Ekaristi dan Keutuhan Lingkungan

Apa kaitan antara Doa Syukur Agung dan keutuhan alam ciptaan?

Pengantar

Petaka dan musibah yang sering terjadi di negara kita kerap disikapi oleh umat beriman dengan berdoa bersama. Tak jarang munculnya banjir, tanah longsor, kekeringan, meluapnya lumpur Lapindo, menjadikan kita termenung: apa alasan semua kejadian itu? Tegakah Tuhan memberi hukuman kepada umat sedemikian berat dan bertubi-tubi? Atau: sejauh mana sebenarnya manusia sendiri “ikut ambil bagian” dalam memunculkan musibah itu? Ditengarai, kerusakan lingkungan yang dibuat oleh manusia sendiri menjadi penyebab utama dari pelbagai malapetaka yang muncul akhir-akhir ini. Kalau hal ini bisa dibenarkan, maka pertanyaannya: usaha apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan keutuhan lingkungan?

Sebagai umat Katolik, kita bisa merenung bertolak dari kegiatan sentral ibadat kita, yaitu: Perayaan Ekaristi. Sebenarnya tak mudah menghubungkan secara langsung Ekaristi dan Keutuhan Lingkungan alam semesta. Ekaristi adalah ibadat yang menjadi pusat, puncak dan sumber kehidupan umat beriman, sedangkan dunia dan lingkungan alam semesta merupakan kenyataan yang menjadi tempat hidup dan berkiprahnya umat manusia. Ibadat, sejauh dimengerti sebagai ungkapan iman formal kurang bersinggungan langsung dengan soal-soal kongkrit, nyata dan bersifat duniawi. Apabila kita bertolak dari makna Liturgi sebagai puncak dan sumber kehidupan Gereja, namun bukan satu-satunya kegiatan Gereja, maka kita dapat menegaskan bahwa kegiatan amal kasih, kerasulan dan tindak kesalehan umat beriman selayaknya menjadi terang dunia dan dimaksudkan untuk memuliakan Bapa (bdk. Konstitusi Liturgi, art. 9). Dari sisi ini kita dapat lebih memfokuskan permenungan pada makna Ibadat Ekaristi yang intinya ada pada Doa Syukur Agung. Hasilnya diharapkan dapat memberi terang pada usaha untuk melestarikan dunia dan lingkungannya.

Doa Syukur Agung (DSA) Ibadat Ekaristi

Dalam Perayaan Ekaristi (PE), DSA menjadi inti ibadat. Dalam DSA terungkap secara paling resmi dan mendasar makna Ekaristi itu sendiri. Prefasi yang mengawalinya merupakan doa pujian meriah yang mengajak umat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. (bdk. John Tondowidjojo, CM, Komunikasi Audio dan Visual Dalam Liturgi, Yayasan Sanggar Bina Tama, Surabaya, 2008: “Marilah Mengarahkan Hati Kepada Tuhan”, hlm. 34-37). Bagian ini ditutup dengan “Kudus, kudus… Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu”. Apa konsekuensinya kalau surga dan bumi sungguh-sungguh penuh dengan kemuliaan Tuhan? Tentu situasi penciptaan dunia yang masih azali akan muncul. “Dan Allah melihat bahwa semua itu baik”.(Kej 1:10.12.21.25); “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Gambaran singkat sesudah penciptaan dunia dengan isinya inilah yang bisa dibayangkan dalam Ekaristi ketika kita diingatkan oleh kata-kata pada akhir Prefasi.

Secara khusus Prefasi tentang “Pujian kepada Semesta Alam” (bdk. TPE, Prefasi no. 53, hlm. 101) dan Prefasi pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam (bdk. Al. Wahjasudubja, Pr., MISA, Hari Minggu dan Hari Raya, Kanisius, Yogyakarta 2002, cet. Ke-13, hlm. 1697) bisa memberikan dasar dan kekuatan inspiratif dari segi iman. “Sebab dengan pengantaraan Yesus Kristus, Sabda dan Putra-Mu terkasih, Engkau menciptakan bagi kami segala yang baik dan indah di dunia ini: langit biru dengan awan-gemawan, laut luas, alam nan indah dan tanah yang subur. Kebijaksanaan dan kemegahan-Mu terbentang di alam ciptaan; segala yang elok dan mulia, yang tertib dan perkasa memperoleh asal dan hidupnya dari-Mu. Kami Engkau ciptakan menurut citra-Mu sendiri dan Engkau beri hidup dalam Yesus Kristus, Putra-Mu”. Setiap Prefasi yang menjadi awal DSA dilanjutkan dengan anamnese, mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus dan epiklese; memohon kehadiran Roh Kudus untuk mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dengan PE itu kehadiran Kristus menjadi sungguh nyata dalam kehidupan sehari-hari umat beriman yang merayakan karya penyelamatan-Nya. DSA dalam PE ini tentu dapat menjadi kekuatan inspiratif untuk mengusahakan keutuhan lingkungan alam semesta.

Gambaran yang terungkap dalam Prefasi Pujian kepada Pencipta Semesta Alam menunjukkan bahwa citra Allah yang nampak pada alam adalah “yang baik, indah, elok, subur, tertib dan perkasa”. Allah yang Mahabijaksana telah mengatur alam sehingga terpancar kemegahan yang memberi martabat kepada manusia sebagai yang diserahi untuk mengelola semesta. Justru kepercayaan yang diberikan oleh Allah ini rupanya memberi peluang untuk penyalahgunaannya juga.

Keutuhan lingkungan azali semakin sulit digambarkan atau bahkan mustahil dicapai ketika pada masa kini justru kerusakan lingkungan yang mengemuka semakin hari semakin parah. Berita tentang banjir, tanah longsor, lumpur Lapindo, kekeringan, dll., sepertinya tak pernah berhenti ibaratnya menjadi makanan sehari-hari. Keadaan inilah yang menyulitkan semua pihak untuk menoleh kembali ke masa ketika alam belum separah dirusak seperti sekarang ini. Akibat dari kerusakan lingkungan ini sangat besar. Terjadi pemiskinan dan kerugian yang bervariasi: dari kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, tanaman, lahan subur sampai kehilangan nyawa keluarga atau sanak saudara. Untuk mengembalikan ke keadaan semula dierlukan waktu beberapa bulan, bahkan sampai bertahun-tahun. Menyadari kerugian yang begitu besar akibat kerusakan lingkungan ini, sudah selayaknya, usaha yang serius perlu ditempuh. Melalui PE yang menjadi inti semua perayaan semua sakramen, Gereja bisa menyadarkan umat untuk memberdayakan lingkungan agar mencapai keutuhannya.

Diperlukan penebusan

Pada pergantian tahun liturgi (Minggu biasa terakhir), Gereja merayakan Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Di dalam Prefasi perayaan itu diungkap-kan: “Sebab Engkau telah mengurapi Yesus Kristus … menjadi Imam abadi dan Raja Semesta Alam. Dialah yang melaksanakan penebusan umat manusia dengan mempersembahkan diri-Nya di altar salib sebagai pepulih yang murni. Dialah yang menundukkan alam semesta di bawah kekuasaan-Nya. Dialah yang akan mempersembahkan kepada-Nya … kerajaan abadi yang mencakup semesta alam…”.

Lingkungan yang telah dirusak oleh manusia memerlukan perbaikan dan penataan ulang agar bisa dikembalikan sebisa mungkin ke keadaannya yang utuh seperti sedia kala. Pelbagai usaha yang berkaitan dengan pemberdayaan lingkungan digalakkan di dalam kalangan Gereja. Pengelolaan sampah, penanaman pohon, penyadaran untuk tak menebang pohon secara serampangan, pemakaian air secukupnya, tak membuang limbah beracun ke sembarang tempat, dll., semua itu merupakan perwujudan nyata dan pengakuan akan Yesus sebagai Raja Semesta Alam. Keikut-sertaan kita pada tugas penebusan Yesus pada alam semesta tak lain adalah mengusahakan utuhnya kembali alam semesta. Dalam konteks ini PE mengingatkan kita sekurangnya setahun sekali akan pentingnya alam semesta dipulihkan dan dipersembahkan kepada Allah.

Usaha memaksimalkan dampak Perayaan Ekaristi untuk Keutuhan Lingkungan

Menjaga keutuhan lingkungan pastilah tidak mudah, malah mungkin mustahil. Namun tak berarti bahwa mengusahakan keutuhan lingkungan tak diperlukan. Pemberdayaan lingkungan yang diusahakan dengan gencar oleh Gereja dapat ditunjang melalui PE, kalau PE dihayati sebagai ungkapan syukur atas karya penebusan Kristus yang menjadi Raja Semesta Alam. Manusia sebagai citra Allah akan semakin nampak jelas kalau manusia yang dipercaya untuk menguasai alam, juga dapat menjaga keutuhannya. Dan sebaliknya, semakin lingkungan alam dirusak, semakin rusak pula martabat manusia sebagai citra Allah.

Atas dasar pengamalan dan perwujudan nyata iman seperti difokuskan pada PE, dampak PE untuk mengupayakan keutuhan lingkungan bisa dimaksimalkan apabila makna Ekaristi disadari sebagai pusat dan sumber hidup beriman yang harus diamalkan untuk menjawab keprihatinan mendasar alam semesta ini. Menyadari bahwa kerusakan lingkungan menimbulkan pelbagai akibat yang sangat fatal untuk kemanusiaan, maka tak ada jalan lain kecuali penanggulan kerusakan lingkungan segera dilaksanakan untuk mencapai kelestarian alam semesta seacara maksimal. Semoga hal ini menjadi kesadaran seluruh umat beriman yang berdampak nyata untuk hidup sehari-hari dalam mengusahakan keutuhan lingkungan.

+ Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka MSF.
Palangka Raya, 07 Mei 2008.

One response to “Ekaristi dan Keutuhan Lingkungan

  1. Saya senang sekali membaca tulisan Mgr. Saya mohon dukungan dan berkat Mgr bagi perjuangan saya. Saat ini saya adalah salah satu Caleg DPRD Kabupaten Manggarai 2009-2014. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s