Keling

Ceritera dari Alexius Nyangun Along, Tiong Ohang

Diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh pastor L. v.d. Sanden msf, Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh pastor H. v. Kleijnenbreugel msf

Keling adalah seorang bangsawan, bangsawan yang luar biasa; kemashurannya tersebar di seluruh dunia. Kemashuran Keling bahkan sampai di surga.

Ketika para penghuni surga mendengarkan ceritera tentang Keling mereka menghendaki bahwa ia akan tinggal bersama mereka. Kesibukan mereka hanya terdiri dari mencarikan daun rokok dan menggulung rokok mereka. Mereka ingin bahwa Keling tinggal bersama mereka maka Keling berangkat menuju surga.

Sumpitan dengan tabung anak sumpit diambilnya lantas ia turun tangga lamin tanpa diketahui orang. Ia mudik sampai di bawah sebuah air terjun. Keling menaiki air terjun itu sampai di atas di mana air turun dengan deras.

Setelah tiba di atas air terjun Keling dilihat oleh ibu Jaai:

“Mau ke mana engkau”, ibu itu bertanya.

“Saya berjalan-jalan saja; saya tidak mempunyai ayah, saya anak yatim-piatu.”

“Kasihan. Mari anakku. Saya tidak membiarkan lagi kau pergi. Mari ke atas masuk rumahku. Ke mana gerangan engkau?”

Keling menjawab:

“Diam saja, ibuku. Saya hendak ke atas, ke surga. Karena itu saya berjalan-jalan begitu saja.”

Ibu Jaai bertanya: “Kenapa demikian?”

“Aduh, saya berjalan-jalan begitu saja; tak perduli andaikata saya mati. Saya toh tidak mempunyai seorang ayah. Saya tak perduli bila binatang liar memakan saya,” kata Keling.

“Kasihan anakku, jangan begitu supaya tidak mati betul,” kata ibu itu.

“Baiklah, tetapi saya mau ke atas, mau ke surga,” kata Keling.

Ibu Jaai menjawab:

“Janganlah tergesah-gesah. Ambillah baju ini. Bila kau memakainya dengan baik kemashuranmu akan naik sampai langit dan akan memperluas di seluruh dunia.

Kenakanlah baju itu dan berjalanlah sedikit sambil saya melihatnya.”

Keling mengenakan baju (yang dibuat dari kulit katak besar) lantas berjalan-jalan. Baju itu sesak di kedua bahu Keling sehingga berbunyi: prut-prut, frut-frut karena lem katak yang masih di dalam baju.

“Selesai”, kata ibu “usahakanlah supaya pada awal perjalananmu kau janganlah menembak burung enggang yang di bawah air terjun. Sebab bila kau tangkap burung itu kau akan mati. Inilah pesan ibu Jaai.”

Kata Keling: “Baiklah ibu. Saya tidak akan mati. Saya berjalan-jalan begitu saja seorang diri. Sebenarnya saya tak perduli apa yang akan terjadi: saya hidup atau mati. Tetapi saya mau

terus ke atas, ke surga. Tidurlah baik-baik, ibu, sambil saya meneruskan perjalanan saya.”

Lantas ia mulai berjalan sampai ia tiba pada air terjun yang disebut oleh ibu Jaai dan ia melihat burung enggang. Ia membuka tabung panah, mengambil sebuah anak sumpit dan menembak ke arah burung itu. Burung itu jatuh ke bawa dalam keadaan mati. Keling memasukkannya ke dalam tasnya dan meneruskan perjalannnya sampai tiba di ujung sebuah ladang. Ia mengumpulkan sedikit kayu api, memasak burung yang kemudian dimakannya.

Waktu makan ia mengucap sebuah mantra:

Bila saya nanti makan kedua mata burung ini dan menggigit satu mata sampai hancur di antara gigi saya kiranya satu mata saya hancur juga.

Dan betul, terjadi demikian.

Kemudian Keling mengulang mantra itu untuk mata yang kedua: ketika itu ia menjadi

buta sama sekali oleh mantra sendiri.

Terjadi bahwa Aran, seorang bapa yang tua, mendengar tentang Keling yang telah pergi tanpa

diketahui orang ke mana. Waktu sedang tidur ia mimpi:

Bulan jatuh ke bawah dan Aran menangkapya ke dalam tangannya.

Waktu terbangun ia berkata kepada Topurungmat:

“He, Topurungmat, pergilah ke ladang dan membawaserta adikmu perempuan Bulan Laya. Bila enkau di tengah jalan mendengar bunyi menangis seekor anjing tersesat dan kamu menemuinya, bawalah dia ke rumah. Apalagi bila engkau bertemu dengan seorang manusia bawalah juga dia ke rumah.”

Maka Topurungmat pergi bersama adiknya perempuan ke ladang. Di ujung ladang asap api dilihatnya. Ia bertanya:

“Api yang di sana dari siapa?”

Bulan Laya berkata: “Saya tidak tahu.”

“Mari kita balik; siapa tahu di sana ada pengayau.”

Jadi mereka berbalik dan pulang untuk memberitahu kepada bapa bahwa mereka telah melihat asap api di ujung ladang.

“Bapa, kami telah melihat asap api di ujung ladang.”

“Kalian telah melihat siapa?”

“Kami tidak tahu karena kami tidak pergi melihat takut akan pengayau.”

“Aduhai, apa yang telah saya kata kepada kalian,” jawab Aran yang tua. “Tak peduli kamu menemui apa, tetapi bawalah sertamu apalagi menemui seorang manusia. Ayo, pergilah mengambilnya dan membawanya ke rumah. Bawalah selendang dan bawa orang itu ke mari.”

Maka Topurungmat dengan adiknya turun lagi dan pergi ke ladang sampai sebuah pondok ladang. Pada saat itu mereka melihat lagi asap api tetap pada tempat yang sama. Sambil menyelinap mereka mendekati pondok itu. Ketika sudah dekat Topurungmat berkata kepada adiknya:

“Hati-hati dan jangan berbunyi, boleh jadi ada pengayau.”

Tetapi Bulan Laya tidak waspada dan menginjak dahan mati. “Kerak” bunyinya.

“Siapa kalian; janganlah ke mari supaya tidak menginjak saya, karena saya tidak dapat melihat kalian, saya buta.”

Pada saat itu Topurungmat berkata:

“Bapa suruh kami mengambilmu.”

“Jangan, jangan,”katanya, “saya buta dan menderita sejenis frambusia yang buruk sehingga kalian akan muak akan saya.”

“Baiklah tetapi kami akan mengambilmu.” Mereka pegang tangannya dan memasang selendang keliling badannya. Sepanjang jalan mereka mengiringinya sambil pegang tangannya.

Ia mengeluh: “Janganlah begitu dekat pada saya; ingatlah akan frambusia saya, luka saya amat bernanah dan berdarah.”

Kata Topurungmat: “Ikutilah saja. Siapa sebenarnya namamu?”

“Nama saya Patung.”

Mereka berjalan terus sampai ke rumah. Aran yang tua melihat mereka naik tangga. Ia sangat bergembira ketika ia melihat bahwa ada seseorang yang ikut bersama Topurungmat dan Bulan Laya.

“Apa yang telah saya katakan kepada kalian ketika saya menyuruh kalian pergi ke ladang+ sekarang marilah memandikan saudaramu dan jangan membencinya. Sebaiknya kalian mengambil air dan memandikannya di rumah: janganlah membawa dia turun ke sungai supaya tidak ada bahaya ia mati tenggelam. ”

Tolayan – suami Topunrungmat – sangat marah sekali. Dalam hati ia mencurigai dia tidak setia karena kedua saudari menaruh perhatian luar biasa kepada Patung. Ketika dilihatnya bahwa kedua saudari bertahan memandikan Patung ia melarikan diri dan berpisah untuk selama-lamanya.

Sesudah perpisahan ini ia pergi berburu dengan sumpitannya dan menembak seekor kera. Ketika ia pulang membawa mangsanya Bulan Laya yang sedang bermain di ulu  melihat bahwa ia telah menangkap seekor kera. Ia pulang ke rumah dan berkata kepada Topurungmat: ” Lho, orang-orang di sana enak berpesta-pesta.”

Topurungmat menjawab: “Janganlah berkata demikian; sayang kami tidak mempunyai saudara laki-laki yang dapat menangkap sesuatu bagi kami.”

Kemudian Patung memanggil Nadung, saudara Topurungmat, dan menajaknya ikut berburu dengan sumpitan.

Bapa Aran yang tua menyahut: “Tidak, tidak, saya takut sekali jangan-jangan Patung akan mati tenggelam; ia buta.”

Tetapi Patung mendesak Nadung: “Ayoh mari kita pergi.”

Bapa Aran yang tua mengalah. Patung berkata:

“Cepatlah ambil sumpitan supaya saya memeriksanya,” dan Nadung pergi mengambil sumpitannya dari kayu besi: hasil pekerjaan yang indah sekali.

“Ah, sumpitan itu jelek. Cobalah ambil sebuah sumpitan lain.”

“Saya tidak mempunyai sumpitan lain,” jawab Nadung. “Oh ya, saya masih mempunyai sebuah sumpitan yang pendek, yang saya pakai waktu saya masih kecil, panjangnya hanya dua telapak tangan.”

Ia pergi mengambilnya. Patung buat se-olah-olah ia memeriksa sumpitan itu dengan teliti walaupun ia buta. Lalu ia berkata:

“Ini sumpitan baik. Mari kita pergi; pikullah saya di atas punggungmu.”

Bapa Aran yang tua berseru: “Hati-hatilah, jagalah saudaramu supaya jangan jatuh.”

Mereka berangkat dan datang pada hutan rimba.

“Lihatlah di sana ada kera-kera, berikan saya sumpitan supaya saya menembak,”  kata Nadung.

“Tidak,” kata Patung. “Saya akan menembak.”

“Bagaimana kamu bisa menembak karena kau buta. Saya akan menembak,” kata Nadung.

“Tidak, tidak, saya menembak,” kata Patung. Kemudian ia mengambil sumpitan yang panjangnya dua telapak tangan, memasukkan sebuah anak sumpitan di dalam dan mendidik.

Ia menembak tepat ke arah yang salah.

“Tidak kena, ya.”

“Bukan, memang kena, lihatlah.”

Kera dalam jumlah besar sekali jatuh ke bawah terbanting ke tanah. Kedua saudara mengumpulkan kera-kera dan Patung menyuruh Nadung mencari tali rotan untuk mengikat kera-kera itu. Tali rotan yang baik dengan segera diketemukan Nadung.

“Aduh, itu tali yang jelek,” kata Patung.

“Bukan, itulah tali yang kuat.”

Sekali lagi Patung berkata bahwa tali itu jelek lantas ia ambil akar pohon yang lunak. Dengan akar itu mereka mengikat semua binatang itu. Kelihatan bagaikan sebuah gunung. Ketika itu

Patung berkata memakai mantra sihirnya:

“Kiranya akar pohon ini tidak patah, melainkan semoga ia kuat. Semoga binatang yang banyak ini menyusut menjadi sedikit ketika saya mengikatnya.”

Dan memang terjadi: jumlah binatang tinggal sedikit saja.

“Pikullah saya sekarang di atas punggungmu,” kata Patung kepada Nadung. Patung memikul kera-kera yang telah mereka bunuh. Sekali lagi ia mengucap mantra sihirnya:

“Kiranya binatang banyak ini tidak terasa berat.”

Dengan demikian mereka pulang kembali ke rumah. Sesampai di rumah mereka berkata kepada Topurungmat:

“Lepaskanlah tupai kecil itu yang telah kami tangkap.”

Topurungmat membuka akar pohon dan sejumlah besar binatang jatuh ke tanah berporak-parik. Mereka jatuh bahkan ke bawah kolong rumah karena lantai sudah penuh.

Topurungmat berkata:

“Mari Bulan Laya makanlah kenyang; sudah lama saudari ingin makan daging.”

Bulan Laya menjawab: “Sebenarnya dulu saya berkata-kata begitu saja. Tidak selalu perlu bahwa saya makan apa yang saya lihat.”

Kemudian mereka mulai membagi-bagi daging kepada masyarakat, janda dan anak piatu. Lantas mereka mengumpulkan sisa-sisa: ternyata lebih dari cukup bagi mereka sendiri. Betapa senangnya para anak piatu dan para janda bahwa mereka sekali dapat makan sampai  kenyang.

Sekali peristiwa bahwa Bulan Laya sedang berjalan di kampung ke ulu. Dilihatnya Tolayan, mantan suami Topurungmat. Ia telah menangkap seekor anyang (= sejenis ikan besar) yang besar sekali. Bulan Laya menceriterakan kepada Topurungmat:

” Tolayan telah menangkap seekor anyang yang besar sekali.”

“Bulan Laya, janganlah berkata demikian; saya tidak mempunyai seorang saudara, yang menangkap ikan bagi kita.”

Ini terdengar oleh Patung. Ia berkata:

” Nadung, mari kita turun ke sungai untuk mandi; sudah lama saya tidak mandi di sungai. Badan saya sakit bila saya selalu mandi di rumah.”

“Tunggu sebentar,” jawab Nadung, “saya akan minta izin kepada bapaku dulu.”

“Bapa, Patung menghendak bahwa kami bersama-sama akan mandi di sungai.” Bapa Aran yang tua menjawab:

“Tidak, tidak, janganlah saudaramu sekali lagi mati tenggelam.”

Nadung menghadap Patung lagi dan melaporkan:

“Bapa tidak mau bahwa kami mandi di sungai karena beliau takut kalau-kalau kau akan mati tenggelam. Beliau menyuruh Topurungmat ambil air saja supaya bisa mandi di rumah.”

“Bukan,” kata Patung dengan nada paksa, “saya merasa diri panas sekali dan saya mau mandi di sungai. Ambillah sebuah tali rotan yang panjang sehingga saya dapat memegangnya.”

Nadung pergi mengambil sebuah tali rotan. Bersama-sama mereka memikul tali itu. Sesampai jamban Patung mengatakan:

“Anda pegang ujung tali yang satu dan saya ujung yang lain.”

Kemudian Patung menyelam dan melompat ke dalam air. Ia menarik begitu kuat pada tali rotan itu sehingga Nadung terkejut dan melepaskan tali. Langsung Patung menghilang, tenggelam.

Nadung pulang ke rumah dan berkata: “Saudaraku sudah mati tenggelam.”

Bapa Aran yang tua berteriak: “Saya sudah mengatakan janganlah saudaramu mati tenggelam. Pergilah mencarikan dia.”

Mereka mencarikan tetapi tidak menemukannya. Mereka menangis sambil mencarinya.

Lama sekali Patung tinggal di  bawah permukaan air dan ia merangkai ikan-ikan pada tali sampai tali itu penuh. Baru sesudah itu ia timbul.

“Ambillah saya,” ia berteriak, “disinilah aku.”

Dari sana-sini orang datang berduyung-duyung untuk melihat. Dan memang itulah dia.

“Aduhai saudaraku,” kata Topurungmat.

“Mari pulang”, kata bapa Aran yang tua. Maka Nadung memikul dia lagi di atas punggung.

Sementara Patung menyihir ikan-ikan dan mengubahkannya menjadi jumlah kecil saja. Banyak orang menyaksikannya waktu naik tangga dan masuk rumah.  Kemudian Patung menaruh ikan di tepi rumah.

“Topurungmat, lihatlah ikan yang diikat pada tali dan bagikannya kepada orang.”

Orang melepaskan tali dan sejumlah besar ikan jatuh di atas lantai, bahkan sejumlah jatuh ke bawah kolong.

Pada waktu itu para anak piatu dan janda berkumpul dan mengambil bagian mereka dari ikan. Mereka bergembira sekali. Ya, orang ini sungguh seorang bangsawan. Janganlah perhatikan bahwa ia buta. Ia memberikan makanan kepada semua orang.

Bapa Aran yang tua bertanya: “Saudara mempunyai nama siapa, engkau yang begitu pandai menyihir?”

“Saya tidak mempunyai nama; saya disebut orang Patung.”

Sekali terjadi bahwa Tolayan bersama semua teman mengadakan perjalanan mengayau. Orang mengatakan: “Coba melihat Tolayan itu: sebelum ia sampai di ujung kampung ia sudah kehabisan berasnya.”

“Ayoh Nadung,” Patung berkata, “tanyakanlah bapa apakah kami juga mengadakan perjalanan mencari kesejukan sekitit di hutan.”

Nadung pergi menanyakan kepada ayah mereka, bapa Aran yang tua,:

“Bapa, Patung berkata bahwa kami sekali pergi mencari kesejukan di hutan.

“Tidak, tidak,” Aran yang tua menjawab, “jangan pergi.”

Tetapi Patung mendesak dan akhirnya mereka akan pergi. Aran yang tua menyuruh Topurungmat mengisi beras ke dalam keranjang sebagai bekal di tengah jalan.

Patung menjawab: “Jangan mengisi banyak, tiga butir beras sudah cukup.”

Mereka bertanya: “Bagaimana tiga butir beras bisa cukup untuk bekal di perjalanan kami sampai ujung bumi?”

Patung jawab lagi: “Cukuplah itu. Bukan kami orang laki-laki?”

Mereka menyahut: “Mustahil itu cukup tetapi ia mengandalkan ilmu sihirnya.”

Mereka mudik dan melewati Tolayan bersama rombongannya. Mereka sedang berada di ilir kampung yang hendak mereka serang tetapi belum siap. Patung dan rombongannya mudik melewati mereka sampai tiba pada bangsa yang hendak mereka ayau. Mereka naik darat dan

Patung menyihir:

 “Kemana juga kalian melarikan diri, saudara-saudara, ke Ujung Tangon, Nubungh

 Majang, Iling-Iling atau Bongon Uwing: Keling akan mengejar kalian.”

Bapa Aran yang tua berteriak: “Mari kita berbalik kembali, Keling, karena kini saya tahu namamu. Kini saya sungguh-sungguh takut bahwa orang akan membunuh engkau.”

Jawabannya: “Tidak apa-apa: setan bisa mati, Keling tidak akan mati.”

Lantas mereka menghantam orang dan mereka merampas banyak orang menjadi budak mereka.

Ketika mereka kembali bersama rampasan mereka mereka lagi melewati Tolayan yang masih menunggu di ilir kampung tadi.

Ketika mereka mendekati kampung mereka Keling mulai melagukan nyanyian kemenangan. Para ibu mendengarnya dan turun ke jamban, menunggu kedatangannya.

Ibu Tolayan berkata: “Itulah anakku yang baik, yang behasil.” Tetapi ia tidak tahu bahwa orang itu orang lain.

“Topurungmat, disinilah saudaramu: Keling, yang lama saya nantikan. Saya telah mendengar bahwa ia akan mudik dan ingin pergi ke surga. Kami telah menemukannya: inilah suamimu,” kata-kata pertama dari Aran yang tua ketika mereka berlabuh.

Mereka naik ke darat sambil membawa kepala-kepala dan budak-budak ke kampung.

Kata Aran yang tua: “Baiklah Keling, kamulah menjadi suami Topurungmat. Kamu tidak perlu lagi bekerja. Ingatlah kemasyuranmu. Kamu tidak perlu berladang lagi. Tidak perlu

malu bahwa kamu menjadi orang yang hidup walaupun tidak berladang.”

Akhirnya juga Tolayan pulang tetapi tanpa membawa barang rampasan.-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s