan seperti baja, di atas rata-rata orang pada umumnya. Seorang imam pada zamannya, pengajar yang memakai metode para santo-santa yang agung, bukan seorang orator namun tetap saja seorang pengkhotbah yang memikat dan terkenal, bagaikan sinar yang mampu membakar tanpa membutakan mata, seperti cahaya yang menghangatkan tanpa menghanguskan – itulah dia!

Rendah hati, sahaja, peka, lebih memperhatikan buah-buah jangka panjang dari pada akibat-akibat sesaat. Pencinta para miskin, pelaku keugaharian, dan seorang pekerja. Berkarakter keras dan tegas – sebagaimana para kudus dan para pendiri kongregasi, penuh dan kaya akan keutamaan. Memadukan martabat dan kebaikan hati, kemampuan pribadi dan kesederhanaan. Sekaligus memiliki dan mengembangkan kepribadian yang unik, cocok untuk karya-karya agung begitu penting dan bertahan berabad-abad. Itulah dia!

Kita memuji dan bersyukur untuk hidup dan karya-karyanya yang terwujud berkat kasih Allah dan demi Kerajaan Allah.

P. Santiago Fernandez del Campo, MSF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s