Tugas Kenabian sebagai Rasul

Sesuatu yang istimewa terjadi di Keuskupan Agung Samarinda (KASRI) dalam mengawali tahun baru 2007 adalah berkumpulnya para imam dan biarawan-biarawati yang berkarya di keuskupan ini. Para religius ini berkumpul bukan sekedar berkumpul dan lepas bebas dari berbagai tugas selama sepekan tetapi mereka berkumpul untuk mengikuti retret yang sudah diagendakan oleh pihak keuskupan. Disebut istimewa karena KASRI sendiri menyebut tahun 2007 sebagai tahun rahmat, di mana Keuskupan Agung Samarinda akan merayakan 100 tahun karya misi Gereja Katolik khususnya di wilayah Kalimantan Timur.

Dalam tahun rahmat itulah kegiatan retret para religius ini ditempatkan dan coba dimaknai. Bertepatan dengan tahun rahmat itupula pihak keuskupan mengambil tema yang cukup relevan sebagai bahan permenungan bagi para religius yang berkarya di keuskupan ini yakni ”Tugas Kenabian sebagai Rasul”. Retret yang berlangsung dari tanggal 22-27 Januari 2007 ini di dampingi oleh seorang pakar Kitab Suci dan secara khusus memang mendalami kitab Nabi-nabi yaitu Sr. Gratiana, PRR. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa para peserta retret akan dituntun (diobok-obok) untuk semakin memaknai arti tugas dan karya perutusannya di Keuskupan ini.

Meski ada sedikit keluhan dari Sr. Gratiana atau sederhananya ada semacam keberatan untuk mengisi retret ini pertama-tama karena merasa tidak biasa mendampingi para imam apalagi retret ini diikuti jugaoleh Bapak Uskup Samarinda. Namun keluhan itu, tidak lebih dari kerendahan hati seorang suster. Dan memang benar, sebagaimana yang direfleksikan oleh suster sendiri: ” Maka saya tidak terlalu berkecil hati karena keterbatasan dan kelemahan yang akan muncul dalam renungan-renungan nanti, sebaliknya bahwa melalui kesempatan ini, barangkali Tuhan menghadirkan saya di sini, untuk menghadirkan dan menyuarakan sesuatu dari dalam yang paling lemah dan paling kecil. Maka persoalannya bukan bagaimana pendamping retret menghantar para peserta retret ke tujuan yang masing-masing ingin capai, melainkan bagaimana kita yang hadir di sini, meminta Roh Kudus untuk bekerja keras pada setiap kita, sehingga dapat menyingkap rahasia Allah, pesan-pesan-Nya, saspaan-Nya, melalui figur, kata-kata dari orang lemah yang ada sekarang di antara kita sekarang.”

Selaku pendamping retret Sr. Gratiana PRR mengajak para peserta untuk merefleksikan arti dan makna pertusan nabi Yeremia yang kemudian ditempatkan dalam konteks zaman sekarang khususnya di wilayah KASRI. Terutama berkaitan dengan refleksi menyongsong Perayaan Syukur 100 tahun karya misi Gereja di wilayah Kaltim ini, bagaimana para misionaris pendahulu bersama umat perdana di wilayah ini menabur benih sabda Allah dan akhirnya secara perlahan dan pasti berkembang seperti sekarang bahkan sudah terbagai dalam empat keuskupan.

Dengan merenungkan tugas kenabian tentu yang mau ditegaskan kembali di sini adalah para nabi pertama-tama dipanggil dan diutus secara ajaib, tidak dikatakan dengan jelas, kapan mereka dididik untuk menjadi nabi (kecuali nabi Yeremia) mereka kemudian diutus atas nama Tuhan untuk tanggap terhadap situasi yang penuh kritis, krisis, baik dalam masalh sosial, politik, penindasan dan terlebih pada aspek religius (raja tidak setia pada perjanjian). Ringkasnya menjadi berarti menyampaikan sabda Allah, ikut menyuarakan keprihatinan Allah akan penderitaan umat-Nya.

Maka kalau tugas kenabian dilaksanakan sebagai rasul, itu sama saja bahwa seorang rasul diutus untuk mewartakan firman Allah, tidak hanya menanggapi situasi yang penuh kritis, tetapi di sana sang rasul mewartakan sambil meletakkan sebuah fondasi dasar yang memungkin orang bertumbuh sebagai kelompok orang beriman. Sang rasul perlu mengajar, menuntun umat yang telah menerima Firman Allah, kesuatu masa depan yang tetap berpengharapan akan Hidup Kekal.
Lebih lanjut Sr. Gratiana menguraikan bahwa yang syarat untuk yang dibutuhkan oleh seorang rasul adalah harus menjadi murid Yesus., bahkan perlu menjadi ”murid terkasih”, sebagaimana yang dikisahkan dalam injil Yohanes. Bagaimana pun orang tidak akan berhasil menjadi rasul bila belum sempat menjadi murid Yesus. Syarat untuk menjadi murid pun ternyata tidak mudah, karena setiap orang ditantang dalam pergumulan panggilannya sendiri, bahkan seorang Petrus yang sudah sekian lama hidup bersama Yesus, dan dia sendiri telah lama merasa sebagai nurid dan rasul dan sedemikian mantap, tetapi pada suatu saat dia merasa bingung siapakah Yesus itu sebenarnya?. Ketika Yesus ditangkap dan Petrus mencoba membela Yesus dengan memotong telinga salah seorang yang mau menangkap Yesus, ternyata Yesus marah pada perbuatan Petrus, karena yang dilakukannya ternyata tidak sesuai dengan yang dikehendaki Yesus. Petrus akhirnya menjawab di dekat ruang pengadilan: ” Aku tidak mengenal Dia…, karena gambarannya jauh dari Yesus yang sebenarnya. Maka walaupun kita sudah mapan dengan kerasulan kita… Mari kita relahkan diri untuk merenung dan mencarai kehendak Tuhan, dengan bertanya : bagaimana menjadi murid dan rasul pemberita injil? Untuk itu ”BIARKANLAN ROH TUHAN BEBAS MENYAPA DAN BEKERJA PADA MASING-MASING KITA,MELALUI SATU SAMA LAIN”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s