Laham – “Betlehem” Kalimantan Timur

(Fr. Daniel R MSF)

“Engkau Betlehem, sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara kota-kota utama, karena dari engkau akan datang seorang pemimpin”.
 (Mat 2:6).

laham-lama-2.jpg 

Tahun 2007 ini merupakan tahun yang penuh syukur bagi seluruh umat Katolik di wilayah Kalimantan, dan khususnya umat di Keuskupan Agung Samarinda. Hal yang patut disyukuri adalah mengenang seratus tahun karya misi di bumi Kalimantan Timur. Dalam suasana syukur itu keuskupan Agung Samarinda khususnya coba menatap masa depannya.  Ada beragam tantangan besar yang dihadapi keuskupan ini seperti: masalah ekologi  (perusakan hutan), minimnya tenaga imam dan religius/ rohaniwan-rohaniwati serta  pelestarian budaya lokal. Tetapi kalau benar yang harus dihadapi oleh keuskupan hanya masalah dan masalah bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan yang mesti dialami oleh seluruh umat di keuskupan ini.

Namun toh perlu diakui secara jujur bahwa memang demikianlah tantangan Gereja Lokal itu sangat rumit, maka momen peringatan seratus abad karya misi di bumi Kalimantan Timur ini menjadi saat yang tepat untuk tidak hanya melihat masalah dari satu sudut pandang saja, melainkan perlu pula dilihat secara menyeluruh di mana disetiap masalah itu kiranya selalu ada peluang dan kesempatan, ada potensi untuk sungguh bisa mengembangkan keuskupan Agung Samarinda menjadi Gereja Lokal yang mandiri dalam soal dana dan tenaga imam/ tenaga pastoral.

Dari sebab itu panitia coba merumuskan suatu tema provokativ dan sangat relevan menjadi permenungan bersama sekuruh umat: “Bertolaklah ke tempat yang dalam” (Luk 5:4), sub tema: “Dengan semangat Perayaan seratus tahun Gereja Katolik di Keusukupan Agung Samarinda, kita melanjutkan misi Gereja Yesus Kristus menuju Keuskupan Agung Samarinda menjadi Gereja Lokal yang mandiri di bidang tenaga dan dana”. Kita yang membaca rumusan tema tersebut lalu bertanya: “ Bagaimana atau usaha apa yang perlu ditempuh oleh Keuskupan Agung Samarinda ini agar sungguh menjadi Gereja Lokal yang mandiri?” sehingga tema tersebut bukan sekadar rumusan teologis saja.

Mengenang para perintis Gereja perdana di Bumi Kalimantan

Berawal dari tahun 1905 karya misi Gereja Katolik di Kalimantan dirintis. Karya misi ini awalnya dikelola oleh para imam dari Ordo Kapusin. Mereka merintis karya misi pertama-tama di Kalimantan Barat tepatnya di Singkawang dan Sejiram, karena di sana telah ada hubungan tetap dengan Jakarta dalam hal pemerintahan dan karya misi.

Sementara itu sejarah Gereja Katolik di Kalimantan Timur mulai tahun 1907. Pada tanggal 21 Maret 1907 dua pastor (Libertus dan Camilus) dan satu bruder Kapusin (Br. Ivo) diutus dari Pontianak untuk membuka karya misi di Kalimantan Timur. Pada tanggal 24 April 1907 mereka tiba di Samarinda dan melanjutkan perjalanan menuju ke Long Iram dan sementara waktu menetap di sana. Tetapi karena beberapa alasan terutama mereka sadar bahwa berkarya di hulu riam akan gagal bila tidak didukung pastoran di hilir. Dari sebab itu rencana untuk menetap di Mamahak Besar dibatalkan karena masyarakat setempat bermaksud pindah ke tempat lain yang belum jelas lokasinya. Maka pada tanggal 26 Juni ketiga misionaris Kapusin itu berangkat menuju Laham sebuah desa kecil yang terletak di tepi sungai Mahakam, 90 km di hulu Long Iram atau 500 km di hulu kota Samarinda. Seiring dengan perjalanan waktu dan kian terasa beratnya medan karya serta tantangan lain yang mesti dihadapi oleh para Kapusin; seperti hubungan Laham dengan Pontianak sangat sulit, tenaga Kapusin pun tidak cukup memadai untuk melayani umat baik di Kalbar maupun di Kaltim. Berdasarkan alasan itulah kemudian propinsial Kapusin di Belanda tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1924 menyurati pimpinan MSF dan menanyakan kesediaan MSF untuk mengambil alih pelayanan di wilayah Kalimantan Timur. Tawaran ini pun segera mendapat respon yang positif bahkan pimpinan MSF tidak hanya mengambil alih wilayah Kaltim saja melainkan wilayah Kalteng dan Kalsel pun diterima. Tepat tanggal 1 Januari 1926 tiga misionaris MSF meninggalkan Amsterdam menuju Kalimantan Timur. Ketiga misionaris itu adalah Pater F. Groot, Pater J.v.d. Linden dan Br Egidius, tepat tanggal 27 Februari 1926 mereka tiba di Laham.

Berkat kehadiran tiga misionaris itulah karya misi di wilayah Kalimantan Timur secara perlahan namun pasti terus mengalami perkembangan hal itu tidak lepas dari dukungan tenaga dan moril dari prokurator misi di Belanda. Tentu dalam perkembangan karya misi bukan tidak mustahil tanpa kendala, dan kendala itu semakin terasa mengingat luasnya wilayah Kalimantan-Timur dan hanya dilayani oleh beberapa tenaga misionaris. Tentu saja sejak awal situasi ini sudah disadari betul baik oleh pemimpin MSF maupun tenaga misionaris yang dikirim ke Kalimantan Timur, tetapi kalau bukan karena karya Roh Kudus maka mustahil karya misi di bumi Kalimantan Timur ini berhasil dan bahkan sudah menghasilkan empat keuskupan. Hal yang sulit untuk kita lupakan bersama adalah keberhasilan dari para misionaris yang telah berjuang dengan gigih menanamkan benih-beinh iman kristiani di bumi Kalimantan ini seratus tahun yang lalu.

Maka kembali ke pertanyaan awal terkait dengan tema yang dirumuskan oleh panitia “Bertolak ke tempat yang dalam” menyadarkan kita bahwa Keuskupan Agung Samarinda memang memiliki banyak potensi yang mendukung dalam perkembangannya menuju Gereja Mandiri, dengan belajar dari para perintis Gereja perdana di Bumi Kalimantan, bahwa mereka sadar betul akan beratnya medan serta minimnya tenaga tetapi buah dari pewartaan mereka itu kini kita alami dan rasakan. Tugas kita adalah melanjutkan karya misi mereka.

Peristiwa iman sebagai pengalaman perjumpaan

Tentu kita tidak inign melewatkan momen bersejarah ini berlalu begitu saja, maka panitia pun dengan daya kreativitas dan iniovatif mencoba memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya. Berbagai acara dan kegiatan akan dilaksanakan. Dengan maksud mengetuk dan menyadarkan umat akan peran dan tugasnya sebagai bagian dari keuskupan ini. Salah satu bagian dari acara itu tepatnya adalah perayaan Ekaristi dan rencana akan dihadiri oleh sejumlah uskup dari berbagai keuskupan di tanah air, Kardinal serta duta Vatikan. Suatu kesempatan bagi umat untuk menyaksikan lebih dekat para uskup, dan terlebih Duta Vatikan.

Tetapi yang perlu mendapat perhatian kita bersama adalah bagaimana dari peringatan seratus tahun karya misi Gereja di wilayah Kalimantan Timur ini yang dipusatkan di Laham dan Sendawar justru mau menggugah hati para anak remaja dan kaum muda untuk menyadari panggilannya dan berani menanggapinya. Peringatan syukur ini ditempatkan dalam kerangka aksi panggilan agar kaum muda di bumi Kalimanatan sungguh mau berpikir soal kelanjutan dari karya misi dari keuskupan ini kedepan. Bukan hanya para anak remaja dan kaum muda tetapi kita para orang tua, pendidik untuk bersama-sama berpikir bagaimana mendukung cita-cita dan harapan Keuskupan Agung Samarinda menjadi Gereja mandiri dalam tenaga.

Peringatan syukur ini pun akhirnya dimaknai sebagai suatu peristiwa iman yang mempertemukan seluruh umat yang berasal dari berbagai paroki, etnis dan budaya.
Namun kembali ditegaskan bahwa kita tidak hanya larut dalam peristiwa yang meriah ini tetapi sesudah peritiwa ini kita semua ditantang dan diundang untuk melakukan sesuatu untuk melanjutkan tongkat estafet dari para misionaris pendahulu. Artinya bahwa peristiwa perjumpaan ini sekaligus menjadi pengutusan kita semua untuk menjadi pewarta injil. Sebab Gereja tidak lain adalah kita semua yang telah menerima Krstus sebagai teladan dan juruselamat, maka kita mendapat tugas dan mandat untuk meneruskan pewartaan injil di bumi Kalimantan ini. Dalam melaksanakan tugas dan mandat itu bukan tidak mungkin mengalami tantangan selain peluang selalu terbuka untuk kita.

Hambatan yang paling terasa adalah minimnya tenaga imam, maka tugas kita adalah bagaimana kita bersama seluruh umat untuk menganimasi para anak remaja dan kaum muda mengenali panggilan hidupnya secara khusus mereka yang merasa tertarik untuk hidup membiara. Bentuk lain yang perlu mendapat perhatian adalah perlunya menggerakkan awam untuk terlibat dan peduli dalam pengembangan keuskupan yang mandiri. kita semua berharap semuanya bisa bergandengan tangan dan berjalan bersama, terjalinnya relasi dan kerjasama yang baik antara uskup dan para imam sebagai kolegialitas, begitu pula para imam dapat berjalan bersama dengan seluruh umat. Pada akhirnya Keuskupan Agung Samarinda sungguh menjadi Gereja yang mandiri dari segi imam, financial, dan personil dalam mewujudkan datangnya Kerajaan Allah di Bumi Kalimantan ini, sebagaimana yang diserukan oleh Yesus Sang Misionaris Bapa: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jala-mu…” (Luk 5:4).

Peran Gereja: peluang dan tantangannya 

Peluang yang ada bagi kita adalah bagaimana dengan keberadaan umat sekarang sungguh mau diberdayakan untuk dilibatkan dalam menganimasi para anak remaja dan kaum muda agar bersedia menerima panggilan khusus dari Allah, seperti membaktikan dirinya lewat cara hidup membiara.

Cita-cita dan harapan dari keuskupan adalah menjadi Gereja lokal yang mandiri dalam soal tenaga. Tidak perlu heran juga kalau kemudian jauh-jauh hari atau bahkan setahun sudah panitia disibukkan dengan berbagai kegiatan untuk memikirkan apa yang akan dikerjakan terkait dengan perayaan seabad karya  misi gerejawi di wilayah Kalimantan Timur? Tidak berlebihan juga kalau dalam acara ini lalu membutuhkan sokongan financial yang tidak sedikit tetapi kita tidak boleh berhenti hanya pada perhitungan untung dan rugi tetapi cobalah untuk melihat sisi lain dari penggunaan dana tersebut yakni adanya suatu ketulusan dan keikhlasan dari kita semua untuk mau berpartisipasi dalam acara  syukur ini. Suatau peristiwa lanka, dan pastinya di antara kita barangkali tidak akan pernah mengalaminya lagi dalam sejarah hidup kita. Wajarlah kalau semua umat di Keuskupan ini sungguh ingin memanfaatkan moment seratus tahun karya  misi Gereja katolik dengan sebaik-baiknya, kapan lagi?

Pertanyaan lebih lanjut bisa muncul bahwa mengapa acara ini justru berpusat di Laham suatu wilayah pedalaman di bumi Kalimantan Timur? Mengapa bukan di Samarinda sebagai ibukota propinsi? Bukankah semuanya menjadi lebih lancar dan ramai? Mengapa harus bersusah-susah pergi ke pedalaman Kalimantan? Sekali lagi kita tidak sekedar diundang untuk larut dalam sebuah romantisme masa lalu, tetapi kita diajak untuk sejenak merenungkan apa yang telah dirintis oleh para misionaris seabad yang lalu.

Mengutip tema yang diambil tentu sangat tepat dan bukan sekadar comot dari Kitab Suci supaya kelihatan lebih teologis tetapi panitia sungguh sadar akan makna di balik tema yang dirumuskan itu. Ada suatu cita-cita dan harapan yang ingin dicapai, bahwa akhirnya keuskupan Agung Samarinda harus benar-benar bisa mandiri dalam soal tenaga dan dana. Hal itu akan menjadi kenyataan kalau seluruh umat keuskupan sungguh mau berpartisipasi dan mendukungnya. Kita tahu betul bahwa wilayah Kalimantan adalah suatu wilayah yang cukup kaya dengan sumber daya alam, ini tentu menjadi sumber dana untuk mendukung karya pelayanan Gereja lokal, hanya saja bicara soal tenaga (manusianya) lalu menjadi kendala besar saat ini. Mengingat luasnya wilayah Kalimantan dan jumlah umat yang terus bertambah tetapi tidak seiring dengan jumlah tenaga imam dan pelayan pastoralnya bahkan kalau mau jujur diakui jumlah imam yang berkarya bukan bertambah tetapi malahan berkurang karena berbagai alasan. Masalah ini pun merupakan tantangan tersendiri bagi kita semua. Namun Allah pun tidak akan pernah membiarkan domba-domba-Nya tanpa gembala. Ia selalu punya rencana yang indah.

10 responses to “Laham – “Betlehem” Kalimantan Timur

  1. Foto-fotonya mohon dilengkapi dong!

  2. Fr. philipus, ofm cap

    ya, foto-fotonya nggak ada. kami tunggu yach

  3. haloo frater saya dari kalimantan barat , tempat saya tinggal merupakan salah satu tempat pertamanya sampai misionaris dari negri eropa , frater punya ngak poto poto jaman misionaris pertama datang di kalimantan barat jika ada bisa dikirim ke email aku ngak
    aristo_thms@yahoo.com

  4. foto-fotonya keren tapi harus dilengkapi lagi.Aku penasaran pengen tau sejarah foto gereja di kalimantan. email aku yach

    pace e bene

  5. frater,..
    foto-fotonya keren, dilengkapi lagi yach…
    ceritain donk tentang sejarah gereja di kalimantan

  6. foto-foto terbaru kampung laham mana?

  7. Kalau sejarah gereja katolik lg pakaq gimana ya? Setahu sy lg pakaq tmpat penyebaran agama katolik trmasuk dunia pndidikannya krn dr lg tuyok s/d lg apari mrka skolahnya di lg pakaq.tlong sejarahnya bagaimana ni? Mohon info

  8. Carolina Anchi Pamela

    Saya terharu pada saat itu karna saya membayangkan betapa sulitnya para misionaris Kita pada jaman dulu dalam menanam benih pewartaan 100 Tahun yg lalau,disaat misa syukur pada tanggal 7 July 2007 di kampung halaman Saya di Laham saya meneteskan air mata sambil berdoa semoga para misionaris kita di terima disisi yg maha kuasa dan semoga benih yg sudah tertanam semakin tumbuh dan berkembang.
    Untuk foto-foto nya mungkin di dokumentasikan oleh keuskupan Agung Samarinda,sebab di kampung Laham tidak ada menyimpan foto-foto bersajarah,dan untuk foto-foto perayaan Misa Syukur 100 Tahun kemungkinan ada di Laham bersama Pastor Paroki P. Habing. Pr

  9. foto2 yang menyangkut sejarah gereja kalimantan khususnya Laham, sya bisa tmbahkan sedikit tetapi sya minta maaf klau ftonya nti telihat kurang jelas..anda bisa lihat melalui Facebook : KOMKA PAROKI HATI KUDUS YESUS LAHAM. trims…🙂

  10. laham bukan hanya tinggal sejarah dahulu kala namun adalah nasa depan di kemudian hari percayalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s