Imam Yang Sederhana

Seorang imam diharapkan menjadi gembala yang baik ( pastor bonus) bagi umat yang di gembalakannya.
Tentu saja sebagai wakil Kristus, seorang imam di harapkan untuk mampu bertuturkata dan bersikap seperti Kristus. Bila kita diminta untuk menyebutkan apa saja kriteria imam yang ideal itu, tentu saja kita masing-masing akan menjawab sesuai dengan versi kita masing-masing. Tak dapat dipungkiri bahwa figure seorang imam mendapat sorotan yang tajam di mata umat. Imam bagai “ selebriti” yang selalu mendapat perhatian dari umat.

Berikut ini akan diuraikan beberapa ciri imam yang sederhana yang menjadi harapan segenap umat beriman:

  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang rendah hati. Kerendahan hati ini dapat terungkap melalui sikap, tutur kata atau perbuatan terhadap orang lain. Seorang imam yang rendah hati, tidak menganggap rendah orang lain ( rekan imam atau umat ) sebaliknya ia mampu menghargai orang lain sebagai pribadi kendati orang tersebut banyak kelemahannya. Dia menyadari bahwa diapun bukanlah manusia yang sempurna yang tahu segala-galanya. Dia mampu mengakui keunggulan dan kekurangannya.
  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang bersikap terbuka(transparan) Dia menunjukan dirinya apa adanya tanpa harus menutupi kekurangan-kekurangannya. Dia telah mencapai keutuhan dirinya. Dia mampu bertidak sesuai dengan prinsip hidup yang diyakininya serta bertindak sesuai dengan pertimbangan hati nuraninya. Sesuatu yang benar dikatakan benar dan yang salah dikatakan salah, tentu dibarengi dengan sikap yang berani menanggung konsekuensinya. Dia menerima setiap pribadi plus segala keunikan masing-masing tanpa harus membanding-bandingkan seorang dengan yang lain.
  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang mampu berhemat. Dia mampu mengatur segala keperluan seperti pengeluaran dana secermat mungkin. Sikap hemat bisa juga berupa tenaga, waktu, pikiran dan sebagainya. Imam yang sederhana mampu memperhatikan hal-hal kecil yang di gunakan dalam hidupnya, misalnya: penggunaan listrik atau air yang efektif. Semuanya dipertimbangkan sematang mungkin tanpa harus menjadi pelit. Dia mampu menggunakan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya.
  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang bisa menerima apa adanya. Dia tidak banyak menuntut namun dengan ikhlas menerima segala keadaan diri serta orang atau situasi di sekitarnya. Dalam hal ini bukan berarti bahwa dia tidak mau berusaha memperbaiki diri atau situasi di sekitarnya, dia tetap berusaha mengobati kekurangan-kekurangannya serta situasi di sekitarnya tetapi tetap dalam jalur yang wajar. Dia optimis dalam memandang sesuatu dan mengatasi segala sesuatu sesuai dengan kesanggupannya. Sebaliknya bila seorang imam yang selalu menuntut, gampang sekali dia akan merasa frustrasi bila yang menjadi tuntutannya itu tidak terpenuhi.
  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang tahu menggunakan barang-barang. Dalam hal ini seorang imam mampu melakukan discernment. Dia mampu memilih sesuatu yang benar-benar di perlukannya. Dia mampu menggunakan barang-barang tersebut dengan bijaksana sejauh mendukung pelayanannya.Dia selalu bersikap hati-hati agar tidak jatuh dalam kelekatan terhadap barang-barang duniawi tersebut.
  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang murah senyum. Dia mampu membagikan cinta Kristus kepada orang lain. Kehadirannya mampu membuat orang-orang di sekitarnya mendapatkan kegembiraan. Sebaliknya seorang imam yang selalu cemberut dan bernada ketus akan membuat umat semakin jauh dan enggan untuk menyapanya.
  • Seorang imam yang sederhana adalah seorang imam yang saleh. Dari dalam dirinya terpancar” innear beauty” yang menyegarkan orang-orang disekitarnya. Kekuatan tersebut di timbanya dari Ekaristi, doa pribadi serta berbagai aktivitas rohani yang dilakukannya dengan tekun. Sebaliknya seorang imam yang selalu tenggelam dalam kesibukan karya, suatu saat pasti akan mengalami kekeringan rohani.

Demikianlah beberapa butir nilai-nilai hidup yang dapat dijadikan kriteria untuk menentukan ciri-ciri imam yang sederhana. Tentu saja masih begitu banyak nilai-nilai hidup yang hendaknya menjadi bagian dari diri seorang imam. Seorang imam yang senantiasa bertindak atas nama Kristu hendaknya selalu terbuka untuk belajar dari hari ke hari untuk semakin menyerupai Kristus (Imitatio Christi) Tak ada kata terlambat untuk menginternalisasikan keutamaan-keutamaan hidup tersebut. Belajar adalah proses seumur hidup ( Long life education) tidak terkecuali bagi seorang imam.

Banjarbaru, 07 May 08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s