Ventimiglia – Perintis Misi Borneo

Ternyata riwayat hidup Pastor Ventimiglia sangat menarik. Dengan membaca riwayat hidup itu, kita dapat mempunyai gambaran mengenai sejarah masuknya agama Katolik di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Riwayat hidup itu juga melukiskan bagaimana seseorang menyikapi panggilan yang ia terima, dan menggunakan karunia yang ia peroleh untuk membantu melaksanakan panggilan tersebut. Mgr. Demarteau MSF gembira jika riwayat hidup ini dapat dibaca oleh lebih banyak umat. Selamat membaca !

Extractta dari “Istoria Delle Misioni” De Chierici Regolari TEATINI Tomo Secundo Dell Indie Orientali E. Borneo & s.

Pengantar

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1312 datanglah di pulau Kalimantan seorang Pater Fransiskan yakni P. Olderico de Pordenone. Tidak ada berita yang pasti mengenai tempat di mana beliau berkarya. Tiga ratus tahun kemudian, tepatnya tanggal 2 Pebruari 1688, Pater Antonio Ventimiglia menginjakkan kaki di bumi Kalimantan. Pater Antonio adalah imam pertama dari ordo “Rohaniwan Regulir Penyelenggaraan Ilahi” yang merintis “Misi Borneo”.

Perintis Misi Borneo ini kemudian diangkat oleh Paus Innocentius XII sebagai Vikaris Apostolik pertama untuk seluruh pulau Kalimantan. Sayang sekali bahwa jabatan Vikaris ini tidak dijalani karena beliau sudah meninggal dunia pada tahun 1692.

Untuk memperingati perintis Misi Borneo ini, kami persembahkan tulisan mengenai hidup dan karyanya.

+Mgr. Wilhelmus Johanes Demarteau MSF

Uskup Emeritus Banjarmasin

 

RIWAYAT HIDUP P. ANTONIO VENTIMIGLIA

1.Putra Bangsawan dari Palermo

Antonino Ventimiglia lahir tahun 1642 sebagai seorang bangsawan di kota Palermo, pulau Sisilia, sebelah selatan semenanjung Italia. Beliau masuk biara St. Yosef milik pater-pater ordo “Rohaniwan regulir Penyelenggaraan Ilahi” yang berpusat di kota Theate, Italia. Oleh karena itu para pater dari ordo ini lebih dikenal dengan nama : “Pater-pater Theatin”.

Antonino kemudian mengikrarkan kaul kekal pada usianya yang masih sangat muda remaja, membulatkan tekad untuk menjadi biarawan. Biarawan yang masih muda ini sangat rindu untuk menjadi misionaris di daerah Timur jauh.

Setelah ditahbiskan imam, Pater Antonino Ventimiglia diutus ke Madrid, Spanyol untuk memimpin Novisiat Biara Theatin St. Maria del Favore.

2. Dari Madrid ke Goa

Tahun 1680, pater Jendral Theatin mengeluarkan edaran berisi tawaran bagi anggota ordo untuk menjadi misionaris di Timur Jauh. Dengan senang hati P. Ventimiglia menerima tawaran ini. Banyak orang termasuk sanak keluarga melarang P. Ventimiglia, akan tetapi beliau tetap pada pendiriannya.

Secara diam-diam P. Ventimiglia menulis surat kepada Paus Innocentius XI memohon restu.

Setelah mendapat restu dari Bapa Suci, beliau berangkat dari Madrid menuju Goa (India) pada tanggal 13 Januari 1683. Kapal yang ditumpangi P. Ventiglia berlabuh di Goa pada tanggal 19 September 1683. Beliau berkarya selama kurang lebih empat tahun di Goa.

3.Dari Goa ke Macao

Setelah empat tahun berkarya di Goa, India, P. Ventimiglia ditunjuk untuk menjadi missionaris di Borneo (Kalimantan). P. Antonino berangkat dari Goa tanggal 5 Mei 1687, dan tiba di Malaka, pelabuhan milik Belanda pada tanggal 12 Juni 1687. Kemudian beliau berangkat lagi ke Macao tanggal 12 Juni, dan tiba di Macao tanggal 13 Juli 1687.

Perjalanan menuju Macao mau tidak mau harus melewati teluk Aynan yang terkenal ganas. Banyak kapal yang tenggelam di teluk ini. Setelah melewati tempat berbahaya ini, P. Antonino boleh bergembira, karena dapat melihat pulau “Santo Yohannes” atau Pulau Sancian. Dipulau inilah Santo Fransiskus Xaverius menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanannya menuju Cina. Pater Vintimiglia ingin sekali singgah di pulau ini namun tidak diperbolehkan.

Tanggal 13 Juli 1687 P. Antonino tiba di Macao bersama dengan teman seperjalannya, Bapak Luigi Francesco Cottigno yang banyak membantu beliau. Untuk sementara beliau menginap di rumah Bapak Luigi.

4. Enam bulan di Macao

Enam bulan lamanya P. Antonino menunggu kapal yang berlayar menuju Borneo. Selama waktu ini P. Antonino mengisinya dengan retret Agung, matiraga dan berpuasa di sebuah tempat yang sepi. Karena kesalehannya, banyak orang Macao datang meminta bantuan, berkat dan bimbingan dari beliau. Dalam kesempatan seperti ini P. Antonino selalu berdoa kepada Santo Kayetanus, pendiri ordo Theatin.

Dalam masa penantian ini, P. Antonino mendengar kabar tentang tanah misi yang akan dikunjungi yakni Borneo. Orang-orang menceritakan bahwa orang-orang di Borneo masih sangat primitif dan masih sangat ganas. Sementara itu seorang uskup dari Perancis yang kebetulan singgah di Macao mengajak P. Ventimiglia untuk berkarya didaerahnya tetapi dengan syarat setiap tahun Pater Ventimiglia harus mencari uang sebesar seratus patache (mata uang Spanyol yang nilainya cukup mahal), sebagai jaminan hidup.

Mendengar kata-kata uskup itu, Pater Ventimiglia terkejut dan menjawab : “Orang yang menjalani tugas perutusan didaerah misi bersandar pada Tuhan demi keselamatan jiwa dan bukan pada hal-hal duniawi”. Kemudian beliau menceritakan semangat ordo Theatin yang hanya mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi kepada Bapak Uskup.

Pater Ventimiglia teringat akan kata-kata St. Agustinus :

“Perfectus servus Christi nihil praetur Christum habet” (= seorang pelayan Kristus yang tulen tidak memiliki apa-apa selain Kristus).

Orang-orang Portugispun melarang keras agar Pater Ventimiglia tidak usah ke Borneo. Mereka khawatir kalau P. Ventimiglia akan membuka misi sambil berdagang di sana. Pihak Portugis pasti akan mengalami kerugian. Nampak lagi motivasi manusia yang hanya mengejar kepentingan duniawi. Bagi mereka tidak ada kesempatan untuk mewartakan keselamatan dan pertobatan kepada bangsa-bangsa.

Selain berita tentang penduduk di Borneo yang masih primitif dan ganas, datang pula berita yang mengejutkan. Semua misionaris yang tidak berasal dari Portugis dilarang untuk berkarya didaerah jajahan Portugis. P.Ventimiglia tidak takut dengan keputusan itu dan beliau bersedia untuk meninggalkan Asia. Maka sambil memegang buku Brevir dan mengenakan salib di leher, Pater Ventimiglia naik ke Kapal. Beliau mau menunjukkan bahwa beliau datang dengan kemiskinan ke Asia ini dan akan kembali dengan kemiskinan pula. Syukurlah bahwa keputusan ini akhirnya tidak terlaksana dan Pater Theatin itu tetap diizinkan untuk berkarya di daerah jajahan Portugis.

5. Undangan dari Tanah Misi (Borneo)

Ketika P. Ventimiglia masih di Macao, tersebarlah berita bahwa Kaisar Jepang yang sangat anti agama Kristen sudah meninggal dan pengganti kaisar itu cukup toleran dengan agama Kristen. Pater Ventimiglia lalu berpikir untuk minta izin pimpinan agar boleh berangkat ke Jepang.

Pada saat yang hampir bersamaan datanglah tawaran dari Banjarmasin dan Sukadana (Kalimantan Barat). Tawaran dari Sukadana ini berupa berita bahwa Raja Sukadana sangat menginginkan kehadiran seorang pastor di wilayah kerajaannya. Berita ini disampaikan oleh seorang ibu yang menerima Pater Ventimiglia sebagai Bapak Pengakuan. Menurut ibu ini, Raja Sukadana berjanji akan mengijinkan Pater itu untuk membangun Gereja dan apa saja yang dikehendakinya.

Pada waktu yang sama datang pula kapal dari Banjarmasin. Dalam kapal itu terdapat pula orang-orang Melayu. Dari merekalah Pater Ventimiglia mendapat berita bahwa Sultan Banjarmasin mau menjalin hubungan dagang dengan orang Portugis. Sultan berjanji untuk membagi tanah kepada orang Portugis guna membangun benteng. Sultan juga mengijinkan orang Portugis datang membawa seorang Pastor.

Berita ini sangat menggembirakan Pater Ventimiglia. Ia percaya bahwa banyak kerajaan akan dibuka oleh Tuhan untuk menerima sabda-Nya. Kedua tawaran itu merupakan jalan bagi penyebaran iman di Borneo (Kalimantan). Pilihan P. Ventimiglia akhirnya jatuh pada Banjarmasin. Pada saat ini agama Islam dan penyebarannya merupakan tantangan yang berat buat penyebaran agama Katholik.

Akhirnya tanggal 16 Januari 1688 Pater Ventimiglia berangkat dari Macao menuju Banjarmasin. Beliau berangkat tanpa membawa apa-apa kecuali sebuah salib yang dulu pernah dimiliki oleh St. Aloysius Beltrami. Satu keyakinannya bahwa penyelenggaraan Ilahi akan memberikan segalanya. Keyakinan ini sungguh-sungguh terwujud. Jenderal Macao : Andrea Coelo Viera, Aloysius Francesco Cttigno, maupun Kapten Kapal Emmanuelle Araugio Graces, sama-sama ingin menjadi sponsor perjalanan Pater Ventimiglia ke tanah misi. Sempat terjadi pertengkaran, siapa yang menjadi sponsornya. Akhirnya Aloysius Cottigno menjadi sponsor.

Pada saat keberangkatannya beliau berpamitan dengan Pater pimpinan biara St. Agustinus dimana beliau pernah menginap di biara ini. Seluruh umat di Macao merasa kehilangan seorang Bapak rohani yang saleh dan jujur.

Perjalanan menuju Banjarmasin tidaklah mulus. Ada banyak tantangan, antara lain dari Kapten Emmanuele Araugio sendiri yang memaksa Pater Ventimiglia untuk kembali saja ke Macao. Namun rupanya kehendak Tuhan lain. Pater Ventimiglia akhirnya tiba dengan selamat di Banjarmasin pada tanggal 2 Pebruari 1688.

6. Merintis “Misi Borneo”

Pater Ventimiglia segera merasakan tantangan-tantangan penyebaran iman ditanah misi yang belum pernah disentuh oleh pewartaan iman Katolik.

Karena keadaan politik di Kesultanan Banjarmasin tidak aman, maka kapal Portugis yang ditumpangi Pater Ventimiglia tidak diperkenankan berlabuh. Pater Ventimiglia dan seluruh awak kapal tetap tinggal di atas kapal. Dan ketika memasuki pekan suci, Pater Ventimiglia memimpin Ekaristi diatas kapal. Paskah dirayakan dengan meriah. Pada tiang kapal yang paling tinggi dipasang salib besar diapit dengan lilin-lilin.

Pater Ventimiglia berdoa memohon bantuan dari Tuhan agar boleh bertemu langsung dengan penduduk asli. Tidak lama kemudian datanglah beberapa perahu orang Daya Ngaju memasuki pelabuhan untuk berdagang dengan orang-orang Malaka. Keinginan untuk kontak langsung dengan penduduk asli ini akhirnya terkabul, ketika dua orang diantara mereka mendekati kapal Portugis itu. Atas permintaan Pater Ventimiglia, kedua orang ini bisa bertemu dengannya di kapal itu.

Dua orang dari penduduk asli itu akhirnya mendekati kapal, tempat tinggal Pater Ventimiglia. Mereka diperbolehkan naik ke kapal. Setelah pertemuan singkat dengan Pater Ventimiglia, kedua orang Daya Ngaju ini berpamitan dan berjanji akan kembali ke kapal.

Tanggal 3 Mei 1688, pada pesta salib suci kedua orang yang pernah bertemu dengan Pater Ventimiglia datang bersama dua orang teman dari Daya Ngaju dan juga seorang Malaka. Pater Ventimiglia menjelaskan keinginannya untuk tinggal bersama mereka. Sebagai kenang- kenangan, mereka diberi Rosario dan diajari menghormati salib. Orang-orang Ngaju itupun berjanji mau meneladani Pater Ventimiglia. Mereka kemudian kembali ke pedalaman, sedang Pater Ventimiglia masih tetap di kapal.

Setelah pedagang Portugis menyelesaikan urusan dagangnya, kapal Portugis itu kembali ke Macao. Pater Ventimiglia terpaksa kembali ke Macao. Beliau sangat sedih karena tidak diijinkan tinggal bersama orang-orang Daya di daerah itu.

Pater Ventimiglia tiba kembali di Macao pada tanggal 23 Juni 1688, sehari sebelum pesta Yohanes Pembaptis. Di Macao, beliau lebih senang menyepi di tempat sunyi sambil menunggu kembalinya kapal ke Borneo. Banyak orang datang bertemu dengan beliau untuk bimbingan rohani dan mengaku dosa.

7. Kembali lagi ke Borneo

Setelah enam bulan tinggal di Macao, Pater Ventimiglia bersiap untuk kembali lagi ke Banjarmasin. Pada perjalanan yang kedua ini beliau ditemani dua pemuda : Felix seorang Tionghoa dan Lorenzo, pemuda daya Ngaju yang sebelumnya dijual oleh orang Malaka kepada orang Portugis yang bernama Turtuose. Ketika mendengar bahwa Pater Ventimiglia akan ke Borneo, Bapak Turtuose membebaskan budak ini dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pater untuk membantu beliau memasuki daerah Borneo.

Perjalanan kali ini cukup lancar. Tanggal 30 Januari 1689 mereka tiba di Banjarmasin. Pada saat itu suku Ngaju sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin. Sekali lagi Pater Ventimiglia menghadapi situasi yang tidak menguntungkan. Akan tetapi beliau tidak putus asa. Beliau tetap berharap pada Tuhan. Pater Ventimiglia menyewa sebuah perahu kecil dan membuat ruang untuk berdoa diatas perahu itu. Kemudian pada tanggal 23 Pebruari 1689 Pater Ventimiglia pindah dan tinggal lebih dekat dengan sebuah kota ditepi pantai. Kota tersebut tidak jauh dari kota Banjarmasin.

Pada hari-hari pertama di kota itu, Pater Ventimiglia merasa sedih karena Lorenzo ternyata sudah berangkat mengunjungi sanak keluarganya didaerah Ngaju. Beberapa orang datang mengunjungi Pater Ventimiglia namun mereka tidak berani berbicara.

Nahkoda kapal Bapak Emmanuel Araugio Graces kemudian membangun sebuah altar di atas kapalnya. Pada tanggal 10 Mei 1689 mulai diadakan novena khusus kepada santo Yosef, suami Maria. Pada hari kedua Novena, datanglah seorang Bapak, seorang perempuan, keponakan dan seorang ibu muda untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Dalam pertemuan itu, Pater Ventimiglia menyampaikan maksud kedatangannya yakni untuk mengajarkan jalan menuju keselamatan kekal.

Bapak dan para pengikutnya menyatakan harapannya agar Pater sudi tinggal bersama mereka. Kemudian mereka memberi gelar Tatu yang artinya nenek kepada Pater Ventimiglia, gelar kehormatan bagi suku Ngaju.

8. Masuk ke daerah suku Ngaju

Setelah peristiwa perjumpaan di atas, datang pula Bapak Angha, walikota yang tinggal dekat dengan kapal Pater Ventimiglia. Walikota ini datang bersama anak-anaknya mengunjungi pater diatas kapal. Pater Ventimiglia sangat senang atas kunjungan ini.

Atas usul nahkoda, P. Ventimiglia mengadakan kunjungan balasan. Untuk pertama kalinya Pater Ventimiglia menginjakkan kaki di bumi Borneo. Beliau datang ke kota bersama tiga belas orang dari kapal. Walikota, Bapak Angha dan seluruh penduduk kota sangat bahagia atas kunjungan ini. Bapak Angha menyatakan keinginannya untuk menjadi Katolik, dan ia berjanji untuk menghubungi pangeran-pangeran lain di pedalaman yang bergelar Tomugon dan Daman, keduanya merupakan kepala suku Ngaju di pedalaman.

Untuk kedua kalinya Bapak Angha mengunjungi pater Vantimiglia di kapal. Pada pertemuan kedua ini, pater Ventimiglia berjanji untuk memberikan hadiah kepada kedua pangeran di pedalaman Kalimantan itu melalui Bapak Angha. Hadiah yang diberikan itu berupa cincin, gelang kaca dan bunga-bungaan dari Cina, dua buah gambar yaitu gambar St. Perawan Maria tak ternoda dan St. Kayetanus.

Kedua kepala suku Ngaju itu sangat gembira atas hadiah itu dan mereka sepakat untuk segera mempersiapkan kapal dan 100 buah perahu kecil untuk menjemput Pater Ventimiglia. Akan tetapi situasi politik waktu itu tidak menguntungkan karena sedang terjadi perang antara Sultan Banjarmasin dan suku Ngaju. Orang-orang dari suku Ngaju yang mau menjemput Pater Ventimiglia yang masih berada di perairan Kesultanan Banjarmasin pasti mendapat perlawanan di perbatasan. Maka kedua pangeran itu berniat mengirim utusan secara diam-diam menjemput Pater Ventimiglia. Niat ini akhirnya tidak terlaksana karena tidak diterima oleh Pater Ventimiglia, ketika utusan rahasia itu datang ke kapal.

Beberapa waktu kemudian datang lagi bapak Angha membawa hadiah dari Pangeran Daman, berupa akar wangi yang masih ada tanahnya untuk P. Ventimiglia. Tanah itu mengandung makna bahwa Pater Ventimiglia datang ke suku Ngaju tidak untuk mencari emas dan perak melainkan untuk hidup miskin diantara mereka. Akhirnya merekapun siap menerima kedatangan Pater Ventimiglia sebagai hamba Tuhan.

Pada tanggal 4 Juni 1689 datanglah putra pangeran Tomugon dan Daman bersama paman dan sepuluh orang lain ke kapal Pater Ventimiglia. Mereka bertemu dengan Nahkoda yang menolak permintaan ini karena keadaan masih dalam perang. Namun karena mereka terus mendesak, kapten akhirnya mengijinkan Pater Ventimiglia untuk pergi ke daerah suku Ngaju.

Tibalah hari yang sangat membahagiakan pater Ventimiglia. Pada tanggal 25 Juni 1689 setelah mempersembahkan misa di kapal, Pater bersiap-siap untuk berangkat ke pedalaman, dengan kapal yang telah disiapkan oleh Nahkoda. Ikut pula dalam rombongan ini Lorenzo, dua orang putra Tomugon serta empat pelaut yang siap membantu Nahkoda. Diatas kapal terpancang salib besar dengan tulisan : Lusitanorum Virtus et Gloria yang artinya (salib adalah Kekuatan dan Kemuliaan bangsa Portugis).

Tanggal 26 Juni 1689, rombongan Pater Ventimiglia tiba di muara sungai suku Ngaju. Kapal yang ditumpangi Pater Ventimiglia segera mendekati kapal pangeran Tomugon dan Daman. Rombongan suku Ngaju kemudian memasuki kapal Portugal menemui Nahkoda kapal serta Pater Ventimiglia.

Nahkoda kapal Araugio kemudian menjelaskan bahwa kedatangan Pater ketengahtengah mereka tak lain kecuali mau mengajarkan jalan keselamatan. Kedua kepala suku akhirnya dengan tulus hati mau menerima kedatangan Pater Ventimiglia di tengah-tengah mereka. Merekapun berjanji untuk segera membangun Gereja dan memasang salib pada Gereja itu nanti.

Pater Ventimiglia kemudian pindah ke kapal Daman dimana pada bagian tengah sudah disiapkan tempat secara khusus untuk Tatu (gelar khusus untuk Pater Ventimiglia). Pada buritan kapal itu berkibarlah bendera Portugis dan bendera suku Ngaju. Nahkoda kapal Araugio berpamitan dengan Pater Ventimiglia beserta orang-orang dari suku Ngaju. Sementara Pater Ventimiglia meneruskan perjalanan ke pedalaman.

Hari-hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Pater Ventimiglia. Sedangkan bagi Nahkoda kapal Portugal saat-saat setelah perpisahan dengan Pater Ventimiglia merupakan hari-hari yang penuh dengan kecemasan. Sebab Pater Ventimiglia sebenarnya telah menandatangani sendiri surat hukuman mati bagi dirinya dengan memasuki pedalaman Kalimantan, apalagi tanpa sepengetahuan Sultan Banjarmasin, Said Illah.

Ketika mendengar berita tentang masuknya Nahkoda dan Pater Ventimiglia ke pedalaman, Sultan sangat marah karena merasa ditipu. Secara politis ekonomis, masuknya kapal Portugis ke pedalaman Borneo akan mengurangi pengaruh Sultan Banjarmasin di suku-suku pedalaman tersebut. Banjarmasin akan kehilangan hubungan dagang dengan suku Ngaju. Hal ini merugikan perekonomian Banjarmasin. Sultan Said Illah tidak mau membiarkan hal ini berlarut-larut dan ia berniat untuk membunuh Pater Ventimiglia.

Sesudah tahun 1690 tersiar kabar di Macao bahwa Pater Ventimiglia di bunuh. Berita ini dibawa oleh orang-orang Belanda yang waktu itu menjadi musuh Portugis dan Gereja Katolik. Kapten Luigi Cottigno sebagai seorang sahabat dekat Pater Ventimiglia datang ke Banjarmasin untuk mencari kebenaran berita ini.

Kapal Kapten Luigi berlabuh di muara sungai suku Ngaju dan mengirim surat kepada Pater Ventimiglia agar segera datang ke kapal Portugis. Pater datang dengan 60 orang Ngaju. Menurut pengakuan kapten Luigi, iman orang Daya di pedalaman ini cukup menggembirakan. Pada malam hari mereka bersama-sama berdoa rosario diatas kapal.

9. Surat dari Sungai Banjarmasin

Tiga bulan lamanya, kapten kapal Portugis itu tinggal bersama Pater Ventimiglia. Sesudah pertemuan itu, kapten kembali lagi ke Macao, sementara Pater Ventimiglia kembali lagi kepada orang Daya Ngaju di pedalaman.

Melalui kapten Luigi, Pater Ventimiglia mengirim sepucuk surat untuk Superior di Goa:

Bapak yang sangat saya hormati dalam Kristus.

Pada kakimu aku berlutut. Aku anakmu menulis dari ujung dunia. Anakmu mohon berkat dari Bapak karena sudah memasuki tanah yang belum pernah dikunjungi. Bapak tentu sudah mendengar dari Bapak Perfektus, bahwa semuanya itu berkat penyelenggaraan Ilahi.

Pada bulan Pebruari 1688 saya tiba di Banjarmasin dengan maksud membuka misi baru yang dilakukan pater-pater kita. Namun banyak tantangan menghadang karena di Banjarmasin sudah memeluk agama Islam. Selain orang-orang Banjarmasin, masih ada suku lain yaitu suku Daya Ngaju yang tinggal di pedalaman. Saya tidak bisa mengatakan bahwa mereka menyembah berhala, karena tak ada yang berani masuk di daerah suku Daya Ngaju karena takut dipenggal kepala.

Saya tertarik untuk masuk ke daerah mereka. Setelah dua tiga kali bertemu dengan beberapa orang dari suku Ngaju di kapal, saya merasa bahwa pada masa yang akan datang akan terjadi sesuatu yang indah bagi kemuliaan Tuhan. Berhubung tidak diijinkan, saya kembali ke Macao.

Dan pada tahun berikutnya, Januari 1689 saya berlayar kembali ke Banjarmasin dan tiba di Banjarmasin pada bulan Pebruari. Saya mendengar bahwa pangeran Tomugon dan Daman bersedia menerima kedatanganku.

Akhirnya kedua pangeran itu dengan 100 kapal besar dan kecil bersama tokoh masyarakat datang menjemputku. Karena mereka sedang berperang melawan Sultan Banjarmasin maka rombongan seratus kapal itu tidak melewati batas kedua daerah ini. Mereka menunggu didaerah muara sungai suku Ngaju. Dua bulan lamanya mereka menunggu kedatangan saya dengan kapal Portugis. Saya diberi gelar Tatu yang berarti :Nenek suatu gelar kehormatan.

Demi kemuliaan Tuhan saya menulis ini semua kepada Bapak yang mulia dan kepada Pater Perfektus Misi. Saya melaporkan, Tuhan yang akan dipermuliakan dan agama Katholik akan mendapat peluang besar untuk berkembang di tanah Borneo ini. Ladang ini daerah pedalaman Daya Ngaju, Islam tidak berpengaruh. Sejauh penglihatan saya, Injil belum pernah diwartakan disini. Maka dengan rendah hati saya mohon agar Bapak mengirim bantuan sebelum terlambat. Ladang telah terbuka. Semoga parjurit-prajurit Theatin siap datang. Semoga mereka yang mau datang sungguh-sungguh memiliki kehendak untuk melayani Tuhan dan percaya pada penyelenggaraan Ilahi.

Saya juga tidak dapat melupakan jasa baik Bapak Luigi Franscesco Cottigno yang menjadi alat penyelenggara Ilahi hingga misi baru ini akhirnya terbuka. Ia seorang Portugis yang belum banyak mengenal saya tetapi mau mengantar saya ke Goa dan segala biaya ditanggungnya. Saya mihon Bapak memberikan penghargaan kepadanya sebagai sukarelawan sejati.

Bapak yang mulia, pada kakimu anakmu berlutut. Anakmu siap memasuki kerajaan dimana iman belum pernah diwartakan. Aku pergi sendiri. Tak seorang pater pun menemani. Aku mempunyai hati yang keras. Ya, aku sadari tidak mengerti dari mana datangnya kekuatan itu. Kekuatan itu yang membuat saya tidak takut dengan bahaya yang sangat banyak dan selalu mengancam saya.

Saya tidak mempunyai orang yang menasehati aku dalam kebingungan, seorang yang akan menolong dalam bahaya, seorang yang membantu dalam kesulitan. Saya sangat mengharapkan bantuan dari Goa kendati saya tahu bantuan itu tidak akan datang secepatnya.

Ketaatanlah yang membawa saya dalam pekerjaan yang sangat berat ini. Dan saya percaya, Peneyelenggaraan Ilahi masih melindungi saya dalam kesendirian ini. Saya yakin, yang suci dan kudus akan menopang aku dalam doa. Tetapi hari ini secara khusus saya mohon Bapak membawa aku dalam doa, juga pater-pater lain ikut mendoakan saya.

Akhirnya saya menyampaikan kepada Bapak, aku anakmu yang hina dan berdosa, mempersembahkan karya misi ini dengan perantaraan Bapak kita Kayetanus kepada Kemurnian Santa Perawan Maria. Maka saya mohon agar Bapak meresmikan misi ini dipersembahkan dibawah perlindungan Santa Perawan Maria dan Santo Kayetanus.

Pada kaki Bapak, saya menyerahkan seluruh tubuh dan jiwaku. Sudilah Bapak memberkati, memberi petunjuk dan perintah, apa yang harus saya pikirkan, ucapkan dan lakukan dengan ketaatan yang suci.

Berkatilah saya, Amin.

Dari Sungai Banjarmasin, di Pulau Borneo

13 Juni 1689

Anakmu yang paling hina

Antonio Ventimiglia Ch. Reg

10. Mencari jejak Pater Ventimiglia

Tersebarnya berita tentang kematian Pater Ventimiglia, sesudah tahun 1690, mendorong para pater dari ordo Theatin untuk mencari kebenaran berita itu dan mendapat kepastian. Pada akhir tahun 1690 Pater Gregoria Rauco berangkat dari Macao menuju Borneo. Pada mulanya keberangkatan Pater Rauco ini dipersulit oleh penguasa di Macao. Penguasa dan warga Macao tidak senang dengan perdagangan di pelabuhan Banjarmasin serta kegiatan misi di Borneo. Maka para penguasa di negara Macao memerintahkan semua nahkoda kapal agar tidak membawa seorang pater pun ke Banjarmasin.

Akan tetapi setelah wakil raja di Goa memberi peringatan keras kepada Macao, Pater Rauco diijinkan berangkat ke Banjarmasin. Beliau berangkat bersama nahkoda kapal Kapten Araugio. Rupanya Kapten Araugio takut pada Sultan Banjarmasin. Maka ketika sampai di pelabuhan Banjarmasin, Pater Rauco tidak diijinkan turun dari kapal. Kapten tidak mau mengulangi hal yang sama seperti dilakukan dahulu terhadap Pater Ventimiglia yakni membiarkan Pater masuk ke pedalaman tanpa ijin Sultan.

Pater Rauco terpaksa hanya menulis surat untuk Pater Ventimiglia dan mengirimnya melalui orang Ngaju. Ia kemudian mendapat balasan dari Pater Ventimiglia. Antar lain Pater Ventimiglia meminta agar Pater Rauco datang menemuinya bersama dengan rombongan pengantar surat ini. Pater Ventimiglia juga menceritakan keadaan di pedalaman yang sangat memprihatinkan. Banyak orang Daya yang dulu di baptis kini kembali ke lagi ke agama asli, termasuk Pangeran Daman, kepala suku Daya Ngaju. Dalam bagian surat selanjutnya, Pater Ventimiglia meminta beberapa potong pakaian karena sudah 11 bulan lamanya beliau tidak mengganti pakaian di badan.

Cerita di pedalaman dalam surat Pater Ventimiglia ini sangat mendorong hati Rauco untuk ke pedalaman. Apa boleh buat. Kapten kapal tidak mengijinkan. Maka Pater Rauco terpaksa kembali lagi ke Macao. Pada tahun 1693 ia kembali ke Madras karena sakit. Akhirnya tahun 1695 Pater Rauco kembali ke Eropa dan tak pernah kembali lagi.

Orang kedua yang berusaha menemui Pater Ventimiglia adalah Pater Della Valle. Pater Della Valle berangkat dari Goa atas permintaan Pater Gallo di Goa. Pada bulan Mei 1691 ada kapal yang berlabuh di Goa dan akan meneruskan perjalanan ke Macao. Maka Pater Della Valle ikut dalam pelayaran ini.

Pada awal tahun 1692 Pater Della Valle tiba di Banjarmasin. Beliau berjuang keras untuk mendapat ijin turun dari kapal dan pergi ke pedalaman untuk bertemu dengan Pater Ventimiglia. Akan tetapi perjuangan Pater Della Valle sia-sia. Beliau tidak diijinkan turun dari kapal. Nasibnya sama dengan pendahulunya Pater Rauco.

Pater Della Valle kemudian mendengar berita dari orang-orang Melayu bahwa Pater Ventimiglia telah meninggal karena dibunuh oleh orang Daya Ngaju. Akan tetapi orang Daya Ngaju sendiri mengatakan Pater Ventimiglia masih hidup dan tinggal di pedalaman yang tidak jauh dari Banjarmasin. Rupanya Pater Della Valle lebih percaya pada berita dari orang Daya Ngaju sendiri. Beliau yakin Pater Ventimiglia masih hidup. Maka Pater Della Valle mengirim surat dan barang-barang penting untuk Pater Ventimiglia di pedalaman.Setelah tiga bulan menunggu, tidak ada kabar balasan dari Pater Ventimiglia. Akhirnya Pater Della Valle pergi ke Pulau Jawa.

Di Jawa Pater Della Valle berusaha untuk masuk kembali ke Borneo dengan bantuan orang Belanda. Sekali lagi beliau menemui kegagalan. Beliau tetap mendapat kabar yang tidak pasti tentang Pater Ventimiglia.

11. Akhir Hidup yang Penuh Misteri

Usaha mencari jejak Pater Ventimiglia di pedalaman Kalimantan belum menemui hasil yang pasti. Juga mengenai akhir hidupnya, ada banyak pendapat mengenai hal ini.

Versi pertama : Pater Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh Sultan Banjarmasin. Ada dua alasan yang di kemukakan : pertama berkembangnya iman Katholik secara pesat di pedalaman suku Ngaju ; kedua adanya perdagangan langsung antara orang Portugis dengan suku Daya Ngaju di pedalaman, hal mana membahayakan kedudukan dan pengaruh Sultan Banjarmasin. Atas pertimbangan atau alasan ini, maka Sultan memerintahkan agar Pater Ventimiglia ditangkap hidup atau mati.

Seorang Kapten Inggris, Daniel Beckmann, juga mengatakan hal yang sama bahwa Pater Ventimiglia mati terbunuh oleh Sultan Banjarmasin. Dari Batavia juga ada berita yang sama. Orang-orang Belanda mengatakan, Pater Ventimiglia dibunuh Sultan. Dan Dr. M.P.M. Muskens yang menulis sejarah Gereja Katholik, juga berpendapat bahwa Pater Ventimiglia dibunuh Sultan Banjarmasin.

Versi kedua : Pater Ventimiglia meninggal karena dibunuh oleh orang Daya Ngaju sendiri dengan panah beracun. Pendapat ini sulit diterima kebenarannya. Alasan yang dikemukakan anatar lain : Dua Pangeran terkemuka suku Daya Ngaju sudah di baptis dan lima belas suku sudah bertobat dan menjadi Katholik. Suatu hal yang sulit dilakukan apabila mereka membunuh Pater Ventimiglia setelah di baptis menjadi Katholik.

Versi ketiga : Pater Ventimiglia meninggal karena terserang disentri. Berita ini datang dari seorang Cina yang mendengar langsung dari orang Daya Ngaju yang dekat Pater Ventimiglia.

Versi keempat : Pater Ventimiglia meninggal secara wajar. Hal ini dikatakan oleh seorang tahanan yang dibawa ke Macao pada tahun 1693. Menurut pengakuannya, Pater Ventimiglia meninggal secara wajar dan dikuburkan didalam sebuah Gereja yang dibangun atas perintah Kapten Araugio ketika Pater Ventimiglia ke pedalaman.

Sementara itu beberapa orang telah berusaha keras meneliti hidup dan karya Pater Ventimiglia tidak memberikan suatu jawaban yang pasti mengenai akhir hidup perintis misi Borneo ini. Misalnya P. Bart Ferro dalam bukunya “Historis Della Missione De Chierici Regolari Theatin” jilid II tidak berani mengatakan bahwa Pater Ventimiglia mati terbunuh. Pendeta J.W. Gottin juga tidak berani menganggap Pater Ventimiglia sebagai Martir.

Pater Gallo di Goa menentukan tahun 1693 sebagai tahun kematian Pater Ventimiglia dalam usia 51 tahun.

Dan dalam arsip Keuskupan Banjarmasin yang dibuat di Roma tahun 1693, terdapat salinan gambar Pater Ventimiglia. Namun tidak ada satu katapun yang menjelaskan tentang bagaimana akhir hidup Pater Ventimiglia.

12. Beberapa hal yang masih dipertanyakan tentang Karya Pater Ventimiglia di Borneo

a. Dimana Pater Ventimiglia berkarya ?

Sungai “Rio Ngaju” yang disebut-sebut Pater Ventimiglia dalam suratnya, menurut Pater Bart Ferro, adalah Sungai Ngaju. Sedangkan menurut Robert Nicholl, sungai yang dimaksud adalah Sungai Barito. Pelabuhan yang disebut dalam tulisan terletak dekat Banjarmasin di tepi sungai Barito. Pendeta Gottin yang dengan sungguh sungguh meneliti karya Pater Ventimiglia juga yakin bahwa tempat karya Pater Ventimiglia di daerah Barito, bahkan mungkin sampai di Buntok.

Menurut Gottin, tidak mustahil Pater Ventimiglia pergi ke Kuala Kapuas melalui sungai Murung. Akan tetapi Pater Ventimiglia tidak berkarya di sungai Kahayan. Demikian pendapat Gottin, karena waktu itu belum ada terusan dari Kapuas ke Kahayan. Apakah mungkin Pater Ventimiglia ke Sungai Kahayan melalui laut? Dugaan ini sulit diterima karena Pater Ventimiglia sendiri tidak menyinggung hal ini dalam suratnya. Tambahan pula, mengapa Pater Ventimiglia pergi begitu jauh, sementara banyak orang Daya ada didekatnya?

Pada tahun 1981 Pendeta Baier menerima surat dari seorang guru GKE di Kapuas. Guru itu mengungkapkan bahwa didekat kampung Mantangai terdapat kuburan Portugis. Sebagai konfirmasi atas pernyataan ini, Pendeta mengirim surat kepada Mgr. W. Demarteau, MSF. Isi surat itu antara lain mengatakan bahwa ayah Pendeta Baier yang sudah bekerja sebagai Pendeta di Kalimantan Tengah sejak 1924, tahun 1941 mendengar dari pendeta pendahulunya, bahwa di sungai Kapuas di hilir Mantangai, misi Katholik sudah aktif sejak dua ratus tahun yang lalu.

Lain lagi pendapat Pater M. Gloudemans M.S.F. Menurut beliau, tempat karya Pater Ventimiglia dekat Pelaihari, dekat desa Gunung Raya. Ditempat itu pasti terdapat benteng Portugis. Pendeta Gottin yang lebih cenderung memilih daerah tepi sungai Barito mengatakan bahwa kalau tempat di dekat Pelaihari itu digali pasti ditemukan kuburan Portugis dan pondasi Gereja Katholik. Namun daerah tersebut jangan dianggap sebagai tempat karya Pater Ventimiglia.

b. Berapa orang yang dibaptis Pater Ventimiglia ?

Dalam suratnya kepada Pater Gallo di Goa tahun 1690, Pater Ventimiglia menulis telah membaptis 1.800 orang Ngaju, setelah bekerja selama enam bulan ditengah mereka. Kemudian pada tahun 1694, Jacob Janszen de Roy yang saat itu berada di Banjarmasin, mengatakan, sekitar 3.000 orang telah dipermandikan. Mereka memakai salib, tetapi penghayatan imannya belum mandalam.

13. Karya Pater-Pater Theatin di Borneo sesudah Pater Ventimiglia

Dalam uraian diatas (lihat No. 10) sudah dikisahkan nasib beberapa Pater Theatin yang mencoba mencari jejak Pater Ventimiglia mengalami nasib sial. Mereka kembali membawa berita yang tidak pasti.

Namun demikian Kongregasi de Propaganda Fide terus mendukung misi Pater-Pater Theatin di Borneo. Maka pada tanggal 14 Januari 1692, pihak Propaganda de Fide secara resmi menyerahkan seluruh pulau Kalimantan kepada Pater-Pater Theatin dan tertutup bagi ordo lainnya. Pada tanggal yang sama juga diperintahkan pembukaan seminari dan selama tiga tahun Propaganda de Fide akan memberikan dana.

Lima hari sesudah peristiwa ini, tepatnya tanggal 19 Januari 1692, Paus Innocentius XII menetapkan Borneo sebagai Vikariat Apostolik. Pater Antonino Ventimiglia diangkat sebagai Vikaris pertama untuk “The Kingdom of Borneo”.

Berita pengangkatan ini tentu saja tidak sempat diterima Pater Antonino Ventimiglia. Alasan pertama, Surat pengangkatan itu datang terlambat karena beliau sudah meninggal dunia. Alasan kedua, pihak pemerintah Portugis marah dengan keputusan Roma yang dianggap melanggar perjanjian. Barangkali pihak Portugis tidak mau memberikan surat pengangkatan itu (apabila saat itu Pater Ventimiglia masih hiduped).

Sesudah Pater Ventimiglia meninggal Pater-Pater Theatin lain mencoba meneruskan karya pendahulunya di Borneo hingga tahun 1761. Dalam tahun 1706, datanglah Pater Giusseppe Maria Martelli. Beliau datang dari Bengkulu tempat ordo ini berkarya. Pater Martelli tiba di Banjarmasin pada tanggal 5 Desember 1706, dan mencoba menghubungi suku Ngaju. Orang-orang Ngaju mengisahkan bahwa sejak kematian Pater Ventimiglia, tak seorang imam Katolik pun tinggal bersama mereka. Mereka ingin agar Pater Martelli tinggal bersama mereka. Orang Ngaju berjanji untuk datang menjemput. Namun setelah satu bulan menunggu dan tidak ada orang Ngaju yang menjemput, beliau berangkat sendiri ke hulu menurut petunjuk orang Ngaju sebelumnya. Pater Giusseppe Maria Martelli berangkat pada tanggal 3 April 1707 ditemani beberapa orang Ngaju. Menurut cerita, setelah tiga hari perjalanan, Pater ini dibunuh orang Melayu.

Cerita lain mengatakan Pater Martelli dibunuh orang Ngaju karena beliau konflik dengan mereka perihal sumbangan untuk perbaikan Gereja. Pada tahun 1723, Pater Yohanes Rescala, Pater Abert Sadagna dan Pater Wenceslaus Lozek tiba di Banjarmasin. Mereka mengirim berita kepada orang Ngaju untuk membawa Brevir, Salib dan topi milik Pater Ventimiglia. Mereka terpaksa meminta bantuan orang Daya Ngaju untuk mengantar barang milik Pater Ventimiglia ini, karena tidak diijinkan oleh Sultan Banjarmasin untuk turun dari kapal dan masuk pedalaman. Bahkan mereka diancam untuk dibunuh kalau melanggar larangan ini. Setelah tiga bulan, mereka kembali ke Macao.

Pater Ag. Bareto mencoba lagi pergi ke Kalimantan. Namun beliau meninggal dunia dalam perjalanannya di Manila, Philippina pada tanggal 24 Juni 1761.

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN YANG DIHAYATI PATER VENTIMIGLIA

1. Sepuluh Langkah Mewujudkan Kasih

Pater Ventimiglia menghayati kasih sebagai keutamaan yang terpenting. Beliau mengikuti sepuluh langkah yang dijabarkan oleh St. Thomas Aquino untuk mewujudkan kasih itu.

Langkah Pertama: Launquete viriliter : menderita secara ksatria.

Sejak usia muda, Pater Ventimiglia telah diarahkan Tuhan menuju kesempurnaan. Dalam usia 11 tahun ia masuk Biara. Dan sesudah kaul kekal ia pergi mewartakan Injil dan mencurahkan darahnya untuk kesaksian imannya.

Langkah Kedua: Incessanter Quaerere : tiada henti mencari (kehendak Tuhan).

Sepanjang hidupnya, Pater Ventimiglia hanya mencari kehendak Allah yang membuat hatinya tenang dan terhibur.

Langkah Ketiga : Operari indesinenter et maqna propter Deum : bekerja terus-menerus demi semakin besarnya kemuliaan Allah.

Segala-galanya dilakukan Pater Ventimiglia demi kemuliaan Tuhan : membaptis 15 suku, tiap minggu berpuasa. Namun ia tetap merasa dirinya kecil dihadapan Tuhan. Ia merasa kecil agar kemuliaan Tuhan semakin besar.

Langkah Keempat : Sustinete infaticabiliter : bertahanlah tanpa mengenal lelah.

Dalam segala kesusahan, Pater Ventimiglia tetap berjuang dan bersabar demi kemuliaan Tuhan.

Langkah kelima : Appetere impatienter, sponsum permanter habere: kejarlah tanpa henti untuk mendapatkan mempelai yang tetap.

Untuk menemukan Tuhan, mempelainya, Pater Ventimiglia pergi ke tanah orang kafir. Kasih dalam hatinya terus menyala, mengatasi segala rintangan. Pater Ventimiglia pergi ke tanah kafir untuk menjadi Marta : melayani mereka dan mempelainya.

Langkah Keenam: Ad Deum velociter currere: semakin cepat berlari kepada Tuhan.

Pater Ventimiglia pergi dari Barat ke Timur untuk mewartakan Kristus. Dalam waktu singkat banyak orang Ngaju di baptis. Ia tinggal bersama mereka, namun hatinya selalu dekat dengan Kristus.

Langkah Ketujuh: Audere vehementer : dengan berani maju.

Pater Ventimiglia selalu berkomunikasi dengan Tuhan dalam doa dan dengan berani mengambil resiko dalam melaksanakan tugasnya.

Langkah Kedelapan: Est uniri Deo indissolubiliter : Persatuan dengan Allah yang tak terpisahkan.

Tuhan menjadi sumber hidup Pater Ventimiglia. Ia telah menyatu dengan Tuhan. Allah menunjukkan kepada hambanya apa yang harus dilakukan dan apa yang akan terjadi.

Langkah Kesembilan: Suaviter ardede : Mencintai dengan mesra.

Jiwa Pater Ventimiglia hanya tenang dalam Tuhan yang menjadi pusat hidupnya.

Langkah Kesepuluh: Sponsam totaliter spos assimilari : menyamakan mempelai wanita dengan mempelai pria.

2. Kasih terhadap Sesama dan Perbuatan yang Terpuji

Seluruh perjalanan hidup Pater Ventimiglia ditandai oleh perbuatan kasih terhadap sesama, baik ketika di Goa, Macao maupun di Borneo. Banyak orang bertobat berkat bantuannya. Seorang heretik (= orang yang murtad dari imam Katolik) yang hampir dibakar hidup-hidup oleh pengadilan inquisitio yang dibentuk oleh Paus Paulus IV, bertobat berkat doa dan air mata Pater Ventimiglia.

Di Kalimantan, Pater Ventimiglia menjadi Bapak lima belas suku. Pada waktu itu perdagangan antar suku Melayu dan Daya Ngaju tidak beres sistemnya. Banyak orang pedalaman menderita kekurangan kebutuhan hidupnya yang pokok. Kemiskinan dan kelaparan merajalela.

Melihat keadaan yang memprihatinkan itu, Pater Ventimiglia berdoa di depan tabernakel, memohon petunjuk dari Tuhan : apa yang sebaiknya dilakukan. Tiba-tiba datang bantuan beras bagi umat. Seseorang lalu menyampaikan hal ini pada Pater Ventimiglia. Beliau menjawab : “Ambillah, makanlah dan simpanlah karena Tuhan telah memperhatikan nasibmu dan memberimu makan”. Inilah kesaksian Pater Ferreria dan Bapak Cottigno yang bertemu dengan beberapa orang Ngaju yang ikut makan nasi dari beras itu, ketika mereka melewati Borneo.

Ada kisah lain lagi mengenai bertobatnya seorang ibu karena anaknya yang sudah meninggal hidup kembali berkat doa Pater Ventimiglia. Paeristiwa ini disaksikan oleh Pater Ferreria. Selain Pater Ferreria, masih banyak orang menyaksikan peristiwa ini.

“Benar, benar, benar! Aku bersedia meninggalkan kemuliaan surga sekarang agar aku dapat bekerja di ladang Tuhan sampai akhir dunia, tanpa menuntut upah selain melakukan kehendak Tuhan untuk keselamatan sesamaku”. Itulah ungkapan yang merupakan motto hidupnya.

DEVOSI PATER ANTONIO VENTIMIGLIA

1. Devosi kepada Sengsara Kristus

Pater Ventimiglia sangat mengasihi Kristus terutama karena sengsara dan wafat-Nya di salib. Setiap hari ia merenungkan sengsara Kristus.

Salib merupakan hal yang sangat berharga dan dicintai Pater Ventimiglia, terutama sejak ia memakai salib yang pernah dipakai oleh Santo Aloysius Beltrando. Salib ini memberi semangat untuk berjuang sebagai saksi Kristus.

Dua peristiwa penting yang menakjubkan berhubungan dengan salib ini. Pertama, suatu ketika seorang Kapten kapal hendak menangkapnya. Kapten itu tiba-tiba terkejut dan merasa takut ketika melihat salib itu menjadi terang. Kedua, ketika seorang ibu hendak dibaptis, ia melihat salib itu berubah menjadi daging yang hidup dalam tubuh Pater Ventimiglia. Pater Ventimiglia selalu memanggil salib yang tergantung di lehernya: “O, sahabatku yang terkasih dan manis!”.

Ketika Pater Ventimiglia datang untuk kedua kalinya di Kalimantan, beliau mengadakan novena pada Santo Yoseph. Pada hari terakhir novena, beliau membuat salib besar. Salib itu dihiasi bunga, diletakkan diatas perahu dan diarak, berlayar mengelilingi sungai. Setelah peristiwa itu, datanglah bapak Angha. Dan terjadilah hal yang dinantikan Pater Ventimiglia : beliau akhirnya dapat masuk ke pedalaman. Dalam perjalanan ke pedalaman, salib besar itu didirikan di atas kapal dan di bawah salib tertera tulisan : “Lusitanorum Virtus et Gloria” yang berarti (salib) Kekuatan dan Kemuliaan bangsa Portugal.

2. Devosi kepada Sakramen Mahakudus

Devosi Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus sangat kuat. Sebelum merayakan ekaristi, beliau berdoa berjam-jam di depan Sakramen Mahakudus. Biasanya beliau menggunakan waktu doa pada malam hari agar tidak mengurangi waktu bagi umatnya. Dalam kotbah-kotbahnya, beliau selalu mengajar umat agar mereka senantiasa mencintai Tuhan.

Selama perjalanan menuju tanah misi, Pater Ventimiglia selalu merayakan Ekaristi di Kapal. Itulah semangat kebaktian Pater Ventimiglia kepada Sakramen Mahakudus.

3. Devosi kepada Santa Perawan Maria

Cintanya kepada Santa Perawan Maria tak terhingga. Sebelum berangkat ke Kalimantan, beliau berlutut, berdoa memohon doa Bunda Maria serta menyerahkan misi Borneo dibawah perlindungan Santa Perawan Maria.

Ketika berkarya di Borneo, beliau mempersembahkan sebuah Gereja besar yang pertama kali dibangunnya untuk Perawan Maria. Sebelum merayakan pesta-pesta Santa Maria, beliau selalu berpuasa. Dan pada malam hari beliau sering berdoa di depan patung Bunda Maria.

4. Devosi kepada Santo Kayetanus dan Santo Andreas

Selain ketiga devosi diatas, Pater Ventimiglia juga sangat kuat berdevosi kepada St. Kayetanus, pendiri ordo Theatin dan St. Andreas Avellino.

PENGHAYATAN KETIGA KAUL

1. Kaul Kemiskinan

Pater Ventimiglia sungguh hidup dalam kemiskinan. Dikamarnya hanya terdapat sebuah meja dan sebuah kursi sederhana, tempat tidur dengan kasur yang tak pernah dipakai. Beliau tidur beralaskan tanah. Pater Ventimiglia mau meneladani Kristus yang lahir dan hidup dalam kemiskinan. Bantuan dari raja Don Rodrigo da Costa dan dari Kongregasi Suci sebelum keberangkatannya ke Macao dan Borneo ditolaknya.

Dalam perjalanan beliau hanya membawa pakaian misa, beberapa buku rohani dan beberapa alat devosi untuk diberikan kepada suku Ngaju. Ketika merayakan Kamis Putih di atas kapal di perairan dekat Banjarmasin, banyak orang Tionghoa menyumbang lilin. Juga orang Islam menyumbang lilin dan emas. Beliau menerima lilin dan menolak emas. Dan ketika hidup di tengahtengah orang Ngaju, umat kerap kali memberikan beras, ayam, kayu harum, akar-akar dan rempah. Pada mulanya beliau menolak, namun untuk menyenangkan hati umatnya, pemberian itu diterimanya.

“Aku datang ke pulau ini bukan untuk mencari keuntungan, melainkan diutus Tuhan untuk menunjukkan jalan menuju Surga, jalan menuju keselamatan. Biarlah aku hidup dalam kemiskinan, karena Tuhan telah memanggil aku dalam keadaan seperti ini”. Inilah ungkapan yang sering diucapkan Pater Ventimiglia semasa hidupnya.

2. Kaul Kemurnian

Santo Bernardus pernah menulis : “Vita caelebs vita caeistis, incoruptio facit proximum Deo” (hidup selibater adalah hidup surgawi ; keperawanan mendekatkan pada Tuhan). Sejak usia 11 tahun, Pater Ventimiglia telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam ordo Thetin. Hidupnya diserahkan kepada kehendak Tuhan.

Francesco Xavier de Ecens, seorang Pater Jesuit sering mengatakan Pater Ventimiglia bukan manusia melainkan Malaikat. Sementara Pater Ignatius de Zuleta merasa tidak layak kalau duduk berdampingan dengan Pater Ventimiglia. Pater D. Agustino Gallo memperhatikan kursi mana yang dipakai Pater Ventimiglia. Ia tidak berani duduk di kursi yang telah dipakai Pater Ventimiglia.

3. Kaul Ketaatan

Pater Antonino pernah berkata : “Hatiku keras, saya sendiri tidak dapat menjelaskan. Tak ada sesuatupun menakutkan. Segala penderitaan ini kunilai tak berarti dibandingkan dengan cinta kasih Tuhan terhadapku. Banyak bahaya mengancamku. Tak seorangpun yang menjadi penasihat dan penolongku di kala penderitaan dan kesulitan menimpaku. Aku mengharapkan datangnya bantuan dari Goa. Tetapi aku tetap percaya, ketaatan yang suci tak akan eninggalkan aku sendirian. Penyelenggaraan Ilahi yang hingga saat ini membantu, pasti akan terus membantu pada masa yang akan datang”.

Sebagai seorang Rohaniwan, Pater Ventimiglia sungguh menghayati kaul ketaatannya. Beliau selalu mencari kehendak Allah. “Agar kehendak Allah terjadi, aku menunggu hingga waktunya tiba memasuki Borneo. Biarlah kebaikan Tuhan yang Ilahi mengatur dan memerintah hidupku dalam segala peristiwa hidupku. Aku akan tetap gembira dan senang.” Demikian ungkapan lain Pater Ventimiglia perintis Misi Borneo ini.

KESABARAN DAN KERENDAHAN HATI

1. Kesabaran dan Penyerahan pada Kehendak Tuhan

Santo Thomas Aquino berkata : “Kesabaran merupakan sebagian dari kekuatan”. Sedangkan Santo Cyprianus berpendapat : “Kesabaran adalah ibu keutamaan-keutamaan”.

Pater Antonino Ventimiglia menghayati keduaduanya dalam hidupnya. Ketika Kota Taormina jatuh ke tangan Perancis, keluarga Pater Ventimiglia mengungsi ke Madrid. Kehadiran keluarga ini membuat ia merasa dekat kembali dengan orang-orang yang masih ada ikatan darah.  Ia berusaha untuk melepaskan diri dari segala ikatan, bahkan ikatan darah sekalipun. Kepada Paus Innocentius XII beliau menulis agar dibebaskan dari segala ikatan darah sehingga ia hanya mengabdi kepada Tuhan.

Ia melarikan diri dari Madrid ke Lisabon. Dua tahun lamanya ia bergumul dengan dirinya sendiri : memilih pergi ke tanah misi atau tidak. Akhirnya ia menulis surat untuk Bapa suci dan memohon agar diijinkan pergi ketanah misi.

Dalam segala penderitaan beliau pun sangat sabar. Kakinya terserang tumor hitam. Dalam perjalan dari Lisabon ke Goa yang memakan waktu delapan bulan, beliau banyak menderita. Kakinya kaku, kerap kali sudah berada dalam keadaan sakrat maut, sehingga menerima minyak suci. Di tanah Borneo Pater Ventimiglia mengalami banyak sekali kesulitan. Namun beliau tetap sabar.

Kepada seorang suster di Madrid, Pater Ventimiglia pernah menulis : “Sesuatu yang sangat menggembirakan dan sangat berharga bagiku. Air yang saya minum kotor dan bau. Apalagi makanannya, sangat aneh!”. Inilah tantangan yang dialami Pater Ventimiglia. Dan seluruh hidupnya merupakan perjuangan melawan kecenderungan kecenderungan tubuhnya.

2. Kerendahan Hati

Kerendahan hati merupakan dasar yang kuat bagi ornag-orang kudus. Diatas dasar ini kesempurnaan Kristiani terbentuk. Santo Bernardus menguraikan dua belas langkah kerendahan hati. Pater Ventimiglia sungguh menghayati kedua belas langkah ini.

Langkah-langkah kerendahan hati itu meliputi :

Langkah ke-1 : Menyadari kerendahan hati lahir batin dengan mata yang selalu tertuju ke tanah.

Langkah ke-2 : Tidak banyak bicara, kata yang diucapkan bernada bijaksana dan tidak sombong.

Langkah ke-3 : Memperhatikan kesopanan dan tidak mudah tertawa.

Langkah ke-4 : Diam, tidak bicara jika tidak ditanya.

Langkah ke-5 : Taat pada aturan Biara dan segala hal yang biasa dan sederhana.

Langkah ke-6 : Percaya dan mengakui diri sebagai pendosa.

Langkah ke-7 : Percaya bahwa diri sendiri tidak layak dan kurang berarti.

Langkah ke-8 : Mengakui kesalahan yang sudah dilakukan.

Langkah ke-9 : Selalu memilih yang sulit, dan bermatiraga.

Langkah ke-10 : Dalam semangat ketaatan, merendahkan diri dihadapan Pemimpin (pembesar).

Langkah ke-11 : Menyangkal dan tidak melakukan kehendak sendiri.

Langkah ke-12 : Takwa kepada Tuhan dan ingat akan perintah-perintah-Nya.

Beberapa ungkapan yang menunjukkan kerendahan hati Pater Ventimiglia :

  • “Celakalah aku, orang memperhatikan aku!”
  • “Celakalah aku, orang-orang mencari dan aku tidak mengetahui alasannya”.
  • “Mereka memperhatikan dan mencari aku karena mereka tidak tahu siapa aku!”.
  • “Aku seekor keledai dengan pakaian manusia”.
  • “Aku Antonino, seorang berdosa yang miskin”.
  • “Aku mencium kakimu seribu satu kali!”.
  • “Tuhan memberkati engkau yang merendahkanku!” (kepada seorang gila yang mempermainkannya).
  • “Aku seekor cacing di tanah ini!”.
  • “Tak pernah Santo Kayetanus mempunyai wajah seperti ini!” (kepada seorang pelukis yang membuat gambarnya dengan diam-diam).

KARUNIA KARUNIA KHUSUS

Pater Ventimiglia mendapat karunia istimewa dari Tuhan. Beberapa peristiwa mengungkapkan karunia-karunia istimewa ini. Di Madrid beliau dapat membaca dan membuka isi hati seorang suster. Beliau juga bernubuat tentang seorang suster yang masih akan hidup beberapa tahun lagi. Juga nubuatnya tentang kematian seorang anak dan saudaranya.

Sementara itu semua orang menganggap Pater Ventimiglia sebagai orang kudus. Para suster biara Trinitaris di Madrid menganggap Pater Ventimiglia sebagai orang kudus. Juga umat sering memberi gelar sebagai orang kudus, malaikat yang diutus Allah dan orang yang benarbenar rasul.

Para raja dan ratu berusaha menjumpainya untuk meminta nasihat dan petunjuk. Akhirnya Bapa Suci Innocentius XII mengangkat Pater Ventimiglia sebagai Vikaris Apostolik pertama untuk pulau Borneo.

Di Roma, terdapat gambarnya dan terdapat tulisan sebagai berikut :

“………………………………. , sambil berharap dalam Tuhan, jika kelak para misionaris kami dapat masuk ke Borneo untuk memlihara ladang anggur yang telah ditanamnya dengan banyak penderitaan, mereka dapat menikmati segala kuasanya dengan lebih nyata lagi”.

MUJIZAT MUJIZAT ALLAH DENGAN PERANTARAAN PATER VENTIMIGLIA

Banyak penyembuhan terjadi melalui Pater Ventimiglia. Pater Diego Spadafuor dan Pater D. Bernardus disembuhkannya dengan memeluk dan mencium mereka. Seorang suster dari Biara S. Maria del Calcelliere Palermo sembuh dari penyakit Kanker.

Surat yang ditulis Pater Ventimiglia dan dikirim ke Madrid kepada seorang suster dipergunakan untuk mengusir setan dan menyembuhkan penyakit. Setan-setan berteriak-teriak memohon agar surat itu dibuang karena sangat mengganggu. Si iblis mengakui bahwa Pater Ventimiglia banyak melakukan mujizat di tanah misi. Surat Pater Ventimiglia yang disimpan suster itu tetap kering kendati pada suatu ketika tempat disekitar surat itu basah semua.

Berkat doa Pater Antonino Ventimiglia dan pertolongan Santo Kayetanus, seorang ibu yang sudah tiga belas kali melahirkan dan bayinya selalu meninggal, dapat dengan selamat melahirkan bayinya. Peristiwa ini terjadi di Macao.

Dalam perjalan menuju tanah misi, kapal yang membawa Pater Ventimiglia dilanda taufan. Pater Antonino berdoa dan saat itu juga badai pun reda. Di tanah misi, di Borneo, penduduk yang terancam bahaya kelaparan karena musim kering dibebaskan berkat doa Pater Ventimiglia. Tiba-tiba beras turun dari langit seperti hujan. Bila malam tiba, Pater Ventimiglia sering kali berbicara dengan Santa Perawan Maria yang selalu melindunginya dari segala bahaya. Dan salib yang dipakai Pater Antonino tiba-tiba berubah menjadi daging.

Setelah Pater Antonino Ventimiglia meninggal dunia, orang-orang Ngaju menguburkannya di Gereja yang dahulu dibangunnya. Dari berbagai penjuru datanglah orang sakit lumpuh, buta, demam, orang yang kerasukan setan. Mereka berdoa di dekat kubur Pater Antonino dan sembuh. Orang Ngaju menjaga makamnya karena takut jenazah P. Antonino dicuri orang.

Semoga Pater Antonino Ventimiglia sebagai hamba Tuhan, tetap setia pada janji yang diucapkan dalam surat-suratnya. Beliau mendoakan supaya kelak dapat bertemu di Surga.

6 responses to “Ventimiglia – Perintis Misi Borneo

  1. Yth penulis ;

    saya sangat terkesan dengan karya dan cerita nyata ketaatan dan kesetiaan Pater Ventimiglia pioner agama katolik di kalimantan selatan. Mungkin bisa memberi info tentang novena st. Ventimiglia. Terimakasih salam damai

    Michelle

  2. terima kasih atas tanggapan. Maaf pater Ventimiglia belum santo dan setahu saya belum ada usaha untuk memberi gelar martyr maupun santo. Penulis artikel adalah mgr. Demarteau MSF. Salam, Pastor Pieter Sinnema MSF

  3. apakah artikel dari Mgr. Demarteau, MSF sudah resmi sehingga bisa menjadi referensi dari sebuah karya ilmiah?

  4. Boleh saya re-blog tulisan ini dan pasti saya cantumkan sumbernya?? terimakasih

  5. Peninggalan Pater Antonino Ventimiglia masih ada pada Suku Dayak Ngaju dan Maanyan sampai saat ini. Untuk mengusir hal-hal yang jahat dipasang tanda salib ( + ) pada belakang pintu rumah atau pada daun sawang memakai kapur sirih. Konon tanda + tersebut bermula dari Pater Antonino Ventimiglia supaya mendekatkan tanda salib untuk budaya Dayak.

  6. Ping-balik: Antonino Ventimiglia dan Suku Dayak Ngaju | Info Itah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s