Mahakam Yang Tak Lagi Ramah

Hutan rimba dengan aliran sungai Mahakam yang jernih, dalam sejarah awal bumi Borneo sebagai simbol kekuatan dan keramahan penghuninya kini tinggal cerita. Sejarah alam Kalimantan Timur yang ramah dengan alamnya, kini mengisahkan duka dan jeritan kemiskinan bagi para penghuninya. Ketamakan dan keserakahan manusia telah menciptakan bencana baru yang salah satunya adalah bencana sungai Mahakam yang tak lagi jernih sejernih nurani para pengguna jasa kebaikannya. Menjadi nyata bahwa penyebab segalanya ini adalah melunturnya kearifan budaya lokal yang seharusnya menampakkan wajah dan identitas para anggotanya.

YESUS YANG RAMAH LINGKUNGAN

Sebagai pengikut-Nya, kita boleh belajar pada Yesus. Didalam melaksanakan perutusan-Nya, Yesus berusaha untuk menghargai segala simbol kebudayaan Yahudi termasuk di dalamnya alam ciptaan sang Pencipta, bahkan mengambil tema alam sebagai bagian dari teologi-Nya yang diterjemahkan dalam berbagai perumpamaan (perumpamaan mengenai pohon ara, para penggarap kebun anggur) sebagaimana yang kita temukan dalam Injil-injil agar umat yang dilayani-Nya mampu menangkap dengan jelas arti dan maksud pewartaan-Nya.

Keramahan Yesus ini mengungkapkan kepada kita betapa alam semesta dengan segala isinya merupakan sarana penting yang disediakan bagi makhluk ciptaan lain termasuk manusia. Alam semesta menjadi sahabat manusia untuk mengekspresikan dirinya dalam kreativitas yang bertanggungjawab termasuk di dalamnya sebagai wacana berteologi.
Dari keramahan Yesus itu, ketika menatap wajah bumi Kalimantan Timur saat ini, sebuah kehidupan yang sangat kontras ditemukan saat ini. Kehancuran alam semesta Kalimantan Timur seakan mengungkapkan kepada kita akan hilangnya nilai keramahan yang diwariskan oleh Yesus bersama para pendahulu kita. Hutan tidak lai menjadi sahabat manusia dalam mengekspresikan kreativitasnya, melainkan ekspersi ketamakan dan keserakahan.

Sungai Mahakam kini menjadi tempat pembuangan sampah umum tanpa memperhitungkan nyawa dan masa depan umat manusia yang menggunakan. Mahakam tak lagi ramah bagi kaum sederhana yang masih merasakan betapa pentingnya aliran sungai Mahakam demi kehidupan mereka.
Berhadapan dengan situasi ini, adakah nurani mengetuk kalbu untuk bertindak? Semua umat manusia Kalimantan Timur tentu mengharapkan hadirnya kembali “yesus-yesus” baru untuk menciptakan keramahan terhadap lingkungan yang salah satunya adalah menyelamatkan wajah sungai Mahakam. Secara bersama-sama kita jadikan sungai Mahakam sebagai aliran Sabda yang menyelamatkan, yang memberikan kesegaran bagi para penghuninya untuk ramah terhadap segala ciptaan yang menghuninya. Kita kembalikan firdaus Mahakam yang penuh dengan tumpukan sampah dan limbah menjadi pesona yang penuh kejernihan dan kesegaran. Hanya mungkin terjadi, kalau kita menghargai sungai Mahakam untuk tidak membuang lagi sampah-sampah di dalamnya dan mengais sampah yan bertebaran menghiasi aliran Mahakam dalam sebuah aksi kebersihan bersama.

Dengan demikian, maka Mahakam yang kini tidak lagi ramah akan mengalir sebagai simbol kekuatan dan kebersamaan umat Borneo, kembali hadir memberikan kesegaran baru bagi para penghuninya.

Ketika seorang manusia telah menyalakan cahaya di dalam sebuah rumah penderitaan yang mencekam, ketika dia membawa kebaikan ke tempat di mana dia menjadi pemimpin sebuah organisasi, ketika dia mengucapkan kata-kata cinta yang tinggal menetap di dalam hati, ketika dia menghiasi ketidakjelasan orientasi hidup, kita harus mengucapkan terima kasih kembali atas penyertaannya yang tidak pernah selesai.
(Alain Genestar-Editor Paris MATCH)

P. Kopong Tuan MSF.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s