Seminari Johaninum: Sekolah calon imam dan bruder MSF Kalimantan

BERAWAL DARI GANG MUSAFIR

Tanggal 17 April 1997, Mgr. Herman Joseph S. Pandoyoputro O.Carm, selaku Ketua Komisi Seminari KWI, menulis surat keterangan/rekomendasi mengenai pendirian Seminari Johaninum di Banjarbaru. Sebetulnya gedung Seminari ini sudah diberkati oleh Pater Jenderal MSF (P. Wim van der Weiden, MSF) pada tanggal 4 Agustus 1986.

Surat rekomendasi ini diperlukan untuk urusan ijin pembangunan unit-unit baru sekaligus menjadi semacam pengumuman resmi bahwa Seminari ini berada di bawah pengawasan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan demikian sejak tahun 1986, secara resmi telah berdiri Seminari Johaninum yang secara khusus mempersiapkan calon-calon imam dan bruder MSF Provinsi Kalimantan.

Pertengahan tahun 1999, tepatnya tanggal 17 1999, saya tiba di Seminari Johaninum, untuk mengalami masa transisi menggantikan direktur Seminari Johaninum, karena kecelakaan sepeda motor dan harus istirahat total. Sejak saat itu, sampai dengan hari ini, saya berkecimpung secara penuh dalam pendampingan para calon imam dan bruder MSF untuk Provinsi Kalimantan.

Secara khusus, saya mendampingi para calon pada jenjang yang paling dasar dalam perjalanan hidup sebagai seorang religius di kelak kemudian hari. Para calon, pada tahap persiapan awal ini disebut POSTULAN. Maka tahap pendidikan ini disebut POSTULAT.

MASA POSTULAT

Kata postulat berasal dari kata kerja bahasa Latin postulare yang berarti melamar.
Postulat adalah masa pelamaran, artinya para calon yang secara administratif telah diterima surat lamarannya, menjalani proses penerimaan lamaran itu selama masa tertentu (1-2 tahun) untuk menjadi mantap memasuki tahap awal kehidupan sebagai religius di Novisiat. Maka dapat dikatakan bahwa postulat sebagai ‘pintu gerbang’ untuk masuk ke dalam hidup religius. Maka para postulan bukan seorang religius karena mereka ‘belum masuk’ biara. Mereka masih ‘berdiri di pintu gerbang’ hidup membiara.

Segala sesuatu bisa terjadi di ambang pintu hidup membiara ini. Mereka dapat menjadi semakin mengenal dan mencintai hidup membiara, lalu memutuskan untuk menjalaninya secara serius. Maka mereka melamar untuk masuk ke jenjang novisiat. Sebaliknya, seorang postulan barangkali juga akan ‘tergoncang imannya’ dan kemudian ‘balik kanan’ dan pulang ke rumah karena merasa ‘tidak cocok’. Apa saja yang terjadi di masa ini agar para postulan dapat terbantu untuk semakin jelas melihat arah panggilan hidup?

Para postulan harus DILAYANI. Pada umumnya para calon datang dari mana-mana dengan membawa serta banyak pertanyaan mengenai panggilan hidup sebagai religius, baik sebagai imam maupun sebagai bruder. Pertanyaan itu secara terus terang terungkap dalam kata-kata maupun secara tersembunyi dalam sikap dan tingkah laku mereka sehari-hari. Melayani para postulan atau calon religius di tahap Postulat dengan menerima mereka apa adanya, lengkap dengan keterbatasan dalam segala aspek manusiawi. Pelayanan seperti ini menuntut seni kesabaran tersendiri.

Para postulan DIUJI atau DI-TEST selama masa postulat. Selama masa postulat, pihak tarekat mempunyai kesempatan untuk mengenal dan mengetahui kemampuan mereka sehingga dapat menilai panggilan mereka dan mengukur kemapuan para calon. Untuk itu pelajaran-pelajaran khusus yang dulu tidak diberikan di sekolah-sekolah umum seperti : pelajaran Kitab Suci, Sejarah Gereja, Liturgi, Bahasa Latin, Metode Belajar Efektif, dll diajarkan pada masa persiapan ini. Selain kemampuan akademis, berbagai ketrampilan pun dikembangkan di masa Postulat. Para postulan mendapat kesempatan cukup banyak untuk berlatih musik (guitar dan organ dan dirigen), komputer, dan olahraga (renang, volley, sepakbola, pingpong) dan memelihara rumah/biara dan kebun. Sebagian besar tugas pemeliharaan rumah biara dijalankan sendiri oleh para postulan. Dengan demikian, ujian terhadap para calon semakin lengkap dan tentu saja juga bertambah berat.

Para Postulan MENYESUAIKAN DIRI selama masa postulat. Tuntutan adaptasi ini tidak dapat dihindarkan. Kehidupan religius memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu yang kadang-kadang berbeda dengan kehidupan umum di dunia. Maka dapat dimengerti bahwa kadang-kadang para postulan berkurban perasaan karena banyak hal yang belum dipahami. Maka para postulan diharapkan mempunyai kerendahan hati untuk bertanya. Mereka juga harus mempunyai kesabaran yang cukup karena penyesuaian memerlukan waktu yang lama.

Melalui proses seperti itu, para postulan dapat MEMURNIKAN MOTIVASI untuk menjadi religius. Diharapkan terjadi pergeseran dari motivasi sampingan ke motivasi utama; dari motivasi yang kurang terpuji ke motivasi yang baik; dari motivasi yang kurang disadari ke motivasi yang semakin disadari. Suatu ketika, saya bertanya kepada salah seorang postulan, mengapa ia harus belajar bahasa Inggris di Seminari Johaninum? Serta merta ia menjawab bahwa ia belajar bahasa Inggris agar dapat berbicara dengan wisatawan asing dari Inggris yang dia jumpai. Dapat berbicara bahasa Inggris dengan wisatawan asing, pasti hal yang bagus dan dapat dipuji tetapi untuk tujuan seperti ini, orang tidak perlu masuk seminari. Para Postulan dituntut mampu menguasai bahasa Inggris karena tuntutan studi filsafat dan teologi dan unsur universalitas perutusan yang akan diemban di kemudian hari.

SEMINARI MSF ‘JOHANINUM’

Uraian mengenai masa postulat di atas pada umumnya berlaku untuk semua postulat, apa pun tarekat atau kongregasi, kendati selalu saja ada program khusus sesuai dengan kebutuhan kongregasi. Bagaimana dengan Seminari Johaninum?

Pertama, Seminari Johaninum adalah Seminari khusus untuk Kongregasi MSF Provinsi Kalimantan. Artinya, para pemuda katolik yang ingin menjadi seorang imam atau bruder MSF Provinsi Kalimantan, mulai mempersiapkan diri di Seminari ini. Para calon yang mau belajar di Seminari ini minimal sudah lulus SMU atau SMK, atau bahkan yang sudah kuliah dan bekerja, dengan batas usia maksimal 30 tahun. Dengan demikian, bisa saja terjadi bahwa dalam satu angkatan itu, mereka terdiri dari bermacam-macam orang dengan perbedaan usia yang besar.

Kedua, selama sepuluh tahun ini (sejak didirikan tahun 1996), para calon MSF Kalimantan yang belajar di Seminari Johaninum, sebagaian besar justru datang dari luar pulau Kalimantan. Maka tuntutan penyesuaian sebagaimana dikatakan di atas, semakin dirasakan pentingnya. Oleh karena itu, Seminari Johaninum, sejak angkatan pertama, mempunyai program LIVE IN Pekan Suci di paroki-paroki di wilayah Keuskupan Banjarmasin, Palangka Raya dan Keuskupan Agung Samarinda. Selama kurang lebih sepuluh hari, para postulan (seminaris) melayani ibadat pekan suci di stasi-stasi pedalaman Kalimantan.

Pada kesempatan ini mereka menggali dan menggunakan semua talenta semaksimal mungkin: sebagai pemimpin ibadat, pengkotbah, pemimpin lagu, dan aktor drama, sebagai bagian dari ekpresi diri di stasi-stasi. Situasi dan kondisi medan pastoral Kalimantan yang khas membuka wawasan mereka. Misalnya para postulan yang datang dari “dunia kering” tanpa pernah melihat sungai-sungai besar, akan terbelalak matanya menghadapi sungai-sungai besar di Kalimantan seperti sungai Barito di Kalimantan. Di harapkan tidak hanya matanya terbelalak tetapi juga budi dan hatinya terbuka terhadap gaya hidup pinggir sungai dari umat yang dihadapi. Atau jarak tempuh yang cukup “jauh” dari pusat paroki ke stasi-stasi, akan menantang mereka untuk mengukur kembali semangatnya yang sedang “menggebu-gebu” untuk menjadi seorang misionaris sejati.

Tujuan pertama dari program LIVE IN ini agalah agar mereka semakin mengenal situasi Gereja Lokal. Pengalaman LIVE IN ini dilaporkan secara tertulis dalam paper sebagai suatu laporan ilmiah. Kedua, Pengalaman LIVE IN yang direfleksikan dapat membantu mereka untuk memurnikan motivasi panggilan hidup.

DARI SEMINARI ‘JOHANINUM’ KE MANA?

Kongregasi MSF Provinsi Kalimantan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para calon untuk mempersiapkan diri di Seminari Johaninum: paling lama dua tahun dan paling cepat 1 tahun. Artinya, bagi para calon yang dapat mempersiapkan diri dengan baik dan siap untuk masuk ke Novisiat dalam waktu satu tahun saja, maka mereka tidak perlu menjalani postulat tahun II. Sedangkan bagi beberapa calon lain, yang dalam proses penyesuaian dan pengembangan diri, memerlukan waktu lebih dari satu tahun, maka mereka diberi kesempatan untuk menjalani tahun II.

Studi dan pengembangan kepribadian di Seminari Johaninum hanya “awal” dari proses panjang pembentukan menjadi seorang religius imam dan bruder MSF Provinsi Kalimantan. Mereka masih harus melanjutkan proses selanjutnya di Novisiat MSF di Kota Salatiga (Jawa Tengah) selama satu tahun dan Studi Filsafat Teologi di Yogyakarta selama tidak kurang dari delapan tahun.

Memang. Proses ini bila hanya dibayangkan akan terasa panjang dan lama. Namun bila dijalani dengan sungguh-sungguh, rasanya tidak akan lama. Tidak ada program percepatan dalam pembentukan calon imam dan religius. Apalagi jalan pintas. Tetapi apabila Anda ingin mengayunkan seribu langkah panggilan imam dan religius, sebaiknya langkah pertama harus diayun. Seminari JOHANINUM Banjarbaru, dapat menjadi langkah pertama Anda.

Bila Anda berminat setelah membaca tulisan ini dan ingin mengenal lebih banyak mengenai Seminari Johaninum, Anda dapat menghubungi kami :

Direktur Seminari Johaninum
Jl. A. Yani KM 36 / Gang Musafir
Kotak Pos 1068 Banjarbaru 70714
Telp 0511-4778074; atau 08125063936
E-mail : anakgunung670526@yahoo.com atau : teddymsf@yahoo.com

5 responses to “Seminari Johaninum: Sekolah calon imam dan bruder MSF Kalimantan

  1. kepada;
    Yth p.Agus Doni,Msf
    di- Banjarbaru

    sebelumnya saya terlebih dahulu minta maaf,kepada Rm.doni.hal ini sehubungan dengan salah satu seminaris di Johaninum.Mohon kesedian RM,UNTUK memberi peringatan kepada saudara FOLCE,agar tidak lagi mengganggu pacar saya.dia sudah 2 kali melakukun hal ini,sebelum saya melakukan atau mengambil tindakan sendiri.terima kasih.

  2. masuk seminari,berarti bersedia di didik untuk menjadi manusia bermoral & menggali panggilan lebih dalam lagi.untuk itu kepada rektor maupun para dosen di Johaninum,hendaklah mendidik para seminaris yang benar-benar waras,jangan sampai membuat jelek johaninum.terus terang saya mencintai johaninum,tapi bila tidak di jaga,maka akan rusak.THX

  3. Dear Yudith. Banyak terima kasih atas suratmu. Maaf bila saya terlambat menanggapinya. Saya memberikan email addresku di atas sehingga Yudith bisa menulis lebih banyak mengenai permasalahan ini dan kita dapat bercerita secara lebih leluasa.
    Bagaimana pun juga saya menyampaikan banyak terima kasih atas dua surat Yudith.
    Bila tidak berkeberatan, Yudith dapat memperkenalkan diri secara lebih rinci melalui email ke anakgunung670526@yahoo.com

  4. Shyalom….. salam kasih Kristus aku ucapkan…..
    maaf siapa pendiri konggrasi MSF, hidup spiritulnya,kehidupan anggotanya,keistimewaan konggrasi ini dengan konggrasi lainya,karyanya apa saja,dimana tempat karyanya, serta apa saja yang menjamin dalam hidup konggrasi ini dihari tua nanti…..
    Terima kasih saya ucapkan atas perhatiannya. Sekian dan terima kasih.
    Selamat Malam dan salam Kasih Kristus

  5. hope I can join and its not to late … thanks and GBU all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s