PERAYAAN EKARISTI SYUKUR ULANG TAHUN MGR. W. J. DEMARTEAU, MSF

 “Bapak Uskup sungguh menyadari apa arti menjadi rasul Yesus Kristus. Monsinyur sungguh mengerti bagaimana menjadi seorang rasul Yesus Kristus. Dari situlah saya banyak belajar.” ucap Pastor Teddy dalam homili singkatnya.

Paroki Bunda Maria Banjarbaru, Sabtu, 24 Januari 2009

Sore itu, Sabtu, 24 Januari 2009, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, tepat pada pukul 17.30 Wita dilangsungkan Perayaan Ekaristi Syukur Ulang Tahun Mgr. W.J. Demarteau, MSF yang ke-92 tahun. Perayaan Ekaristi Syukur dipersembahkan oleh Konselebran Utama Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan didampingi oleh 6 orang Pastor Kongregasi MSF diantaranya Pastor Petrus Prillion, MSF, Pastor Yosef Kristianto, MSF, Pastor Yohanes Berchmans Marharsono, MSF, Pastor Agustinus Doni Tupen, MSF, Pastor Herman Stahlhacke, MSF dan Pastor Felix Sumarjono, MSF. 

Dalam homili singkatnya, Pastor Teddy banyak berkisah tentang pengalaman pribadinya bersama Mgr. Demarteau.

Salah satu hal yang saya syukuri dalam hidup saya adalah perjumpaan saya dengan Mgr. Demarteau. Beliau memilih motto tahbisan Uskup “Apostolus Jesu Christi

yang merupakan saripati kehidupan beliau. Bapak Uskup sungguh menyadari apa arti menjadi rasul Yesus Kristus. Monsinyur sungguh mengerti bagaimana menjadi seorang rasul Yesus Kristus. Dari situlah saya banyak belajar. Bapak Uskup meyakini bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi dalam karya perutusan beliau, Allah Yang Baik akan menolong. Dan itu sangat diyakini oleh Bapak Uskup.

ternyata dapat menjadi baik juga.

Sekarang bagaimana kita bisa meyakini Allah itu baik, apalagi dalam kondisi kehidupan yang repot dan penuh tantangan?

Kita bisa meyakini bahwa Allah itu baik bila kita sungguh dekat dengan Allah. Hal ini pun juga salah satu teladan yang diberikan Monsinyur kepada saya; sehingga saya sangat berterimakasih karena beliau dekat dengan Allah. Maka saat ini kita bisa merenung bersama, seberapa jarak kedekatan kita dengan Allah? Akhirnya, selamat ulang tahun kepada Bapak Uskup Mgr. Demarteau. Terimakasih atas banyak pelajaran berharga yang Bapak Uskup berikan kepada saya dan kepada kami semua.”

 

1. Secara pribadi saya bertemu pertama kali dengan Mgr. Demarteau pada tahun 1962 dengan banyak kesan didalamnya. Sesuai dengan intisari motto tahbisan beliau, itu sangat kami alami dalam keluarga. Beliau sungguh melayani umat sampai ke pedalaman dan dari rumah ke rumah. Keluarga saya dulu dilayani beliau, meskipun tempat tinggal kami terbilang jauh yaitu di daerah Gunung Kupang sana. Sewaktu Ayah saya meninggal dunia, beliau sangat sedih. Kesedihan beliau adalah karena tidak ada seorang sopir yang mengantarkan beliau untuk melayani keluarga kami. Beliau mengenal anggota keluarga saya dengan baik.

2. Kami dari Dewan Paroki pada awalnya mempunyai maksud untuk merayakan pesta ulang tahun beliau. Akan tetapi beliau tidak ingin ulang tahunnya kali ini dirayakan karena kondisi kesehatan beliau yang tidak mengijinkan. Bila umat ingin mengucapkan selamat ulang tahun, beliau tidak mau ucapan “semoga panjang umur”. Jadi cukup “selamat ulang tahun” saja.

 

Setelah menyampaikan sambutannya, Bapak Margono mewakili Dewan Paroki dan umat mempersembahkan sebuah bingkisan untuk Mgr. Demarteau yang tengah berbahagia di hari jadinya. Di saat berikutnya, beberapa orang pengurus Dewan Paroki memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada beliau.

Dalam Perayaan Ekaristi Syukur tahun ini, hadir 2 orang keponakan Mgr. Demarteau yang jauh-jauh datang dari negeri Kincir Angin Belanda yaitu Mrs. Monic dan Mrs. Carla, yang duduk di dekat sang paman tercinta. Mereka didampingi oleh Pastor Pieter Sinnema, MSF yang bertugas sebagai Pastor Paroki Santa Theresia Balikpapan.

Lahir di Horn

 

Belanda

Pada tanggal 24 Januari 1917 pukul 10.00 pagi, lahirlah Demarteau kecil di desa Horn (Belanda Selatan) sebagai putera ke-5 pasutri Sebastianus Hubertus Demarteau dan Yohanna Moors. Sore harinya, dalam cuaca yang teramat dingin (150C di bawah nol), ia dibaptis dengan nama Wilhelmus (Wim). Wim kecil dibesarkan dalam sebuah keluarga besar. Ia mempunyai 4 orang kakak dan 3 orang adik. Dalam keluarganya, Wim kecil mengalami suasana asah-asih-asuh yang begitu hangat. Wim masuk TK di Horn (1921-1923). Saat itu Wim merasa kurang senang, karena ia beranggapan bahwa TK itu hanya “cocok” untuk anak perempuan, sebab di TK tidak diajarkan baca tulis. Tahun 1929 Wim menamatkan SD-nya di Horn. Setelah dapat membaca, Wim menjadi seorang “kutu buku”. Ketika itu orangtua Wim berlangganan “Bode v.d.Heilige Familie”, majalah bulanan yang diterbitkan para imam MSF. Majalah “Bode v.d.Heilige Familie”, memuat naskah-naskah dan surat-surat yang ditulis oleh para misionaris MSF, yang sejak tahun 1926 berkarya di Borneo (sekarang Kalimantan). Ternyata, Wim kecil sangat terkesan dengan surat-surat tersebut.

Wim berkata pada ibunya, “Mama, besok kalau saya sudah besar, saya akan menjadi pater dan pergi ke Borneo.” Ibunya menjawab, “Wim, engkau sangat sayang pada mama, mana mungkin engkau mau meninggalkan mama?!” Dengan semangat yang berkobar-kobar Wim kecil berkata kepada Ibundanya, “Mama, saya pergi ke Borneo dan di Borneo saya juga dapat sangat menyayangi mama.”

 Masuk Seminari Menengah MSF di Kaatsheuvel

Tahun 1929, setamat SD Wim kecil masuk Seminari Menengah MSF di Kaatsheuvel. Masa Seminari Menengah dilaluinya dengan lancar. Tanggal 7 September 1935 Wim menerima “jubah” sebagai tanda bahwa ia diterima di Novisiat MSF di Nieuwkerk. Sejak saat itu, ia dipanggil frater. Fr.Wim menjalani masa novisiat-nya dengan sungguh hati.

Fr. Wim diterima sebagai anggota Kongregasi MSF dengan mengikrarkan kaul sementara pada tanggal 8 September 1936. Pada tanggal 10 September 1936 Fr. Wim mulai kuliah di Seminari Tinggi MSF di Oudenbosch. Bagi seorang “kutu buku”, Oudenbosch merupakan tempat “istimewa” karena buku-buku bermutu tersedia berlimpah di sini. Fr. Wim mengucapkan kaul kekal di Oudenbosch Belanda pada tanggal 8 September 1939, dan ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 27 Juli 1941 dalam usia yang masih sangat muda, yaitu 24 tahun.

 Dikirim ke Tanah Misi Borneo (Kalimantan)

Pater Demarteau ternyata masih harus menyelesaikan studinya selama 2 tahun lagi, disamping melaksanakan tugas-tugas pastoral diantaranya pendampingan kaum muda di Keuskupan Breda. Akhir tahun 1943, Ia mendapat tugas tetap di Amsterdam, di “Open Deur” (=pintu terbuka), sebuah lembaga gerejawi yang melayani mereka-mereka yang mau mengenal dan menjadi Katolik.

Akhir Juli 1946 P. Demarteau mendapatkan pemberitahuan bahwa ia akan dikirim ke Indonesia. Ia menyambut berita ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Keberangkatan P. Demarteau mengalami beberapa kali penundaan, karena pada waktu itu kapal-kapal lebih diprioritaskan untuk mengangkut “pasukan Belanda” ke Indonesia.

Pada tanggal 11 April 1947 P. Demarteau bersama 2 orang rekannya sesama imam MSF berangkat menuju Indonesia. Sebulan kemudian tepatnya pada tanggal 1 Mei 1947, kapal yang mereka tumpangi merapat di Tanjung Priok, Jakarta. Setelah 2 kali gagal terbang ke Banjarmasin, akhirnya pada tanggal 21 Mei 1947 pesawat yang ditumpangi P. Demarteau berhasil mendarat di Banjarmasin. Saat tiba di bandara, ia diberitahu bahwa akan menerima tugas sebagai pastor paroki di Katedral Banjarmasin. Ketika pertama kali tiba di Banjarmasin, P. Demarteau merasakan bahwa keadaan pada waktu itu tidak nyaman, tidak aman, banyak kerusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah! Tanggal 27 Desember 1947, pertikaian Indonesia-Belanda dihentikan.

 Sampai akhir tahun 1949 Gereja Katolik tidak boleh bekerja di Kalimantan Selatan (Kalsel) kecuali di kota Banjarmasin. Akibatnya hampir semua misionaris bekerja di Kalimantan Timur (Kaltim) dan hanya Ordinarus dan dua/tiga pastor tinggal di Banjarmasin. Dewan Keuskupan Banjarmasin berpendapat bahwa situasi mendesak agar Kalimantan Timur menjadi keuskupan sendiri demi keselamatan dan perkembangan gereja di Kalsel.

 Menjadi WNI

Tanggal 12 Desember 1951 P. Demarteau memutuskan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) demi memantapkan keberadaannya sebagai seorang misionaris. Tahun 1952, Mgr. J. Groen, MSF mulai mempersiapkan pemisahan Kaltim dari Banjarmasin, akan tetapi karena beliau sakit maka rencana tersebut kemudian dibekukan baik di Banjarmasin maupun di Roma. Pada bulan April 1953 Mgr. J. Groen, MSF, Vikaris Apostolik Banjarmasin wafat di Surabaya. Takhta Suci Vatikan kemudian menunjuk P. Demarteau sebagai Uskup, menggantikan Mgr. Groen.

 Ditahbiskan sebagai Uskup Banjarmasin Kedua

Pada tanggal 5 Mei 1954 P. Demarteau ditahbiskan menjadi Uskup di Gereja Katedral Banjarmasin oleh duta Vatikan Mgr. De Jonghe dArdoye dan sebagai co-consencrator adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan Mgr. T. van Valenberg, OFM Cap. Dalam tahbisannya, Mgr. W. J. Demarteau, MSF mengambil motto : “Apostolus Jesu Christi” yang berarti “Utusan Yesus Kristus.” Logo uskup Mgr. W. J. Demarteau, MSF digambar oleh seorang Rahib Benediktus berkebangsaan Perancis dari Biara Benediktin di Oosterhout Belanda. Simbol tersebut bermakna bahwa panggilan Mgr. W. J. Demarteau, MSF melalui kongregasi adalah menjadi misionaris dan uskup bagi daerah yang masih memerlukan “terang Injil.”

 

 

 

 

 

 

Sedangkan dalam sambutannya, Ketua Dewan Paroki Bunda Maria Banjarbaru Bapak Robertus Margono menyampaikan 2 hal pokok, yaitu :Sebagai seorang Provinsial MSF, saya sering datang kepada beliau untuk mohon berkat dan doa; terlebih ketika ada tugas-tugas berat yang harus saya lakukan. Saya belajar dari Bapak Uskup bahwa Allah itu baik dan Allah yang baik itu akan menolong. Hal itu tadi juga kita jumpai dalam bacaan pertama dan Injil hari ini. Dalam bacaan pertama terdapat kisah Yunus yang semula ingin lari dari perutusan Allah dengan segala cara; yang melalui banyak kejadian akhirnya membuat Yunus menyadari bahwa Allah itu baik. Di lain pihak, penduduk Niniwe yang sepertinya tidak mungkin untuk diubah, karena kondisinya sudah sedemikian buruknya

 

3 responses to “PERAYAAN EKARISTI SYUKUR ULANG TAHUN MGR. W. J. DEMARTEAU, MSF

  1. kereeen.. semoga Gereja Katolik makin berkembang dan makin kuat menghadapi tantangan jaman yang makin ‘gila’ ini ..

  2. Aku terpesona menyaksikan kesucian Mgr. Demarteau MSF.
    betapa tidak, di hari tuanya ini
    beliau begitu bahagia… masih setia menjalani imamatNya.
    sungguh keteladanan yang luar biasa bagi kami yang hidup saat ini…
    Mgr… doakan kami, semoga kami bisa setia sepertimu…

  3. Selamat berkarya untuk Rm. Felix Sumarjono MSF.
    Semoga di bawah kepemimpinan Romo, Paroki Santo Lukas akan berkembang lebih baik lagi. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s