Kupinta pada-Mu…., Tambahkah Satu Penuai, Please!

DI SUATU PAGI YANG DINGIN:

Ada Cerita Tentang Hidup dan Cinta.

oleh: Fr. Gebby Ama Ma’ing, MSF.

 

 

           

Sang Isa, tadi pagi Engkau bangunkan aku lewat kokok ayam di luar jendela kamarku. Pagi masih gelap dan dingin, sementara matahari belum terbangun sama seperti mereka-mereka yang barangkali masih bertualangan dan bercengkrama di alam mimpi. Udara terasa dingin dan akupun dengan tenaga tersisa mencoba mendobrak kebekuan dingin ini dengan keluar dari selimut penghangat tubuhku.

Aku mau memanfaatkan kesempatan ini sekedar untuk keluar dan berjalan-jalan di sekitar pastoran. Waktu terus berjalan sembari mengajak aku untuk berlangkah semakin menjauh. Aku menyaksikan hiruk pikuknya segerombolan manusia yang lalu-lalang; mereka tampak sibuk, yah… mereka berjuang keras untuk mengisi dan membiayai hidup mereka.

Bertemankan asap polusi dan hempasan debu jalanan yang sedikit mengaburkan pandangan mataku, akupun terus mengarahkan pandangan mataku ke suatu tempat. Akh…Warung Pojok Town Hall.” Tempat ini menjadi kenangan di mana aku pernah duduk bersama sekumpulan umat yang aku layani. Kami pernah mangkal di tempat ini, sambil menikmati teh hangat dan bakso urat.  Saat itu memang indah. Di tempat ini juga, kami banyak bercerita tentang suka dukanya hidup kami masing-masing. Ada yang kecewa karena putus cinta, ada yang bahagia karena sukses dalam bekerja, lulus seleksi pada perusahan yang terkenal. Ada juga dengan sedih menceritakan duka lara hatinya karena ditinggalkan pasangan hidup, anaknya menjadi pecandu narkoba, kehausan kasih sayang dari orang tua dan suami yang salingkuh.

Saat itu memang indah. Aku melihat bahwa tema obrolan kami cukup variatif. Ada banyak luka batin yang dideritai oleh mereka. Satu hal yang menarik yaitu kami pada akhirnya juga berbicara tentang jalan hidup manusia. Ada yang bertanya kepadaku mengenai ”Dari mana asal-muasal hidup manusia? Kapan manusia dikatakan hidup? Untuk apa manusia hidup kalau toh terus menderita? Mau ke manakah manusia harus mengarahkan hidupnya?” Sayang  sekali karena tak seorangpun yang berani menjawab semua pertanyaan itu. Yah…, aku pun harus segera mencarikan kata-kata yang tepat buat mereka kerana aku merasa kesulitan menguraikan jawaban yang sederhana. Cukup sulit untuk bagaimana menguraikan dan mendaratkan bahasa filsafat dan teologi berhadapan dengan pola pikir dan konteks hidup mereka. Tapi baiklah, tidak salah juga jika aku mencobanya mulai sekarang

 

KATA MEREKA:

”Aku Sedang Gerah dengan Jubahku.”

           

            Sang Isa, aku ingat baik, akan salah seorang di antara mereka yang saat itu bertanya kepadaku “Frater…, mengapa frater memilih jalan hidup seperti itu?” Sungguh pertanyaan yang mengagetkan aku. Aku menjadi diam sejenak. Dan pada akhirnya aku memberikan dua alasan yang terangkai dalam satu kalimat yaitu: “Karena aku ingin minum anggur dan bahagia”.

Sedikit kemudian setelah mendengar jawabanku itu, mereka semua langsung tertawa sinis.  Mereka menganggapku sedang ”omong aneh.” ”Wallah…walllah, frat.. frat, kok ngomongnya kayak gituan sih, aneh sekali alasanmu frat”. Begitulah mereka bilang padaku! Melihat semua tingkah mereka, aku pun sempat bertanya diri: ”Apakah benar panggilan untuk hidup membiara yang menyendiri seumur hidup adalah pilihan untuk mengalami kebahagiaan?” ”Lantas kebahagiaan macam manakah yang handak dicari?” ”Benarkah semua orang di Biara merasakan kebahagiaan?” Pertanyaan ini membuat aku sedikit terganggu ketika membayangkan teman-temanku yang sering sakit hati dan stress di biara karena merasa tidak diterima oleh komunitas. Mereka sering menangis dan mempertanyakan mengapa mereka tidak bahagia. Mereka telah memutuskan untuk hangkang dari biara.

Sementara belum kutemukan jawabannya, aku melihat bahwa ternyata mereka masih terus memandang aku; pandangan yang penuh sinis seakan-akan aku adalah orang yang aneh karena memilih hidup membiara  atau selibat. Sebuah pilihan hidup khusus dengan segala konsekuensinya termasuk tidak kawin seumur hidup. Bagi sebagian dari mereka ini tidak modern. ”Frat.., lihatlah kenyataan sekarang banyak orang memikirkan keluarga yang bahagia dan sejahtera dengan istri yang cantik, dan anak yang manis. Kami bahagia frat, jangan dikira bahwa kami sengsara!” begitulah mereka berpendapat kepadaku.

Mereka menganggapku sebagai orang yang tolol karena memilih mengekang diri dengan aturan di biara yang ketat. Banyak tugas pastoral, tuntutan studi filsafat dan teologi yang gampang-gampang sulit. Belum lagi harus menghadapi semuanya di atas medan  karya yang luas dan penuh tantangan. Terhadap semuanya ini, aku pun merasa bahwa sebetulnya akupun masih ingin bebas berbuat apa saja seperti mereka. Aku yang sebetulnya juga masih ingin merasakakan asiknya menjadi penguasa harta benda, menikmati indahnya masa muda dan merasa betapa menyenangkan bila sedang kasmaran dan jatuh cinta pada wanita cantik dan manis.

Mereka juga mengatkan betapa aku merasa rugi hidup dalam ketaatan penuh, disuruh ini dan itu, disuruh ke sana ke mari, belum lagi ada kesalahan aku dicibir dan lebih parah lagi Sang Isa…, ketika mereka melihat aku akrab dengan pribadi tertentu alias wanita cantik dan manis, mereka justru mengatakan dan menilai bahwa aku sedang tidak beres. Mereka mengatakan bahwa aku sedang merasa gerah dengan jubahku. ”Frater, kamu pasti sakit hati berhadapan dengan semuanya itu!” Begitulah kata mereka padaku.

 

MISIONARIS ”SETENGAH-SETENGAH”:

Setengah Mistik-Setengah Filsuf, Setengah Rohani-Setengah Duniawi.

           

            Sang Isa, melihat semua tingkah mereka, aku menjadi kesal dan tergoda. Hampir semua dari mereka mencemoohkan aku dengan menganggap aku sebagai orang yang tidak normal karena mencari kebahagiaan di dalam penderitaan dan kesulitan. Bagi mereka yang namanya laki-laki normal itu harus berkeluarga dan menurunkan anak. Sungguh terlalu. Betapa dalamnya pemikiran mereka yang dipengaruhi oleh unsur budaya lokal. Yah… aku kesal dengan mereka. Hampir aku menyuruh mereka untuk berhenti berceloteh dan melontarkan kata-kata yang kasar untuk membalas semua perkataan mereka.

Aku pun tak memungkiri semuanya ini. Aku yakin Engkau pasti tahu bahwa sebetulnya aku pun ingin merasa bebas. Aku masih ingin hidup seperti anak muda, aku ingin terlena dalam hal duniawi. Aku ingin hidup seperti dahulu di mana tidak banyak aturan, tidak banyak tuntutan, tidak banyak persyaratan. Pokoknya aku ingin hidup seperti teman-teman yang lain yang menikmati masa muda mereka dengan ceria. Yah inilah kejujuranku hatiku. Aku senang karena boleh jujur apa adanya padaMu.

            Sang Isa, pagi ini, di bawah atap Warung Pojok Town Hall ini, aku ingin menyerahkan suka dukaku. Kegelisahan dan kekeringan serta padang gurun panggilanku. Saat ini Engkau mendengar kegelisahanku; aku capeh, aku sangat lelah.

Minggu yang lalu aku sendirian melaju dengan motorku ke stasi yang paling jauh. Melintasi rimba raya Kalimantan. Di tengah perjalananku, akupun hampir di kejar oleh kerbau. Aku tak bisa lari karena sepeda motorku terbenam dalam lumpur. Aku pikir nyawaku pasti melayang di sergap kerbau. Lain lagi dengan kemarin sore: aku lelah sekali. Haus, lapar, cemas. Ada rasa takut, ”jangan-jangan aku tidak diterima dan diberi makan”. Sungguh sebuah pemikiran yang memperlihatkan sosok misionaris yang amatiran. Sosok misionaris yang setengah mistik setengah filsuf, setengah rohani setengah duniawi.

Terkadang juga ada pengalaman lain yang menantang. Jalan yang jauh, penuh lumpur; tetapi ketika aku bertemu dengan umat di stasi, ada di antara mereka yang mengeluh karena soal penundaan jadual kunjungan ke stasi. Aku telah berupaya memberikan pemahaman kepada mereka tetapi rasanya untuk hal pengertianpun ternyata mereka perlu waktu.

Kerap kali aku bermain-main dengan perasaanku sendiri. Aku sempat kehabisan kata untuk memberikan pengertian akan hal ini. Yah…. betul juga sama seperti kata dosenku bahwa situasi dan kondisi umat zaman sekarang membuat Teologi hampir kehabisan napas.

 

           

Sang Isa, aku juga sempat heran pada diriku. ”Mengapa waktu yang ada tidak kumanfaatkan untuk memikirkan diriku sendiri sama seperti teman-temanku di warung pojok dulu? Mengapa aku memilih untuk terus maju walau hampir diterkam kerbau ganas? Mengapa kutahan saja rasa lapar dan haus hanya demi orang lain di stasi?” Kenapa aku tak mau tidur atau duduk manis sambil menikmati kopi susu dan rokok  LA Menthol di pastoran saja? Hemmm… maaf… maafkan aku Sang Isa, aku sangat egois.

           

Aku ingat jatuh cintaku pertama kali ketika hendak masuk biara. ”Aku ingin minum anggur”. Itulah alasanku dan sekaligus menjadi motivasiku. Pagi yang sunyi ini, aku pun masih teringat akan hal itu. Tampaknya sepeleh namun dalam perjalannan dengan berbagai proses formasi, akupun mulai perlahan-lahan memurnikannya. Di Warung Pojok Town Hall ini, aku sedang menggeluti diriku. Aku bangga karena boleh memiliki kesempatan ini. Kesempatan buatku untuk kembali mempertanyakan “Apakah minum anggur menjadi tujuan utama untuk menjadi seorang imam?”

Aku kira tidak! Anggur hanyalah sebuah “mediator”. Anggurlah yang membuatku menjadi tergila-gila, membuatku seperti orang yang mabuk kepayang. Anggur membuatku mengejar-ngejar-Mu, mendapatkan-Mu dan akhirnya memeluk-Mu dan jatuh cinta dengan-Mu. Dari anggur aku mengerti apa arti sebuah pelayanan. Dari anggurlah aku mengerti apa makna sebuah pemberian diri. Dari anggurlah aku dapat mengenal kongregasi MSF.  

 

PINTAKU:

Tambahkan Satu Penuai,  Please…!!

           

            Sang Isa, hari ulang tahun Kongregasi MSF, dan menyongsong Centenarium Pater Berthier (Pendiri Kongregasi MSF), aku ingin hening sejenak di bawah Warung Pojok Town Hall ini. Saat ini aku sadar akan betapa hidupku masih sangat jauh dari teladan Pendiri Kongregasi. Hal ini menjadi berat sekali karena aku masih terkungkung dalam pelayanan yang mempertimbangkan sisi untung-rugi. Aku masih berkutat pada kecendrungan-kecendrungan pribadiku. Aku yang masih terobsesi pada faktor like-dislike. Begitulah aku, sosok misionaris yang setengah mistik-setengah filsuf, setangah rohani-setengah duniawi.

            Sang Isa, di pagi yang sunyi ini, aku mohon, “Ajarlah aku mencintai-Mu melalui Kongregasi MSF ini. Terima kasih karena saat ini, aku pun mulai sadar bahwa pelayanan memerlukan ketulusan dan kerendahan hati walau harus berhadapan dengan umat yang sebagiannya mungkin tidak memikirkan bagaimana aku sedang merasa lapar di tengah hutan saat mobil amblas sampai penyakit Maagku nyaris kambuh.

Aku harus maju. Aku tak peduli pada omongan dan celotehan teman-temanku dulu. Aku harus melewati hadangan kerbau itu. Aku harus menahan sakit maagku. Aku harus membenamkan diriku dalam lumpur untuk mengganjali mobilku dengan harapan bisa jalan terus. Aku yakin bahwa semua ini kulakukan karena aku ingin berjumpa dengan-Mu dalam wajah-wajah para transmigran. Wajah-wajah yang haus akan siraman rohani. Wajah-wajah yang memperlihatkan hatinya yang ingin disejuki oleh Sabda dan Santapan Ilahi. Aku berharap dalam wajah mereka Aku bisa berjumpa dengan-Mu. Aku tau bahwa untuk merekalah aku Kaupanggil. Aku ingin mengasihi dan melayani mereka dengan keterbatasanku. Di bawah Warung Pojok ini aku ingin mengatakan bahwa aku sangat mengasihi mereka.

            Sang Isa, Aku mohon semoga umat-Mu tidak berhenti pada sebatas mengeluh akan kurangnya tenaga imam, melainkan berpikir bersama untuk mendapatkan satu penuai. Itu sudah cukup. Sekali lagi, saat ini aku minta, ”Tambahkan Satu Penuai!” please! Cuman itu. Ini penting mengingat pastor parokiku sudah sering batuk-batuk. Fraternya juga lagi ngos-ngossan karena sakit maag yang kambuh. Siapa lagi yang mau menjadi penuai baru kalau bukan dari umat-Mu sendiri. Tuaian banyak tetapi penuainya sedikit. Pintaku, “Tambahkan satu Penuai, please!”

3 responses to “Kupinta pada-Mu…., Tambahkah Satu Penuai, Please!

  1. Ehm, frater yang baik, renungan frater bagus dan sangat bermakna soalnya tentang PANGGILAN HIDUP. Doaku buat frater . . . semoga tetap TEGUH, SEMANGAT, & SETIA menapaki panggilan Tuhan ‘tuk bekerja di ladang-Nya yang cukup menantang. Tuhan memberkati frater . . . slalu. Amin

  2. Jangan sia-siakan hidupmu…. jangan hidupmu dibuat sia-sia….

  3. Ada kuis injil lukas, berhadiah mobil BMW nih, mau? jawab satu pertanyaan saja, bisa dilihat disini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s