Tuhan Memberi Tumbuhan

Sekelumit Awal Misi MSF di Kalimantan dan Jawa
Mgr. W.J. Demarteau MSF

Dewasa ini di Indonesia seringkali diadakan peringatan awal karya misi di wilayah tertentu maupun kongregasi-kongregasi tertentu. Dalam hal itu MSF tidak sendirian karena

  • Tahun 1926 MSF mulai di Laham, dan
  • Tahun 1932 MSF mulai di Jawa Tengah

Dalam catatan sejarah  awal misi MSF di Indonesia ada juga catatan “pra-sejarah” yang menarik.

PRASEJARAH MSF di Kalimantan

Tidak lama setelah meninggalnya Pater Berthier, pada tahun 1910 misionaris MSF  berangkat ke wilayah misi. Pada tahun 1920 berkarya beperapa imam-imam MSF dari Jerman, Belanda, Belgia maupun Perancis di Brazilia. Suatu kelompok misionaris yang international, dimana nampak ada kerja sama yang baik antara mereka.

Keputusan Dewan Jenderal pada tahun 1923 membawa perubahan. Sebelum tahun 1923 misi diatur langsung oleh dewan jenderal di Grave. Sejak itu misi di Brazilia diatur oleh MSF Jerman. (Tahun 1936 di Kongregasi MSF mulai dipakai istilah kanonik: Provinsi). Sejak MSF Jerman mengurus wilayah misi di Brazilia keinginan MSF Belanda makin keras mau mencari wilayah misi sendiri. Suatu wilayah yang disebut oleh Pater A.Trampe “HEIDENMISSION” (“misi orang kafir”) 

Pater Trampe mulai bernegosiasi dengan Uskup San Antonio (Texas) yaitu Uskup Arthur Jerome Drossaerts, yang berasal dari negeri Belanda. Negosiasi itu kemudian gagal pada tahun 1924. Percobaan lain yaitu di Uruguay juga gagal karena uskupnya tidak mempunyai banyak tawaran. Dia tidak membutuhkan Imam untuk di daerah perkotaan dan kurang begitu percaya dengan imam yang bukan berasal dari Amerika Serikat.

Cari terlalu jauh? Pada tanggal 18 Augustus 1924 Pater Provinsial Kapusin Belanda, Pater Stanislaus mengirim surat kepada Pastor Trampe di Grave. Dalam surat itu Provinsial Belanda mengeluh bahwa Ordo Kapusin telah menerima Sumatera dan Kalimantan sebagai wilayah misi mereka. Ternyata terlalu berat maka dimohon agar MSF bersedia membantu misi OFM.Cap di Kalimantan Timur.  Surat itu ibarat  “tawaran rohani” bagi Pater Trampe. Kongregasi MSF boleh diberikan suatu “HEIDENMISSION”. Tidak perlu dipikir panjang lebar lagi dan bersama dengan dewan surat itu dianggap sebagai suatu penyelengaraan Illahi. Hanya Kongregasi MSF (Jenderal dan Dewan c.s.) belum mempunyai pengalaman mengenai karya misi tetapi mereka selalu percaya akan bantuan Tuhan.

Pada tanggal 12 Januari 1925 diputuskan akan menerima wilayah misi yang ditawarkan. Dalam surat Mgr.P.Bos OFM. Cap diberitahukan bahwa wilayah itu adalah Kalimantan Timur. Sementara itu Pastor A.Kivits OFM.Cap kembali ke daerah asalnya karena mengalami buta di Kalimantan Timur dan ingin bertemu dengan Pater Trampe sebelum kontrak disetujui.  Ia menganjurkan agar tidak mengambil alih Kalimantan Selatan juga, karena karya misi di Kalimantan Timur sudah banyak dan sebenarnya Kalimantan Selatan ditutup untuk karya misi Katolik karena Perda Batavia.

Ironisnya, Pater Trampe tidak takut dengan perda itu. Mungkin karena semangat misi dianggap dapat memindahkan gunung gunung yang berhalangan (cfr. Mt.17:20)? Dalam kontrak Oktober 1925 dengan jelas disebut bahwa akan diambil alih Kalimantan Timur dan Selatan (Oost en Zuid-Borneo) dan Kalimantan Barat tetap dilayani oleh OFM.Cap.

Penyerahan itu terburu-buru diselesaikan dan pada tanggal 1 Januari 1926 kemudian diutuslah 3 misionaris MSF asal Belanda dari Amsterdam. Setelah mereka berangkat ada surat protes dari Kardinal A.M. van Rossum dari Kongregasi Propaganda Fide ke Grave. Beliau tidak menyetujui negosiasi MSF dengan OFM.Cap.  Sebenarnya dalam surat tanggal 15 Juni 1925 telah dicatat bahwa Pater Callixtus OFM.Cap dan anggota dewan OFM.Cap di Roma sudah memberitahukan kepada Kardinal van Rossum bahwa hanya akan mengirim missionaris MSF sebagai pembantu dan mungkin berikutnya akan diatur pembagian wilayah misi. Jelas bahwa Kardinal van Rossum tidak senang dan dalam suratnya tanggal 29 Januari 1926 ke Pater Trampe diberitahukan bahwa gelar “missionarius apostolicus” tidak akan diberikan kepada Pastor Fr. Groot dan J. van der Linden. (N.B. dengan gelar itu yang bersangkutan dapat beberapa fasilitas dan aflaat). Tidak diketahui hukuman ini terasa berat, meraka tiba di Laham pada tahun 1926 dalam keadaan sehat walafiat dan menebarkan jala.   

PRASEJARAH MSF di Jawa

Seperti para pendahulu OFM. Cap, para missionaris MSF dengan bantuan para suster melanjutkan karya misi dengan semangat dan pengabdian yang sama. Mereka tidak takut dengan tantangan dan bersedia mengubah strategi policy pelayanan. Dalam tahun 1928 Tering sudah menjadi pusat misi. Sebelum perang dunia ke-II  sampai di Indonesia mereka membuka stasi-stasi di Balikpapan, Samarinda, Tarakan, Tiong Ohang (Batu Urah), Long Pahangai, Long Pakaq, Barong Tongkok dan Banjarmasin. Mereka tidak putus asa, hanya dewan Jenderal MSF di Grave termasuk prokurator misi, Pater Kouwenhoven kecewa dengan hasil misi itu. Beliau kecewa bukan dengan para missionaris yang telah dikirim ke tanah misi tetapi dengan hasilnya. Diharapkan banyak pembabtisan, tetapi orang Daya tidak menunggu hendak dibaptis dengan segera. Masyarakat Laham menganggap ke-tiga orang baru itu baik, suka menolong orang sakit. Mereka membantu dengan mendirikan pastoran dan gereja dan senang kalau mendapat upah (garam, tembako sugi atau kain). Mereka juga tidak mau diganggu dengan ajaran agama dlsb. Anak mereka dipaksakan oleh pemerintah Belanda pergi ke sekolah. Setelah 3 tahun sesudah missionaris pertama tiba, Pater A.Kouwenhoven dikirim ke Kalimantan oleh Pater Trampe dengan maksud dan tujuan menyelidiki apakah misi MSF akan terus di Kalimantan atau berhenti saja.

Pater Kouwenhoven tiba di Laham bulan Mei 1929. Sebelumnya ia telah mengunjungi Mgr. A.van Velsen SJ di Jakarta. Beliau mengemukan bahwa MSF salah langkah mulai di Kalimantan, sebaiknya MSF tadinya mulai dahulu di Jawa. Dengan catatan kritis ini Monseigneur menawarkan akan membantu untuk bekerja sama dengan ordo Jesuit.

Bulan Juni 1929 diadakan rapat para uskup di Muntilan. Yang hadir pada saat rapat itu adalah para ordinarii dan para pemimpin misi seluruh Indonesia. Pastor Kouwenhoven diundang untuk hadir dengan hak bicara. Dalam rapat di Muntilan Pater Kouwenhoven menerangkan bahwa wilayah misi yang diambil alih dari ordo Capusin sangat mengecewakan MSF. Bersama dengan dewan Jenderal dipikirkan untuk berhenti dari misi di Kalimantan. Konferensi para pemimpin gereja yang berkumpul di Muntilan tidak menyetujui hal tersebut. Dalam rapat tersebut dikemukakan pengalaman yang sama juga dirasakan oleh para misionaris SJ awal abad ke 20 di Jawa Tengah.

Patut dicatat bahwa Pater Trampe sebagai Jenderal bersama Pater Kouwenhoven mendapat peneguhan dari peserta rapat di Muntilan. Pater Kouwenhoven kembali ke Kalimantan dengan harapan baru. Mereka, Pater Kouwenhoven dan Pater Trampe mendalami perkataan rasul Petrus yang mengatakan :” “Guru, telah kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa” dan setelah menebarkan jala atas nama Yesus telah berhasil banyak.

Visitasi ini telah berhasil dalam arti bahwa karya misi di Kalimantan diteruskan dengan  “membajak dan menabur” dengan lebih semangat di negara “dimana pohon pohon kelapa melambai” seperti yang dinyanyikan dalam salah satu lagu di Seminari dahulu. Sejak itu berapa keputusan diambil sekaligus membuktikan bahwa mereka sangat mencintai karya misi MSF di Kalimantan. Maka sejak tahun 1926 s/d 1940 dikirimlah 37 misionaris MSF ke Kalimantan .

Sebelum pulang ke negeri Belanda pada tahun 1929 Pater Kouwenhoven singgah di tempat vikaris apostolik Mgr. Van Velsen, di Batavia. Secara khusus beliau memohon lagi agar MSF bersedia membantu SJ di Jawa Tengah. Perspektif ini menghilangkan kekecewaan MSF di Kalimantan. Dalam hal ini Mgr. Van Velsen mengulangi harapannya dan berjanji akan membantu sedapat mungkin untuk mengatur segala-galanya dengan Kongregasi De Propaganda Fide.

Pada tanggal 12 April 1930 Dewan Jenderal MSF memutuskan untuk membantu Ordo SJ di Jawa. Keputusan ini ditulis dalam surat Pater Trampe kepada Mgr.van Velsen di Batavia.

“Monseigneur”
Dengan gembira hati kami sudah mendengar dari prokurator misi Pater Kouwenhoven MSF yang pada tahun yang lampau sudah beberapa kali bertemu dengan Monseigneur, bahwa Monseigneur dengan baik hati bersedia memberi lapangan kerja di pulau Jawa kepada rama-rama MSF Belanda. Monseigneur, tidak usah memberitahukan bagaimana kami berterimakasih atas kesediaan itu, dan bagaimana kesediaan itu kami hargai. Hanya sekedar pandangan saja, bahwa mendapatkan tanah misi di pulau Jawa yang luas, padat penghuninya yang sangat berbeda dengan Kalimantan Timur yang umatnya hanya sedikit, kami semua menerima lapangan baru ini dengan gembira hati. Bahkan semangat misioner di antara para skolastik dan murid-murid berkobar-kobar mendengar tawaran Monseigneur. Berkat Tuhan Kongregasi kami bertambah jumlah anggotanya. Banyak pemuda yang ingin bekerja di tanah misi, hampir menyelesaikan waktu Persiapan mereka. Mulai tahun 1933 Monseigneur boleh mengharapkan tenaga MSF. Sayang untuk kita tidak mungkin memberikan kepastian sebelum tahun 1933, akan tetapi sesudah tahun itu kami tetap bersedia. Kita berharap agar kita dapat memberikan tenaga paling baik kepada pekerjaan misi di pulau Jawa. Bagian kongregasi MSF yang berada di Belanda belum mempunyai lapangan misi, kecuali Kalimantan Timur. Oleh karena itu Rama-rama MSF di Belanda sengat mengucapkan terima kasih kepada Monseigneur dan mereka mengharapkan agar dengan pertolongan Monseigneur dapat merealisir keinginan mereka.
Sekali lagi kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Monseigneur atas kebaikan hati Monseigneur.

A.M. Trampe MSF
Sup.Jen. MSF

Sekali lagi surat ini membuktikan semangat kerasulan Pater Trampe untuk mengambil alih karya misi dari Kapusin. Kekecewaan-pun rupanya hilang.

Kontrak ini diteken di Grave pada tanggal 15 Juni 1931 oleh Pater Trampe MSF dan pempimpin di Jawa pater A. van Kalken SJ, sebagai wakil Mgr. Van Velsen. Dalam hal ini tidak ada penyerahan wilayah seperti tahun 1926 tetapi persetujuan untuk membantu Vikariat Apostolik di Batavia.

Tanggal 4 Februari 1932, 3 missionaris MSF ke Jawa, yaitu Pater M.Wilkens, J.v.d. Steegt dan N.Havenman MSF. Dari tahun 1932 sampai 1939 diutus 17 misionaris MSF asal negeri Belanda ke Jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s