Monthly Archives: November 2008

Info Jenderalat MSF 29.11.2008

1. Pengukuhan Provinsial Argentina

 

Pater Jenderal dengan persetujuan para Asistennya dalam rapatnya tertanggal 03.11.2008, telah mengukuhkan pemilihan P. Enrique H. Ramos Biraque sebagai Provinsial Argentina. P. Enrique yang terpilih pada tanggal 14 Oktober 2008 telah memulai masa tugasnya sejak tanggal 05 November 2008. Dewan Provinsinya sbb: P. Luis Kozubinski (asisten pertama dan wakil Provinsial), P. Alberto Coronel (asisten 2), P. José Scocco (asisten 3).

  Baca lebih lanjut

Iklan

Peringatan 100 Tahun Pater Berthier, MS (Pendiri Kongregasi MSF)

“Misionaris tanpa Kenal Lelah”

 

 

P. Teddy, MSF : “Jika dari Sabang sampai Merauke mempunyai kepedulian yang tinggi, maka Gereja Indonesia akan berkembang, sehingga Gereja maupun Karya Misi akan terus berkembang pula.”

 

 

Sore itu, Kamis, 16 Oktober 2008, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru, tepat pada pukul 17.30 WITA dipersembahkan Perayaan Ekaristi untuk mengenang 100 tahun wafatnya Pater Jean Berthier MS – Pater Pendiri Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (Misionarii a Sacra Familia) atau yang lebih dikenal dengan Kongregasi MSF. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Konselebran Utama Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF (Provinsial MSF Kalimantan) didampingi oleh Pastor Agustinus Doni Tupen, MSF, Pastor Yohanes Berchmans Marharsono, MSF (Direktur Seminari Johaninum Banjarbaru) dan Pastor Timotius I Ketut Adi Hardhana, MSF.

Baca lebih lanjut

Maria dari La Salette

Pada suatu hari Sabtu siang, 19 September 1846, dua orang anak – Maximin Guiraud (berusia 11 tahun) dan Melanie Calvat (berusia 14 tahun) – sedang menggembalakan domba milik majikan mereka dekat La Salette di pegunungan Alpen, Perancis. Dampak Revolusi Perancis yang telah meneror Gereja, darah yang tertumpah sepanjang masa berkuasanya Napoleon, meningkatnya sekularisasi pemikiran masyarakat dan maraknya kekacauan politik yang menyelimuti Eropa telah mengakibatkan kerusakan serius atas iman masyarakat. Di paroki La Salette, sedikit dan semakin sedikit saja umat yang ikut ambil bagian dalam Misa Kudus dan sakramen-sakramen diacuhkan. Kutuk dan sumpah serapah menggantikan doa; kebejadan moral menggantikan kemurnian; ketamakan dan kesenangan diri menggantikan kesalehan dan matiraga.

Baca lebih lanjut

Tiga Pertanyaan Presiden

Walaupun bapak presiden mempunyai apa saja yang diinginkan, hatinya tidak tenteram, karena ia tidak tahu apa tujuan hidupnya. Tiga pertanyaan terus menerus mengganggu ketenteraman hatinya: “Apa yang harus kulakukuan untuk memenuhi kehendak Tuhan? Dalam kerjasama dengan siapa? Dan kapan?”

  Baca lebih lanjut

Pater Jean Berthier MS. Pendiri Tarekat MSF

Masa Kanak-Kanak
Jean Berthier lahir pada tgl. 24 Februari 1840 di Châtonnay, sebuah desa kecil di Dauphiné, sebagai anak sulung dari sebuah keluarga petani sederhana. Dari ayahnya ia mewarisi semangat ketekunan dan kemauan yang kuat, yang tampak dalam sikapnya di kemudian hari. Dari ibunya Jean mewarisi kebaikan penuh kasih. Ibu adalah seorang perempuan yang menghayati secara mendalam hidup keagamaannya, yang memberi pendidikan katolik secara baik kepada anak-anaknya. Di kemudian hari Jean berkata: “Saya berpikir bahwa satu dari rahmat terbesar yang Tuhan berikan kepadaku adalah seorang ibu yang saleh. Dia menegur, dia membina saya dan tidak membiarkan saya melakukan sesuatu yang negatif. Ibuku mengerti bahwa ia pertama-tama adalah seorang katolik, dan baru kemudian seorang ibu, dan bahwa tugasnya yang paling penting adalah: menjadikan saya seorang pengikut Kristus.”
Baca lebih lanjut

Makna Lambang Mgr. P.Timang pr.

 

 Lambang Mgr. P. Timang pr. Baca lebih lanjut

Perjalanan Hidup Mgr. P. Timang pr.

Mgr. DR. Petrus Boddeng Timang, Pr :

“MAMA, JIKA INI BUKAN JALAN HIDUP SAYA, SAYA PASTI KEMBALI”

 

Mgr. Petrus Timang dilahirkan di sebuah desa terpencil, Malakiri, tepatnya tanggal 7 Juli 1947. Keinginan menjadi Imam didahului semangat untuk bisa sekolah. Sekolah yang baik hanya ada di Rantepao, kira-kira 9 km dari desa saya. Beruntunglah bagi Mgr. Petrus Timang karena pada waktu itu Gereja Katolik (Misi) membuka Sekolah Rakyat Katolik, sehingga saya tak perlu lagi ke Rantepao untuk menempuh pendidikan Sekolah Dasar di sana.

Di Sekolah Rakyat Katolik itulah Mgr. Petrus Timang bersekolah hingga kelas VI. Di sekolah itu, 2 bulan sebelum tamat, Mgr. Petrus Timang dibaptis menjadi Katolik oleh P. Anton Godefrooy, CICM. Di situ pula, seorang guru bercerita tentang Sekolah Seminari, dengan impian “Orang akan menjadi pintar dan biaya sekolah sangat murah karena uang sekolah dan asrama ditanggung oleh Gereja.”

Hal itulah yang kemudian memberinya motivasi sehingga setelah tamat, Mgr. Petrus Timang bersama temannya yang bernama Paulus melanjutkan studi ke Seminari Santo Petrus Claver yang terletak di jalan Gagak, Makassar. Mgr. Petrus Timang dan Paulus adalah rombongan kedua dari desa mereka yang masuk Seminari.

Menjadi Imam adalah sesuatu yang terjadi tanpa planning, tetapi secara “kebetulan” – tumbuh dalam diri, terasah dan tertempa dari binaan selama dalam dunia pendidikan di seminari kecil itu. Pada akhirnya Imam adalah panggilan Mgr. Petrus Timang dan akan beliau teruskan sampai akhir hidupnya.

Berikut petikan wawancara wartawan HIDUP dengan Mgr. Petrus Timang tentang kehidupan masa kecil beliau hingga menjadi imam dan dipilih oleh Takhta Suci Vatikan sebagai Uskup Keuskupan Banjarmasin

  Baca lebih lanjut