Pemberdayaan Keluarga Kristiani menuju Keluarga Yang Harmonis

Laporan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda
Wisma Sikhar  Banjarbaru, 13 s/d 16 September 2007

Misa pembukaan Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda ke-5, dipersembahkan oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF didampingi Pastor Gregorius, CP, dengan petugas Misa dari Keuskupan Banjarmasin. Misa dimulai pada pukul 18.00 WITA. Lagu pembukaan “Saudara Mari Semua” mengalun mengiringi perarakan Uskup Mgr. Prajasuta, MSF petugas Misa memasuki ruang Misa.

“Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat datang kepada Anda semua. Karena saya sangat-sangat senang dan peduli dengan kerasulan keluarga. Saya harap Anda dengan sepenuh hati mengikuti Raker ini. Saya percaya usaha kita ini akan bermanfaat untuk Gereja di Indonesia. Trimakasih kepada Rm. Jeremias yang telah hadir di sini, saya percaya Rm. Jeremias akan mampu mendampingi Anda semua. Semoga Raker ini menjadi berkat bagi kita semua, khususnya bagi keluarga-keluarga kita,” demikian kata sambutan Uskup Prajasuta membuka Misa Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda.

Dalam homili singkatnya, Mgr, Prajasuta berujar, “Saudari/saudara terkasih, kerasulan keluarga menurut pandangan saya mempunyai 3 fokus besar. Saya menyebutnya 3 M :
M yang pertama adalah mempersiapkan perkawinan, M yang kedua adalah membina perkawinan dan M yang ketiga adalah mendampingi perkawinan. Untuk M yang pertama, mempersiapkan perkawinan, kita mempersiapkan orang-orang untuk menikah secara dewasa untuk menghindari kegagalan dalam perkawinan. M yang kedua adalah membina perkawinan supaya perkawinan sungguh-sungguh bermutu, menjadi semakin bahagia dan semakin diteguhkan. Dan M yang ketiga mendampingi perkawinan, karena kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan-tantangan yang ada sehingga tidak sedikit keluarga-keluarga yang retak/pecah. Di sini tugas kita mendampingi mereka. Saya senang menyebut dengan istilah 3 M untuk memudahkan kita memahami, dengan metode angka-angka supaya mudah diingat. Saya minta hasil Raker ini pun nantinya dirumuskan dengan metode angka-angka, dengan kata lain dirumuskan dengan metode “Jepang”, singkatan dari jelas dan gampang. Saya minta dalam Raker ini pun ada bingkai-bingkainya, sehingga dapat memperjelas tujuan kita. Bagaimana hendaknya kita merumuskan kerasulan keluarga ini? Kalian sebagai suami istri hendaknya saling mencinta, maka anak-anak pun akan bahagia. Lalu juga dalam kursus persiapan perkawinan yang ada baiknya dirumuskan juga, pikirannya hidup dan hidup pakai pikiran! Jangan lupa untuk berdoa bersama dalam keluarga. Sebaiknya dari awal sebelum pernikahan saling mendoakan satu sama lain. Demikian dalam keluarga pun doa bersama sangat penting. Semua ini berbicara tentang kasih, jangan omong kosong saja! Saya percaya pengalaman Anda sudah banyak sekali. Hal-hal yang ingin saya tekankan dalam Raker ini :

  1. Saya berharap Raker ini dapat dirumuskan dalam angka-angka dan
  2. Cobalah membuat bingkai supaya perkawinan bahagia (jangan terlampau, banyak, cukup yang pokok-pokok saja). Sehingga saya berharap Raker ini dapat menjadi berkat bagi keluarga-keluarga, Gereja, keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia, juga bagi sesama dan menjadi pujian bagi Tuhan.

Raker ini saya harapkan dapat membangkitkan kesadaran kita bahwa kerasulan keluarga sangat penting, karena saya banyak mendengar persoalan-persoalan keluarga dan sifatnya sangat mendesak. Kalian harus tahu mana yang penting dan mendesak…” Usai doa spontan, Misa ditutup dengan menyanyikan lagu MB. No. 304.

Setelah Misa, acara dilanjutnya dengan menyanyi bersama yang dipandu oleh Pastor Jeremias, MSF. Kemudian dari pihak panitia Raker mulai memberikan kata sambutan serta penjelasan acara sepanjang proses Raker yang akan dijalani sampai dengan hari Minggu, 16 September mendatang. Pastor Timotius, MSF selaku Koordinator Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda dalam kata sambutannya berkata, “Ini adalah acara Propinsi Gerejawi Samarinda. Ini Raker yang ke-5, dimana Raker yang pertama diadakan di Banjarmasin, yang ke-2 di Palangkaraya, yang ke-3 di Tanjung Selor dan yang ke-4 di Samarinda. Ada 2 tema sentral yang akan kita bahas dalam Raker ini yaitu : ME dan Kawin Campur yang kata Bapak Uskup tadi erat kaitannya dengan 3 M. Khusus untuk ME memang giat sekali melaksanakan Weekend. Bahkan ME berencana akan mengadakan Camping Weekend di luar kota. Tentang kawin campur, ini adalah masalah krusial, khususnya di Keuskupan Banjarmasin. Di sini kita memberikan pendampingan buat anak-anak yang terlibat dalam kawin campur. Anda memiliki keuskupan masing-masing, semoga setelah Raker ini ada yang bisa Anda bawa pulang ke keuskupan dan paroki masing-masing. Selamat ber-Raker!”

Acara dilanjutkan dengan perkenalan peserta dari masing-masing Keuskupan. Yang mendapat giliran pertama adalah perwakilan dari masing-masing paroki di Keuskupan Banjarmasin. Yang mendapat kesempatan pertama adalah Paroki Santa Perawan Maria Yang Terkandung Tanpa Noda Kelayan, kemudian berturut-turut Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran, Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, Paroki Ave Maria Tanjung, Paroki Santo Yusup Kotabaru, Paroki Santo Vincensius A Paulo Batulicin, Paroki Stella Maris Sungai Danau, Paroki Santa Theresia Pelaihari, Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Perkenalan peserta kemudian berlanjut dengan peserta dari Keuskupan Tanjung Selor, Keuskupan Agung Samarinda dan Keuskupan Palangkaraya menutup sesi perkenalan.

Pada hari kedua, para peserta Raker mulai masuk dalam proses. Diawali dengan laporan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh masing-masing Komisi Keluarga di tiap-tiap keuskupan.

Dari Keuskupan Palangkaraya menyoroti beberapa hal, diantaranya :

  1. Kursus perkawinan yang ada selama ini masih banyak yang bersifat dadakan. Karena banyak terjadi orang-orang datang ke kota hanya untuk melangsungkan perkawinan. Tapi di Katedral Santa Maria sudah dilakukan penyelenggaraan kursus perkawinan dengan baik. 
  2. Kendala-kendala yang dihadapi terjadi mutasi pastor-pastor paroki sehingga program yang sudah dibuat tidak dapat diteruskan (tidak nyambung).

Pastor Rettob, MSC dari Keuskupan Tanjung Selor mengungkapkan beberapa hal penting perihal kegiatan komisi keluarga yang telah dilaksanakan di Keuskupan Tanjung Selor. Rm. Rettob, MSC, dimana di Keuskupan Tanjung Selor sendiri sudah dibentuk Komisi Keluarga, dengan Pastor Rettob sebagai Ketuanya. Pastor Rettob pun menceritakan tentang Raker Komisi Keluarga yang telah dilaksanakan di Keuskupannya beberapa bulan silam, dimana dalam Raker tersebut kemudian memilih pendidikan nilai sebagai skala prioritas kegiatan. Dari sini dicetuskan visi dan misi ke depan, dimana hasil-hasil Raker Komisi Keluarga perlu dibawa terus kepada rapat-rapat para pastor. Dalam hal ini perlu pendampingan sebelum, saat maupun sesudah pernikahan (sama seperti 3 M yang disampaikan Bapak Uskup) dan Bapak Uskup menekankan pula untuk tingkat Paroki (pastor paroki dan komisi) untuk melakukan pendampingan keluarga dengan membuat tim pada masing-masing paroki. Hal baru yang jadi karya unggulan adalah Masalah Kesetaraan Gender dan Pro-Life, dan kalau tidak salah hal ini juga dibahas di Bali dan dalam beberapa kesempatan lain. Pastor Rettob juga mensosialisasikan Undang-undang Kekerasan dalam Rumah Tangga karena masih banyak umat yang belum tahu, sekaligus memperkenalkan Undang-undang Perlindungan Anak. Pendidikan nilai yang dijadikan skala prioritas ternyata banyak disukai oleh umat, khususnya ibu-ibu. Misalnya saja mereka membuat aneka jenis makanan dari ubi, sehingga keluarga menjadi senang.

Sr. Theofile, PRR dari Keuskupan Agung Samarinda menjelaskan paparannya sebagai berikut :

  1. Perkawinan campur (2000-2007) beda gereja di paroki-paroki meningkat, tapi ada yang menurun. Banyak yang menemukan jodoh agama lain lalu pindah agama.
  2. Banyak remaja putri yang hamil sebelum nikah. Di sini penghargaan terhadap sakramen kurang. Jadi banyak yang kawin secara adat saja. Kalau tidak cocok bubar cari yang lain. Mempersiapkan kaum muda kurang berjalan dengan baik.
  3. Pembatalan perkawinan, untuk saat ini baru 1 orang yang mendapat ijin dari Uskup. Sedang isu-isu pisah rumah/ranjang banyak yang tidak lapor. Dengan alasan kekerasan dalam keluarga.
  4. Di Keuskupan kami, 24 paroki sudah mempunyai Seksi Keluarga tapi sampai sekarang baru menjalankan KPP (Kursus Persiapan Perkawinan) saja.
  5. Bulan Agustus 2007, kami melaksanakan Turney Krisma di 14 stasi yang digabungkan di 4 tempat, dimana saat itu dilakukan dialog dengan Uskup tentang sukaduka kehidupan mereka sehari-hari. 
  6. Sosialisasi kesetaraan gender dan kekerasan dalam rumah tangga.
  7. Pada bulan Oktober akan ada kunjungan keluarga di Paroki Katedral.
  8. Untuk sosialisasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga akan dihandel oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian.

Sedangkan dari Keuskupan Banjarmasin, laporan Komisi Keluarga disampaikan oleh Pastor Timotius, MSF yang menjelaskan beberapa hal, diantaranya : 

  1. Kunjungan keluarga sudah rutin dilakukan, untuk menyapa mereka satu persatu. Hal ini juga dilakukan diparoki-paroki luar Banjarbaru. 
  2. Bekerjasama dengan Kordis ME untuk melaksanakan APME secara rutin. Untuk tahun depan akan dilaksanakan camping APME di paroki Tanjung. 
  3. Mengadakan perayaan Ekaristi Keluarga sebagai wahana untuk mengakrabkan antar anggota keluarga, biasanya pada perayaan pesta keluarga kudus. 
  4. Bekerjasama dengan Pastor Paroki untuk mendorong terbentuknya seksi keluarga di paroki-paroki. 
  5. Melakukan pendampingan keluarga-keluarga di paroki 
  6. Pendampingan khusus untuk persiapan perkawinan diparoki-paroki untuk menjangkau paroki-paroki yang jauh dari keuskupan sehingga dibuatkan program khusus 
  7. Membuat Pembekalan seksi keluarga diparoki-paroki dengan cara berkeliling untuk memberi animasi dan pembekalan materi. 
  8. Kerjasama komisi keluarga dengan propinsial MSF Kalimantan untuk membuat kegiatan-kegiatan dengan beragam tema. Untuk saat ini baru menjangkau 4 paroki kota (karena kendala jarak) dimana dilaksanakan sebulan sekali pada minggu ketiga. 
  9. Bekerjasama juga untuk melakukan kegiatan serupa diparoki luar kota. 
  10. Mengusahakan beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu. 
  11. Menyelenggarakan Weekend Tulang Rusuk yang baru-baru ini diadakan di Banjarmasin.

Mulai pukul 16.00 Wita, para peserta Raker mendapat penjelasan dari Pastor Lukas Huvang Ajat, MSF dan pasutri Yenyen ? Chang Hwa tentang seluk beluk Marriage Encounter. Dalam sesi ini pun disampaikan sharing oleh mereka-mereka yang pernah mengikuti APME (Akhir Pekan ME), diantaranya dari Pastor Simon Edy Kabul Teguh Santoso, Pr, Sr. Blandina, SCMM dan satu pasangan suami istri.

Di hari berikutnya, para peserta Raker dibawa untuk mendalami materi Kawin Campur yang disampaikan oleh Pastor Dr. I Ketut Timotius Adi Hardana, MSF. Di sini banyak dijelaskan berbagai hal terkait dengan perkawinan campur (beda gereja dan beda agama). Dalam sesi ini banyak terlontar sharing dari para peserta Raker maupun dari beberapa Pastor yang ikut hadir.

Dalam Raker ini diputuskan beberapa poin penting bagi pendampingan keluarga, diantaranya : Pemberikan pelayanan pastoral dengan murah hati, karena Paus sendiri mengajak kita untuk merangkul pasangan-pasangan suami istri yang luar biasa (mengalami kawin campur). Karena dalam hal ini, Gereja tidak pernah meninggalkan para pasutri yang demikian itu; dengan catatan tidak menerobos aturan-aturan main yang telah digariskan oleh pihak Gereja.

Kasih tidak hanya ada di dalam keluarga, tetapi dalam keluarga harus ada kasih. Namun di dalam perkawinan tidak selalu ada kasih,” demikian disampaikan Pastor Jeremias Bala Pito Duan, MSF selaku Konselebran Utama dalam Misa Penutupan Rapat Kerja Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda, Minggu, 16 September 2007 di Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Misa juga dipersembahkan bersama oleh Pastor Dr. I Ketut Timotius Adi Hardana, MSF selaku Koordinator Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda, Pastor Sabinus Gregorius, CP dan Pastor Pius Rettob, MSC.

Dalam homilinya, Pastor Jeremias berujar, “Dewasa ini banyak perkawinan yang berumur lama, telah menjadikan mereka-mereka yang terikat dalam Sakramen Perkawinan menjadi “lupa” akan status mereka, entah itu sebagai suami maupun sebagai istri. Suami kependekan dari “selalu untuk anak maupun istri”, sedangkan istri adalah singkatan dari “istimewakan suami tanpa rasa iri”. Bagaimana anda memberikan nilai terhadap suami atau istri Anda? Umumnya kita ini mau mencintai, yaitu cinta “karena” (misalnya karena cantik, karena kaya, karena ini dan itu”). Juga ada cinta, yaitu cinta “supaya” (misalnya saya melakukan ini untukmu, supaya di lain hari ketika saya memerlukannya, kamu bisa melakukannya untuk saya). Tapi yang paling baik adalah cinta “meskipun” (saya mencintai kamu karena dulu kamu ganteng, dan saya tetap mencintaimu meskipun kamu sudah menjadi orang TOP (tua, ompong, peyot) sekarang. Maka disini diharapkan kita dapat mencintai pasangan kita sampai akhir. Banyak terjadi untuk jaman sekarang ini, orang yang telah berumah tangga tidak mampu membuat komitmen seumur hidup. Maka dengan sendirinya, tantangan hidup berkeluarga adalah sangat berat. Untuk itu kita perlu berhati-hati, supaya makin hari keluarga kita makin “kecé”. Seperti apa yang saya sampaikan di awal Misa tadi, maka marilah kita membangun keluarga Kristiani yang harmonis, salah satunya dengan cara memberikan pujian yang positif kepada pasangan kita, maupun kepada anak-anak kita, amin.”

Dalam Misa kali ini pun diucapkan Pembaharuan Janji Perkawinan dan Pembaharuan Janji Imamat. Misa berlangsung meriah karena disepanjang prosesi, Pastor Jeremias beberapa kali mengajak umat untuk menyanyi bersama, diantaranya lagu “Keluarga Kudus” dan “Kumau Cinta Yesus Selamanya.” Dalam kesempatan inipun, para peserta Raker yang seluruhnya berjumlah 57 orang, dengan perincian 49 orang dari Keuskupan Banjarmasin, 2 orang perwakilan Keuskupan Agung Samarinda, 2 orang dari Keuskupan Tanjung Selor dan 4 orang dari Keuskupan Palangkaraya memperkenalkan diri satu persatu kepada umat yang hadir di Paroki Bunda Maria Banjarbaru pagi ini. Usai Misa, para peserta kembali menuju Wisma Sikhar untuk membuat RESUME Hasil Raker serta membuat Program Kerja untuk masing-masing Keuskupan.

Setelah makan siang bersama, para peserta Raker berjabat tangan sebelum meninggalkan Wisma Sikhar untuk kembali ke Keuskupan maupun Paroki masing-masing. Dalam kesempatan ini pun diadakan serah terima Vandel Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda kepada Keuskupan Palangkaraya, sebagai tanda bahwa Keuskupan Palangkaraya adalah tuan rumah untuk penyelenggaraan Raker Komisi Keluarga selanjutnya.

Sampai jumpa tahun 2008 mendatang dalam acara yang sama di Keuskupan Palangkaraya. Proficiat untuk para peserta dan panitia penyelenggara. TUHAN memberkati.

[reported by : Dionisius Agus Puguh Santosa; 17/09/2007; 10:50 am; anggota Panitia Raker Komisi Keluarga Propinsi Gerejawi Samarinda]

One response to “Pemberdayaan Keluarga Kristiani menuju Keluarga Yang Harmonis

  1. kepada bpk / om pastor Pius RETTOB MSC
    ucapan SELAMAT HARI RAYA NATAL 2007 dan TAHUN BARU 2008
    God bless you and selalu lindung kami …
    selamat ketemu
    memperkenalkan saya Anthony / Thony Rettob dari Nederland
    anak bpk AGUS RETTOB alm

    Om pastor yg terhormat kami belum perna ketemu tapi Om pastor sudah temu sama adik Golly di KEI…
    saya thn 2001 tiba di Wearlilir-KEI merasa emosi tapi gembira..
    gimana sama Om pastor? harapan baik saja..

    Kalau Om pastor ada waktu boleh balas
    email saya hiwlak@gmail.com

    bye-bye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s