Sejarah Singkat Stasi Balikpapan 1930-1946

Tulisan tangan dalam bahasa Belanda oleh pastor J.A. Ogier MSF

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh pastor H. v. Kleijnenbreugel MSF

Balikpapan adalah sebuah kota di Kalimantan Timur. Berdirinya kota itu berkat letaknya pada teluk yang sangat indah dan berkat adanya minyak. Di kota inilah terdapat pabrik-pabrik penyulingan minyak kepunyaan B.P.M. (Bataafsche Petroleum Maatschappij). Perusahaan ini yang mempunyai banyak karyawan dan kuli menarik dengan sendirinya banyak pedagang dan dengan demikian tempat ini menjadi salah satu tempat yang terpenting bahkan tempat yang terpenting di Kalimantan Selatan. Tetapi kota ini tidak mempunyai daerah pedalaman. Ini berarti bahwa lebih ke dalam tidak ada kampung-kampung atau desa-desa.

Pada perjalanannya dinas yang pertama pastor v. Dinteren sudah memperhatikan kebutuhan rohani masyarakat kota ini. Di antara karyawan Eropah terhitung beberapa orang katolik. Sebagian besar para karyawan Indonesia terdiri dari orang Timor dan Flores. Sampai saat ini Balikpapan dikunjungi oleh seorang pastor beberapa kali setahun guna memberi kesempatan kepada umat katolik menghadiri Misa dan menerima Sakramen- Sakramen lain. Dengan sendirinya kehidupan keagamaan umat tidak dapat dilayani secara intensip dengan cara ini. Karena itu pada perjalanan dinas awal tahun 1927 pastor v. Dinteren sudah mulai membicarakan penempatan tetap seorang pastor. Sayang sekali rencana ini tertunda karena peristiwa-peristiwa berikut.

Akhir tahun 1927 diadakan pembicaraan-pembicaraan yang pertama. Tgl. 10 April 1928 pastor v. Dinteren kembali lagi ke Laham. Beliau tiba di Balikpapan dalam keadaan sakit: jantung dan ginjalnya kurang beres. Ditambah lagi sering penyerangan malaria. Penggerak ini, yang sendiri digerakkan oleh cinta kepada Kristus, tidak bisa beristirahat walaupun dokter mengharuskan beliau beristirahat. Pada akhir Misa Kudus pada Hari Kenaikan Tuhan beliau jatuh pingsan di depan altar. Beliau datang kemari untuk meninggal. Pada tgl. 13 Juni 1928 beliau dikebumikan oleh konfraternya pastor v.d. Linden. Sebagai seorang diri yang memanggil dalam gurun minyak dan besi beliau menyerahkan kembali jiwanya kepada Allah. Tidak ada imam yang hadir waktu meninggal, tidak beliau dapat menikmati hiburan dari Sakraman Perminyakan. Pasti Allah akan memanggil beliau masuk ke dalam KemuliaanNya.

Awal 1929 Misi yang masih muda ini kena pukulan intern. Atas anjuran dokter pastor Groot perlu pulang ke Belanda. Boleh jadi beliau tidak mempunyai semangat menyala pastor van Dinteren tetapi beliau juga bekerja sebagai imam dengan kerajinan besar. Didorong oleh cinta kepada Allah dan kepada sesama beliau melaksanan tugas yang diberikan kepadanya dengan kemauan keras. Akan tetapi Allah menentukan lain dan menjadikan beliau dari seorang yang aktip dalam karya Misa menjadi orang yang berdoa dan berkorban di tanah airnya.

Kehilangan dua kali ini untuk Misi tentu sudah mengganggu karya di Balikpapan. Tetapi umat katolik Balikpapan tetap mempunyai harapan. Sudah bulan Agustus 1928 para pastor di Laham menerima sepucuk surat dari Balikpapan berisi laporan singkat tentang keadaan di sana:

tidak dapat diharapkan bantuan dari B.P.M dan karena itu umat akan membuka kas pastoran.; setiap keluarga katolik akan menyerahkan ƒ 10,– dan setiap bujang ƒ 5,–
setiap bulan demi penghidupan pastor.

Tetapi baru tahun 1931 rencana-rencana dilaksanakan.

Bulan Mei 1931 pastor Groen tiba dengan rencana membangun gereja dan pastoran. Langsung timbullah kesulitan bagaimana memperoleh tanah? Maklumlah seluruh kota Balikpapan adalah konsesi B.P.M. Tetapi perusahaan ini tidak bersedia menyerahkan sebidang tanah kecilpun guna pembangunan gereja dengan pastoran. Mereka menyuruh mencarikan tanah di luar konsesi mereka. Akhirnya pastor Groen mencari sebidang tanah di luar konsesi B.P.M. dan membangun sebuah gereja dengan pastoran di luar konsesi itu.

Tgl. 13 Desember 1931 gereja sudah bisa diberkati. Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus dipilih sebagai Pelindung. Kini Balikpapan mempunyai sebuah gereja dan seorang pastor, namun keadaan belum menyenangkan. Karena orang terpaksa membangun gereja di luar konsesi, maka gereja itu kini terletak begitu jauh dari pusat kota sehingga hanya orang yang mempunyai kendaraan dapat ke gereja pada hari Minggu. Terutama bagi banyak orang Timor yang harus berjalan kaki situasi ini kurang memuaskan.

Terpaksa orang perlu mencari jalan ke luar untuk memecahkan kesulitan ini. Banyak orang Eropah mempunyai kendaraan atau mampu naik taxi untuk ke gereja maka terutama orang-orang Indonesialah yang dirugikan oleh jarak jauh ke gereja. Kebanyakan orang Timor ini berdiam di Pandansari yang letaknya tepat di ujung kota.

Pada akhirnya pastor Groen memperoleh izin memakai sebuah aula dari B.P.M. yang dapat dipakai sebagai gereja pada hari Minggu. Letaknya bangsal ini tepat di Pandansari tempat kediaman banyak orang Timor.

Tiap-tiap hari Minggu di gereja baru diadakan Misa yang terutama dihadiri oleh orang Eropah; seorang imam lain pergi ke Pandansari mempersembahkan Misa unt uk orang-orang Indonesia di bangsal. Tentu saja jumlah umat yang ke gereja pasti akan lebih banyak dan pekerjaan para imam lebih tepat andaikata gereja dan pastoran dibangun di tempat yang lebih sentral. Umat berdiam jauh dari gereja dan para pastor berdiam jauh dari umat. Sesungguhnya tugas seorang pastor tidak terbatas pada mempersembahkan Misa dan berkhotbah pada hari Minggu.

Orang-orang Indonesia yang berdiam di Pandansari, 10 km jauhnya dari pastoran, memerlukan setengah hari lamanya untuk berkunjung ke pastoran. Juga pastor perlu pergi ke Pandansari untuk mengunjungi umat di rumah, mendengarkan pengakuan dosa, membaptis dan menguburkan umatnya. Lagi anak-anak umat Indonesia perlu diberikan pelajaran agama secara teratur. Semua pekerjaan ini tentu mengalami kesulitan karena jarak jauh gereja. Andaikata B.P.M. lebih mengerti tugas sakral gereja dan kedua imam dan andaikata masyarakat lebih menolong maka pastilah pembangunan gereja dapat dibangun orang di atas wilayah konsesi dan dengan demikian karya para missionaris akan lebih berhasil.

Tetapi di waktu itu rupanya B.P.M., se-tidak-tidaknya orang yang berwibawa di Balikpapan, sama sekali tidak mengerti bahwa mereka akan mengisi suatu kebutuhan sosial bila mereka mengizinkan Misi masuk konsesi mereka. Mereka menolak Misi dari wilayah mereka dan mengeluarkannya ke pinggir kota yang paling jauh. Peristiwa yang berikut menjelaskan sifat mereka terhadap Misi pada waktu itu:

Di Balikpapan diterbitkan “Surat kabar Balikpapan”, koran kecil yang distensil yang berisi bermacam-macam berita lokal seperti pesta-pesta, pertunjukan bioskop dll. Pastor Vossen menulis dalam koran itu berita tentang perayaan-perayaan gerejani: jam berapa Misa pada hari Minggu dan pada hari biasa, jam berapa Salve dan perayaan keagmaan lain seperti lazim dilakukan dalam koran lokal. Lagi diumumkan hari-hari dan jam berapa diberi kesempatan mengaku dosa, juga lazim disebut dalam berita keagamaan. Namun pastor Vossen melihat bahwa berita tentang pengakuan dosa sering tidak dimuat. Akhirnya beliau diberitahukan secara lisan bahwa “Mendengar pengakuan dosa” harus diganti dengan “Pastor memberi kesempatan untuk bicara” supaya orang tidak tersinggung! Apakah anda pernah mendengar “Holland yang paling sempit”? (Artinya: orang Belanda sering dinilai orang bersifat picik).

Tahun 1937 kami menyewa sebuah rumah Cina. Dengan sendirinya sebuah kota seperti Balikpapan menarik banyak orang Cina yang mengharapkan masa depan yang bagus karena perdagangan dll. Karena orang Cina yakin tentang pentingnya pengajaran yang baik maka sekolah dengan pengajaran baik pasti akan dikehendaki oleh masyarakat di kampung-kampung pantai. Diambil keputusan menurut contoh Banjarmasin membuka sekolah Belanda-Cina juga di Balikpapan. Rencana membuka sekolah di dalam rumah Cina tsb. Pengajaran akan diberikan oleh beberapa pastor, bruder dan ibu-ibu Eropah yang menyediakan diri. Hanya dengan cara ini Misi dapat menyediakan guru-guru karena sekolah tidak memperoleh subsidi dan Misi tidak mampu membayar gaji guru berwenang. Namun pengajaran bermutu tinggi sehingga jumlah siswa bertambah terus. Ternyata sekolah ini memenuhi suatu kebutuhan dan karena itu orang ambil keputusan membangun sekolahan baru yang tetap. Tahun 1941 Misi membeli sebidang tanah di Kelandasan dan orangh mulai langsung membangun. Pembangunan sekolah tepat selesai ketika pada tgl. 08 Desember 1941 perang dengan Jepang pecah.

Andaikata orang bertanya apa hasilnya karya Misi dalam periode pertama dari 1931 sampai 1941 maka sulit diberi jawaban yang dibukti dengan angka-angka. Orang-orang Indonesia di Pandansari berdiam demikian jauh dari pastoran hingga suatu karya intensip sulit dilaksanakan. Orang-orang Eropah berdiam lebih dekat dan mereka merupakan bagian yang paling berganti-ganti dari penduduk Baik di kalangan B.P.M. maupun di kalangan Pemerintah berkali-kali terjadi pemindahan. Hal ini terjadi terutama karena Borneo (Kalimantan) berupa daerah luar dan kota Balikpapan berupa kota degan cukup banyak lowongan kerja tetapi kurang kesempatan untuk bersantai-santai yang dianggap perlu untuk manusia moderen dengan penghasilan lumayan. Setelah berdinas selama beberapa tahun di daerah semacam itu orang dipindahkan lagi.

Tetapi suatu hal yang boleh kami sebut ialah bahwa hubungan antara pastor dengan umat sangat ramah dan pergaulan yang lancar ini tentu saja membuat banyak orang katolik memperhatikan hal-hal rohani. Orang tersesat kembali ke iman dari masa muda mereka dan juga mereka yang selalu menyimpan iman mereka di tengah-tengah dunia yang materialistis terbantu oleh kehadiran seorang imam. Jadi tiap-tiap hari Minggu mereka dapat menghayati keterikatan mereka dengan Allah dan Gereja dengan menghadiri Misa kusus. Kehidupan rohani mereka diperkuat oleh Sakramen-Sakramen yang dapat mereka terima secara teratur. Tetapi suatu paroki yang teratur tidak dapat dibentuk, bahkan mendirikan suatu kor paroki sulit sekali walaupun pernah ada. Terus menerus penduduk dipindah-pindahkan sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun paroki terdiri seluruh dari umat yang baru.

Tgl. 08 Desember perang dengan Jepang pecah. Untuk Jepang Kalimantanlah suatu pulau yang amat didambakan karena diketemukan minyak. Dari semua kota di Kalimantan Balikpapan yang paling amat diinginkan karena disitulah terdapat pabrik-pabrik di mana minyak mentah dari beberapa pulau pengeboran diolah menjadi minyak siap pakai.

Pertama Tarakan yang diserbu Jepang. Sesudah suatu pembelaan gagah berani kota ini menyerah dan tentara Jepang masuk ke dalam Tarakan sebagai pemenang. Tetapi mereka tidak menemukan minyak. Daerah pemboran minyak telah dirusak, pompa-pompa dimacetkan dan persediaan minyak dalam tangki dibakar. Seusai perjuangan berat orang-orang Jepang telah merebut suatu pulau pemboran yang telah dirusakkan total dan baru dengan susah payah akan dapat dibuat produktif lagi. Ini merupakan suatu kekecewaan besar bagi Jepang yang sangat membutuhkan minyak itu.

Dari Tarakan orang Jepang mengirim ultimatum ke Balikpapan dengan ancaman bahwa semua orang Eropah akan dibunuh bila pabrik penyulingan di sana akan dirusakkan orang. Jadi orang Balipapan menghadap pilihan: atau menyerahkan semua instalasi kepada Jepang dalam keadaan utuh bersama semua persediaan minyak; atau menghadapkan kelompok orang Eropah yang masih ada pada bahaya bahwa orang Jepang akan melaksanakan ancanmannya setelah Balikpapan kejatuhan. Risiko terakhir ini diputuskan dan semua instalasi dirusakkan dan tangki-tangki minyak dikosongkan.

Kemudian tentara Jepang tiba di Balikpapan. Bagian terbesar orang Eropah telah diungsi ke Jawa atau ke tempat lain. Orang yang tinggal antara lain ketiga pastor Janmaat, v.d. Linden dan v.d. Hoogte; lagi seorang pendeta, para dokter dan beberapa orang lain: semua mereka berjumlah 80 orang. Sama seperti Tarakan Balikpapanpun tidak dapat dipertahankan karena jumlah orang Jepang yang menyerang jauh lebih banyak dari orang yang mempertahankan. Pasukan ditarik mundur perlahan-lahan dan rupanya tidak terjadi pertempuran senggit. Ketika kota sudah diduduki oleh tentara Jepang mereka berhadapan dengan kelompok orang Eropah yang disebut di atas. Banyak di antara mereka seperti para pastor, pendeta dan dokter tinggal tetap pada posnya karena mereka yakin bahwa bantuan mereka diperlukan masyarakat dalam pertempuran. Sebagian orang lain tidak berkesempatan melarikan diri atau mengungsi. Mereka semua ditangkap tentara Jepang dan diangkut ke lapangan terbang.

Lapangan terbang telah dirusak berat oleh pesawat pembom Jepang sehingga tidak dapat digunakan lagi. Lapangan itu bagaikan serangkaian lobang bom. Di situlah para tawanan diperkerjakan. Lapangan perlu diratakan kembali supaya dapat dipakai lagi. Tentara Jepang mendarat di Balikpapan tgl. 20 Januari 1942. Satu bulan lamanya para tawanan Eropah bekerja dengan susah payah di lapangan terbang. Makanan diberi kurang tetapi sering mereka dipukul dan dianiaya. Masa ini bagi mereka bagaikan neraka. Sesudah satu bulan mereka diikat berdua-dua dengan tali dan digiring ke dalam laut kemudian ditembak dengan mitraliur.

Pastor Janmaat dan pastor v.d. Hoogte termasuk kelompok ini. Tempat di mana pembantaian ini terjadi terletak beberapa kilometer jauh dari pastoran. Satu minggu seusai pembunuhan ini mayat-mayat dikuburkan oleh orang-orang Flores yang katolik. Usaha di kemudian hari untuk menemukan kuburan mereka tidak berhasil.

Karena salah satu sebab pastor v.d. Linden telah lolos dari pembantaian ini. Ia tetap bekerja di lapangan terbang dan meninggal juga di sana. Ia telah dibunuh secara keji. Konon beliau ditusuk tusuki bayonet dan walaupun belum mati ia dikubur hidup hidup. Kuburannya juga tidak diketemukan orang.

Mereka telah menyerahkan nyawa demi sanak-saudara mereka, bukan hanya mereka yang katolik melainkan juga mereka semua yang telah membantu dan mendampingi sesama dalam hari-hari suram ini. Mereka kehilangan mereka untuk mempertahankannya. Allah telah membalas jasa mereka dengan memberikan kehidupan abadi.

Selama perang berlangsung Balikpapan tidak mempunyai seorang pastor. Orang-orang Eropah telah melarikan diri atau dibunuh. Orang-orang Indonesia yang katolik menghadap masa yang amat berat. Mereka terutama orang Timor dan Flores. Dahulu mereka bekerja di B.P.M. atau pada orang-orang Cina. Kini mereka menjadi kuli pada orang Jepang dan dipindahkan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Suatu penghayatan imam secara lahiriyah tidak mungkin. Gereja yang dapat dilihat telah hancur bersama para imamnya.

Tgl. 01 Juli 1945 Balikpapan dibebaskan oleh tentara sekutu. Jepang menyerah kalah pada tgl. 15 Agustus 1945 dan baru tgl. 08 September 1945 para imam yang terinternir dibebaskan dan diangkut dari Puruk Cahu ke Kandangan. Tetapi mereka masih tetap tinggal dalam kamp. Kemudian hari para missionaris diangkut ke Banjarmasin dan diberi tempat menginap di pastoran di sana. Walaupun mereka lemah karena penderitaan dan kesusahan mereka langsung mulai mencari jalan untuk melayani stasi-stasi. Mereka tiba di Balikpapan pada tgl. 31 Oktober 1945 yaitu pastor J. Hagens dan G. Slot. Penulis Kronik mengatakan: “badan mereka kurang sehat dan lemah tetapi jiwa kuat dan penuh bersemangat.”

Apa yang tidak rusak di Balikpapan? Tinggal hanya pengumpulan puing-puing saja. Hanya di Kampung Baru beberapa rumah masih berdiri dan sebuah tangsi yang kurang rusak. Bangunan-bangunan lain telah hilang. Juga gereja dan pastoran yang dibangun dari batu dan lantai dari beton telah dirusak total; bahkan tempat berdirinya gereja dan pastoran semula tidak diketemukan orang. Namun kota tidak mati melainkan penuh hidup dan kegiatan. Kota telah menjadi suatu perkemahan besar. Beribu-ribu tentara Amerika dan Australia berkemah di kota, ditambah lagi tentara Belanda. Dimana sekian ribu tentara berdiam disitulah keramaian dan kesempatan untuk berdagang. Beberapa orang Cina membangun restoran, kafe dan rumah dansa dari potongan papan, seng, besi dan daun nipah. Bangunan-bangunan itu menjamur.

Para pastor ditempatkan ke dalam pasanggrahan darurat di Kampung Baru. Mereka berdua tinggal di ruang kecil. Andaikata ada orang yang mau mengaku dosa maka satu pastor harus tunggu di luar. Pada hari biasa Misa dipersembahkan di poliklinik dan pada hari Minggu para pastor mengelilingi Balikpapan sambil memikul kopor Misa. Mereka masing-masing perlu mempersembahkan Misa dua kali atau lebih setiap hari Minggu. Kemah yang besar, gedung sekolah dan sebuah gereja Amerika yang kecil dipakai sebagai gereja. Gereja Amerika itu didirikan okeh tentara Amerika sebagai gereja simultan.

Pastor yang ketiga, past. v. Etten, yang dulu diinternir di Jawa, menjadi pastor kepala di Balikpapan. Orang mulai merencanakan masa depan. Pengajaran perlu, tetapi gedung sekolah kurang. Tgl. 04 Januari 1946 pastor v. Etten ada pertemuan dengan tuan Schaag yang mengurus pengajaran. Mereka mencari gedung yang cocok. Juga guru-guru yang masih terikat pada tentara dialihkan tugasnya. Pada tgl. 01 Maret 1946 Sekolah Dasar Roma katolik dibuka di Kebun Sayur, Kampung Baru. Hasil ini tercapai berkat banyak susah dan usaha. Murid-murid mengalir ke sekolah dan sekolah berjalan dengan baik.

Akan tetapi kemudian sekolah mengalami banyak rintangan dengan akibat gelar Roma Katolik harus dihapus. Sebenarnya sekolah itu diambil dari kami dengan dalih bahwa sekolah itu juga sekolah pemerintah. Orang-orang yang anti katolik diangkat sebagai kepala; sebanyak mungkin murid yang beragama Islam diterima dan sebanyak mungkin murid yang beragama katolik ditolak. Misi diberi janji bahwa sekolah akan dikembalikan bila Misi sudah mempunyai pegawai.Kemungkinan bahwa sekolah akan dikembalikan tipis sekali. Tgl. 21 September 1949 belum ada kemungkinan sama sekali bahwa sekolah itu dikembalikan.

Tgl. 17 Maret 1946 pastor Groen dan pastor Romeijn tiba di Balikpapan. Pastor Groen akan mengganti pastor v. Etten yang akan bercuti ke Belanda. Pastor Romeijn sudah menjadi pastor tentara. Karena kekurangan tenaga guru pastor Groen mengajar bahasa Belanda dan Perancis di H.C.S.(Holland Chinese School) dan selaku guru beliau berdiam di komplek sekolah. Tgl. 13 juli beliau membangun rumah pribadi, kecil dan dari kayu di dekat gereja Amerika. Rumah itu sederhana sekali, tetapi pastor berdiam seorang diri.-

Iklan

One response to “Sejarah Singkat Stasi Balikpapan 1930-1946

  1. menarik sekali sejarah balikpapan gak nyangka masih ada bangunan tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s