“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan…”

(Matius 9:13) 

jala.jpg 

Waktu adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun di kolong langit ini yang mampu untuk menahan lajunya sang waktu. Dia berjalan perlahan tapi pasti, melalui semua yang ada di hadapannya dan meninggalkan semua yang ada di belakangnya. Dia bergulir tanpa sering kali disadari dan dirasakan oleh siapapun, termasuk oleh manusia, ciptaan tertinggi di muka bumi ini.

Tanpa terasa perjalanan karya misi Katolik di wilayah Provinsi Gerejawi Samarinda, yang meliputi Keuskupan Agung Samarinda, Keuskupan Banjarmasin, Keuskupan Palangka Raya dan Keuskupan Tanjung Selor, telah memasuki usia yang ke seratus. Telah seratus tahun Gereja Katolik malang melintang di wilayah timur bumi Borneo mewartakan Allah yang baik dan menyelamatkan. Kendati tanpa terasa, perjalanan seratus tahun itu ingin disadari. Semua elemen Gereja Katolik Provinsi Gerejawi Samarinda, sekurang-kurangnya yang berada di wilayah Keuskupan Agung Samarinda, menyadari moment bersejarah itu. Karena itu dipersiapkanlah segala sesuatunya untuk peringatannya. Mulai dari pembentukan panitia, pendekatan ke berbagai pihak, mulai dari Duta Besar Vatikan hingga artis Indonesia Idol dan AFI, hingga persiapan lusinan ekor babi yang akan disembelih untuk resepsi.

Sebagai sebuah peristiwa yang disyukuri, pantaslah moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik itu dirayakan dengan meriah; bahkan agung dan megah. Semua hal yang dipikir baik untuk mewarnai kemeriahan itu akan diupayakan dengan semaksimal mungkin. Karena itu maka muncullah ide untuk mendatangkan “Artis-artis Ibu Kota” yang mempunyai gelar baru di Indonesia : “Indonesia Idol” (Idola Indonesia) dan “AFI” (Akademi Fantasi Indonesia). Kehadiran para idola dan mereka yang telah menggapai fantasi begitu banyak orang muda Indonesia untuk menjadi artis, pastilah menambah kemeriahan suasana. Sekurang-kurangnya, hal itu akan menarik perhatian banyak orang; entah itu katolik atau bukan.

Selain berbagai rancangan akan perayaan tersebut, moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik juga dijadikan ajang untuk berefleksi dan memulai gerakan.  Orang Muda Katolik di wilayah Keuskupan Agung Samarinda, khususnya dari wilayah Sungai Mahakam, menggunakan moment ini untuk berkumpul bersama dalam Pekan Misi Komunitas Orang Muda Katolik (Pekan Misi KOMKA). Mereka merancang gerakan untuk meneruskan karya misi dengan menjawab berbagai keprihatinan kehidupan yang sekarang ini mengemuka.  Dalam kerangka refleksi, dirancang sejumlah seminar untuk semua elemen Gereja Katolik, mulai dari Hirarki hingga umat. Singkat kata, moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik itu diperingati semaksimal mungkin, baik dari sisi perayaan (seremoni) maupun dari sisi rancangan aksi.

Sebagai sebuah perayaan, moment 100 Tahun Karya Misi Gereja Katolik akan berlalu seiring dengan bergulirnya sang waktu. Sesudah perayaan puncak, gema perayaan masih akan dirasakan oleh mereka yang mengikuti seluruh rangkaian perayaan tersebut. Selanjutnya, perayaan itu akan masuk dalam memori kenangan; dan pada waktunya tidak diingat lagi. Seberapa pun biaya yang akan dikeluarkan untuk perayaan itu; sebagus apa pun perayaan itu dirancang, proses untuk diingat lagi pasti tidak akan dijelang.

Ketika para misionaris pertama datang 100 tahun yang lalu di Laham dan memulai segala sesuatunya, tetap ada sebuah perayaan, kendati tidak hingar bingar. Dari dokumentasi yang ada diketahui ada sebuah perayaan kecil di negeri Belanda untuk menghantar mereka melaksanakan perutusan mereka. Tetapi perayaan sederhana itu diteruskan dengan sebuah rancangan aksi yang berangkat dari sebuah refleksi yang berdasar pada realita medan misi dan perumusan strategi misi untuk memperkembangkan medan misi. Refleksi dan strategi misi itu perlahan tapi pasti bergulir dan menghasilkan buah, karena terus-menerus memperhatikan berbagai faktor yang berkembang di medan misi, dan juga para aktor (para misionaris, tokoh umat) yang berkarya di medan misi. Rancangan aksi yang berisi refleksi dan strategi misi itulah yang menyebabkan perpindahan pusat misi dari Laham ke Tering, dan akhirnya ke Samarinda. Rancangan aksi yang itu pula yang membuat moment kedatangan dan karya awal 100 tahun yang lalu itu tetap diingat, kendati medan dan pelakunya sudah dan silih berganti.

SEBUAH RANCANGAN AKSI haruslah menjadi hal utama kedua yang dipikirkan dengan sungguh, sesudah perayaan yang hingar bingar itu. Rancangan aksi yang berdasar pada refleksi dan strategi, akan menjadikan moment 100 Tahun Karya Misi Gereja katolik saat ini menjadi titik berangkat baru untuk moment 100 Tahun yang akan datang. Rancangan aksi itu akan menjadikan pewartaan KABAR BAIK 100 tahun yang lalu menjadi LEBIH BAIK untuk 100 tahun ke depan. Dengan demikian, bukan hanya persembahan yang kita berikan, tetapi juga tindakan kasih sebagai kelanjutan dari persembahan itu kita lakukan. Semoga.

Pastor Teddy, Propinsial MSF Kalimantan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s