Keuskupan Agung Samarinda tetapkan Tujuan Dan Strategi Baru

kasri.jpg

SENDAWAR, Kalimantan Timur ……Untuk memperingati seabad Gereja Katolik di Kalimantan Timur, Keuskupan Agung Samarinda telah mempertemukan umat Katoliknya untuk membahas bagaimana keuskupan agung itu bisa menjadi Gereja lokal yang responsif dan mandiri.

Seminar dan lokakarya (semiloka) yang diadakan di Gedung BPU Tana Ngeriman, Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat, dari 4 hingga 6 Juli itu terfokus pada tema: Bertolaklah ke Tempat yang Dalam. Penyelenggara memilih tema yang diinspirasikan dari Injil Lukas 5:4 itu untuk merefleksi karya misi para misionaris pendahulu, seraya merumuskan strategi karya pastoral yang baru.

Uskup Agung Samarinda Mgr Florentinus Sului Hajang Hau menjelaskan kepada para imam, religius, tokoh awam, pemimpin suku, tokoh masyarakat, dan orang muda yang hadir bahwa semiloka itu tidak semata-mata untuk merefleksikan karya para misionaris pendahulu. Tujuan seminar itu, katanya, juga untuk merumuskan strategi pastoral di masa depan dan untuk mengimplementasikannya melalui pelbagai tindakan konkret “menuju kemandirian Gereja lokal dan kedewasaan iman.”

Ismael Thomas, Bupati Kutai Barat, juga mengungkapkan harapannya agar umat Katolik memperoleh semangat baru dan gambaran yang holistik tentang misi Gereja Katolik selama seabad di Kalimantan Timur yang akan “menjadi titik awal bagi upaya revitalisasi dan transformasi diri” misi itu dalam menghadapi situasi perkembangan zaman.

Untuk memberi konteks historis, presentasi-presentasi yang diberikan merefleksikan karya misi Katolik dan kesaksian pelaku sejarah misi di Propinsi Kalimantan Timur. Samarinda adalah ibukota propinsi itu.

Diskusi-diskusi dalam semiloka itu membicarakan tiga topik utama: pengembangan sumber daya umat; pendewasaan iman; dan gerakan Gereja keluar.

Sebagai tahap pertama untuk mengembangkan sumber daya umat Katolik lokal, peserta sepakat melakukan kaderisasi melalui pendidikan formal dan non-formal. Mereka meminta Gereja sebagai hirarki untuk mempertahankan sekolah Katolik yang ada, dan menge-lola pendidikan dengan prinsip mana-gemen organisasi. Mereka juga meminta kepada Gereja sebagai komunitas untuk membentuk lembaga-lembaga kader, mengadakan dan mengelola beasiswa, serta mendirikan asrama bagi para siswa dari daerah terpencil.

Dalam kaitan dengan pendidikan, mereka sepakat tentang perlunya menggali dan mengembangkan potensi sumber dana. Mereka meminta keuskupan agung itu untuk mendirikan usaha mandiri, termasuk di tingkat paroki. Peserta menjelaskan, bila kondisi ekonomi umat membaik, sumbangan mereka terhadap terciptanya Gereja lokal yang mandiri semakin besar.
Untuk meningkatkan komunikasi dan akses informasi, mereka minta hirarki bukan hanya membangun kemitraan dengan awam yang punya keahlian khusus di bidang ekonomi, sospol dan website, tapi membangun dan meningkatkan pola komunikasi yang efektif antarumat, antarpastor dan antara keuskupan dengan umat melalui media Internet.

Masalah utama yang mereka lihat dalam pendewasaan iman adalah kurangnya pemahaman, pengetahuan dan penghayatan iman dalam hidupan sehari-hari. Mereka menilai keuskupan agung itu kurang memiliki tenaga terlatih untuk pembekalan dan pendampingan iman umat.

Dalam situasi seperti ini, peserta sepakat tentang perlunya katekese umat untuk semua kelompok, mengadakan kaderisasi dan pelbagai sarana pembinaan iman umat.

Mereka mengakui, banyak umat Katolik menemukan tayangan media massa dan berbagai kegiatan iman kelompok Kristen lain lebih menarik daripada kegiatan iman Katolik. Mereka melihat ini memerlukan pembaharuan metode dan semangat untuk kegiatan iman.

Sambil mengakui kurangnya panggilan imamat dan kehidupan membiara, mereka meminta hirarki menyelenggarakan promosi panggilan secara periodik dan umat mengarahkan dan merelakan putera-puterinya untuk menanggapi panggilan khusus.

Pastor Pieter Sinnema MSF mempresentasikan sejarah karya misi di Kalimantan Timur, dan Uskup Palangkaraya Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka MSF menyampaikan “Refleksi Teologis Pastoral Seabad Misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur.”

Misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur dimulai tahun 1907, ketika tiga Kapusin asal Belanda — dua imam dan seorang bruder – mulai berkarya di Laham, sebuah kampung kecil di pinggiran Sungai Mahakam. Dari sana, berkembanglah umat Katolik ke kampung-kampung dan kota-kota lain di wilayah Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda.

Iklan

5 responses to “Keuskupan Agung Samarinda tetapkan Tujuan Dan Strategi Baru

  1. Ping-balik: Ladung | My Blog » Blog Archive » Rindu …

  2. Leonardus lawing

    Semoga karya keuskupan Agung samarinda trus brkembang,di dalam melayani umat di Kaltim……..

  3. hello hi ..(one of Borneo)

    thanks for this happening blog,
    i love it all…

    salam kenal..

  4. This is aplinpeag, You’re a highly reddit. Concerning joined up with all your materials and peruse to looking for greater numbers of ones place. Moreover, I’ve joint your websites with my social support systems!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s