Menuju Gereja yang Vital dan Mandiri

Oleh: Fr. Diakon Yohanes Kopong Tuan MSF

Merayakan hari ulang tahun merupakan kebahagiaan dan rasa syukur tersendiri bagi yang merayakannya karena masih diberi kesempatan hidup oleh Sang Sumber Kehidupan. Demikian juga dengan merayakan sebuah peristiwa bersejarah dalam arus perkembangan zaman.

Pada tahun ini, bulan Juli 2007 Gereja Katolik Kalimantan Timur-Keuskupan Agung Samarinda merayakan napak tilas 100 tahun perjalanan dan pekembangan karya misi Gereja Katolik Samarinda di bumi Laham. Moment 100 tahun karya misi Gereja Katolik di Samarinda yang dimulai dalam serangkaian acara mulai tanggal 01-08 Juli 2007 tidak hanya merupakan kenangan terindah akan jejak langkah dan karya tangan para misionaris awal, melainkan lebih dari itu menghadirkan kembali karya misi yang sudah dirintis dalam sebuah sinergisasi karya pelayanan Gereja yang konkrit oleh seluruh umat beriman bersama hierarki Gereja di Keuskupan Agung Samarinda.

Sinergisasi karya pastoral menjadi vital dan menarik jika moment 100 tahun menjadi jalan untuk mengevaluasi kembali setiap gerak langkah karya pastoral yang telah dijalankan di bumi Kalimantan Timur. Evaluasi yang dapat dikatakan tepat guna, jika evaluasi itu didasarkan pada kondisi masyarakat dan Gereja setempat yang menjadi arah karya pastoral ke masa depan. Yang penting bukanlah sebuah perayaan yang agung dan meriah, tetapi bagaimana perayaan yang istimewa dan meriah menjadi inspirator karya pastoral Gereja Katolik Kalimantan Timur. Untuk itu di dalam merumuskan langkah pastoral Gereja Katolik Kalimantan Timur kiranya perlu memperhatikan tiga hal yaitu : need-work-result ( red: cara membacanya: need, result, work)

Untuk mendukung ketiga unsur ini dalam kerangka membangun Gereja Katolik Kalimantan Timur yang vital, sinergis dan menarik kita perlu memperhatikan lima (5) hal pokok sebagaimana yang dipaparkan oleh Dr. Jan Hendriks dalam bukunya “Jemaat Yang Vital dan Menarik”. Kelima hal itu adalah sebagai berikut: Pertama, iklim, yaitu suasana atau keadaan yang memungkinkan pelaksaan karya pastoral. Kedua; identitas, di mana para pelaksana rekasa pastoral perlu mengenal dan mempelajari identitas dengan segala latar belakang umat dan masyarakat yang dilayani. Ketiga; Tujuan, artinya tujuan yang mau dicapai serta sasaran yang diwujudkan dalam karya pastoral. Keempat, pemimpin, dalam rangka melaksanakan karya pastoral dibutuhkan seorang pemimpin yang peka dengan ketiga unsur di atas dan mau bekerjasama dengan seluruh umat beriman. Karena itu perlu dibangun strukutur atau jaringan kerja sebagai sebuah tim dalam karya pastoral yang merupakan unsur kelima. Demikianlah beberapa hal yang bisa diperhatikan sebagai relaisasi konkret dan gerak langkah bersama Gereja Katolik Kalimantan Timur menuju Gereja yang vital, sinergis dan menarik di dalam menghadirkan kembali karya misi yang telah dirintis oleh para misionaris awal 100 tahun lalu di bumi Kalimantan Timur.

Iklan

2 responses to “Menuju Gereja yang Vital dan Mandiri

  1. sekedar usul, kalau bisa masalah-masalah pastoral lebih berorientasi pada teori dan permasalahan kontekstual

  2. Tulisan ini sangat reflektif dan praktis. Bagus dan mendalam. Terima kasih diakon atas kesediaan Anda menayangkan tulisan ini. Banyak inspirasi yang saya timba.

    Postinus Gulo (lulusan Fakultas Filsafat Unpar, Bandung).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s