Dua Kenangan Istimewa dari Pastor Gerardus H. Borst MSF

Pastor G. H. Borst, MSF semasa hidup“Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…”, demikian disampaikan Alex de Jong yang mewakili keluarga ketika memberikan sambutan dalam Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah mendiang Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus. 

Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan JenazahParoki Bunda Maria Banjarbaru, Minggu, 20 mei 2007

Pagi itu, langit tampak begitu cerah. Mendekati pukul 10.00 Wita, umat dari kota Banjarmasin, Banjarbaru dan sekitarnya mulai memadati Gereja Bunda Maria Banjarbaru untuk turut serta menghadiri Perayaan Ekaristi dan Pemberkatan Jenazah Pastor G. H. Borst, MSF, sekaligus memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang yang wafat pada tanggal 17 Mei 2007 yang lalu. 

Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Bapak Uskup Banjarmasin Mgr. F.X. Prajasuta, MSF selaku konselebran utama, didampingi oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF selaku Provinsial MSF Kalimantan dan Pastor Aloysius Darmakusuma, MSF selaku Pastor Kepala Paroki Bunda Maria Banjarbaru.Misa dibuka dengan sebuah lagu Gregorian yang diambil dari nyanyian Madah Bakti No. 578. Prosesi pun berlanjut tahap demi tahap dengan iringan lagu-lagu Gregorian di dalamnya. 

“Kalau saya ingin menggambarkan Pastor Borst, maka Pastor Borst adalah pastor dengan hati; inilah yang menjadikan beliau sangat dicintai oleh umat. Saya ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk umat yang memberikan perhatian kepada Pastor Borst. Pastor Borst adalah seorang pastor yang tidak pernah lepas dari rosarinya. Ini menunjukkan bahwa Pastor Borst tak pernah henti berdevosi kepada Perawan Maria. Dengan mengantarkan seorang imam yang dipanggil Tuhan, saya ingin mengingatkan kepada umat agar selalu mendoakan dan selalu siap sedia bila kelak anak-anaknya dipanggil Tuhan untuk menjadi imam. Untuk itu mari kita meneladari Pastor Borst dengan segala kesederhanaannya.” demikian diantaranya disampaikan Mgr. Prajasuta dalam homilinya mengenang Pastor Borst, MSF.  

Sebelum Perayaan Ekaristi ditutup, disampaikan beberapa sambutan, diantaranya dari P. Teddy Aer, MSF selaku Propinsial MSF Kalimantan. Pastor Teddy tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Pastor Borst atas segala sumbangsihnya bagi Gereja di Kalimantan, khususnya di Keuskupan Banjarmasin tercinta. 

Sambutan berikutnya datang dari perwakilan keluarga mendiang Pastor Borst yang datang jauh-jauh dari negeri Belanda – Alex de Jong yang memberikan sambutannya dalam bahasa Belanda yang langsung diterjemahkan oleh Pastor Sinnema, MSF. Alex kemudian berkisah tentang cerita-cerita Pastor Borst yang disampaikannya melalui surat. Dalam salah satu surat yang ditulisnya, Pastor Borst tampak begitu bangga dengan Gereja dan perkembangan umat yang dilayaninya. Sebelum menutup sambutannya, Alex atas nama keluarga menyampaikan ucapan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama ini begitu setia merawat dan melayani Pastor Borst, ” Kami juga mengucapkan terima kasih secara istimewa kepada Ibu Maria yang selama 10 tahun terakhir ini telah mendampingi dan merawat Pastor Borst, MSF selama tinggal di Biara Wisma Simeon…,” ujarnya. 

Sambutan ketiga datang dari Pastor A. Siswasumarta, MSF selaku Pastor Kepala Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Veteran. Pastor Siswa berujar, ”Ada 2 kenangan istimewa dari Pastor Borst yang hingga kini masih diingat oleh saya dan umat di Paroki Veteran, yaitu : Pertama, Pastor Borst itu tidak mudah mempercayai umat; dalam artian beliau sangat memperhatikan tugas-tugas tertentu yang memang harus dikerjakan oleh seorang pastor, dan yang kedua, Pastor Borst adalah seorang pastor yang sangat mengenal umat yang dilayaninya; bila ada umat yang jarang kelihatan di Gereja, maka dengan segera Pastor Borst akan mengadakan kunjungan ke rumah.”

Mgr Demarteau berdoa di depan peti jenazahDalam Perayaan Ekaristi ini, hadir Uskup Emeritus Mgr. W.J. Demarteau, MSF yang didampingi oleh Ibu Maria yang berada tak jauh dari sisi beliau. Sedangkan dari pihak keluarga Pastor Borst hadir Mrs. Bep Borst, Mr. Aad Neijemhuizen dan Alex de Jong yang duduk di deretan bangku seberang – tak jauh dari tempat Mgr. Demarteau berada. 

Perayaan Ekaristi berakhir pada pukul 12.00 Wita, dilanjutkan dengan perarakan jenazah Pastor Borst, MSF untuk mengantarkan mendiang ke peristirahatannya yang terakhir di Kompleks Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru. 

Perarakan Menuju Tempat Peristirahatan Terakhir 

Dimulai dari Gereja Bunda Maria Banjarbaru yang terletak di Jalan A. Yani Km. 36, arak-arakan bergerak lambat di bawah terik sinar matahari yang sangat menyengat. Siang itu mulai pukul 12.00 Wita, rombongan umat berjajar rapi dan tertib di sisi kiri jalan sembari mengiringi mobil jenazah yang membawa mendiang Pastor Borst yang berada di barisan depan menuju Pemakaman Kristen yang terletak di Kecamatan Landasan Ulin, Km. 24 Banjarbaru. Berada paling depan sebuah sepeda motor dengan 2 orang pengendara terlihat begitu sigap membawa bendera hitam yang melambai-lambai di sepanjang jalan sebagai tanda perkabungan…

Menjelang pukul 12.30 Wita, arak-arakan tiba di kompleks pemakaman. Peti jenazah pun segera di keluarkan dan diusung oleh beberapa orang umat menuju ke liang lahat yang telah disediakan. Tanah disekitar galian tersebut masih tampak basah rupanya. Di sisi kiri berjajar secara berturut-turut adalah makam Fr. M. Gregorius Rudolf, MSF, Pastor Karl Klein, MSF, Pastor Yohanes Henricus Wieggers, MSF, Br. Alexsander Apui, MSF, Pastor Jacobus Kusters, MSF dan Pastor Antonius van Rossum, MSF. 

Di atas sana, tepat di atas lokasi makam ada sepotong awan hitam yang seolah-olah menjadi payung alam di tengah udara siang hari ini yang terasa begitu terik. Langit yang semula berwarna biru terang, dalam beberapa saat menjadi berwarna biru keunguan, sepertinya ingin turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Pastor Borst…

Upacara di pemakaman dipimpin oleh Provinsial MSF Kalimantan – P. Teddy Aer, MSF. ”Saudara, saudara terkasih, Tuhan Yesus Kristus telah bersabda: ”Biji gandum yang tidak ditanam dan mati, akan tetap tinggal sebiji; tetapi jika mati, akan berbuah banyak sekali,” demikian seruan Pastor Teddy kepada seluruh umat yang hadir di sekitar lokasi pemakaman. 

Prosesi pun berjalan sedemikian rupa dan sangat hikmat. Dan pada akhirnya, peti jenazah mendiang Pastor Borst pun diturunkan perlahan ke dalam lubang yang telah disediakan. Sebelum dilakukan penimbunan tanah, perwakilan dari keluarga mendiang Pastor Borst sempat mendoakan doa Bapa Kami dalam bahasa ibu mereka yaitu bahasa Belanda yang didampingi oleh Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dan P. Sinnema, MSF.

Dua Hari Sebelumnya, Misa Requiem, Jumat, 18 Mei 2007 

”Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang mampu melawan kehendak Yang Maha Kuasa. Dan kita percaya bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik buat Pastor dan Konfrater kami, Pastor Borst, MSF,” demikian disampaikan Pastor Teddy, MSF sebagai kata pembukaan dalam Misa Requiem Pastor Borst, MSF.

Sehari setelah Pastor Borst meninggal dunia, bertempat di Paroki Bunda Maria Banjarbaru dilangsungkan Misa Requiem mendiang Pastor Borst, MSF. Misa dipersembahkan oleh Pastor Kanenitas Teddy Aer, MSF didampingi oleh Pastor Timotius I Ketut Adi Hardana, MSF dan Pastor Prilion, MSF. 

Dalam homilinya, Pastor Teddy sempat bercerita tentang kenangan detik-detik terakhir menjelang Pastor Borst wafat. Pastor Teddy berkisah, ”Lebih kurang 3 minggi yang lalu, Pastor Felix menelpon saya dan berkata bahwa Pastor Borst harus dibawa ke Rumah Sakit Suaka Insan. Katanya Pastor Borst mengalami gatal-gatal di sekujur badan. Beberapa hari setelah dirawat, kondisi Pastor Borst mulai membaik. Salah seorang Suster yang merawat sempat memberikan pujian atas membaiknya kondisi Pastor Borst. Saya pun sempat memuji Pastor Borst saat itu. Tapi kondisi ini tidak bertahan lama, karena 2 – 3 hari berikutnya kondisi Pastor Borst kembali drop! Saat itu Pastor Borst berujar bahwa beliau ingin segera kembali ke Biara Wisma Simeon untuk bertemu dengan Mgr. Demarteau, karena Pastor Borst merasa bahwa Mgr. Demarteau-lah yang paling mengenalnya karena mereka telah berteman selama 72 tahun lamanya. Beberapa hari yang lalu Pastor Doni mengatakan bahwa kondisi Pastor Borst drop namun belum mau diberikan Sakramen Minyak Suci. Saya dan Pastor Doni sebenarnya ingin pergi ke Yogya. Setengah jam setelah saya dan Pastor Doni meninggalkan Wisma St. Lukas Samarinda, saya mendapat berita dari Pastor Felix yang mengatakan kalau Pastor Borst dalam kondisi kritis! Dan setengah jam berikutnya, tepat pada pukul 10.15 Wita – tepat pada hari Kenaikan Tuhan Kita Yesus Kristus, saya mendapat kabar bahwa Pastor Borst, MSF meninggal dunia…Dalam tempo yang begitu cepat semuanya terjadi – seperti yang dialami Ayub dalam Bacaan I tadi, yaitu tentang datangnya berita kesedihan. Hal ini pun berlaku untuk kita semua, kendati mempunyai kekuatan dan andai pun semua kekuatan itu digabungkan, maka tetap tidak akan mampu melawan keputusan bahwa Pastor Borst akan meninggalkan. Tapi kita bisa belajar dari Ayub yang dengan imannya berucap, ”Tuhan yang memberi, Tuhan yang memanggil.” Tuhan telah memberikan beliau kepada Gereja Kalimantan, kepada Keuskupan Banjarmasin, kepada Kongregasi MSF, dan jualah yang mengambil kembali beliau. Terpujilah Dia! Tuhan pasti tahu apa yang terbaik bagi Pastor Borst yang kita cinta bersama. Marilah kita tunduk bersama pada kehendak Tuhan ini dengan menjadikannya sebagai sebuah pengalaman dengan bersyukur atas kehadiran beliau yang telah mewartakan Injil bagi Gereja Kalimantan. Dalam harapan ini, mari kita teruskan ibadat ini dengan bingkai kerelaan kita untuk menghantar Pastor/Konfrater dan saudara kita yang terkasih – Pastor Borst kembali kepada Allah…”

Kenangan akan Pastor Borst, MSF  Pastor Gerardus Hendrikus Borst, MSF Lahir di Rotterdam (Belanda) pada tanggal 23 Januari 1921. Masuk Seminari Menengah pada tahun 1935 di Kaatsheuvel (Belanda) kemudian masuk Novisiat pada tahun 1941 di Nieukerk (Belanda). Seminari tinggi dijalani Pastor Borst di Odenbosch (Belanda) mulai tahun 1942 dan mengucapkan Kaul Kekal di Oudenbosch pada tahun 1945. Pastor Borst ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 27 Juli 1947 di  Oudenbosch.  

Pada bulan Februari 1949, Pastor Borst berangkat ke Kalimantan. Pada mulanya beliau tinggal di Kalimantan Timur untuk memperdalam Bahasa Indonesia. Tahun 1950 – 1953 menjadi Dosen Seminari Menengah di Banjarmasin. Selanjutnya tahun 1953 menjadi Pastor Paroki di Kuala Kapuas. Pada tahun 1954, karena Seminari Menengah Banjarmasin dipindahkan ke Sanga-sanga (Kalimantan Timur), maka Pastor Borst ikut pindah ke Sanga-sanga. Tahun 1956 Pastor Borst menjabat sebagai Pastor Paroki di kota Samarinda. Tahun 1958 Pastor Borst berkesempatan mengambil cuti perdana untuk kembali ke negeri Belanda. Kemudian pada tahun 1959, Pastor Borst menjadi Pastor Paroki di Muara Teweh (Kalimantan Tengah). Tahun 1968, Pastor Borst menjabat sebagai pastor kedua di Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus, Veteran – Banjarmasin, menggantikan Pastor Gielens, MSF yang harus kembali ke Eropa karena alasan kesehatan. 

Pada Februari 1997, sesudah merayakat pesta emas Imamatnya, Pastor Borst pindah ke Banjarbaru dan menjadi emeritus atas permohonan Mgr. F.X. Prajasuta, MSF dan mulai tinggal di Biara MSF Wisma Simeon. Dalam perkembangan selanjutnya Pastor Borst menderita penyakit parkinson dan diabetes mellitus. Karena sakitnya ini, beberapa kali Pastor Borst harus keluar masuk Rumah Sakit ”Suaka Insan” Banjarmasin untuk menjalani pengobatan.  
Lama kelamaan kesehatan Pastor Borst semakin menurun dan akhirnya hanya berbaring di tempat tidur saja. Pada tanggal 17 Mei 2007, tepat pada Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus, pukul 10.15 Wita, sesudah menerima Sakramen Minyak Suci, Pastor Borst, MSF dipanggil menghadap Bapa di Surga.

”Selamat jalan Pastor Borst, kami akan mengiringi perjalanan pastor dengan doa-doa kami…”

8 responses to “Dua Kenangan Istimewa dari Pastor Gerardus H. Borst MSF

  1. Andreas Lim Ming An

    Selamat Jalan Pastor, Bunda Maria bersama Putranya telah menanti Engkau di Surga, Doakanlah kami bila Engkau sudah berbahagia di Surga, Amin..

  2. terima kasih atas doa dan pesan Anda

  3. tiada kata yang bisa diungkapkan untuk berterima kasih kepada Pastor Borst…
    selamat jalan…

  4. Terima kasih pastor Borst, pelayanan mu luar biasa… kami akan selalu mengingat jasamu, tak ada kata yang pantas untuk menggantikan pelayananmu pada umat di paroki veteran… Tuhan Yesus & Bunda Maria Yang Kudus, berikanlah tempat yang layak untuk pastor kami tercinta ini… Kami yang selalu mengenangmu…. Maria Roeslie

  5. Hanya ada Doa yang bisa mengiringi pelayanan luar biasa yang telah Pastor berikan kepada umat Paroki Veteran. Sampai kapanpun, Paroki Veteran akan selalu mengingatMu. Semoga Pastor istirahat dengan tenang, dan selalu mendoakan umat Paroki Veteran dimanapun mereka berada. Terimakasih Pastor, Selamat Jalan.

  6. mungkin agak terlambat saya menyampaikan ini, tapi… dulu saya amat dekat pastor borst.Dulu yang membaptis saya adalah beliau, yang memberikan komuni sampai sakramen khrisma juga beliau, sampai saya tertarik menjadi mesdinar juga beliau. Yang saya paling ingat dengan beliau adalah, kedisiplinan dalam segala hal. Dulu waktu saya pertama kali menjadi mesdinar saya sering di marahin beliau karena saya kurang disiplin. Akhirnya saya tahu gunanya sekarang. Mungkin saya tidak akan seperti ini tanpa bantuan beliau, beliau bagi saya adalah figur seorang “bapak” yang selalu memperhatikan anak-anaknya. Penyesalan saya satu-satunya adalah waktu dia ingin berjumpa dengan saya, tapi saya tidak datang sampai hari penguburannya. Mungkin itu adalah Penyesalan seumur hidup yang tidak bisa saya hapuskan. Selamat jalan Pastor Borst, semoga Allah Bapa memberi tempat terbaik bagimu di Sorga…

  7. Hendrikus Handoyo Charlie

    Banyak kenangan dengan pastorku ini, beliau pastor yang benar-benar mengenal umatnya, hapal nama-nama dombanya karena beliau sering mengunjungi umatnya. Kenangan dimasa kecilku, Dilorong sempit, becek, rumah kontrakan yang pengap/dingin namun teduh dia kunjungi dengan vespanya, menyapa dan memberikan senyuman kepada orang-orang bukan katolik. Setiap mau natal dia membawakan bingkisan natal berupa makanan kecil, sabun mandi, odol, handuk dan susu. Waktu menjadi mesdinar mungkin angkatku yang paling lama setelah menerima komuni hinggak sampai lulus sma bersama: victor jm, lim ming an, agus indrawan, ferry thrombin, agustinus, dll. Beliau orang yang sangat disiplin, beliau juga bisa marah tetapi betul untuk kebaikan umatnya… paling tidak banyak pendidikan karakter buat kita semua..
    Air mataku mengalir saat mendapat kabardari mami bahwa beliau sudah dipanggil Bapa ke Surga . Berbahagialah Pastor Borst di pangkuan Bapa di Surga).

  8. Victor Johanes Mastiono

    Kaku, kolot … itu mungkin penilaian sebagian orang, tapi bagiku, itu suatu bentuk kedisiplinan, kesederhanaan dan imanku yang sangat-sangat kecil dari biji sesawi, akan terus tumbuh, karena perkenalan dengan Beliau.
    Dari ku bayi, kepalaku sudah disentuh oleh Beliau, sekarang pun, ku berdoa, agar selalu disentuh oleh Beliau.
    Aku bersama teman-teman, sungguh beruntung bisa melayani Beliau, walau tidak bisa kami lakukan selamanya.
    Terima kasih TUHAN, Kau hadirkan salah satu GembalaMu bagi kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s