Refleksi Sebuah Keheningan

Oleh: Br. Urbanus Teluma MSF

Ada saat dunia terasa gelap, ruang-ruang kehidupan sesak menghimpit, segala langkah jadi buntu dan sejauh mata memandang, hanyalah tembok tebal yang mengurung. Adakalanya manusia mengalami hal-hal yang tidak pernah dinginkan. Mau tidak mau ia harus melewati masa-masa yang suram, yang menghimpit batinnya dan menghadang setiap langkahnya. Bagaimana kita harus melewati masa-masa seperti itu? Kita harus berani keluar dari diri sendiri dan mundur sejenak dari kesibukan untuk menciptakan ruang hening, membuka diri untuk mendengarkan suara Tuhan. Marilah kita melihat dan merenungkan perjalanan hidup seorang nabi Elia. Elia menghabiskan sebagian besar waktu hidupnya dalam keheningan dan kesunyian hidup semata-mata hanya untuk Allah.

Dengan mengenyam kemesraan dengan Allah dari hari ke hari, Elia ditarik dalam kehadirat Allah baik dalam doa maupun kesehariannya. Itulah sebabnya sebagai insane-insan yang telah ditangkap oleh Tuhan marilah kita hidup dalam hadirat-Nya. “Vivit Dominus in cuius Conspec Sto” (Allah hidup dan aku berdiri di nhadirat-Nya). Inilah semboyan yangb terkenal dari nabi Elia. Mampukah kita menjadi elia-elia kecil? Ciptakanlah sebuah keheningan dan di sana Anda akan mendapatkan jawabannya. Tahun-tahun berlalu, suka dan duka silih berganti, tawa dan tangis menjadi sejarah yang mewarnai perjalanan hidup kita. Namun sudah sejauh mana kita hidup dan tidak dalam selimut hadirat-Nya? Jiwa yang telah mengalami sentuhan Cinta Kasih Allah biasanya merasakan bahwa Allah bertakhta dalam keheningan dan mengkomunikasikan diri-Nya dengan bahasa yang jauh melampaui segala kata. Oleh karena itu, jiwa hanya menjumpaiNya jika kita dengan berani meninggalkan segala sesuatu yang dangkal dan menerobos masuk ke dalam keehningan yang suci. Di sanalah Tuhan dengan setia menantikan kita.

Dalam keheningan Allah menyapa hati yang telah siap menerima sabda-Nya. Dengan demikian keheningan merupakan sikap keetrbukaan, peresapan Sabda serta sembah sujud. Sabda Allah disimpan dalam lubuk keheningan yang terdalam. Saya mencoba mengutip tulisan Nicholas dari Perancis yang berjudul Ignea Sagitta (panah berapi) sebagai berikut:
“Bukankah Tuhan Penyelamat kita telah memberikan rahmat khusus kepada kita dengan membawa kita ke dalam kesunyian, di mana Ia berbicara secara mesra kepada hati kita? Ia tidak menyatakan diri kepada sahabat-sahabat-Nya di muka umum, di jalan-jalan, dan di dalam kebisingan tetapi dalam keintiman, melalui rahmat sukacita rohani serta untuk menytakan  kepada mereka misteri-misteriNya yang tersembunyi”.

Kita kadangkala merasa agak sulit untuk menemukan Tuhan dalam diri kita karena kita disibukkan dengan segala kegiatan dan pekerjaan terl;ebih lagi dengan situasi yang serba ramai dengan kehadiran berbagai macam sarana komunikasi seperti handphone, internet dan lain sebagainya. Kita lupa diri bahwa sebenarnya keheningan  mempunyai daya tarik yang besar untuk menemukan kehendak Tuhan atas hidup hidup kita. Marilah kita berjuang untuk tinggal dalam kehangatan cinta-Nya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s