Asung dan Alut Kiut

Ceritera Pnihing:                     

Ditulis dalam bahasa Belanda oleh past. L. v.d. Sanden msf (1954), Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh past. H. v. Kleijnenbreugel msf

Karena ayah Asung berencana mengadakan perjalanan untuk mengayau maka ibu Asung mulai menumbuk padi sebagai bekal dalam perjalanan.

Tetapi Asung menangis kuat-kuat dan karena itu ibunya melepaskan anting-anting lantas memberikannya kepada puterinya karena dia menangis begitu kuat.

Anak itu mengamat-amati lewat celah dinding dan melihat ibunya sedang menumbuk padi. Pada akhirnya anak itu tertidur dan membiarkan anting-anting jatuh. Anting-anting jatuh tepat ke dalam lobang lesung sehingga tertumbuk oleh ibunya. Tetapi ketika ibu mulai menampi padi dilihatnya sesuatu yang mengkilat dalam padi. Ia mengumpulkan barang yang mengkilat itu lantas membawanya ke dalam rumah. Ia menaruh bambu-bambu yang berisi air ke dalam keranjang rotan, membangunkan anaknya dan kemudian mereka bersama-sama pergi mandi. Seusai mandi mereka kembali ke rumah.

Ibu menyusui anaknya sambil bertanya:

“Asung, dimana anting-antingku?”

“Saya tidak tahu,” jawaban anak. “Boleh jadi ia jatuh waktu saya tidur.”

Kemudian ibu mengutuk anaknya:

“Semoga anjing-anjing meminum darahmu dan memakan hatimu. Pergilah dan mencarilah anting-anting yang lain bagiku.”

Setelah mendengar kata-kata ibunya Asung berpikir:

“Apa yang akan saya perbuat, bagaimana akhirnya itu nanti? Tinggal di sini tidak mungkin; andaikata saya tinggal saya takut akan kena kusta. Sebaiknya saya akan pergi, biar saya akan mati di hutan.”

Asung membungkus barangnya sambil berkata:

“Janganlah mengira bahwa inilah kekayaan besar. Saya meludahimu dan kamu berarti bagi saya tidak lebih dari satu manik di tali.”

Bungkusan dimasukkan ke dalam keranjang rotan. Kemudian ia turun dan menanam pecahan anting-anting di halaman di depan rumah sambil berkata:

“Kamu akan berbuah. Janganlah mengira bahwa kamu sebuah anting-anting; saya menanam engkau dan batangmu akan menjadi batang sebuah pohon sirih; cabangmu di sebelah akan menghasilkan buah betel dan di sebelah lain buah durian.”

Kemudian bak makanan babi, kepunyaan orang tuanya, diluncurkannya ke dalam sungai, ia duduk di dalamnya dan membiarkan diri hanyut.

Menjelang malam hari ia berlabuh dan tidur bersama orang-orang yang tinggal di pinggir. Orang-orang itu menjemur padi mereka dari ujung kampung yang satu sampai ujung yang lain. Padi dibuang sabutya dengan tangan mereka karena menumbuk padi tidak mereka tahu. Asung melihat situasi itu dan berkata dalam hati:

“Kasihan kalian yang mau makan; kasihan kalian yang susah; kalian tidak perlu mengetahui bahwa saya dapat sulap; kalian tidak tahu tetapi saya akan menumbuk padi.”

Lantas ia turun tetapi orang-orang tidak tahu.Di bawah ia menyulap sebuah lesung padi, sebuah alu dan sebuah nyiru. Tidak lama kemudian ia timbul kembali sambil memikul sebuah keranjang penuh beras, yang telah ditumbukinya.

Orang-orang melihat dia memikul beras dan berkata:

“Wah Asung, bagaimana kau menumbuk padi begitu cepat? Janganlah tinggalkan kami lagi karena hanya engkaulah yang dapat menjamin hidup kami.”

Asung menjawab:

“Kasihan kalian, saya tidak dapat tinggal tetap dengan kalian; dalam keranjang saya membawa kepala anjing, karena ibu saya telah mengutuk saya. Dimana nenekku Ajang – Babi putih itu – berdiam?”

Mereka menjawab:

“Apakah itu suatu rahasia? Baiklah Asung milir saja sampai melihat sebuah rumah yang berdiri sendiri dekat sebuah lobang yang dalam; rumah itu mempuyai sandaran besi dan tanduk dari tembaga; itulah rumah ibu Ajang, Babi putih.”

Asung menghilir dan melihat rumah yang berdiri terasing itu dekat lobang yang dalam.

“E,”katanya, “kemungkinan nenek saya sudah mati. Tetapi andaikata ia sudah mati, apa sebabnya mereka tidak memberitahukan kepada saya?”

Ia naik ke tepi. Jalan sempit yang menuju ke rumah tertutup oleh  tumbuhan liar karena nenek sudah tua dan tidak mampu lagi memelihara jalan itu. Ia membuka jalan sampai di kolong rumah. Belukar sudah setinggi lantai. Ia mengamat-amati rumah dan melihat banyak barang yang mahal. Lantas ia naik ke atas dan melihat neneknya yang sedang tidur siang sebentar. Bahan rokok terletak di dekat. Asung mengambil rokok itu guna memasangnya. Diambilnya batu api dan memasang rokok. Api melompat dan mengena neneknya. Nenek itu terkejut lantas berdiri dan berkata:

“Siapa gerangan ingin merampas saya; siapa gerangan yang tidak tahu bahwa sayalah Babi Putih?”

Asung menjawab: “Saya ini, nenek.”

“Aduhai, mari, marilah,” kata neneknya.

Asung mendekati dia dan berlutut di depannya. Lantas neneknya menyediakan bermacam-macam makanan dan Asung makan. Seusai makan ia turun hendak ambil air dan memandikan neneknya; kemudian ia mencabut bulu mata dan mengutuinya.

Waktu sedang mengutui neneknya Asung menoleh dan bertanya:

“Nenek, gunung apa di sana yang kelihatan kabur dan mirip dengan gigi harimau; gunung apa yang di sana di kejauhan mirip dengan gigi binatang?”

Jawaban nenek:

“Kenapa kau menanyakan hal itu begitu mendesak?”

“Apakah nenek menghendaki bahwa saya tidak menanyakan hal itu? Lihatlah kepala anjing ini dalam keranjangku. Kutukan ibuku yang menghendaki bahwa saya pergi mengambil anting-anting Alut Kiut yang berdiam di atas sana di surga.”

Nenek tidak mau bahwa Asung pergi ke sana tetapi Asung mendesak sekali karena ia telah dikutuk ibunya. Akhirnya nenek mengalah dan tidak menahan Asung lagi:

“Baiklah bila kau pergi, bawalah tutup kepala saya dari besi,” kata nenek. “Tutup kepala itu telah saya pakai sendiri waktu saya pergi ke surga. Kau berpikir: mustahil ada orang yang pergi ke surga atas kekuatan sendiri dan tidak mati, karena para penghuni surga akan membunuh mereka. Saya satu-satunya orang yang pernah pergi dan berhasil. Kau juga mau pergi; saya setuju tetapi kau harus tahu sendiri.”

Asung berangkat. Ia turun tangga dan ketika sudah injak tanah neneknya memanggilnya:

“Kembalilah sebentar,” katanya dan ia menciumi dia. Kemudian ia berkata:

“Sekarang pergi saja.”

Asung turun tangga lagi dan sekali lagi nenek memanggil dia:

“Kembalilah sebentar,” lantas menciumi dia lagi.

Kemudian Asung turun lagi dan berangkat. Neneknya masih menasehati dia:

“Bila engkau pergi sekarang dan sampai anak tangga terakhir engkau harus makan sirih. Bila sudah lewat dan sampai anak tangga yang teratas dan yang terakhir engkau harus mandi. Tetapi janganlah mandi di sebelah kiri, melainkan di sebelah kanan.”

Asung menuruti nasehat neneknya dan pergi sampai anak tangga yang paling bawah; di sini ia makan sirih. Kemudian ia sampai anak tangga yang pertengahan dan juga di sini ia makan sirih. Kemudian ia meneruskan perjalanannya sampai tiba di tangga terakhir. Di situ ia mandi.

Air di sebelah kiri hitam, tetapi air di sebelah kanan jernih. Ia mandi di sebelah kanan.

Diambilnya sepotong bambu yang diisi dengan air sebagai bekal di perjalanan ke surga.

Asung mulai berjalan dan mendekati pintu surga. Sdr. Anjang Bulu Pohun duduk di depan pintu surga sambil mengintai orang-orang yang menuju surga atas kesempatan sendiri dan menggulung kayu dan batu ke atas kepala mereka.

Asung masuk ke dalam surga di tempat di mana orang-orang jahat (miskin ?) dan orang-orang mati keluar surga. Pada saat itu Anjang Bulu Pohun membuang paculnya yang dari besi dan melarikan diri cepat-cepat.

Asung meneruskan perjalanannya dan karena ia berkeringat keras ia mandi di sumur, kepunyaan Polano beserta ibunya yang janda. Seusai mandi pisang-pisang telah masak karena kilauan kecantikannya. Ia duduk di bawah sebuah pondok padi. Pada saat itu ibu janda Polano mendekati pondok padi itu. Lantas ia bertanya:

“Anakku, dari mana? Kalian dari dunia di bawah melarikan diri bila kalian berselisih dengan suamimu.”

Asung menjawab:

“Apa sebabnya saya akan  marah pada suamiku. Keindahan  apa berkelahi dengan suami?

Saya sedang mencari makanan dan nasi.”

Kemudian ibu janda Polano pergi mencari daun-daun yang kemudian dimasukkan ke dalam keranjangnya. Hal itu juga dibuat oleh Asung. Kemudian ibu janda pulang ke rumah dan tinggalkan Asung di ruang kecil Polano. Ia tutup pintu yang kemudian dikuncinya.

Polano sedang kembali dari pekerjaannya pada Alut Kiut dan mencari gasingnya karena ia hendak main gasing. Ia hendak masuk kamarnya ketika ibunya yang janda menahannya. Ia menipunya dan berkata bahwa anjing mereka telah beranak dalam kamarnya.

Seusai main gasing mereka naik ke serambi lamin kampung hendak menari (tarian perang). Selesai menari dan selesai tarian perang mereka pulang ke rumah. Polano mengajak Alut Kiut ke rumah untuk memakan tebu. Mereka masuk ke dalam kamar Polano lantas Polano jatuh miring ke belakang, bingung melihat kecantikannya.

“Wah,”kata Asung, “orang laki-laki itu berbuat apa?”

Alut Kiut menjawab:

“Biasa saja orang berbuat demikian.”

Kemudian Asung mencekam kakinya dan langsung orang laki-laki itu berdiri. Katanya:

“Luar biasa betapa terangnya hari ini. Mata saya silau sehingga saya mengantuk.”

Asung tidak tahu sebabnya tetapi sebab yang sebenarnya ialah orang laki-laki itu tersilaukan karena kecantikan  perempuan  itu dalam kamarnya.

Kedua orang duduk dan bertanya kepadanya:

“Dari mana engkau?”

“O, saya dari sini.”

Kemudian mereka saling mencabut bulu mata dan saling mengutui dan Alut Kiut menikah dengan Asung, suatu pernikahan bagus.

Orang-orang mengumpulkan gong serta sebuah kendi dari tanah. Dari rumah Polano sampai rumah Alut Kiut orang memasang kain lantas orang mengantar Asung ke rumah suaminya.

Lama setelah mereka nikah Asung mengandung dan melahirkan seorang anak. Masih lama mereka hidup berbahagia di dalam surga. Pada suatu ketika Asung rindu pulang bertemu dengan  neneknya. Mereka pergi mengunjunginya tetapi mereka mendengar bahwa ia sudah meninggal.

Kemudian mereka dengan segera pergi ke rumah ibu Asung. Apakah dia masih hidup?

Mereka menemui ibu itu dalam sakratul-maut. Asung memberi kepadanya obat berupa lada, membuat bubur dan dia menjadi sembuh.

Ketika ia pergi melihat pohon buah yang tempo hari ditanaminya, ia melihat bahwa pohon itu berbuah. Ranting di sebelah mempunyai gong-gong tipis dan kendi dari tanah sebagai buah. Ranting di sebelah lain mempunyai buah betul seperti pangin, boliti, avung, langaca, sivu, nenamun, lovi, tori, songaang dan loset. Di tengah-tengah kedua belahan terdapat buah betel.

Perkawinan mereka diperkuat olehnya.

Suami berpendapat sebaiknya mereka pulang, tetapi Asung tidak mau. Suami mau memaksa dia tetapi isteri mengancam  bercerai tetapi hal itu sulit karena mereka sudah beranak.

Pada saat itu Asung menyulap dan menurunkan sebuah rumah dari surga. Untuk seterusnya mereka hidup bersama.

Mereka berbahagia, tidak perlu bekerja dan api dapur memanaskan mereka. Buah-buah di pohon di halaman rumah adalah satu-satunya hiburan dan keletihan mereka. Masyarakat hidup berdamai dan mereka subur. Tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk meninggal.-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s