Imam-Imam Suam Kuku

Sambungan dari edisi yang lalu….

St. Theresa dari kanak-kanak Yesus tidak pernah melakukan suatu dosa berat, kita tahu semuanya dari surat kanonisasinya. Namun ia sendiri melihat bahwa ia sudah berada dekat jurang neraka, seandainya ia tidak cepat-cepat  keluar dari hidupnya yang “suam-suam kuku”. Banyak para santo-santa menasehatkan, agar kita memberi kemurahan  atau membuka hati terhadap Tuhan agar Ia mau datang kepada kita. Memang sepantasnya  kita mempunyai kepekaan atau kemurahan hati terhadap Tuhan namun Tuhan lebih mengharapkan kemurahan hati kita itu tertuju terhadap sesama kita. Kita harus mempunyai kemurahan hati kepada setiap orang “siapa yang telah diberi banyak maka ia juga dituntut untuk memberi banyak”  Namun ini tidak berarti bahwa kamu telah diberi sepuluh oleh Tuhan maka kamu juga hanya memberi sepuluh, kalau hal ini yang kamu lakukan, itu bukanlah kemurahan hati tapi hanya baru sampai dalam arti keadilan. Orang yang telah menyenangkan hati Tuhan adalah orang yang tidak hanya melakukan apa yang ia senangi tapi juga dalam hal yang mungkin tidak ia senangi, ia tidak hanya melihat orang-orang sempurna dan terhormat atau hanya dalam hal-hal yang besar namun juga dalam hal-hal yang sangat kecil, dialah yang sungguh-sungguh murah hati terhadap Tuhan dan tentu juga Tuhan akan memberi suatu hadiah yang sangat besar kepadanya. Ia telah membagikan kemurahan hatinya tidak hanya kepada orang yang ia sayangi atau hanya kepada orang yang menyayanginya tapi juga kepada orang yang membencinya. Ia menjadi sumber rahmat atau berkat bagi orang-orang disekitarnya, ia tidak hanya memberikan hiburan agar tetap tabah atau bertahan dalam menerima cobaan tapi ia akan lebih memberikan perhatian khusus, ia akan membuat sesuatu yang bisa membuat anggota keluarga merasa dikuatkan dalam keseharian mereka dan hal yang paling penting ia menjadi benteng dari setiap serangan setan. “Jika kamu mengasihi Tuhan maka kamu juga harus mengasihi orang-orang yang ada disekitarmu”. Tuhan akan mengasihi kamu sama seperti kamu mengasihi sesamamu. Jika kamu kikir untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada orang lain maka dengan kata lain tangan dan hatimu telah menggiring kamu kedalam kedosaan. Jika hal ini kamu lakukan juga terhadap Tuhan maka bersiaplah untuk menerima hukuman. ”Semua ukuran yang kamu pakai untuk membantu atau menolong orang lain itu juga yang dipakai Tuhan untuk memberikan rahmat-Nya kepadamu.

Tuhan telah berjanji akan memberikan rahmat kemurahan hati-Nya, tidak hanya kepada kamu tapi juga kepada seluruh dunia. Tuhan memberikan kemurahan hati-Nya kepada yang memang sungguh-sungguh memerlukan khusunya untuk menopang agar mereka sanggup menanggung beban hidupnya. Namun kamu terlalu banyak permintaan dan keluhan sehingga Tuhan tidak akan memberikan rahmat-Nya kepada kamu. Tuhan sekali lagi akan mencurahkan rahmat kemurahan hati-Nya hanya kepada orang-orang yang mempunyai kemurahan hati kepada sesamanya dan tentunya kemurahan hati terhadap Tuhan. Bila kamu tidak melakukan sesuatu terhadap sesamamu dan terhadap Tuhan maka bersiaplah untuk untuk menghadapi serangan setan dan kamu akan jatuh ke dalam dosa yang sangat berat.

Ketika seorang pandai besi membuat sebuah pisau, ia akan membakar besinya sampai sungguh-sungguh menjadi merah kemudian akan membentuknya menjadi sebuah pisau. Ia akan terus berusaha agar besinya dalam keadaan merah membara oleh karena itu, ia akan terus membakar dan membakar tanpa pernah memberikan kesempatan besinya menjadi dingin. Jika besi dalam keadaan dingin atau baru setengah panas akan sangat mustahil untuk membentuknya menjadi sebuah pisau. Bayangkanlah dirimu seperti seorang pandai besi bila ingin melakukan kemurahan hati terhadap sesamamu atau kepada Tuhan. Kamu tidak bisa melakukannya hanya dalam keadaan “suam-suam kuku” karena akan menjadi sia-sia  belaka.
Kalau kamu besok pagi akan mengadakan perjalanan, maka pada malam harinya kamu akan menyiapkan segala sesuatu dan tentu saja dengan tidur yang cukup agar besok pagi bisa bangun lebih cepat, agar kamu tidak ketinggalan atau ditegur oleh teman-temanmu karena kamu terlambat. Seperti itulah yang harus kamu lakukan setiap hari agar kamu tidak menjadi orang “suam-suam kuku”. Jadilah orang yang siap-siap sedia dan bukan menjadi batu sandungan bagi orang lain melainkan harus menjadi sumber suka-cita atau kebahagiaan khususnya untuk orang-orang disekitarmu. Amin.
(Diambil dari buku Le Prêtre  : Oleh P. Ionday MSF, Socius Seminari Johaninum MSF Banjarbaru)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s