Perjalanan Banjarmasin – Danum Paroi

M. Gloudemans

Maret sampai Mei 1936

27 Maret 1936 Kami mudik, singgah sebentar di Tenggarong tetapi kami diminta oleh seorang petugas Sultan untuk terus mudik karena jamban itu khusus untuk kapal Sultan. Memang pertaturan itu benar tetapi alangkah baiknya ada kelunakan sedikit dari Yang Mulia.

Malam hari kami tiba di Muara Kaman. Hari berikutnya kami sampai Kota Bangun di mana kami bertemu dengan tuan v.d. Woude.

Malam hari kami sampai Muara Pahu. Sungai menjadi indah dengan panorama bergantian. Suasana tenang.

29 Maret 1936 Malam jam 19.00 kami tiba di Tering. Orang tidak tahu kedatangan kami, namun kami disambut dengan ramah-tamah. Anak-anak pria berdiri di pinggir, berteriak-teriak, mercon diledakkan dan kami langsung naik ke darat. Kami bercakap-cakap leluasa. Kesan kami yang pertama baik.

30 Maret 1936 Pagi hari orang mengadakan kata sambutan; sebenarnya omong kosong. Seusai itu diadakan bertamasya. Malam hari dibuat film tetapi kurang berhasil. Sayang bahwa hanya main bola difilmkan. Besok perfilman akan diulang.

Malam hari saya berbicara dengan bruder Cephas tentang Pulu Laut dan pemindahannya ke sana. Hal itu diterimanya dengan tenang. Habis Paskah ia akan berangkat. Bruder Longinus akan berpindah ke Tering untuk membantu bruder Felix, yang sangat kesibukan.

31 Maret 1936 Banyak pembicaraan. Pastor Schoots sangat berniat mulai bekerja di daerah Tunjung. Niat itu boleh dilaksanakan. Daerah itu berpenduduk lebih dari 11.000 jiwa dan kampung kampung berdekatan sata sama lain.

Tiba-tiba pada malam hari pastor Arts tiba dari Ulu Riam, mengantar orang-orang Pnihing yang akan mengantar saya ke Danum Paroi.

Mengherankan bahwa Frans (pastor Arts) sudah kembali; barangkali disebabkan oleh alasan tertentu karena rencananya dulu ia akan tinggal di Ulu 3 sampai 6 bulan. Alasannya ialah: di Ulu tidak ada tempat tinggal dan ia tidak berani memulai membangun sesuatu karena kekurangan uang. Sayang.

Pastor Arts telah banyak pengalaman. Telah melihat lebih dari 500 ekor babi. Berjalan kaki dari riam Udang menuju riam Haloq, tetapi jatuh sesudah 3’12 jam. Anak-anak pria telah membuat tempat tidur dari batang-batang kecil; setelah beristirahat 1 jam pastor jalan lagi tetapi jatuh lagi sesudah 10 menit. Dengan susah payah sampai kubu riam Haloq. Hari berikut pastor merasa diri lebih baik.

Misi mengalami banyak kesusahan dengan tuan Theewman, seorang Yahudi yang menghalangi pekerjaan kami. Tentang hal ini saya akan membuat Laporan.
Kami menimbang untuk membawaserta Jaap (J Romeijn) dengan alasan: Frans perlu beristirahat, Jaap perlu melihat situasi dengan mata kepala sendiri dan penilaian situasi oleh dua orang lebih sehat.

03 April 1936 Kami mudik dari Tering. Hari ini saya berkunjung ke Pejabat yang merasa bahwa usulan usulan dari Theewman terlalu keras; beliau menyetujui jumlah uang yang telah direncanakan sehingga dengan demikian segala kesulitan pastor Arts hilang dan ia merasa diri lega sekali. Sekolah dapat dibuka; beras akan diberi dan kami akan menerima f 400,-untuk Long Pahangai dan Batu Urah. Namun sekolah-sekolah akan memakan banyak biaya bagi kami karena perlengkapan alat sekolah. Saya telah sangat mendesak supaya jangan membuka asrama. Hal itu akan lebih murah. Pendapat ini diterima orang dan Frans akan melaksanakannya.

Jam 13.00 saya meneruskan perjalanan saya setelah makan bersama Pejabat dan dokter.
Kami mencapai Mamahaq Teboq. Jamban penuh dengan babi dan banyak orang menggoreng  lemak. Tidak ada Misa karena tidak ada orang katolik.

04 April 1936 Frans membacakan pengalaman-pengalamannya. Malam jam 02.00 kami sampai Laham.

Bendera terpasang. Gereja, yang kecil dan manis, menyolok mata dan lebih nampak dari pada bangunan-bangunan tua yang lain. Semua orang yang ada di kampung datang mengucap selamat datang. Suasana lain dari di Tering di mana tidak seorangpun dari masyarakat berkumpul. Sepanjang hari kami ada tamu. Raja menangis dan mulai langsung menceriterakan seribu satu hal.

Saya tinggal di kampung dari hari Minggu sampai hari Rabu. Umat berusaha kuat untuk menahan kami sampai hari Paskah, tetapi karena kami mau kembali pada waktunya dan karena air baik maka kami berangkat hari Rabu. Mereka barangkali akan berdoa supaya air naik, tetapi kami tidak tergoda. Malam hari seekor rusa menjerit dekat jendela. Maka pagi berikut orang tua-tua memberitahu kepada saya bahwa roh telah memperingati tuan supaya jangan berangkat. Tetapi roh-roh tidak dapat mengikat kami hanya hujan yang turun dengan lebat. Alasan baru untuk tidak berangkat? Tidak. Setelah hujan berhenti kami menyuruh menghidupkan motor tetapi motor mogok. Semua tanda jelek.

Namun sesudah satu jam kami berangkat. Tiga jam kemudian kami tiba di Mamahaq.
Sahabat saya – Bayau – menjemput saya dengan kegembiraan secara ke-gila-gilaan. Sejak satu tahun saya tidak bertemu. Ia kelihatan tua sekali. Ia menceriterakan kesusahannya selama tahun yang lewat: puteranya kehilangan satu jari karena senapan meledak; isterinya sakit, sedang mengandung.

Walaupun orang mau memaksa kami tinggal, kami terus ke Ujoh Bilang. Di tengah jalan kami melihat banyak babi yang berenang. Malam hari kami tiba, disambut oleh guru bersama anak-anaknya. Asrama baru rapih sekali dan di situ kami bermalam.

09 April 1936 Hari Kamis Putih. Hari hujan dan air naik. Kami menunggu. Saat hujan berhenti kami mau turun ke sungai. Dengan tangan satu saya memegang rol film yang mau saya kirim kepada tuan Nutzinger. Tangga yang turun ke jamban agak kurang baik tetapi anak-anak melewatinya dengan gampang. Saya merasa diri mampu juga tetapi saya jatuh; saya tenggelam hanya tangan yang pegang rol film tidak tenggelam. Lagi-lagi pertanda yang kurang baik.

Kami terus ke Long Bagun dan tiba jam 10.00. Kami bertemu dengan beberapa orang yang sudah selama 2 bulan menunggu air turun. Kasihan sekali!

Kami hendak mencari rotan di sini dan tambahan 3 orang kuli kemudian kami akan coba mudik. Kini kami masih duduk enak di serambi rumah Raja Bahau, yang menyerahkan 2 tikar bagi kami. Pastor Slot melayani orang-orang yang sakit. Orang-orang yang tidak sakit sedang berburu babi.

10 April 1936 Air naik sekali sampai masuk kolong kubu. Tidak mungkin kami berangkat. Penduduk kampung sedang menggoreng minyak babi: banyak kuali penuh. Kami mencari 3 kuli, kalau bisa dari suku Kenyah, tetapi seorang anak Raja telah meninggal sehingga diadakan pemali. Tidak seorangpun boleh keluar kampung. Namun bila air baik besok kami mau berangkat. Nanti malam saya akan membicarakan hal itu.

Anak yang meninggal telah dibaptis oleh seorang pria yang katolik. Orang meminta anak dikuburkan secara katolik. Terpaksa saya akan mencari akal supaya anak-anak mengikuti saya entah dengan saya mengatakan akan menghalangi para hantu atau semacam itu.
Menunggu adalah sesuatu yang membosankan apalagi kalau kita tidak tahu harus menunggu berapa lama. Setiap menit saya periksa keadaan air. Gelombang air dari riam pertama terasa sampai di sini. Saya timbul sakit kepala karena kebosanan.

11 April 1936 Usaha mencari kuli tidak berhasil. Seorang anak pria Kenyah yang semula bersedia ikut kemudian berkeberatan: tidak punya kait dll. Ia akan mencarikan penggantinya. Malam hari ia kembali membawaserta kuli lain tetapi lupa membawa barangnya. Sekali lagi ia balik kembali dan berjanji akan datang lagi besok pagi jam 05.00. Malam hari saya meminta kepada Raja seorang pembantu dan permohonan saya dikabulkan.

12 April 1936 Hari Raya Paskah. Walaupun mulanya air turun kemudian naik lagi. Sangat membosankan menunggu terus. Orang tidak bisa berbuat apa-apa. Orang kampung menggoreng minyak terus. Orang pulang membawa serta 10 ekor babi. Siang saya tidak dapat tidur karena anjing-anjing dan anak-anak yang berteriak lagi ayam-ayam jago yang membangunkan saya terlalu pagi hari. Tidak seorangpun dari penduduk kampung mengikuti Misa.

Guru dari Ujoh Bilang telah tiba. Misa saya persembahkan untuk meminta air turun.
Memang pada hari Paskah pertama air mulai turun tetapi jam 16.00 cuaca amat buruk. Apakah air akan naik lagi? Apakah Tuhan tidak peduli kami? Rupanya anak-anak acuh-tak-acuh.

Pastor Slot sibuk sekali dengan urusan obat, berbicara hanya tentang obat dan membutuhkan air hujan, yang tidak didapatinya.

13 April 1936 Pada akhirnya kami dapat berangkat seusai Misa. Betapa beratnya mudik seperti biasa: menarik-mendorong-mendayung. Walaupun belum menghadap riam kami sudah bisa merasakannya. Alam indah sekali. Kiri kanan kelihatan bukit-bukit. Matahari bersinar enak. Sore jam 14.00 kami sampai burit riam Haloq. Kami tidak berani  melewatinya, jadi kami menunggu hari besoknya. Mudah-mudahan Tuhan akan membantu kami.

14 April 1936 Riam yang pertama. Anak-anak harus bekerja keras sambil berteriak-teriak kegila-gilaan. Pada suatu ketika arus deras memukul perahu ke tengah sehingga tongkat yang berkait lepas dari tangan anak -anak kemudian perahu karam. Tetapi berkat manuver yang canggih perahu dapat diselamatkan. Tongkat-tongkat memang hilang dan kami merasa diri seperti pegawai kantor kehilangan penanya. Anak -anak dari perahu kedua membantu kami dengan segera. Tanpa kecelakaan kami melewati riam jam 11.00. Kemudian air agak tenang. Di beberapa tempat kami melihat babi berdiri di pinggir. Anak-anak mendekati tempat itu perlahan-Iahan dan menunggu saat babi berenang. U saha mereka berulang gagai. Dekat Lirung Pudung kami melihat sekelompok besar babi berenang. Anak -anak kegila-gilaan dan melupakan, keletihan mereka. Mereka berdayung sekuat tenaga. Babi berusaha berbalik. Seorang anak tidak dapat menahan diri. Ia melompat keluar dari perahu sambil mengejar babi. Tidak berhasil.

Seorang anak lain melompat sambil memegang kaitnya dan anak ketiga dengan memegang tombaknya dan semuanya berteriak-teriak. Anak -anak dari perahu kedua tidak mau ketinggalan. Mereka melompat keluar perahu berlima dan kejar babi; perahu mereka tinggalkan. Mereka berhasil menangkap seekor babi yang kurang gemuk. Mereka puas.

Tidak jauh kemudian kami bertemu dengan perahu dari ulu. Di dalamnya seseorang yang kami kenaI. Kami menitipkan pesan sama dia supaya mereka memberitahu kepada pastor Romeijn bahwa kami baik-baik.

Setelah perahu itu lewat seorang anak berkata kenapa tuan tidak suruh mereka memberitahu bahwa kami telah menangkap 2 ekor babi? Saya menjawab bahwa bila kami bertemu perahu lagi kami akan menitipkan paha babi.

Jam 16.30 kami sampai Lirung Pudung. Anak-anak bersemangat dan memuji hasi1 panen babi mereka. Seorang bapa tua, yang telah kami membawa serta dan yang sebenarnya selalu berdiam kini dengan api menceriterakan penangkapan babi tadi. Sangat mengherankan bahwa mereka kini bersemangat dan bebicara dengan api walaupun mereka capeh sekali.

Besok kami akan terus ke riam Udang. Meskipun air sedang naik saya mempunyai harapan baik karena hari terang.

15 April 1936 Syukurlah air kecil. Dekat riam Udang air mulai naik. Karena itu riam ini jelek sekali. Kami tidak berani melewatinya. Perahu ditarik ke atas batu. Suatu pekerjaan yang dahsyat. Batu Barang biasa saja. Pastor Slot dungu sekali: setiap kata harus kita ulang dua kali. Kami siap karena ia tidak mengenal bahasa.

16 April 1936 Kami terus ke Hit Aya. Di situ saya kehilangan pena saya, hadiah Willem waktu pentahbisan imam saya. Pena itu kemungkinan jatuh dari tas saya. Malam hari saya ketemu kembali. Selama perjalanan ini tidak ada peristiwa yang istimewa. Siang hari seorang kafir, Hanye namanya, bertanya:
“Apakah tuan tidak ingin menikah?” Ia tidak paham.
“Tuan seorang laki-laki yang lucu, mempunyai uang dll. Bila tuan mau saya bisa mengurus gadis. Di suku saya ada banyak gadis cantik, yang juga mau menikah, yang juga putih seperti tuan.”

Saya menjelaskan kepadanya bahwa sudah terlambat. Jawabannya:
“Baik kita melihat-lihat bila kita kembali; siapa tahu?” Selanjutnya kami melihat banyak babi tetapi tidak berhasil menangkapnya.

Jam 16.30 kami sampai Hit Aya. Kubu penuh dengan orang dari Long Tuyoh. Mereka sudah menunggu air turun sejak 08 Maret.

17 April 1936 Air sedang naik. Kami tidak dapat terus. Diambil keputusan untuk memikul barang. Di tengah jalan kami bertemu dengan seekor lipan. Seorang anak berkata bahwa kami tidak boleh meneruskan perjalanan karena itu. Namun kami terus. Alam indah. Pastor yang satu capek sekali. Kami meninjau Long Kawat. Alam amat mengesankan. Karena itu saya berkata kepada seorang kuli:
“Negara ini bagus sekali.” Tetapi ia menyahut:
“Jahat betul karena adanya riam.” Semuanya relatip.
Kami terus ke Napo Hidah. Perahu-perahu kami tinggalkan di Long Kawat.

18 April 1936 Anak-anak pergi kembali mengambil perahu. Sampai Batu Lavung mereka bingung. Riam tinggi sekali. Apakah perahu ditarik ke atas batu atau lewat air? Mayoritas memilih kemungkinan kedua. Perahu pertama berhasil baik ditarik karena haluannya tinggi. Mereka membelai perahu itu dan mengucap kata-kata manis kepadanya. Mereka berharap bahwa perahu kedua juga akan berhasil. Tetapi haluannya rendah. Setelah berunding panjang lebar mereka memberei isyarat untuk menarik. Perahu setengah terbalik, air masuk dan anak-anak tidak mampu lagi menahannya. Perahu hanyut jauh, dikejar anak-anak tetapi perahu hancur kena batu. Kejadian ini difilmkan. Mereka kembali pada saya dalam keadaan terkejut. Saya menghibur mereka dengan berkata asal jangan ada orang menjadi korban.

Bagaimana selanjutnya? Kami berada di tengah-tengah hutan, kami berjumlah 14 orang tanpa perahu. Saya menyuruh seorang anak naik ke darat di mana ada seorang bapa yang mempunyai perahu tetapi ia tidak bersedia menyerahkannya. Demikianlah sifat orang Dayak: mereka meminta segala-galanya dari tuan tetapi tidak mau memberi apa-apa kepadanya.

Apa yang harns kami buat? Akhirnya saya memutuskan bahwa 3 orang akan tetap di sini.
Separuh barang akan kami bawa, separuh kami tinggalkan. Kemudian saya akan mengirim perahu bersama 2 anak dari Long Tuyo. Mereka akan bertemu dengan kami di Long Pahangai. Keputusan ini diterima.

Mereka masih membicarakan kecelakaan itu tetapi saya menyuruh mereka berdiam saja.
Sudah jelas bahwa saya besok hari akan bertemu dengan bapa yang tua itu yang tidak bersedia memberikan perahunya dan saya akan memarahinya karena perbuatannya.

19 April 1936 Tiga perahu besar tiba pada pagi hari dari Long Tuyo untuk membantu tuan. Perahu itu boleh kami pakai sampai Long Pahangai.

Malam hari jam 04.00 kami sampai Long Tuyo tanpa kecelakaan. Separuh kampung Long Tuyo telah kebakaran. Para penduduk tidak mau kembali lagi ke kampung karena bersiulan salah seekor burung. Namun Kontrolir tidak menyetujui orang membangun kampung di lain tempat. Dalam hal ini orang tidak boleh menurut adat. Kenapa orang boleh menurut adat bila bertentangan dengan agama?

20 April 1936 Jam 12.00 kami tiba di Long Pahangai. Guru Ding bekerja dengan baik. Beliau sudah berbicara dengan orang tua-tua Long Isun dan semua anak bersekolah di sini. Jumlah anak sekolah sekitar 60 orang.

21 April 1936 Kami terus ke Data Lingai. lni adalah kampung pengemis yang terbesar!

22 April 1936 Kami terus ke Long Paka. Penduduk di sini takut kalau-kalau terjadi pengayauan. Kami tertahan karena air naik. Banyak agas.

24 April 1936 Kami sampai Tiong Ohang. Kami bertemu dengan guru Kaya, yang sedang mencari anak anak untuk bersekolah. Pertemuan ini merupakan Penyelenggaraan ilahi: kami dapat membicarakan tuan pastor mereka di Batu Urah. Setelah berunding dengan pastor kami ambil keputusan bahwa Tiong Ohang dan Long Kaai akan membongkar sekolahan kemudian akan mengantar sirap, tiang dll ke Batu Urah; kampung Batu Urah bersama Long Apari akan membangun rumah bagi pastor, tanpa biaya.

Di kampung ini ada isyu bahwa orang-orang telah mimpi bahwa roh-roh babi telah terganggu dan bahwa karena itu orang-orang akan kena banyak penyakit seusai babi berenang. Isyu lain mengatakan bahwa ibu induk babi telah berkata kepada dua orang Bahau: ‘jaga peto.”(?) Terdapat banyak orang sakit di kampung ini; luka-luka sampai tulang dan juga lepra.

Malam hari kami mengadakan sembahyang. Karena masyarakat takut akan pengayauan mereka datang ke kubu sambil memegang parang dan tombak.

25 April 1936 Kami terus ke Long Kaai. Air tinggi luar biasa. Kami hampir tidak dapat maju. Guru Kaya baru tiba jam 16.00 tetapi mudik terus. Rupanya ia mau tiba di Batu Urah duluan dari saya.

Dahulu kala pemah ada tentara di sini, hal mana nyata karena banyak penyakit merajalela seperti sifilis, frambusia dll.

sd-batu-urah.jpg

26 April 1936 Jam 11.00 kami tiba di Batu Urah, disambut oleh anak-anak sekolah. Asrama pria kelihatan bagus. Gedungnya berjendela meskipun Theeuwman tidak mengizinkan memasang jendela. Malam hari asrama diresmikan.

Pastor Arts telah melakukan suatu tindakan yang kurang bijaksana yaitu beliau telah berjanji kepada masyarakat bahwa mereka akan memperoleh padi dengan harga 55 sen sekaleng; dengan uang itu mereka dapat membayar pajak. Bila Pemerintah tidak membayar pajak itu maka kami akan membayamya. Saya dengar dari Kiai bahwa beliau hanya akan membayar 40 sen per kaleng sehingga kami harus menambah 15 sen per kaleng.

27 April 1936 Ke Danum Paroi. Alam indah sekali, makin ke ulu makin bagus. Kami tiba jam 16.00.

Kubu penuh dengan orang Cina. kami ingin menginap di rumah Raja tetapi ada pemali karena puteranya sakit. Namun kami boleh masuk asal kami punyai “besi gigi” (?) untuk anaknya.

Malam hari kami membicarakan pembagunan rumah pastor tetapi masyarakat terlalu sibuk. Pagi hari kami membicarakan hal itu lagi. Syukurlah mereka mengusulkan membangunkan rumah itu waktu bulan pumama. Mereka sendiri tidak boleh membangun rumah sendiri waktu bulan purnama. Jadi rumah pastor boleh mereka bangun.
Malam hari sempat mengunjungi seorang anak yang sakit.

Hari berikut pastor Slot marah sekali. Karena itu saya tidak membaptis anak itu; saya hanya memberi aspirin. Setelah diperiksa temyata penyakitnya adalah sifilis. Malam jam 04.00 kedengaran teriakan kuat: anak itu meninggal. Sayang. Apakah penyakitnya kena usus buntu yang pecah?

Keberangkatan kami agak lambat. Anak -anak berasal dari kampung ini dan karena itu mereka malas pergi cepat. Baru jam 11.00 kami berjalan lagi. Saya telah membeli sebuah perahu dengan harga f 13,00.

Jam 12.30 kami tiba di Tiong Ohang. Lebih dahulu kami telah berbicara dengan Sersan Erronius (?). Beliau memberitahu kami bahwa segala isyu tentang pengayauan adalah humbug (penipuan). Di sini juga orang memberitahukan kami apa sebabnya babi begitu lama berenang, sudah selama 6 bulan: Bayau Lia dari Mamahaq Teboq telah menangkap pemimpin segala babi, yang berkepala putih; babi yang lain sekarang sedang mencari pemimpin itu dan selama mereka tidak menemuinya mereka tetap berenang.

29 April 1936 kami tiba di Long Pahangai tetapi berangkat lagi hari ini. kami mengadakan pembicaraan dengan Kiai tentang anak-anak sekolah dan tentang padi untuk Batu Urah. Menurut Kiai pastor Arts telah mengatakan bahwa Misi akan menanggung padi itu. Saya mengusulkan supaya beliau akan membeli padi itu seharga beliau dan kami akan menambah sisanya.

30 April 1936 Jam 10.30 kami sampai riam Napo Ulu. Perahu dapat lewat. Jam 11.00 sampai Napo Hidah. Barang dibongkar dan perahu lewat riam namun kena batu, penuh air. Anak-anak dapat menyelamatkan diri tetapi perahu hanyut dengan cepat. Sesudah 15 menit semua anak sudah di darat kecuali satu. Mereka terdiam karena kaget. Saya sendiri juga gugup.

Bagaimana seterusnya? Tiba-tiba anak terakhir kembali, lari setengah mati dan beritahu bahwa perahu sangkut pada sebuah batu; boleh jadi perahu itu bisa diselamatkan. Semua anak lari ke ilir dan memang di situ perahu kelihatan. Dua anak terjun dan berenang ke seberang. Mereka mengantar perahu ke tepi. Ternyata haluan rusak. Saya menyuruh mereka makan dulu supaya mereka melupakan kekagetan mereka. Kemudian para anak Pnihing mengusulkan memperbaiki perahu dan kemudian pulang. Mereka malu karena perahu mereka rusak sampai dua kali. Saya setuju dan mereka memperbaiki perahu. Saya berharap bahwa tidak akan terjadi kecelakaan lagi dan kami bisa mencapai Long Bagun besok. Dengan demikian kami akan selamat.

01 – 02 Mei 1936 Tgl. 01 Mei kami terus ke Long Kawat. Orang Pnihing kembali ke kampung.

Tgl. 02 Mei kami terus ke Laham, di mana kapal menunggu. Naik perahu sudah kami jenuh.

Ttd. M. Gloudemans.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s