Awal Misi di Laham

karangan pastor Martinus OFMCap (Archivum Capuccinorum Hollandiae)

Karya Misi di bawah pimpinan Prefek Bos di Borneo Bagian Barat sejak 1905 sudah mendapat dua pangkalan kerja yaitu: Singkawang dan Sejiram. Dari Sejiram ada kemungkinan untuk mencari hubungan dengan suku Batang-Lupar.

Di bagian Timur dari Borneo ada daerah yang luas sekali yang sebenarnya diserahkan kepada prefek Bos juga. Bagian Selatan Borneo tidak boleh dimasuki oleh Misi Katolik, berdasarkan artikel 171, sebab di situ sudah mulai bekerja Zending Protestan. Prefek Bos seringkali memikirkan karya di bagian Timur, tetapi tidak tahu caranya. Dari pihak Pemerintah sudah ada dorongan agar Misi mulai di salah satu tempat. Disebutkan kampung Long Iram yang terletak pada sungai Mahakam bagian hulu. Kata orang bahwa bagian hilir sungai Mahakam seluruhnya beragama Islam. Diusulkan Long Iram sebagai basis kerja. Aparat Pemerintah ditempatkan di situ dengan pangkal besar di bawah pimpinan seorang Letnan, yang bertugas juga sebagai Kontrolir.

Apa yang dapat dibuat oleh Prefek Bos. la kekurangan tenaga dan dana. Maka dia mulai memikirkan untuk lebih mempercayakan lahan misi itu kepada kepada ordo atau kongregasi lain. Pada hari-hari itu ia belum menemukan jalan keluar. Beranikah ia mencoba saja? Memang banyak kendala yang dihadapinya selain soal tenaga dan dana, juga faktor geografis seperti jarak dari Singkawang, ongkos perjalanan tinggi sekali: Singkawang – Batavia, Batavia – Surabaya, Surabaya – Samarinda.  Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Prefek Bos meng-ambil keputusan: Seorang Kapusin yang lebih tua dan mampu memimpin doctrinal dan dia akan mengambil alih sebagian beban prefek sendiri. la mengenal pater Liberatus Cluts dan ia berani mengusulkan dia sebagai misionaris untuk Borneo Timur. Liberatus hendak mendapat bantuan dari seorang misionaris dengan pengalaman sedikit, seperti, Camillus yang sudah satu tahun bekerja di tengah masyarakat Dayak, yaitu di Sejiram.

ofm.jpg

Pada tgl 28-11-1906 enam misionaris kapusin diutus ke wilayah Borneo bagian Barat: mereka adalah: Liberatus, Gonzalvus, Marcellus, Marius dan dua bruder Leopold dan Ivo. Prefek memilih Liberatus sebagai pemimpin misi Borneo-Timur.

P. Camillus di Sejiram dilepaskan dan diganti oleh abangnya Gonzalvus. Bruder Ivo  bukan hanya sebagai seorang tukang ahli tetapi yang mampu menggunakan tangannya dimana perlu. Pater Liberatus ditugaskan untuk mencari keterangan pada pegawai-pegawai pemerintah mengenai daerah Mahakam-Hulu, yang dahulu merupakan bagian dari kesultanan Kutai. Informasi diperolehnya dari Asisten-Residen Samarinda, tuan Driest, lagi dari Gramberg, Letnan sekaligus Kontrolir Long Iram.

Ketiga misionaris untuk Long Iram berangkat dari Singkawang pada tgl 22-03-1907. Mereka dengan kapal ke Batavia. Setelah berjumpa dengan komunitas SY di Batavia mereka masuk kapal coaster ke Surabaya dan 24-04-1907 mereka sampai ke Samarinda, siap untuk memulai suatu misi di wilayah riam sungai. Namun setelah melihat situasi wilayah yang sebenarnya; seperti jauhnya perjalanan dan memakan biaya mahal, juga terlalu berbahaya untuk segala barang. Maka dipikirkan suatu tempat dekat riam sungai, misalnya, kampung Mamahak. Tetapi ada berita bahwa kampung itu bermaksud pindah ke daerah lebih tinggi, jadi rencana gagal lagi. Diputuskan pergi ke Long Iram untuk sementara waktu.

Dengan kapal dari Pemerintah mereka mudik ke Mahakam. Letnan Gramberg menghantarkan mereka; 3 hari kemudian mereka sampai ke Long Iram. Camillus tinggal di Samarinda untuk mengunjungi orang-orang katolik di situ, ia akan datang ke Long Iram selekas mungkin.

Untuk sementara waktu mereka bertiga boleh tinggal dalam rumah dokter militer. Sesudah beberapa bulan timbul keinginan untuk meninggalkan Long Iram, sebab di situ ada hanya orang-orang Banjar, Bugis dan beberapa keluarga Cina, lagi ada asrama militer yang cukup besar. Mereka berpendapat bahwa Long Iram bukanlah pangkal kerja mereka. Akhir bulan Juni mereka mudik sungai lagi, Tuan Gramberg ikut lagi untuk menolong. Di ulu ada kira-kira 15 kampung suku Dayak, jaraknya yang satu hanya beberapa jam dari yang lain. Ada juga kampung Laham, besarnya 20 pintu saja, orangnya cukup rama. Para misionaris memutuskan tinggal di kampung itu dan menunggu saja bagaimana di kemudian hari. Mereka diam dalam pasanggrahan, tetapi tidak lama kemudian mereka mulai membangun rumah sendiri.

Siapa sebenarnya para Bahau? Seperti biasa dalam pulau Borneo para Dayak menyebut dirinya dengan nama asalnya. Bahau adalah nama anak-sungai Kayan.

Sejak dahulukala mereka anggota dari suku Kayan yang hidup di dataran tinggi namanya ‘Apokayan’. Sebagian dari suku itu pindah ke daerah dekat sungai Mahakam. Bagian lain pindah tempat ke arah barat-Iaut dan menduduki daerah hulu dari sungai Mendalam dan juga daerah Kapuas-hulu. Sisanya dari suku itu hidup di dekat hilir sungai Kayan.

Pater Camillus dengan pengalamannya dari Sejiram lebih pandai bergaul dengan orang, tetapi bahasa Melayu tidak digunakan oleh orang-orang yang berada di sungai Mahakam.
Mereka dimana-mana memakai bahasa Busang; bahasa itu harus dipelajari oleh para misionaris baru. Tetapi cukup sulit sebab bahasa itu belum tertulis.

Tgl 1 Januari 1908 mereka mulai membangun tempat tinggal. Liberatus pandai bertukang dan Ivo rajin membantunya. Orang-orang Dayak tidak bisa membantu, kecuali mencari kayu untuk ramuan. Mereka biasanya mengikat segala bagian rumah dengan memakai rotan. Palu dan paku tidak mereka kenal. Segala papan harus diangkut dari Samarinda. Suatu perjuangan yang cukup berat. Akhirnya tgl 25 Juni 1908 mereka mulai menghuni rumahnya sendiri.

Rumah di atas tongkat-tongkat, beberapa kamar dengan serambi, dan sebuah dapur.
Kemudian dibuat juga sebuah kapel kecil.

Sementara itu mereka mengunjungi kampong-kampung dan sambil berkenalan dengan masyarakat sekitar dan belajar bahasa setempat.

Liberatus menulis dalam surat kepada provinsial (Alphonsus):’Saya sangka: prefek kami ada seorang suci benar: ia mendirikan gereja-gereja yang sederhana. Juga prokurator Walterus tidak tahu-menahu tentang tempat tinggal mereka,juga lebih memperhatikan mereka daerah di Borneo-Barat, sementara mengabaikan mereka yang tinggal di Borneo-Timur.

Pada tgl 2 Juni 1909 Prefek Bos mengunjungi kampung Laham. la berunding dengan beberapa dewan kampung tentang pembangunan sekolah di Laham, juga kampung Long Hubung dan Mamahak Besar. Kemudian disetujui bahwa semua kampung hendak mengurus balok-balok kayu besi dan papan, bahan-bahan yang lain akan diangkut dari Samarinda. Tetapi baru 16 bulan kemudian semua bahan terkumpul. Sementara itu Liberatus telah kembali ke pantai barat sambil menunggu di Singkawang menunggu segala instruksi berhubung dengan pembukaan karya misi di Sumatera. Beliau berangkat 0802-1910.

Penggantinya, Pater Yustinianus. la sudah bekerja dua tahun di pantai barat Borneo. la sebenarnya yang mendirikan stasi Laham.

Sementara Bruder Ivo jatuh sakit harus kembali ke Singkawang untuk beristirahat.
Ivo berangkat 15-08-1910 ia diganti oleh Bruder Timoteus.

Tepat bulan Juli 1911 sekolah mulai ada sekitar 30 murid yang dimulai di kelas pertama. Para misionaris sendiri mengajar sampai  1912 sebelum seorang guru dari Menado datang. Para orangtua tidak menijinkan anak-anaknya setiap hari pergi ke sekolah. Sebab ada banyak pesta ‘religius’ dalam kampung, dan orang tua mereka kuatir: pergi ke sekolah setiap hari membahayakan bisa merenggangkan ikatan religius dengan kampung. Sebab itu banyak yang absent, para misionaris tidak mengerti kekuatiran itu, tetapi hubungan dengan segala kampung tetap baik.

Pater Yustinianus diberikan nama julukan ‘Tuan Jahe’ artinya ‘sang tuan’, sebab ia agak cepat mengerti bahasa Dayak dan  mudah bergaul. la juga memperjuangkan orang Dayak yang selalu dirugikan oleh para pedagang dari pantai.

Pada tgl 16-09-1912 datang seorang misionaris yang baru, pater Andreas. Beliau tidak mengalami kesulitan soal Bahasa Busang  sebab telah menyusun banyak karangan tentang suku Bahau dan agamanya.

Awal 1914 pater Andreas jatuh sakit; ia dihantar ke Samarinda, tetapi dokter tidak tahu penyakit apa yang dideritanya. Kemudian ia dibawa ke Banjarmasin dan diketahui penyakitnya; dikonstatir meningitis dengan akibatnya kelumpuhan segala indera. Perlahan-lahan ia bisa sembuh, tetapi ia tetap buta. Mgr. Bos menghantarnya kembali ke Belanda: 19-06-1914.

ofm2.jpg

3 responses to “Awal Misi di Laham

  1. saya senang membaca history ini karena dari sini saya bisa mengetahui perkembangan Gereja katolik di daerah saya dan kampung saya sejak awal mulanya.
    apa ada cerita lain yg menceritakan orang dayak bahau busang long pahangai ? daerah lebih ulu lagi dati laham.

    Darius Salang
    Long pahangai.
    Kaltim.

  2. Bung Darius YSH

    BTW dari long pahangai thoo ??? tolong jawab reply sebagai pretest…masih te’ ka ninang lamin ha datah naha lang paling aya dee.
    send mahakui Balu ika te foto na kere….. Ha ino ngayan ika ha Long Pahangai ahh jaaa kui percaya ika ….

    Wonokromo 14 Desember 2007
    031 70958008

  3. Nuh dengah plok harin araq ?
    aki bateq jam mufui kelo nuh , uke (om) yaq ke (paman) atau boq (kakek)
    aki maq berkenalan dehen kelo, aki Bernad asli men Laham, aki bahau Bateq campur kayan, taman aki bahau bateq dehen kayan men Long pakaq, hinan aki bahau bateq , aki anak Agut Tinus dehen Song Atak meson Tingang Savang dehen Agong Liah, boq keq aki men Long Pakaq boqroh aki asli men laham, aki maq makai tolong dehen kelo harin arayaq , maq makai data atau foto-foto lang kelo hipun atau lang baqpoh araq keluqnan jam tentang uma laham atau tentang gereja pertama itah lang haq KALTIM ni. bai itoh samah-samah memperkenalkan dehen keluqnan araq bai dohoh jam nano goh asal no. Dehen araq anak sekulah atau pemuda-pemuda kerai ni lang bate jam bahkan bate ngedap jam tekun sejarah itah KATOLIK haq KALTIM ni terkusus itah lang haq udik lang silang gin bate lalau jam. semoga Tuhan YESUS balas kedap saya kelo . Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s