Perjalanan Hidup Mgr. P. Timang pr.

Mgr. DR. Petrus Boddeng Timang, Pr :

“MAMA, JIKA INI BUKAN JALAN HIDUP SAYA, SAYA PASTI KEMBALI”

 

Mgr. Petrus Timang dilahirkan di sebuah desa terpencil, Malakiri, tepatnya tanggal 7 Juli 1947. Keinginan menjadi Imam didahului semangat untuk bisa sekolah. Sekolah yang baik hanya ada di Rantepao, kira-kira 9 km dari desa saya. Beruntunglah bagi Mgr. Petrus Timang karena pada waktu itu Gereja Katolik (Misi) membuka Sekolah Rakyat Katolik, sehingga saya tak perlu lagi ke Rantepao untuk menempuh pendidikan Sekolah Dasar di sana.

Di Sekolah Rakyat Katolik itulah Mgr. Petrus Timang bersekolah hingga kelas VI. Di sekolah itu, 2 bulan sebelum tamat, Mgr. Petrus Timang dibaptis menjadi Katolik oleh P. Anton Godefrooy, CICM. Di situ pula, seorang guru bercerita tentang Sekolah Seminari, dengan impian “Orang akan menjadi pintar dan biaya sekolah sangat murah karena uang sekolah dan asrama ditanggung oleh Gereja.”

Hal itulah yang kemudian memberinya motivasi sehingga setelah tamat, Mgr. Petrus Timang bersama temannya yang bernama Paulus melanjutkan studi ke Seminari Santo Petrus Claver yang terletak di jalan Gagak, Makassar. Mgr. Petrus Timang dan Paulus adalah rombongan kedua dari desa mereka yang masuk Seminari.

Menjadi Imam adalah sesuatu yang terjadi tanpa planning, tetapi secara “kebetulan” – tumbuh dalam diri, terasah dan tertempa dari binaan selama dalam dunia pendidikan di seminari kecil itu. Pada akhirnya Imam adalah panggilan Mgr. Petrus Timang dan akan beliau teruskan sampai akhir hidupnya.

Berikut petikan wawancara wartawan HIDUP dengan Mgr. Petrus Timang tentang kehidupan masa kecil beliau hingga menjadi imam dan dipilih oleh Takhta Suci Vatikan sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin

 

•1.      Menurut data yang saya peroleh, Monsinyur dilahirkan di wilayah Keuskupan Agung Makassar, mungkin Monsinyur bisa menceritakan sedikit tentang tempat dimana Monsinyur dilahirkan (Malakiri – Tana Toraja)? Suasana saat itu dan saat ini? Saat Monsinyur dilahirkan, tentu Indonesia masih berada dalam jaman perang kemerdekaan, dimana sekitar tahun 1947 itu dalam sejarah terjadi Agresi Militer Belanda II dan Indonesia baru saja merdeka.

Jadi saya lahir menurut catatan 7 Juni 1947 di desa kelahiran saya Malakiri (kira-kira 7 km dari Kota Rantepao) – Tanah Toraja, masih pada jaman revolusi – jaman yang sulit sekali. Apalagi tidak lama sesudah itu, beberapa tahun sesudah saya lahir, Bapak saya meninggal. Sehingga tinggalah kami 5 orang bersaudara tanpa ayah, dan seorang ibu yang tidak punya penghasilan, tidak punya pendidikan; harus membesarkan 5 anak.

Anak pertama perempuan, kemudian meninggal, anak kedua laki-laki lalu saya (nomor 3), yang keempat laki-laki dan anak kelima perempuan. Adik saya yang kelima ini tidak sempat melihat ayah, karena ketika masih dalam kandungan, ayah sudah meninggal. Selang beberapa waktu kemudian setelah ayah meninggal,  kakak yang pertama meninggal juga karena sakit. Lalu ibu mengambil  2 anak angkat, sehingga kami menjadi 6 bersaudara. Empat saudara sekandung,  satu  anak kemenakan perempuan dari ibu dan satu lelaki anak tetangga yang dipelihara sebagai anak sendiri.

•2.      Bagaimana masa kecil Monsinyur? Memiliki berapa orang saudara? Bagaimana situasi dalam kehidupan keluarga Monsinyur saat itu? Pernah ikut tentara pelajar, organisasi kepemudaan atau sejenisnya?

Tahun 1953, saya masuk sekolah Rakyat (SR) Katolik dan tamat pada tahun 1959 (selama 6 tahun disitu). Pada pesta Paskah, tepatnya April 1959 saya dibaptis menjadi Katolik oleh Pastor Misionaris P. Anton Godefrooy, CICM (alm). Sesudah kelas 6 itu, saya ditawari oleh seorang guru masuk sekolah seminari di Makassar. Sebagai anak desa, ‘masuk seminari” adalah sesuatu yang luar biasa. Apalagi letaknya jauh di sana….  di sebuah kota yang selalu menjadi kebanggaan orang desa bisa berada di sana, – Makassar -.  Mendaftarlah kami bertiga, satu orang tidak diterima, sehingga kami berdua saja yang berangkat ke Makassar.

Sewaktu akan ke  Makassar, ibu saya menangis sedih, Ia tidak mengijinkan saya pergi, karena waktu itu saya masih berusia 12 tahun (anak kecil) yang harus pergi merantau ke Makassar dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh (jaman gerombolan DI/TII, kekacauan dan penghadangan dimana-mana pada saat itu) menumpang mobil dengan pengawalan ketat tentara ke Palopo – suatu kota pelabuhan – terletak + 70 km  dari desa tempat asal saya. Dari situ kami harus menumpang kapal laut sehari semalam menuju Makassar. Lama perjalanan dari Rantepao, Tana Toraja ke Palopo setengah hari dengan iring-iringan truk tentara,  beberapa hari lagi harus menunggu Kapal laut di Palopo, dan sehari semalam berlayar baru tiba di Makassar.  Pada masa sekarang ini, perjalanan dari Makassar ke Rantepao dengan mengenderai mobil dapat ditempuh dalam rentang waktu 5 atau 6 jam saja.  

Nah waktu itu saya sudah mengatakan, “Mama, jika ini bukan jalan hidup saya, saya pasti akan kembali“. Artinya saya jalani pendidikan di Seminari mulai tahun 1959 itu sebagai anak kecil, bersama dengan teman-teman lain, ada yang dari kota, ada yang dari desa seperti saya. Ya, akhirnya tiap tahun lolos terus. Akhir 1966 – selesai Gestapu, terjadi perubahan kurikulum akhir sekolah – tahun sekolah kami diperpanjang – tahun ini pula, saya menyelesaikan pendidikan Seminari menengah dan pada akhir tahun 1966 saya melanjutkan studi ke Seminari Tinggi Santo Paulus di Yogyakarta,  waktu itu seminari itu masih di Jalan Code. Jadi akhir 1966 saya sudah menginjak Yogya, waktu ini pergumulannya berat sekali. Mama saya sekali lagi menangis-nangis, “Kenapa kau pergi jauh-jauh begitu? Saya sudah tua dan seterusnya, dan seterusnya” saya tetap bilang, “Mama, jika ini bukan jalan hidup saya, saya pasti kembali” Begitu saya jalani sampai saya ditahbiskan menjadi imam. Jadi mulai saya kuliah di Sungai Tinggi sampai Januari tahun 1967, tahun sekolah waktu itu mulai tahun 1967, lalu Januari tahun 1968 pindah ke Kentungan, saya ikut memindahkan perabot dari jalan Code ke Kentungan. Teman-teman yang tinggal satu kota bertemu Ibu, sedang kami yang jauh-jauh ikut kerja bakti. Mulai tahun sekolah 1968, itu berjalan terus sampai tahun 1973 saya selesai Teologi dan Januari 1974 saya ditahbiskan Imam di Tanah Toraja di kota kabupaten Makale bersama dengan 2 teman. Teman-teman saya yang lain sudah ditahbiskan Desember 1973 di kampung halamannya di Pulau Muna. Saya tidak pernah ikut organisasi apa-apa, karena begitu selesai Sekolah Rakyat langsung masuk Seminari.

•3.      Apa cita-cita masa kecil Monsinyur? Apakah sejak kecil memang bercita-cita menjadi seorang Imam? Atau barangkali memang ingin menjadi Uskup? Bagaimana Monsinyur menapaki perjalanan hidup hingga menjadi Imam dan ditahbiskan pada tanggal 13 Januari 1974?

Nah, jadi cita-cita menjadi Imam itu hanya tumbuh berlahan-lahan di Seminari Menengah. Tapi jelas saya tertarik kepada Romo-romo Belanda yang datang. Sekali seminggu datang mengajar agama di sekolah kami. Datang naik sepeda, pakai jubah panjang putih, menempuh perjalanan 7 km pakai sepeda, bagi saya itu luar biasa. Mengagumkan! Jadi Romo-romo Misionaris yang datang mengunjungi sekolah kami secara berkala dan bergantian dan kadang-kadang bercerita dengan bagus tentang Kitab Suci, kadang-kadang mengadakan kuis dan kami dapat hadiah gambar atau apa, luar biasa. Kemudian, ketika mulai serius memikirkan Imam. Misionaris mau datang dari jauh-jauh dari negerinya meninggalkan kemewahan untuk bangsa ini, sekarang mengapa saya tidak bisa buat? Ibu saya seorang sederhana, selalu berkorban untuk anak-anaknya, ya saya mau juga menapaki jalan ini. Sehingga ditahbiskan pada Januari 1974 itu. Selama menjalani pendidikan Seminari, kita mengalir seperti air saja. Pada waktu itu nilai bahasa Latin lima saja tidak ada ampun, tapi saya selalu lulus.

•4.      Bagaimana pendapat Monsinyur diwaktu Monsinyur masih kecil dahulu, terhadap figur seorang Imam, Uskup atau Suster/Bruder? Apakah ini memberi inspirasi istimewa terhadap panggilan yang Monsinyur jalani sebagai seorang Imam?

Ya itu tadi figur Romo Misionaris yang mendatangi kami sekolah saya dulu, figur Ibu saya dan dorongan banyak Romo yang menjadi staf di Seminari Menengah dan Seminari Tinggi banyak membesarkan hati saya. Semua itu saya yakin sangat berpengaruh. Waktu itu saja kadang-kadang di saat-saat jalan buntu, kita mesti berani mengandalkan Tuhan lewat pendapat orang lain, karena tidak ada seorang pun yang dapat mengatasi persoalannya sendiri.

•5.      Selama menjalani pendidikan di Seminari Menengah, Seminari Tinggi, juga menjalani pendidikan di Roma, mungkin Monsinyur memiliki kesan menarik? Mungkin ada pengalaman berkesan yang bisa menjadi cermin dan inspirasi bagi anak-anak dan kaum muda untuk mengikuti jejak Monsinyur menjadi Imam/Biarawan/wati?

Saya kira itu harus ada semangat berkorban. Bahwa berani memilih ini dan tidak ini. Tentu saja yang pertama-tama itu kalau ada panggilan dari Tuhan, tapi walaupun Tuhan memanggil, tetapi kita menutup hati dan telinga kita, ya Tuhan tidak jadi memanggil.

•6.      Monsinyur juga pernah menjadi Rektor di Seminari, juga menjadi Pastor Paroki, tentu pengalaman Monsinyur sangat banyak. Apa kira-kira di Banjarmasin Monsinyur akan mendirikan Seminari Projo?

Rektor Seminari dua periode, pastor paroki. Ini juga pertanyaan yang sebetulnya kurang lebih serupa dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Sekali lagi saya tidak mau apriori mengatakan saya akan bangun Seminari, karena saya rasa itu terlalu prematur. Kita akan lihat keadaan, kita seperti air mengalir saja, kalau memang dibutuhkan adanya sesuatu yang baru, pasti ada tandanya, jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir ini. Itu sangat tergantung pada banyak hal, sementara semuanya masih berjalan. Kita mesti bersama-sama dengan komponen umat untuk mengadakan analisis sehingga kemudian nanti sampai pada kesimpulan, mestinya harus begini atau begitu.

[Reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa

Divisi LITBANG KOMKEP Keuskupan Banjarmasin]

6 responses to “Perjalanan Hidup Mgr. P. Timang pr.

  1. gracias

  2. Suleman Patiung

    Monsinyur Pit Timang adalah kebanggaan kami umat Malakiri, karya nyata dalam Gereja dan masyarakat juga memberikan dorongan dan motivasi bagi kaum muda bukan hanya dalam kalangan Gereja Katolik untuk memacu diri dalam menuntut ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga Monsinyur dapat berkarya di daerah Kalimantan dengan penuh sukacita dan selalu dikuatkan oleh Roh Kudus untuk menggembalakan umat Allah. Salama’ komi monsinyur anta pada salama’. Kurre sumanga’

  3. sederhana, cerdas, rendah hati, berani, terbuka… itu kesan ttg beliau

  4. Ya benar, Mgr terkesan rendah hati, cerdas, terbuka, dan visioner.

  5. happy bday romo Timang 7 Juni…. semoga romo sehat selalu…

  6. seorang pastor yang enak untuk diajak diskusi dengan pengetahuan yang luas. Saat menjadi pastor Paroki Katedral Makassar Mgr. Piet Timang Pr. adalah pastor yang dapat menjadi teman diskusi bagi para Aktifis. Bahkan saat tahun 1998 saat beliau menjabat Rektor Atmajaya Makassar, beliaulah Pastor yang ikut serta untuk melakukan protes bahkan aksi bersama mahasiswa, bahkan beliau pula yang menyediakan tempat di Univ Atmajaya Makassar untuk rapat-rapat persiapan aksi saat 1998. Salam buat Mgr. Piet Timang Pr. Sukse selalu

    Dari teman diskusi.. Ansel….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s