Pengalaman Para Misionaris Pertama

ZONDAGSBLAD 9, hal 606

Pater Liberatus OFMCap  menulis: kira-kira enam minggu kami di Laham ini dan mau menceritakan apa yang kami lihat dan dengar. Orang-orang Dayak di sini adalah manusia seperti kalian dan kami, kulitnya sedikit lebih coklat daripada kulit kami, badannya kuat, tetapi sangat miskin.  Rumahnya dibangun dengan beberapa potongan kayu, dengan papan2 besar dan kecil, yang diikat satu dengan yang lain dengan rotan.
Dalam rumah ada beberapa bidai dari anyaman rotan yang digunakan untuk tidur dan juga untuk makan bersama. Meja dan kursi tidak mereka perlukan. Untuk makan mereka selalu duduk di lantai.

Alat untuk memasak sangat sederhana. Makanan mereka adalah nasi ditambah dengan sedikit sayuran yang diambil dari hutan. Mereka makan biasanya dengan menggunakan tangan. Untuk air minum mereka ambil dari sungai.

Pakaian mereka sangat sedehana. Untuk  laki-laki biasanya memakai sehelai kain pinggang dan mandau pada ikat-pinggang. Sedangkan para wanita memakai kain yang agak panjang ke bawah. Mereka memakai perhiasan dari besi dalam ujung telinga, sehingga lama-kelamaan telinga mereka menjadi panjang sampai bahu. Dua kali sehari mereka mandi di sungai, tetapi biasanya ada binatang-binatang kecil yang menyusuo ke dalam rambut mereka. Di sekitar rumah ada anjing-anjing dan beberapa ekor ayam. Ayam itu digunakan khusus untuk bertelur dengan harapan akan menetaskan ayam jantan, yang akan digunakan untuk sabung ayam. Sebuah permainan yang dapat dikatakan “kejam”.

Mereka hidup bersama-sama sebagai saudara.

Paham Allah

Mereka menghormati Allah dan menyebut-Nya dengan nama Teman Tinggi, yang kadang-kadang mereka beri makanan, yang disediakan di atas potongan daun pohon. Di samping itu mereka percaya juga akan roh-roh yang mau mengganggu kehidupan mereka.

Mereka memahami setiap manusia sebagai yang memilik dua jiwa, yang satu dapat mengembara kemana-mana seperti dalam mimpi, yang lain tetap ada dalam badan manusia.

Bahasa

Bahasa mereka sangat sulit. Sehingga untuk mempelajarinya; tiap-tiap kata harus kami dengar dari mulut mereka; kami mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kemudian kami mengulangi dan mencoba menuliskannya pada kertas. Mereka tidak memiliki kata-kata khusus untuk barang yang tidak mereka kenal, seperti meja, kursi, lemari dll. Ada kesulitan yang lain lagi adalah di kampung Laham sendiri ada tiga macam bahasa: satu digunakan oleh para wanita dan dua bahasa lainnya dipakai oleh kaum laki-laki.

Kami bertiga hidup di tengah bangsa dan situasi yang paling primitif. Tidak ada jalan, tidak ada jalan tikus yang menghubungkan kami dengan kampung-kampung yang lain. Hanya perahu yang dapat dipakai untuk berkomunikasi dengan daerah dan manusia lain. Kalian tidak dapat membayangkan bagaimana daerah ini, bagaimana manusia ini dan keterbelakangan mereka. Benar bahwa di sini tidak ada apa-apa dan tidak ada kemungkinan untuk memperoleh sesuatu dari daerah lain kecuali dengan memakai perahu. Dalam hal dagang kami bergantung dari orang-orang Islam yang berasal dari Long Iram yang mau menghantar macam-macam barang ke Laham, seperti tembakau, garam dan barang lain, untuk menggantikannya dengan beras dari orang-orang Dayak. Dalam hal dagang mereka tidak dapat dipercaya.

Kami sekarang hidup di dalam bagian tengah Borneo. Kami menyerahkan diri kami kepada penyelenggaraan Ilahi.

Seandainya salah seorang berminat untuk mengunjungi kami, kami haturkan: selamat datang. Pakailah kapal laut dari Rotterdam ke Batavia, dari situ dengan kapal antarpulau ke Samarinda, ada kendaraan kecil untuk sungai sampai ke Long Iram, dan akhirnya tamu dapat memakai perahu untuk berkunjung ke kampung kami!

Terimalah salam kami, seribukali salam!

Surat Untuk Provinsial

Kemudian Liberatus menulis surat kepada Provinsial di Belanda:

Kami sangat ingin tahu siapa-siapa saja nama para misionaris yang akan diutus ke Borneo, karena salah seorang dari mereka bersama kami akan mulai berkary di kampung Mamehak. Hendaknya mereka membawa macam-macam alat, sebab di Laham tidak ada apa-apa.

Awal bulan Januari 1908 kami mulai membangun rumah. Segala tongkat sudah ditancapkan, sampai 2 meter di atas tanah. Camillus dan saya harus mendirikan segala-galanya, sebab pekerja-pekerja tidak ada. Kami sudah lelah. Kalau segala kayu diangkut pada waktunya, maka rumah kami selesai dalam bulan Juli. Kemudian kami akan mendirikan gedung sekolah. Setelah selesai membangun sekolah, kami hendak membangun gedung gereja. Seandainya semua orang Dayak, setelah bertobat, memegang kuat perintah-perintah Allah, seperti mereka taat pada adat mereka, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang kristen yang sempurna dan memperoleh tempat di surga lebih tinggu daripada kami!

Pater Gloudemans MSF menulis:

Semua warga kota yang terhormat (‘s-Hertogenbosch)

Hari ini adalah tanggal 03 Juli 1929. Tepat dua bulan yang lalu saya tiba di Laham dan sejak tiba di Batavia (sekarang Jakarta) saya belum pernah mengirim berita. Saya yakin bahwa banyak kenalan sudah mengira dan mungkin sudah mengucapkan: Pastor itu adalah seorang yang “aneh”: ia telah berjanji bahwa ia pasti akan menulis surat dan sekarang tepat lima bulan kemudian kami hanya satu kali menerima berita.

Anda kiranya selalu memaafkan seorang missionaris muda: tugasnya tidak hanya menulis surat saja. Di samping itu ia belum tahu banyak tentang penduduk pribumi dengan adatnya dalam waktu dua bulan sehingga tidak mempunyai banyak bahan  yang dapat dilaporkan. Tetapi hari-hari terakhir ini saya telah mengalami sesuatu yang  dapat saya tuliskan.

Pada tgl. 30 Juni yang lalu. Pastor Kepala sedang mengikuti Pater Visitator pada perjalanan dinas selama enam minggu ke wilayah utara Borneo (Kalimantan) sehingga saya – pastor muda – tinggal seorang diri. Barangkali Anda bisa membayangkan keadaan ini:  meskipun saya belum menguasai bahasa Dayak tetapi orang-orang Dayak terus mendatangi saya dengan pertanyaan-pertanyaan. Syukurlah bruder Plechelmus Beemink ada di sini. Bruder itu sudah berkarya di Laham selama satu tahun dan sudah mampu berbahasa Melayu. Bila orang datang bertanya sesuatu kepada saya, saya mengirim orang itu kepada bruder andaikata saya tidak mengertinya.

Hari Minggu 30 Juni saya didekati seorang Dayak dan meminta supaya tuan bersedia membaptis anaknya pada hari ini. Saya berpikir: membaptis tidak sulit tetapi dalam upacara itu perlu disampaikan beberapa pertanyaan kepada ibu bapa permandian dalam bahasa Melayu dan celaka lagi Pastor Kepala telah membawa-serta buku upacara. Apa yang harus saya buat? Syukurlah saya terbantu karena guru tahu bahasa Malayu.
Tetapi kemalangan pertama: kakek nenek anak pria itu tidak mau bahwa upacara pembaptisan dilakukan di gereja. Barangkali mereka takut akan sihir. Jadi saya pergi ke kampung.

Waktu persiapan sedang berlangsung orang tiba-tiba memanggil saya:
“Tuan, ada seorang pria yang tua hampir  mati. Harap tuan cepat datang.” (Orang tua itu telah dibaptis dalam sakratulmaut lima minggu yang lalu.) Oh Tuhan, pengetahuan bahasa Malayu saya masih begitu sedikit!

Saya berpikir Tuhan akan menolong, jadi saya pergi saja dengan segera ke kampung.

Dalam sebuah pondok yang kotor dan di atas tikar yang lebih kotor lagi terbaring orang tua itu: orang yang terkotor yang pernah saya lihat. Ia kurus kering, matanya mau keluar, tangan dan kaki putih bagaikan salju dan muka yang mengerikan. Isterinya sedang berlutut di sampingnya dan meratap kuat bersama beberapa ibu lain. Banyak orang laki-laki sedang duduk mengelilingi si sakit, sambil merokok; anak-anak bermain-main dan ayam serta binatang lain sedang keluar masuk rumah.

laham-lama.jpg

Di tengah-tengah keributan itu saya menerimakan Sakramen Perminyakan dengan sebaik mungkin. Sementara itu bruder menerangi tempat itu dengan sebuah lilin yang bernyala karena di dalam pondok begitu gelap sehingga orang tidak bisa melihat apa-apa walaupun sudah pukul sepuluh dan matahari sudah tinggi. Satu-satunya hawa dan cahaya masuk lewat jendela kecil, terpasang di atas atap.

Anda dapat mengerti bahwa si sakit itu berbaring dalam keadaan kurang segar. Namun ia masih sadar dan melihat dengan mata besar apa yang terjadi. Saya menduga bahwa ia tidak mengerti banyak dari upacara, tetapi Tuhan kiranya akan mempertimbangkan kehendaknya yang baik.

Sementara itu orang tua itu belum meninggal dan karena itu saya berpendapat bahwa saya boleh juga menerimakannya Sakramen Krisma. Kami sudah menerima izin dari monsinyur untuk menerimakan Sakramen Krisma dalam keadaan darurat bila tidak ada uskup. lni adalah kesempatan yang paling baik. Apalagi Sakramen Krisma adalah juga Sakramen, diadakan oleh Kristus untuk memberikan kekuatan kepada orang yang membutuhkan kekuatan. Apakah ada orang lain yang lebih membutuhkan kekuatan dari orang sakit ini dalam lingkungan kafir?

Menerimakan Sakramen ini sebenarnya lebih mudah dipikirkan dari pada dilaksanakan karena Sakramen ini adalah tugas utama dari uskup dan sebab itu upacara penerimaan tidak dipelajari dalam pendidikan. Pertimbangan saya: bila keadaan mendesak masih ada waktu untuk mempelajarinya dan barangkali keadaan itu tidak pernah akan terjadi. Tetapi sekarang ini hal itu terjadi secara mendadak. Tenang-tenang saja, saya pikir dan ternyata upacara dapat dilaksanakan tanpa banyak kesulitan.

Si orang laki-Iaki masih belum meninggal tetapi saat terakhir semakin mendekat. Saya bersama enam anak pria yang katolik yang hadir telah mendoakan enam kali Bapa kami dan enam kali Salam Maria sambil saya memberikan Absolusi bersyarat dan mempersembahkan jiwanya kepada Kristus.

Sementara itu ratapan, teriakan dan pengisapan rokok tak kunjung akhir. Anda bisa mengerti bahwa bau di pondok itu kurang segar dan terus terang saya sendiri merasa diri kurang enak. Saya senang ketika bruder berkata:

“Pastor, baiklah kami pergi membaptis anak kecil. Di sini kami tidak dapat berbuat banyak lagi.” Tak lupa kami mengatakan kepada para hadirin bahwa mereka boleh memanggil kami bila saat kematian tiba.

Ibu yang bahagia sudah menunggu kami sambil memangku anaknya. (Anda harus mengetahui bahwa menurut adat mereka yang ketat anak -anak baru dibaptis enam hari setelah lahir). Sedang ayahnya duduk dengan tenang sambil merokok, beberapa anak sekolah dan penduduk kampung juga hadir supaya upacara lebih meriah.

Sementara itu bruder  pergi mengambil air baptis (hal mana yang kami lupakan sama sekali karena kesibukan), saya bercakap-cakap dengan para hadirin sejauh saya mampu. Saya memilih ibu bapa permandian (harus saya lakukan sendiri ). Seorang putera Raja akan bertindak sebagai bapa permandian dan seorang gadis sebagai ibu permandian.

Upacara baru dimulai ketika bruder sudah  kembali membawa air baptis.

Saya mengenakan superpli dan stola. Saya menyerahkan anak kecil kepada ibu permandian dan dengan demikian untuk pertama kali dalam hidup saya menjadikan seorang anak “setan” menjadi seorang anak Allah!

Rupanya bagi orang-orang Dayak, semua upacara harus disertai banyak keributan sebab seperti dalam upacara ini orang tetap berbicara, tertawa dan membahas bersama apa yang dilakukan oleh tuan. Saya berusaha tetap tenang ditengah-tengah keributan dan berdoa pelan-pelan seakan-akan saya berdiri dalam sebuah gereja kecil, penuh khidmat di Belanda tetapi dengan perbedaan: di tanah air saya alamnya terang pada siang hari sedangkan di sini perlu dipasang lilin untuk melihat. Sebaiknya Panitia Urusan Perumahan Belanda bisa datang melihat keadaan di sini: pastilah para pegawainya akan sibuk sekali.

Semua pondok kelihatan kotor sekali dan tidak pantas didiami orang. Seluruhnya kotor, jijik, sempit, berbau dan gelap. Maklumlah, ruang sebesar enam meter persegi didiami oleh keluarga besar: kakek, nenek, ibu, bapa, anak-anak dan cucu-cucu kadang-kadang ditambah kemenakan-kemenakan pria dan wanita. Dalam pondok itulah orang tidur, masak, makan dan yang lainnya dapat Anda pikirkan sendiri. Anda dapat membayangkan bahwa keadaan ini kurang mendukung kesusilaan. Ini seperti di dalam kurungan saja sebab saya tidak dapat membahas lebih jauh lagi mengenai keadaan perumahan di Borneo.

Setelah upacara pembaptisan bruder berkata kepada saya:
“Pastor yang baik kami pulang cepat dan makan roti supaya anda tidak pingsan kelaparan.” lni keterlaluan walaupun saya ada nafsu makan sedikit.
Baru saja kami duduk disekeliling meja makan kami dipanggil lagi:

“Tuan, Bit akan segera meninggal, datanglah cepat.” Kami meletakkan pisau dan garpu dan pergi ke kampung lagi. Ya kematian sudah dekat.

Badannya sudah dingin. Terakhir kalinya saya memberikan Absolusi bersyarat dan mulai mengucap doa-doa aja Proficiscere, anima christiana, berangkatlah jiwa Katolik.

Sementara itu saya berpikir karena jasa apa ia memperoleh rahmat pertobatan pada akhir hidupnya sedangkan sepanjang hidupnya ia telah hidup dalam kekafiran dahsyat: Jalan-jalan Tuhan tidak dapat dimengerti. Boleh jadi Allah telah memberikan rahmat itu dengan perantaraan banyak jiwa saleh di Belanda, yang setiap hari berdoa demi pertobatan kaum kafir.

Waktu kami bersama para hadirin masih berdoa Bit menyerahkan jiwanya, yang menurut harapan kami sudah bersih, kepada Allah.

pastoran-laham.jpg

Selama hidupnya di dunia ia sudah memperoleh apa yang ia kehendaki. Kami berusaha supaya ia dikuburkan secara Katolik tapi hal ini sulit dilaksanakan. Pekuburan kami jauh terletak di dalam hutan. Di samping pekuburan itu ada sebuah sungai kecil yang mengalir ke belakang kampung. Penduduk kampung  mengira bahwa bila orang itu dikuburkan di pekuburan, rohnya akan masuk sungai itu dan hanyut ke kampung di mana ia akan mengganggu para penduduk desa tersebut. Hal ini merupakan kepercayaan mereka yang turun menurun. Apa yang harus saya lakukan? Terpaksa penguburan dilaksanakan di pekuburan Bahau saja. Mereka harus memberitahukan kami agar mempersiapkan makam dan memberkatinya lebih dahulu. Mereka berjanji akan menghubungi kami tetapi maklumlah mereka adalah orang Dayak artinya: mereka mengiyakan tetapi belum tentu mereka melakukan  Maka hari berikut mereka melewati pastoran (naik perahu) dan makam belum diberkati. Apa boleh buat. Pokoknya hal-hal yang terpenting sudah saya lakukan. Dalam kurban Misa yang kami persembahkan hari berikutnya hanya satu orang katolik hadir:  sebagai bukti bahwa segala ratapan dan tangisan mereka hanya pura-pura. Iman belum mendalam tetapi kami berharap bahwa Allah akan puas dengan kehendak baik orang Dayak. Memang beriman bagi mereka masih sukar karena baru saja meninggalkan kepercayaannya. Ketika mereka masih menganut kepercayaan yang lama, mereka merasa lebih bebas untuk melakukan segala sesuatu. Namun setelah masuk katolik: menjadi berat bagi mereka karena terikat pada aturan Gereja. Pada umur 12 atau 18 tahun mereka bersekolah, mempelajari katekismus selama empat tahun, selanjutnya mereka dibaptis dan sesudah itu mereka kembali ke kampung halaman mereka dimana kehidupan masih sangat dipengaruhi kepercayaan lama. Sering mereka menjadi satu-satunya orang katolik dikampungnya.

Oleh karena itu mereka merindukan kunjungan para pastor secara rutin. Namun pada kenyataannya para pastor hanya bisa mengunjungi mereka dua kali setahun.  Andaikata seorang pemuda Belanda, yang dari kecil dibesarkan dalam agama katolik: dan bersekolah katolik:, dipindahkan ke dunia pengayauan apakah ia akan setia akan agamanya? Dalam negeri sendiri hal itu sudah cukup sulit!

Oh, warga sekota, kalau saya boleh meminta sesuatu: berdoalah banyak dan berapi-api untuk pertobatan suku Dayak. Bangsa itu sama sekali tidak jelek tetapi lemah dan malas. Kekurangan mereka yang terbesar ialah besarnya angka perceraian

Kini saya mengakhiri surat ini. Lain kali saya akan menulis tentang suku Dayak dan adat mereka, untuk hari ini cukuplah. Di akhir surat ini, saya meminta kepada semua warga ‘s-Hertogenbosch berdoa khusus pada patung “Zoete Moeder Van den Bosch” (Sa. Maria) untuk saya yang masih  rindu akan kampung halaman dan Bunda Maria walaupun berada di pedalaman Borneo, 600 km jauhnya.-

M. Gloudemans

Pastoran Katolik:Laham (Borneo Timur).

laham-1924.jpg

Iklan

6 responses to “Pengalaman Para Misionaris Pertama

  1. hai misionaris jangan kau dakwah golongan /seagama sama kami mentang2 kau banyak uang kau rayu mereka menjadi murtad kau memang kontol tak barutak kau la kapir alias bbn/bahan bakar neraka laila ha illowloh tiada tuhan selain allah yang yang kau sembah itu syetan bodoh alias botol /bodoh tolol allah itu tidak berbentuk tidak berupa tidak dilahir kan tidak diberanakkan bodoh..!!

  2. sadar la kalian yesus itu bukan tuhan diaja manusia yang patut disembah itu allah & muhammad … jadi orang kok bodoh kecil ga mau mati besar bodoh alias goblok/longor

  3. payah orang longor ga ngerti masuk kiri keluar kanan

  4. tapi ialah kau gila alias o on kerja kau menjerumus kan umat muslim gaya kau bermimpi menemui muhammad banyak gaya kau kafir alias penghuni neraka……… bujang ama kau bangsat anjing…!!

  5. alahalah bunda maria bujang ama kau lonte

  6. Carolina Anchi Pamela

    Terpujilah Tuhan untuk selamanya sebab apa yg sudah di rintis semenjak 100 Tahun yg lalu kini telah beabuah menjadi hal yg sangat luar bisa.
    Salam Ku Puteri Laham
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s