Monthly Archives: Juli 2007

Musafir Menyapa

cover-musafir.jpg 

Para pembaca setia MUSAFIR…..

Mengisahkan kembali sebuah sejarah merupakan sebuah pengalaman yang menarik, karena di dalamnya kita dapat menemukan nilai-nilai penting yang dapat menjadi inspirasi perjalanan kita untuk mengembangkan kembali hidup dan karya kita.
Untuk itulah, kehadiran MUSAFIR pada edisi kali ini dikemas dalam edisi special, karena berusaha untuk mengisahkan kembali sebuah kisah, pengalaman dan kesaksian para misionaris awal yang telah merintis karya misi di Propinsi Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda.

Pada edisi special ini, MUSAFIR berusaha hadir dan terlibat dalam peringatan 100 tahun misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur dengan caranya sendiri yaitu, mengisahkan kembali pengalaman dan kesaksian hidup para misionaris awal di bumi Kalimantan Timur.

Duc in Altum (Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam), demikianlah tema peringatan 100 tahun misi Propinsi Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda di Kalimantan Timur yang mulai diselenggarakan dalam serangkaian acara pada tanggal 01-09 Juli 2007 di Kutai Barat, merupakan sebuah tema yang menarik, yang mengajak semua umat beriman di Propinsi Gerejawi Keuskupan Agung Samarinda untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam, ke tempat mana karya kasih Allah belum diwartakan secara maksimal oleh para pelayan pastoral agar kasih Allahpun hadir di tengah-tengah kehidupan mereka sebagaimana yang telah dirintis oleh para misionaris awal di bumi Laham.

Seiring peringatan 100 tahun misi Gereja Katolik di Kalimantan Timur dan dengan kisah menarik dari para misionaris awal dan juga aneka renungan yang dikemas oleh MUSAFIR semoga dapat menggugah para pembaca setia untuk bertindak, berpartisipasi dan mengambil bagian dalam karya perutusan Gereja ke tempat yang lebih dalam agar Gereja kita khususnya Gereja di Keuskupan Agung Samarinda semakin menarik dan vital.
Bersama seluruh umat di Keuskupan Agung Samarinda, kami dari redaksi mengucapkan selamat MEMPERINGATI PERAYAAN 100 TAHUN MISI GEREJA KATOLIK DI PROPINSI GEREJAWI SAMARINDA. Mari kita satukan tekad, ayunkan langkah perutusan kita untuk menebarkan jala ke tempat yang lebih dalam agar kasih Allah dirasakan juga oleh semua orang. Tuhan memberkati.

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan…”

(Matius 9:13) 

jala.jpg 

Waktu adalah kekuatan terbesar dalam kehidupan kita. Tidak ada satu pun di kolong langit ini yang mampu untuk menahan lajunya sang waktu. Dia berjalan perlahan tapi pasti, melalui semua yang ada di hadapannya dan meninggalkan semua yang ada di belakangnya. Dia bergulir tanpa sering kali disadari dan dirasakan oleh siapapun, termasuk oleh manusia, ciptaan tertinggi di muka bumi ini. Baca lebih lanjut

Sekilas Sejarah Misi Katolik di Pulau Kalimantan

Mgr W.J. Demarteau MSF
(Editor: P. Felix MSF)

Karya misi Katolik dimulai di bagian selatan Kalimantan Timur atau daerah sungai Mahakam. Ketiga misionaris yang pertama dari ordo OFMCap memulainya di stasi Laham pada bulan Juni 1907. Mereka adalah Pastor Libertus Cluts OFMCap, Pastor Camillus Buil OFMCap dan Bruder Ivo OFMCap. Pada awalnya para misionaris itu mau memulai karya misi di kampung lain, misalnya Mamahak Besar atau Long Iram, tetapi akhirnya kampung Laham yang dipilih karena jumlah penduduknya waktu itu 96 orang. Kedatangan para misionaris tidak disambut dengan penyambutan yang meriah tetapi justru mereka diterima sebagai orang asing. Orang kampung malahan bersikap “TUNGGU SAJA” sampai menjadi jelas apa maksud ketiga orang Belanda itu mendatangi kampung mereka. Meskipun begitu masyarakat di kampung Laham membantu para misionaris dengan membangun pastoran yang sederhana dan kapel yang kecil. Tetapi tidak ada satu orang Dayak pun yang datang kepada salah satu Pastor dan memberi tahu bahwa ia mau menjadi Kristen. Belum ada seorang Dayak yang berpikir mengenai hal itu. Tetapi mereka mulai menghargai missionaris sebagai orang yang “VERY KIND”, yang selalu siap sedia untuk membantu dengan obat atau garam, yang kadang tidak ada. Baca lebih lanjut

Laham – “Betlehem” Kalimantan Timur

(Fr. Daniel R MSF)

“Engkau Betlehem, sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara kota-kota utama, karena dari engkau akan datang seorang pemimpin”.
 (Mat 2:6).

laham-lama-2.jpg 

Tahun 2007 ini merupakan tahun yang penuh syukur bagi seluruh umat Katolik di wilayah Kalimantan, dan khususnya umat di Keuskupan Agung Samarinda. Hal yang patut disyukuri adalah mengenang seratus tahun karya misi di bumi Kalimantan Timur. Dalam suasana syukur itu keuskupan Agung Samarinda khususnya coba menatap masa depannya.  Ada beragam tantangan besar yang dihadapi keuskupan ini seperti: masalah ekologi  (perusakan hutan), minimnya tenaga imam dan religius/ rohaniwan-rohaniwati serta  pelestarian budaya lokal. Tetapi kalau benar yang harus dihadapi oleh keuskupan hanya masalah dan masalah bisa dibayangkan betapa beratnya perjuangan yang mesti dialami oleh seluruh umat di keuskupan ini. Baca lebih lanjut

Awal Misi di Laham

karangan pastor Martinus OFMCap (Archivum Capuccinorum Hollandiae)

Karya Misi di bawah pimpinan Prefek Bos di Borneo Bagian Barat sejak 1905 sudah mendapat dua pangkalan kerja yaitu: Singkawang dan Sejiram. Dari Sejiram ada kemungkinan untuk mencari hubungan dengan suku Batang-Lupar.

Di bagian Timur dari Borneo ada daerah yang luas sekali yang sebenarnya diserahkan kepada prefek Bos juga. Bagian Selatan Borneo tidak boleh dimasuki oleh Misi Katolik, berdasarkan artikel 171, sebab di situ sudah mulai bekerja Zending Protestan. Prefek Bos seringkali memikirkan karya di bagian Timur, tetapi tidak tahu caranya. Dari pihak Pemerintah sudah ada dorongan agar Misi mulai di salah satu tempat. Disebutkan kampung Long Iram yang terletak pada sungai Mahakam bagian hulu. Kata orang bahwa bagian hilir sungai Mahakam seluruhnya beragama Islam. Diusulkan Long Iram sebagai basis kerja. Aparat Pemerintah ditempatkan di situ dengan pangkal besar di bawah pimpinan seorang Letnan, yang bertugas juga sebagai Kontrolir. Baca lebih lanjut

Pengalaman Para Misionaris Pertama

ZONDAGSBLAD 9, hal 606

Pater Liberatus OFMCap  menulis: kira-kira enam minggu kami di Laham ini dan mau menceritakan apa yang kami lihat dan dengar. Orang-orang Dayak di sini adalah manusia seperti kalian dan kami, kulitnya sedikit lebih coklat daripada kulit kami, badannya kuat, tetapi sangat miskin.  Rumahnya dibangun dengan beberapa potongan kayu, dengan papan2 besar dan kecil, yang diikat satu dengan yang lain dengan rotan.
Dalam rumah ada beberapa bidai dari anyaman rotan yang digunakan untuk tidur dan juga untuk makan bersama. Meja dan kursi tidak mereka perlukan. Untuk makan mereka selalu duduk di lantai.

Alat untuk memasak sangat sederhana. Makanan mereka adalah nasi ditambah dengan sedikit sayuran yang diambil dari hutan. Mereka makan biasanya dengan menggunakan tangan. Untuk air minum mereka ambil dari sungai. Baca lebih lanjut

Perjalanan Banjarmasin – Danum Paroi

M. Gloudemans

Maret sampai Mei 1936

27 Maret 1936 Kami mudik, singgah sebentar di Tenggarong tetapi kami diminta oleh seorang petugas Sultan untuk terus mudik karena jamban itu khusus untuk kapal Sultan. Memang pertaturan itu benar tetapi alangkah baiknya ada kelunakan sedikit dari Yang Mulia.

Malam hari kami tiba di Muara Kaman. Hari berikutnya kami sampai Kota Bangun di mana kami bertemu dengan tuan v.d. Woude.

Malam hari kami sampai Muara Pahu. Sungai menjadi indah dengan panorama bergantian. Suasana tenang. Baca lebih lanjut