Menjadi Guru Sekaligus Murid

Fr Jonas Roka MSF

Aku dipercayakan komunitas untuk mendampingi PIA paroki Banteng selama setahun. Dalam rentang waktu yang cukup lama itu aku menjalaninya dengan segenap hatiku. Karena bagiku ini merupakan kesempatan emas, yang mungkin saja tidak akan terulang kembali. Kesempatan yang istimewa itu mendorong aku untuk belajar dan terus belajar baik untuk mengembangkan diri anak-anak maupun belajar mengembangkan diri sendiri. Prinsipku saat itu adalah aku mau belajar dari dan bersama anak-anak. Prinsip ini mengantar aku pada suatu keyakinan bahwa ada begitu banyak kekayaan rohani yang ada dalam diri mereka. Sebagai seorang frater pendamping aku dituntut untuk bisa menempatkan diriku dalam dunia anak-anak, yang kadang-kadang bertentangan dengan idealisme yang kumiliki.

Tidak mudah…….. itulah yang aku alami ketika pertama kali memulai tugas ini. Aku harus mulai dari nol untuk belajar menggunakan bahasa dan mengerti perasaan anak-anak. Dalam pendampingan itu aku begitu gembira melihat anak-anak yang kreatif namun kadang aku stres sendiri melihat tingkah laku anak-anak yang nakal, setengah nakal, pendiam, begitu ekspresif maupun yang sangat pasif. Perasaan yang spontan muncul adalah jengkel, tetapi…. aku sadar itulah dunia anak-anak. Dunia yang harus disikapi secara bijaksana bukan emosi. Karena itu kegiatan bersama menjadi kesempatan bagi mereka untuk bermain, berbagi kegembiraan, berbagi kisah, berkisah dengan teman-teman, mengekspresikan diri dan mengungkapkan kekesalan yang mereka alami di rumah maupun di lingkungan.

Pengalaman yang aku dapatkan ini ternyata sungguh membantu dan menjadi titik awal untuk mengembangkan pendampinganku selanjutnya. Mengenal mereka secara pribadi bukanlah pekerjaan mudah. Aku harus masuk dalam dunia dan dalam kehidupan mereka yang walaupun masih kecil ternyata memiliki persoalan yang pelik. Kenyataan ini menumbuhkan rasa iba dan prihatin dalam diriku.

Cita-citaku tidak berbekas sama sekali bahkan hanya menjadi mimpi belaka yang tidak memberi makna. Cita-citaku ternyata belum optimal dan aku pun dituntut untuk berusaha dan menemukan metode yang baik untuk mendampingi mereka. Mulai saat itu, aku memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka untuk berekspresi. Kubiarkan mereka berekspresi sesuai kemampuan dan bakat mereka masing-masing. Ada yang gembira, senang, marah dan bahkan sampai menangis dalam mengungkapkan diri mereka masing-masing. Ungkapan-ungkapan itu merupakan ungkapan isi hati mereka. Melalui ekspresi yang ditampilkan itu aku bisa melihat anak mana yang perlu diberi perhatian lebih dan mana yang tidak. Yang perlu didampingi dan diberi perhatian lebih biasanya anak-anak yang mengalami hambatan untuk berkomunikasi di rumah misalnya karena terlalu ditekan oleh orangtuanya. Mungkin mereka mendambahkan kebebasan untuk menikmati masa kanak-kanak namun impian untuk berekspresi dan berinteraksi dengan teman-teman dan lingkungannya biasanya dibatasi. Mereka terlalu banyak dijejali oleh bermacam-macam hal yang membuat mereka tidak leluasa dan tidak bisa menjadi diri mereka sendiri. Keinginan orangtualah yang mereka jalani, bukan keinginan mereka sendiri. Orangtua akan senang apabila mereka berprestasi. Aspek intelektual yang dijadikan skala prioritas sedangkan unsur afeksi dan kognitif diabaikan. Sungguh memprihatinkan… anak sekecil itu harus menderita di usia belianya. Ada nuansa lain yang muncul ketika aku berhadapan dengan anak-anak yang diberi kebebasan oleh orangtuanya. Mereka biasanya mempunyai kemampuan berekspresi yang luar biasa. Aku sangat mendukung mereka untuk terus mengembangkan dirinya. Kesempatan ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka untuk terus berkembang untuk menjadi pribadi yang mandiri dan berguna bagi orangtua, bangsa dan Gereja.

Dalam PIA, aku bersama pendamping yang lain tidak mau menjejali mereka dengan berbagai materi yang membosankan dan tidak membebaskan. Aku lebih memberikan perhatian pada perkembangan kepribadian mereka, sedangkan pendamping yang lain pada hal-hal lain misalanya membuat doa dan memahami pesan kitab suci. Dengan metode yang diterapkan, ada titik sambung yang dijadikan pedoman sehingga anak-anak diharapkan dapat berkembang menjadi pribadi yang utuh dan berwawasan kristiani.

Aku senang melihat perkembangan anak-anak yang kudampingi. Aku sungguh merindukan saat-saat kebersamaan dengan mereka. Aku belajar banyak hal dari mereka. Mereka bisa tumbuh dan berkembang berkat kepolosan, kejujuran dan kesediaan untuk dibina dan dibentuk. Hal ini membawa dampak positif bagi diriku. Makna yang bisa kupetik adalah aku disadarkan untuk terbuka, sabar dan belajar menjadi anak kecil. Keutamaan-keutamaan ini membuat aku tumbuh

Iklan

One response to “Menjadi Guru Sekaligus Murid

  1. Info komunitas
    IKE INSTITUT mengundang dalam acara profesional workshop “The Science of Meditation ” Moving/DinamicMeditation : Dari Wu Chi Ke Taichi, bagaimana Pengaruh gerak Tai Chi bagi saluran meridian, Eight Pieces of brocades, 20 minutes Daily for health in long live, pada hari kamis, jum’at tanggal 21-22 Agustus 2008 di The Valley Resort Hotel, Lembah Pakar No 28 Dago, Bandung Hadir dalam Pelatihan ini beberapa narasumber Bpk. Dr. Ir Sugiarto, Msc (Master Taichi Jing Wu Men), Dr. Hudoyo Hupudio, MPH, Ir. Anhar Mapparenna MBA (Praktisi Meditasi berbagai aliran agama).Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi sdri. Tatie / Sdr. Hendri 022-4224931 atau 085624619122, 0811245111

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s