Peringatan 100 Tahun Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi MSF)

“Misionaris tanpa Kenal Lelah”

 

 

P. Teddy, MSF : “Jika dari Sabang sampai Merauke mempunyai kepedulian yang tinggi, maka Gereja Indonesia akan berkembang, sehingga Gereja maupun Karya Misi akan terus berkembang pula.”

 

 

Sore itu, Kamis, 16 Oktober 2008, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, tepat pada pukul 17.30 WITA dipersembahkan Perayaan Ekaristi untuk mengenang 100 tahun wafatnya Pater Jean Berthier MS – Pater Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Misionarii a Sacra Familia) atau yang lebih dikenal dengan Kongregasi MSF. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Konselebran Utama Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF (Provinsial MSF Kalimantan) didampingi oleh Pastor Agustinus Doni Tupen, MSF, Pastor Yohanes Berchmans Marharsono, MSF (Direktur Seminari Johaninum Banjarbaru) dan Pastor Timotius I Ketut Adi Hardhana, MSF.

 

Di awal Kata Pembuka, Pastor Teddy berujar, “Perayaan 100 tahun mengenang wafatnya Pater Berthier ini dirayakan di 14 Provinsi MSF di seluruh dunia, juga di paroki-paroki dimana para Misionaris MSF berkarya. Mulai hari ini, 16 Oktober 2008 sampai dengan tanggal 16 Oktober 2009 nanti diperingati sebagai Tahun Berthier, dimana disepanjang Tahun Berthier akan diadakan berbagai macam kegiatan untuk mengenang, berdoa dan bersyukur sekaligus meneladani Pater Pendiri MSF – Pater Jean Berthier. Pater Berthier adalah seorang pengkhotbah, pengarang, pendidik calon-calon Imam dan Pendiri Kongregasi MSF.”

 

Sebelum membawakan homilinya, Pastor Teddy mengajak umat yang hadir untuk menyaksikan tayangan perjalanan hidup Pater Berthier, yang dibuat oleh pastor P.Sinnema MSF. Setelah tayangan usai, Pastor Teddy kemudian bercerita secara sepintas mengenai Pater Berthier.

 

Slide atau tayangan tadi menggambarkan bagaimana Jean Berthier yang sejak kecil sering mendengar kisah Bunda Maria La Salette dari neneknya. Ketertarikan ini kemudian mengantarkan Pater Berthier untuk menjadi seorang Imam. Karena bantuan pastor parokinya, maka Pater Berthier akhinya menjadi Imam untuk menjawab panggilan Tuhan. Tuhan memanggil tiap-tiap orang dengan cara yang berbeda-beda. Seiring perjalanan waktu, panggilan dari Tuhan ini kita terima melalui berbagai peristiwa. Pater Berthier sendiri sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa ia nantinya akan mendirikan Kongregasi MSF.

 

Saat ia telah menjadi Imam Kongregasi La Salette, jumlah Imam sangat terbatas. Maka didirikanlah Sekolah Apostolik untuk mendidik para Imam. Di saat mengurusi pendidikan Imam inilah keprihatinan Pater Berthier muncul, oleh sebab banyak pemuda yang tidak bisa menjadi Imam karena panggilan terlambat dan karena alasan kemiskinan. Keprihatinan ini kemudian memunculkan ide untuk mendirikan Kongregasi MSF.

 

Itulah salah satu cara Allah memanggil ! Allah memanggil melalui peristiwa-peristiwa, melalui peristiwa-peristiwa tersebut Allah hendak menunjukkan rencana atau kehendak-Nya, dalam hal ini juga melalui berbagai misteri yang terjadi. Untuk memahami rencana atau kehendak Allah ini diperlukan kepekaan kita. Dalam hal ini Pater Berthier menggunakan kepekaan hatinya untuk menangkap apa yang dikehendaki Allah sekaligus mengetahui apa yang dibutuhkan oleh Gereja.

 

Seperti yang kita lihat saat ini, kepedulian terhadap Gereja mulai menurun, sehingga tidak mustahil bila banyak Seminari-seminari akhirnya kosong. Tapi untuk di Indonesia, kita masih patut berbangga karena kita lihat masih ada yang peduli dengan Gereja-gereja maupun Paroki-paroki, meski dalam realitanya saat ini kita dapati juga adanya Biara-biara yang mulai kosong. Di sini yang penting bukan sekedar seberapa besar kepedulian kita saja secara pribadi; akan tetapi dituntut pula agar kita mengajak yang lainnya untuk sama-sama peduli !

Jika dari Sabang sampai Merauke mempunyai kepedulian yang tinggi, maka Gereja Indonesia akan berkembang, sehingga Gereja maupun Karya Misi akan terus berkembang pula.

 

Perayaan Ekaristi kali ini dihadiri Mgr. W.J. Demarteau, MSF (Uskup Emeritus Keuskupan Banjarmasin), Biarawan/Biarawati, para Seminaris Johaninum Banjarbaru dan umat.

 

Pater Jean Berthier Lahir di Châtonnay

 

Jean Baptis Berthier lahir di Châtonnay – sebuah desa di Perancis Tenggara, 24 Pebruari 1840. Ayahanda Berthier adalah seorang petani yang mempunyai karakter tegas dan berkemauan keras, sedangkan Ibundanya adalah seorang yang berkarakter tenang, berhati lembut dan mempunyai kebiasaan rajin berdoa. Perpaduan kedua karakter inilah yang kemudian dapat kita temukan pada diri Jean Berthier.

 

Jean kecil mempunyai tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan, oleh karena itu Ayahnya berpendapat bahwa ia kurang cocok bekerja di bidang pertanian. Maka Ayah Jean pun kemudian mengirim Jean ke sekolah. Bila cuaca buruk, maka Jean seringkali diantarkan oleh Ayahnya ke sekolah. Jean disekolahkan di sebuah sekolah milik Yayasan Bruder Hati Yesus dan Maria. Sesudah tamat Sekolah Dasar, Jean mendapatkan pelajaran tambahan diantaranya Bahasa Latin dari Pastor Parokinya yang bernama Pastor Champon.

 

Pastor Champon adalah seorang Pastor yang mempunyai wawasan luas dan seringkali berkomunikasi dengan para Misionaris darimana saja. Surat-surat dari para Pastor, Bruder maupun Suster dari “tanah misi” seringkali dibahas oleh Pastor Champon di Pastorannya. Misalnya saja surat dari Mgr. Gandy (Uskup Agun Pondichery – India) dan Mgr. Pellet yang berkarya sebagai Uskup di Afrika dan sebagai Jenderal Kongregasi Misi Lyon.

 

Pergaulan dengan Pastor Champon inilah yang kemudian menumbuhkan benih panggilan dalam diri Jean Berthier. Benih itu tumbuh subur manakala ia masuk Seminari, meskipun ia menerima protes dari Ayahnya namun Ibunya sangat mendukung jalan hidup yang dipilih oleh Jean Berthier. Di Seminari inilah panggilan Jean Berthier sebagai seorang Imam semakin jelas. Kebanyakan teman-teman Jean menilai bahwa Jean sebaiknya menjadi seorang Rahib atau Misionaris.

 

Ketika memperoleh kesempatan untuk berlibur, Jean Berthier berkunjung ke Biara Grande Chartreuse di Grenoble, kemudian berziarah ke La Salette. Ia pergi bersama Aloysius Lassare (yang dikemudian hari menjadi Misionaris Ordo Kapusin dan menjadi Uskup) dan Massaia (yang dikemudian hari menjadi Kardinal dan berkarya di Ethiopia. Di La Salette, rombongan Jean Berthier bertemu dengan rombongan lainnya dari Paris. Diantara rombongan dari Paris tersebut terdapat Yustus de Bretenieres (yang dikemudian hari menjadi Uskup Misionaris yang kemudian wafat sebagai martir di Korea). Nampaknya kunjungan tersebut sangat berkesan di hati Jean, sehingga dalam Buku Hariannya ia menulis, “Di sini aku akan kembali.”

 

Masuk Kongregasi Misionaris dari La Salette (MS)

 

Tanggal 5 April 1862 Jean Berthier menerima tahbisan sebagai Diakon dan menurut rencana akan ditahbiskan menjadi Imam pada bulan Juli tahun berikutnya. Keputusan ini dibuat karena Jean dianggap masih terlampau muda, namun di sisi lain Jean merasa keberatan dengan keputusan ini. Maka sehari setelah temannya ditahbiskan, Jean pergi ke La Salette. Kemudian ia masuk Novisiat Kongregasi Misionaris dari La Salette hingga ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 20 September 1862 dengan hanya dihadiri oleh Magister dan seorang teman di kapel pribadi Uskup Grenoble.

 

Sejak tarekat Misionaris dari La Salette (MS) didirikan pada tahun 1852, jumlah anggota tetap memang sangat sedikit. Pater Archier, MS – Pemimpin Kongregasi Maria dari La Salette sejak tahun 1876, mengusulkan agar didirikan Sekolah Apostolik di La Salette. Gagasan ini disambut dengan antusias oleh rekan-rekan Misionaris dari La Salette dan Uskup Grenoble. Kemudian Pater Berthier memikirkan dan melaksanakan rencana tersebut selekas mungkin. Dan 12 tahun kemudian, karya tersebut telah mampu menghasilkan 32 orang Imam dimana 5 orang diantaranya berada di Norwegia untuk melaksanakan tugas misi. Di sini peran Pater Berthier sangat nampak sekali sebagai motor penggerak bagi Sekolah Apostolik tersebut.

 

Kelahiran Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF)

 

Selama Pater Berthier terlibat dalam kegiatan pendidikan Kongregasi dan ketika bertugas di paroki-paroki di Perancis, Pater Berthier berulang kali mengalami kesedihan karena harus menolak para pemuda yang hendak menjadi Imam maupun Misionaris oleh karena alasan “umur” dan “kemiskinan.” Di sini Pater Berthier merasa prihatin karena pada kenyataannya tenaga Misionaris terbatas. Keprihatinan ini kemudian diwujudkan Pater Berthier dengan jalan mengajukan usulan kepada Kongregasi La Salette untuk mendirikan lagi Sekolah Apostolik bagi “panggilan terlambat” dan karena alasan kemiskinan. Namun permohonan ini ditolak.

 

Sekalipun ditolak, namun ambisi Pater Berthier tetap berkobar. Apalagi setelah membaca ensiklik “Santa Dei Civitas” yang diterbitkan pada tanggal 3 Desember 1880 oleh Paus Leo XIII, yang mendesak agar Misi Katolik diperhatikan.

 

Pada tahun 1893 Kardinal Langénieux mengundang Pater Berthier untuk memberikan retret bagi para Imam di Keuskupan Agung Rheims. Secara pribadi, Pater Berthier pernah membicarakan ambisinya untuk memulai karya baru untuk panggilan terlambat dan karena alasan kemiskinan. Seusai retret yang dihadiri oleh Kardinal Langénieux sendiri, Kardinal berjanji akan mencarikan dukungan di Roma bagi rencana Pater Berthier tersebut. Setahun kemudian, Pater Berthier dipanggil ke Roma. Setiba di Roma, Pater Berthier langsung diantar ke Sekretaris Negara yaitu Kardinal Rampolla. Kardinal Rampolla menilai bahwa usulan Pater Berthier sangat tepat dan meminta kepadanya untuk segera menyusun rencana kerja yang akan disampaikan kepada Sri Paus. Kejadian ini terjadi pada tanggal 13 Nopember 1894. Tanpa disangka-sangka, karya Pater Berthier ternyata mendapat dukungan dari Paus Leo XIII. “Inilah suatu karya tepat dan saya berharap agar diwujudkan selekas mungkin,” kata Sri Paus. Supaya segala sesuatunya lancar, maka Paus Leo XIII menunjuk Kardinal Langénieux sebagai Pelindung.

 

Karya Misi MSF Bermula di kota Grave, Belanda

 

Pada tanggal 27 September 1895, Pater Berthier tiba di Grave, sebuah kota kecil di pinggiran Sungai Maas, Belanda. Setengah tahun sebelumnya, Pater Berthier sudah membeli sebuah gedung tua bekas tangsi militer. Di sinilah kemudian didirikan Rumah Induk MSF, tempat dimana para Misionaris Keluarga Kudus dididik. Lapangan bekas tempat latihan militer dijadikan kebun sayuran. Tanggal 28 September 1895, Pater Berthier menerima ijin tertulis dari Uskup ‘s-Hertogenbosch, dan memulai karya di Grave dengan 10 orang murid. Bulan-bulan pertama, para murid baru terus berdatangan ke Grave, akan tetapi tahun-tahun pertama menjadi masa-masa yang sulit karena tidak ada seorang pun murid dari kelompok awal ini yang bertahan. Sejak tahun 1898, terwujud suatu kelompok murid yang tetap bertahan sebagai anggota awal dari sebuah Kongregasi baru.

 

Pada tanggal 4 Oktober 1900, 5 orang Novis mengucapkan Kaul. Tanggal 4 Oktober 1903, diadakan Kapitel yang pertama yang dihadiri oleh 30 orang Frater yang telah mengucapkan Profesi. Pada tanggal 20 Agustus 1905, 3 orang Frater/Diakon MSF ditahbiskan menjadi Imam.

 

Selama Pater Berthier hidup di Grave, ia kerapkali diserang oleh bronchitis yang kronis beserta sakit perut. Hingga pada tanggal 16 Oktober 1908 pagi, setelah diberikan Sakramen Perminyakan oleh Pater Trampe, Pater Jean Baptis Berthier dipanggil kembali menghadap Allah Bapa.

 

Usaha, tenaga dan semangatnya untuk karya mencari tambahan tenaga Misionaris, yaitu mereka yang terlambat panggilan dan miskin, telah dirahmati oleh Tuhan. Tugas Pater Berthier kemudian digantikan oleh Pater Josef Carl, MSF yang dipilih pada Kapitel Pertama. Kongregasi MSF yang didirikan oleh Pater Berthier pada tahun 1895 mendapatkan pengakuan resmi dari Sri Paus pada tahun 1911. Sampai dengan tahun 1957, Kongregasi MSF dipimpin dan diatur dari kota Grave, Belanda. Namun sesudah itu, MSF kemudian berpusat di Roma, Italia.

 

Sejak tahun 1910, Kongregasi MSF telah mengirim para Misionarisnya ke berbagai negara di berbagai belahan dunia. Saat ini Kongregasi MSF berkarya di Belanda, Argentina, Brasilia Utara, Brasilia Timur, Brasilia Selatan, Chili, Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, Belgia – Perancis, Spanyol, Jerman, Norwegia, Indonesia (Kalimantan mulai 1926, Jawa mulai 1932 dan Flores 1993), Madagaskar, Polandia, Swiss, Italia, Austria, Belorusia, Ukraina dan Papua New Guini.

 

Semangat (spiritualitas) tarekat bersumber kepada Keluarga Kudus dari Nazareth : “Janganlah kamu lupa bahwa penghargaan dan cinta kasih satu sama lain lebih penting dari segala aturan Konstitusi, dan tiap aturan maupun kaul bermaksud mengobarkan dalam hati anggotanya cinta kasih kepada Allah dan sesama. Oleh karena itu patutlah kamu sekalian sedapat-dapatnya saling dahulu-mendahului dalam memberi hormat, tetap sehati sejiwa, kerjasama saling membantu, saling menghibur dalam kesusahan dan membesarkan hati, serta saling mendorong.” (Konstitusi tahun 1895, no. 15)

 

Tugas misioner seturut cita-cita Pater Berthier selaku Pater Pendiri Kongregasi MSF untuk saat ini dilanjutkan dengan mengembangkan 3 karya kerasulan : Kerasulan Keluarga, Kerasulan Panggilan dan Kerasulan Misioner.

 

Bunda Maria dari La Salette : “Pelindung Kongregasi MSF”

 

Para Misionaris Keluarga Kudus menghormati “Bunda Maria yang Tercinta dari La Salette” sebagai Pelindung Kongregasi. Kisah penampakan Bunda Maria di La Salette diawali dengan kisah perjumpaan 2 orang anak dengan Bunda Maria pada tanggal 19 September 1846. Kedua anak itu adalah Melanie Calvat (14 tahun) dan Maximin Giraud (11 tahun) yang berasa dari Desa Corps yang terletak 35 km dari Grenoble, Perancis. Seperti halnya dengan anak-anak yang lain di daerah mereka, maka Melanie dan Maximin tidak bisa bersekolah dan harus bekerja untuk membiayai kehidupan mereka. Di suatu ketika, saat terjaga dari tidur siang, mereka berdua terkejut karena mendapati kawanan sapi dan kambing yang mereka gembalakan sudah tidak ada di dekat mereka. Saat itu mereka berada di sekitar lembah Sungai Seize.

 

Setelah mereka cari-cari, akhirnya mereka mendapati bahwa ternak mereka ada di seberang sehingga mereka tidak khawatir lagi. Akhirnya mereka berdua kembali ke tempat semula. Di dekat sebuah sumur mereka melihat cahaya yang terang benderang berbentuk seperti bola. Cahaya itu kemudian terbuka, dari dalamnya terlihat cahaya yang lebih terang, bergerak dan berputar. Dalam cahaya tersebut, duduklah seorang wanita cantik. Wanita itu memegang kepala dan rambutnya yang indah sekali, bermahkotakan untaian bunga mawar. Wanita itu kemudian berdiri, melipat tangan dan berkata kepada Melanie dan Maximin, “Silahkan anak-anak, marilah kesini. Jangan takut ! Saya datang ke sini untuk membawa pesan penting.” Kedua anak itupun mendekati wanita itu. Kemudian wanita itu melanjutkan kata-katanya, “Kalau bangsa saya tidak mau bertobat, saya tidak bisa menahan lagi tangan Putera saya; begitu berat sudah ! Saya sudah lama menderita untuk kalian dan penderitaan ini tidak dapat ditanggung oleh siapapun. Kalian diberikan waktu selama 6 hari untuk bekerja dan pada hari ke-7 kalian diberikan waktu untuk beristirahat. Namun ternyata para pekerja tidak menghormati nama Putera saya. Bahkan ketika panen gagal, nama Putera saya dihina.

 

Pada awalnya kedua anak itu tidak mengerti apa yang disampaikan oleh wanita di hadapannya. Kemudian wanita itu mulai melanjutkan kata-katanya dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak itu. Pada intinya wanita itu menyampaikan pesan tentang merosotnya penghormatan terhadap hari Minggu dan penyalahgunaan nama Tuhan dan berharap supaya keadaan tersebut diperbaiki dengan membiasakan diri berdoa dan mengikuti Ibadat pada hari Minggu. Pesan ini diterima berulang kali. Pada awalnya Melanie dan Maximin tidak mengetahui siapa wanita tersebut sebenarnya. Sesampainya di rumah mereka menceritakan perjumpaan mereka dengan wanita itu, lalu mulai jelaslah bagi mereka bahwa wanita yang mereka ceritakan adalah Santa Perawan Maria. Oleh 3 orang kemudian dicatat mengenai kisah penampakan Bunda Maria di La Salette dan banyak dokumen kemudian menyusul. Yang menarik adalah, anak-anak itu selalu menceritakan hal yang sama tanpa perubahan apapun.

 

Satu setengah abad sesudah penampakan Bunda Maria di La Salette, situasi dunia tidak menjadi lebih baik. Sifat acuh tak acuh manusia terhadap Tuhan masih banyak terjadi, bahkan banyak orang yang tidak mau tahu tentang Tuhan. Materialisme dan hal-hal yang bersifat duniawi menjadi sesuatu yang menonjol. Tetes air mata Bunda Maria juga dituangkan untuk kita sekarang ini. Ajakan untuk rajin berdoa tetap berlaku untuk kita semua. Perlu pertobatan umat manusia, juga perbaikan relasi antara manusia dengan sesamanya.

 

Rumah Induk MSF Masa Kini : “Menjadi Galeri Seni” – Galerie de Rog

 

Saat ini, Rumah Induk MSF di Grave telah berubah fungsi menjadi Galeri Seni dengan nama Galerie de Rog. Rumah ini memang penuh kenangan akan Pater Berthier, juga kenangan akan para Misionaris awal MSF pada masa itu. Sudah lama rumah ini dijual oleh Kongregasi MSF Belanda dengan banyak bertimbangan. Kendati tidak lagi menjadi milik MSF, akan tetapi masih ada 2 bagian dari Galerie de Rog yang boleh dikatakan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah kehidupan Pater Pendiri dan sejarah Kongregasi MSF.

 

Bagian pertama adalah pemakaman di halaman belakang Galerie de Rog, dimana disini terbaring puluhan Konfrater MSF yang telah beristirahat dalam damai. Bagian kedua adalah sebuah prasasti yang dipasang pada dinding luar Galerie de Rog. Pada prasasti ini tertulis kalimat : “Jean Berthier 1840 – 1908, Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus 1895, Dari rumah ini, telah menyebar para misionaris ke Eropa, Asia, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, untuk mewartakan Injil kepada ‘mereka yang jauh’. Hari ini, 16 Oktober 1908, adalah saat Tuhan memanggilnya (P. Jean Berthier) untuk selamanya.”

 

Lebih dari 100 tahun yang lalu, Pater Berthier telah mengubah tangsi militer menjadi biara religius. Seratus tahun kemudian, dunia modern telah mengubah kembali biara religius menjadi galeri seni. Pesan di alenia terakhir dari Kapitel Umum MSF ke-XII kepada semua anggota Kongregasi MSF kiranya dapat dijadikan pula permenungan bersama bagi kita semua, “Pada kesempatan mempersiapkan perayaan 100 tahun wafatnya Pendiri, kita ingin mengingat kata-kata dari Paus Yohanes Paulus II : ‘Kalian tidak hanya memiliki sebuah sejarah mulia untuk dikenang, tetapi juga sejarah besar untuk dibangun! Pandanglah masa depan, tempat di dalamnya kalian akan diinspirasi oleh Roh, yang bersama kalian ingin melakukan hal besar.” (VC, 110)

 

 

REFERENSI :

1.      P. Sinnema, MSF. Sebiji Sesawi (Buku Kenangan MSF 100 Tahun dan Karyanya di Kalimantan). Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 1995.

2.      P. Agustinus Doni Tupen, MSF. Tangsi Militer, Biara MSF dan Galerie de Rog dalam Musafir edisi nomor 4 Tahun IX. Majalah Keluarga untuk Para Misionaris MSF Kalimantan dan Para Sahabat Pater Berthier. Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 2007.

3.      P. Wim van der Weiden, MSF. Pater Jean Berthier : Pendiri Tarekat MSF. Provinsialat MSF Kalimantan. Banjarbaru. 2008.

 

 

Dionisius Agus Puguh Santosa

2 responses to “Peringatan 100 Tahun Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi MSF)

  1. Semoga Pater Berthier semakin dikenal umat….
    Semoga kesuciannya memancar dalam hati setiap insan
    Semoga segala hal baik yang telah dilakukannya
    masuk dalam hati semua umat beriman,
    sehingga suatu saat nanti,
    Pater Berthier sungguh menjadi sahabat umat beriman…

    Pater Berthier, semoga ketekunan apostolikmu
    menuntun kami mencari hanya Kemuliaan Allah
    dan kebahagiaan saudara-saudari kami. Amin…

    Salamku Selalu

    Jonas MSF

  2. Pastor Jonas MSF, bolehkan saya bertanya : Sekarang pastur Agung MSF berkarya di mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s