Hendrik Freerk Tillema (1870-1952)

Pembuat film Borneo (1934)

dayak.jpg 

Hendrik Tillema lahir di pinggir selatan danau “Tjeuke” propinsi Friesland (Belanda). Setelah menyelesaikan kuliah sebagai apoteker ia berangkat pada tahun 1896 ke Semarang untuk bekerja di  “Samarangsche Apotheek“. Tahun 1899 ia membeli Apotek tersebut dan pada umur yang masih muda ia menjadi pimpinan perusahaan yang diberi nama ‘Hygeia‘. Sejak menjadi pemimpin Apotek itu ia memperhatikan pembuatan air mineral dan berhasil membuat suatu perusahaan yang up to date. Pabrik pertama dibangun dengan konstruksi beton dan produksi air mineral dengan cara kerja gaya Amerika. Promosi produk dengan iklan gaya Perancis. Semuanya berhasil sehingga Tillema menjadi kaya raya. Pada tahun 1910 ia dipilih menjadi anggota Dewan Kota Semarang.

Terkesan oleh wabah Cholera pada tahun 1910 Tillema menulis buku Riooliana, sebuah buku yang lengkap dengan gambar gambar. Ia menganjurkan agar dibuat sistem pembuangan sampah (biar mahal) agar dapat mengatasi penyakit infeksi.

Dua tahun kemudian Tillema membuat buku mengenai lingkungan hidup di Semarang : Van wonen en bewonen, van bouwen, huis en erf . Ia mengongkosi karyanya sendiri dan mengirim kepada orang yang berperan pada waktu itu. Pada tahun 1911 ikut mencalonkan diri dalam pemilihan dewan kotamadya dengan motto: ‘Weg met de malaria! Daarom stemt op Tillema!’ (Hilangkan Malaria! Pilih Tillema!)

Sekilas Perjalanan Hidup Tillema

Tillema – seorang besar dengan rambut pirang dan mata biru adalah seorang single fighter. yang mempunyai keyakinan bahwa pemerintah Hindia Belanda bisa diubah dari dalam. Tillema disamakan dengan Multatuli, berkat perjuangannya di wilayah kota yang besar itu dengan merintis pengadaan air leiding.

Perusahaannya terus berkembang namun dengan alasan agar dapat tinggal bersama dengan anaknya yang bersekolah di Belanda, pada tahun 1914  ia menjualnya.

Di Belanda ia mulai membuat sketsa untuk konferensi mengenai perumahan tetapi tidak jadi karena pecah perang dunia I. Ia melanjutkan sendiri dan hasilnya ia tulis dalam buku Kromoblanda, sebanyak 6 jilid (diterbit antara 1915 dan 1923)

Setelah Kromoblanda selesai ia pergi lagi pada tahun 1924/1925 ke Indonesia. Hasil petualangan diterbitkan dalam buku Zonder Tropen – Geen Europa! , lengkap dengan 300 foto. Dengan buku ini Tillema menerangkan bahwa kekayaan Barat  pada umumnya berasal dari “dunia ketiga” Seandainya Eropa sadar akan hal itu mereka harus semakin peduli dengan perkembangan di dunia ketiga.

Tillema dalam arsip fotonya mengkritik pemerintah kolonial. Kekayaannya memungkinkan memakai media baru, yaitu dunia foto. Foto-foto yang manis dari ‘tempo doeloe’ dilengkapi dengan foto foto ‘orang kecil’ (“de gewone man“). Ada perbedaan yang sangat mencolok antara foto Vila orang-orang Belanda dan foto gubuk-bubuk orang Dayak.

Zonder Tropen – Geen Europa! adalah karya besar yang terakhir dari Tillema, dimana ia mengusahakan agar sifat acuh-tak acuh Belanda terhadap Indonesia bisa berubah.

Setelah itu Tillema berusaha untuk memberi informasi tentang Indonesia dan penduduknya. Pada tahun 1927/1928 untuk kedua kalinya ia ke Indonesia khususnya kedaerah sungai Barito. Hasil perjalanannya ditulis dalam rubrik sebuah majalah dan kemudian membuat film “Langs Borneo’s breede stromen”. Tiga tahun kemudian ia ke Indonesia khususnya ke Kalimantan. Pada tahun 1933 ia mengedit filmya Naar Apo-Kajan , durasi 68 menit . Kemudian menulis buku: Apo-Kajan. Een filmreis naar en door Centraal-Borneo, 1938, lengkap dengan 336 foto.

Bersama dengan ratusan foto lainnya ia menerangkan keadaan di Indonesia lewat rubrik: ‘praatjes bij plaatjes’. Rubrik mingguan yang terbit dalam 46 koran propinsi: diterbitkan dalam buku: “Ons Indisch boekje”.

Pada tahun 1938 Tillema menyumbangkan perpustakaannya dan arsip – 5000 foto bersama klisenya dan 6000 foto dari teman tanpa klise kepada Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden. Tanggal 9 Nopember 1940 beliau terima gelar doctor honoris causa di universitas Groningen.

Awal tahun 1943 ia harus mengungsi dari Bloemendaal karena terjadi perang. Sampai 1945 ia tinggal bersama anaknya di Eindhoven. Setelah perang ia kembali ke villa “Semarang” di Bloemendaal dimana beliau meninggal dunia waktu istirahat siang.

2 responses to “Hendrik Freerk Tillema (1870-1952)

  1. Kepada Redaksi MSF
    bagaimana caranya bisa mendapatkan filem-filem di atas

    terimakasih.

  2. mohon informasi joining volunter msf doctor, thanks bro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s