Laporan Perjalanan Pertama Sesudah Perang

Mgr. J.Kusters MSF

24.03.1946 s.d. 06.08.1946

Bulan September 1945 para pastor kami, yang diinternir di Kalimantan, menjadi bebas dan beberapa di antara mereka ingin dengan segera kembali ke Stasi mereka.

Karena itu pastor Jansen berangkat ke Samarinda tgl. 01 November, pastor Schoots bersama pastor Leeferink ke Tarakan, pastor Hagens bersama pastor Slot ke Balikpapan, pastor Ogier bersama pastor van der Salm ke pedalaman.

Karena keadaan tidak mengizinkan pastor Ogier dan van der Salm tidak bisa meninggalkan Samarinda dengan segera. Karena situasi di pedalaman belum aman. Sementara itu pastor Ogier jatuh sakit dan harus ke rumah sakit di Balikpapan. Sebagai gantinya adalah pastor Arts dan Gielens yang berangkat ke pedalaman sekaligus merekalah pastor yang pertama yang pergi ke pedalaman.

arts-gielens-leeferink.jpg

BANJARMASIN

Di Banjarmasin saya sudah mendengar ceritera-ceritera yang aneh tentang pedalaman seperti; perubahan besar di bidang agama. Tidak lama setelah pastor Arts tiba di tering menulis surat kepada saya dan ia juga menceriterakan bahwa terjadi banyak perubahan di sana. Umat menyambut kedatangan Para pastor dengan antusiasme dan kegirangan luar biasa. Baru pada saat itu orang Dayak merasa betul-betul bebas. Kepulangan gembala mereka adalah bukti kebebasan. Di Tering para pastor  sangat sibuk dan harus memperbaiki beberapa hal di bidang rohani.

Setelah berada di Tering selama beberapa hari dan menyelesaikan tugas pokok mereka mudik; kampung demi kampung mereka kunjungi dan akhirnya mereka tiba di Laham. Di Laham kegembiraan masyarakat lebih besar lagi ketika mereka melihat pastor kembali. Pastor sendiri merasa ebih bersukacita karena melihat gereja masih utuh dan juga pastoran tidak dirampas seperti di Tering. Di Tering gereja dirampas dan banyak barang Misi dirampok. Tetapi di Laham hanya anggur misa dan lilin yang hilang, dibawa oleh Kiay Long Iram untuk dipakai sendiri. Ketika ada orang bermaksud membongkar gereja  masyarakat Laham tidak setuju. Mereka menegaskan bahwa gereja adalah milik umat katolik, bukan milik orang Belanda.

Setelah tinggal beberapa hari di Laham, mereka mudik lagi sampai kampung Long Bangun, kampung terakhir sebelum riam. Di sini mereka mendengar berita-berita dahsyat tentang keadaan di ulu riam. Konon terjadi percekcokan agama dan keadaan serba kacau.

Berita ini menjadi alasan bagi pastor Arts – tidak mau  mudik sendiri ke ulu dan menyerahkan kunjungan di wilayah ilir riam kepada pastor Gielens. Berita itu memang ada benarnya tetapi tidak semuanya. Memang telah terjadi perbedaan pendapat oleh seorang nabi palsu yang berusaha mempropagandakan gagasan-gagasannya yang keliru dan akhirnya karena itu dipenjarakan. la dituduh melakukan penipuan dengan menyebarkan agama baru.

Ketika pastor Arts tiba di kampung, umat sangat gembira karena mereka menyadari bahwa harus ada pemecahan atas persoalan di atas. Faktanya pastor Arts membawa pemecahan di mana banyak orang Dayak telah meninggalkan adat yang lama dan mulai menerima agama yang baru. Namun hal ini masih menimbulkan perbedaan pendapat, di mana Kiai Long Pahangai melarang orang Dayak untuk menerima agama baru itu dan kembali mentaati adat lama. Melihat situasi yang demikian, pastor Arts sangat berjasa di dalam menenangkan suasana masyarakat dan memberikan solusi.

Selama 50 hari pastor Arts mengelilingi semua kampung kemudian ia kembali ke wilayah ilir riam. Sementara itu tentara telah mudik untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya.
Kedatangan tentara itu justru mengakibatkan kerisauan karena orang-orang jahat telah menyiarkan berita bahwa tentara itu mudik untuk membunuh semua orang kristen. Bukti yang terbaik yang dapat pastor Arts berikan untuk melawan berita ini ialah bahwa ia telah bertemu dengan tentara yang tidak berbuat apa-apa terhadap dia.

Peristiwa yang mirip juga telah terjadi di Flores. Saya baca dalam laporan Mgr.Leven: setelah tentara datang dan orang melihat bahwa mereka bertindak baik, maka ketakutan mereka hilang.

Ketakutan ini adalah ketakutan terakhir yang dialami masyarakat.

BALIKPAPAN

Keadaan kota Balikpapan sangat menyedihkan: bagaikan medan perang. Seperti kita ketahui pada tgl. 20 Pebruari 1942 tiga pastor kami dibunuh yaitu pastor Janmaat, Van der Hoogte dan F. van der Linden. Situasi sangat mencekam dan menakutkan, bahkan gereja dan pastoran yang kami bangun dengan susah payah dirusak oleh para tentara. Gereja dan pastoran rusak sama sekali.Kapela kami – sebuah bangsal B.P.M. (Bataafsche Petroleum Maatschappij, kemudian Pertamina) juga hilang sama sekali dengan seluruh isinya. Selain itu  sekolah Belanda-Cina, yang kami sewa dulu, dengan seluruh isinya rusak total.

Sepengetahuan saya hanya sebuah piala dan salib yang dikembalikan dan disimpan oleh seorang umat.

Saat itu ada tiga pastor yang berkarya dan tinggal di Balikpapan: pastor Groen,  selaku pastor kepala. Ia mempunyai gereja kecil yang bagus, namun dipakai juga  oleh umat Protestan. Sementara pastor Romeijn, secara khusus melayani kebutuhan rohani para tentara dengan mempersembahkan misa harian di dalam kemah dekat rumah sakit militer dan dan misa hari Minggu II di dalam Manilla-club.

Pastor Slot sendiri berkarya dan tinggal di bagian ujung Balikpapan yang lain. Di situ ia mempunyai gereja kecil dengan atap dari daun.

Meskipun para pastor mengalami kesulitan untuk mendata dan mencatat jumlah umat secara tepat, tapi dapat diperkirakan jumlah umat Katolik waktu itu sekitar 2.000 jiwa.
Dalam perkembangan selanjutnya, Balikpapan direncanakan untuk ditata untuk menjadi salah satu kota penting di masa depan. Karena itu, kami juga merencanakan untuk membangun dua buah gereja meskipun ada hambatan dari masyarakat setempat.

Aktivitas belajar mengajar di sekolah Katolik Belanda-Cina juga secara perlahan-lahan mulai berjalan kendati tidak seperti  yang dulu.

SAMARINDA

Kota ini kelihatan agak bagus. Memang sebagian  pertokoan dibakar oleh tentara Jepang. Tetapi bila dibandingkan dengan Balikpapan keadaan jauh lebih baik. Pastoran dan gereja kecil masih ada. Meski sebagian isinya dicuri, tetapi di kemudian hari beberapa milik pastor Jansen dikembalikan seperti: sibori dan piala serta buku-buku 300 buku dikembalikan. Meski semua pakaian Misa hilang. Gereja kecil telah direnovasi dan segala-galanya berjalan lagi seperti dulu. Secara teratur pastor Jansen berturne ke wilayah B.P.M. di Sanga-Sanga dan Anggana dan juga ke Loa Kulu. Samarinda kini sudah menjadi kota perdagangan seperti dulu. Semua hasil bumi dari pedalaman mengalir ke Samarinda untuk kemudian dikapalkan lagi, hasil hutan  seperti rotan, damar,dan hasil laut misalnya ikan asin dll. diekspor.

Pada tgi. 29 Maret saya berkesempatan mudik ke perkampungan orang Dayak. Saya tidak ingin mengabaikan kesempatan ini walaupun kapal tidak terlalu baik. Saya naik sebuah kapal dagang orang Cina. Perjalanan kurang menyenangkan. Di mana mana kapal singgah dan saya dapat menikmati bermacam-macam bau. Perjalanan sampai dekat Tering lama sekali.

TERING

Kedatangan saya ke Tering merupakan pengalaman unik, karena para kaum muda di sana bisa melihat dari dekat sebuah kapal mudik. Mereka berdiri berbaris menonton dari pinggir sungai menyambut kedatangan saya sampai di pastoran.
Syukurlah bahwa saat itu p. Gielens ada di rumah, baru pulang dari tume. Kedatangan saya disambut oleh semua penghuni pastoran. Mereka tidak menyangka bahwa kedatangan saya begitu cepat, semuanya berlutut dan selanjutnya saya menerimakan berkat perdana kepada orang-orang Dayak. Sejenak kemudian saya duduk di pastoran, rnulai bercakap-cakap. Banyak hal telah berubah; Tering, Stasi Misi yang makrnur, kini tersernbunyi di belakang pohon-pohon besar dan rumput tinggi. Gereja kelihatan seperti tidak pernah dikunjungi. Meski banyak peralatan dalam gereja dicuri orang seperti: Altar, tabernakel, mimbar tempat berkhotbah, jalan salib dirusak dan hilang juga. Tempat berkhotbah kemudian dikembalikan dalam keadaan rusak. Sakristi kosong sama sekali. Bangku-bangku di gereja masih ada. Semua pintu pastoran diangkat dari engsel dan dijadikan peti.

Sesudah pertempuran di Balikpapan kl. 300 tentara Jepang mudik ke Tering. Mereka tinggal di Tering, dan merusak atau mengambil apa yang ada.  Syukurlah pendudukan ini tidak berlangsung lama. Orang Jepang memang mempunyai rencana jelek terhadap penduduk setempat. Rumah sakit bengkel kayu, rumah-rumah pembantu, kamar-kamar asrama semua kehilangan lantai dan dindingnya, teramsuk semua talang, serta sernua alat pertukangan dalam bengkel dan pastoran lenyap.

Kedatangan tentara jepang di tering ternyata membuat masyarakat mampu berubah dan berpikir lebih baik. Banyak yang kemudian memberi diri di baptis, membereskan  perkawinan mereka, dan bertobat seperti mengembalikan sebagian barang-barang yang mereka curi.

Saya tinggal beberapa hari di Tering, kemudian naik perahu mudik ke Laham.

LAHAM

Kedatangan saya di Laham ternyata sudah diketahui oleh umat. Sehingga setibanya saya di Laham umat langsung berkumpul di pastoran.  Malam itu juga saya memberi kesempatan bagi umat untuk mengaku dosa, ternyata mereka sungguh memanfaatkan kesempatan tersebut. Pada Hari Raya Paskah yang pertama saya mempersembahkan Misa dengan penuh rasa kepada Allah.

Saya sendiri yang melayani umat di sini karena p. Arts yang semula sudah berjanji akan merayakan paskah bersama umat di Laham, ternyata beliau datang terlambat

laham.jpg

One response to “Laporan Perjalanan Pertama Sesudah Perang

  1. wah….

    serem bngt…

    smpe2 tmn w mw mntah…

    oya…

    ko g da video na ci..??

    taro donkk…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s