Pourquoi á la Salette?

Pada hari Jumat, 3 Februari 2006, aku (Ionday) bersama Rm. Frans, P. Pablo, P. Scepan dan Diacre Firmino berangkat ke La Salette. Kami berangkat dari Lyon dengan naik kereta sampai Grenoble kemudian naik bus menuju La Salette. Mulai dari Grenoble hawa dingin sudah mulai menusuk tulang dan hampir seluruh kota dan pegunungan diselimuti salju yang cukup tebal. Sopir bus bilang perjalanan akan memakan waktu kurang lebih 2 jam dan bus hanya sampai Village (desa) Corps. Di Corps kami akan di jemput oleh Pastor dari La Salette.

Perjalanan dengan bus pun dimulai, saya mengambil tempat duduk didepan bukan karena takut mabuk melainkan ingin menikmati perjalanan dan bisa melihat pemandangan kota Grenoble yang sangat indah. Perlahan-lahan tapi pasti kami mulai meninggalkan kota Grenoble dan memasuki desa-desa yang jauh lebih indah lagi walau sebagian besar ditutupi salju yang tebal. Kiri-kanan jalan terlihat gunung-gunung indah yang berselimutkan salju dan di sana-sini terlihat orang bermain ski. Terlihat juga sungai dan danau yang membeku sehingga orang bisa bermain ski di atas danau atau sungai yang membeku tersebut. Tiba-tiba bus berhenti, ternyata kami sudah sampai di Corps. Perjalanan 2 jam tidak terasa karena aku terlalu asyik menikmati perjalannan serta indahnya pemandangan.

Di Corps, sudah ada seorang Pastor menunggu kami dengan mobil dan siap membawa kami menuju La Salette. Kami berlima menyalami Pastor…… dan kemudian kami masuk mobil dan lagi-lagi aku mengambil tempat duduk di depan. Ternyata pilihan ku untuk duduk di depan tepat sekali karena aku bisa menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Ditambah jalan menuju La Salette sangat menantang karena mengitari gunung, sangat licin, berkelok-kelok dan kiri-kanan penuh dengan salju bahkan dijalan-jalan masih ada salju walau sudah dibersihkan dan sudah ditaburi garam agar salju cepat mencair. Satu persatu desa kami lewati, namun belum juga sampai di La Salette dan mobil kami terasa semakin lama semakin miring karena terus mendaki dan saya melihat desa yang kami lewati ada jauh dibawah kami artinya La Salette ada di puncak gunung. Dan memang demikian, dari kejauhan di atas gunung terlihat ada bangunan megah dengan Basilik dan terlihat juga patung yang tidak asing lagi yakni Patung Bunda Maria La Salette dengan dua patung kecil (patung Maximin dan Melanie) yang hanya telihat separuh badan karena tertutup salju.

Kami sekarang sudah sampai tujuan, dan aku tiada hentinya menikmati pemandangan disekeliling gunung dan terutama patung Bunda Maria La Salette yang selama ini hanya saya lihat melalui photo. Aku melempar pandangan lebih jauh lagi dan di puncak salah satu gunung terlihat ada Cimitière (kuburan) dimana Bapa kita Pater Berthier sang Fondatur kongregasi kita ; Missionaris Keluarga Kudus terbaring dengan tenang. Aku tertegun seakan tidak percaya bahwa aku sekarang benar-benar ada di La Salette. Lalu……muncullah pertanyaan ini ; mengapa Maria memilih tempat tersebut ? Mengapa Maria menampakkan dirinya kepada anak kecil ? Mengapa Pater Berthier jauh-jauh dari Chatonay tertarik ke La Salette ? La Salette ada di puncak gunung, jauh dari tempat penduduk ditambah lagi kalau musim dingin selalu diselimuti salju. Saya membayangkan pada 19 septenber 1846, saat Maria menampakkan dirinya pada dua anak kecil (Maximin dan Melanie) daerah tersebut pasti sangat terasing dan sangat berbahaya karena dikelilingi gunung dan banyak jurang. Di puncak gunung La Salette aku mencoba merenungkan ketiga pertanyaan tersebut bersama dinginnya gunung La Salette karena seluruh gunung diselimuti salju yang tebal.

Mengapa Maria memilih tempat tersebut ?

Pertama : Gunung merupakan lambang keteguhan dan kekokohan dimana juga sering digambarkan sebagai tempat yang baik untuk meditasi serta untuk menemui sang Pencipta. Dalam Perjanjian Lama nabi Musa menemui Allah dan menerima 10 perintah Allah di atas gunung Sinai. Dalam Perjanjian Baru, Yesus banyak mengajar para murid-Nya di atas bukit (gunung) yang terkenal dengan sabda Yesus di atas bukit. Berbicara mengenai gunung maka identik dengan batu tapi itu tidak seratus persen benar karena ada juga gunung pasir dan gunung es. Namun kembali pada Perjanjian Baru di mana Yesus menyerahkan tugas perutusan kepada Petrus yang berarti Batu Karang sebagai lambang kekokohan Iman..
Kedua : Gunung identik dengan keindahan dan merupakan tempat dimana kita bisa memandang dunia ini dengan lebih luas. Gunung selalu teguh berdiri dan setiap orang bisa melihatnya karena ia tidak pernah menyembunyikan dirinya. Di atas gunung, kita akan menyadari betapa agung Sang Pencipta dan betapa kecil kita sebagai ciptaan-Nya.

Jadi mengapa Maria memilih Gunung La Salette bisa dikatakan karena tempat tersebut memang sangat pas dengan kriteria di atas. Bunda Maria bisa melihat segala tingkah laku anak-anaknya dan mencoba menginngatkan mereka bila mereka mulai meninggalkan Puteranya. Maria La Salette ingin meletakkan pesan rekonsiliasi pada satu fondasi yang kokoh yakni dengan mengambil simbol gunung. Gunung tersebut bisa berarti Melanie, Maximin, Pater Berthier dan tentu juga kita semua yang sekarang berlindung di bawah perlindungan Bunda Maria La Salette.

Mengapa Maria menampakkan diri kepada kepada anak kecil ?

Seorang anak kecil identik dengan kepolosan dan kejujuran yang tidak dibuat-buat. Seorang anak kecil adalah lambang kesucian. Yesus menegaskan, bahwa bila kita ingin masuk surga kita harus seperti anak kecil tapi bukan dalam arti menjadi kekanak-kanakan melainkan dalam arti suci murni lahir-batin. Maka kalau Maria memilih Maximin dan Melanie sebagai penyambung lidahnya, itu sangat bisa kita mengerti karena Maximin dan Melanie adalah dua pribadi yang masuk dalam kriteria di atas. Mereka berdua adalah dua anak yang polos, suci dan murni. Mengenai dua pribadi ini, para Pastor Missionaris La Salette banyak menulis dan saya sangat percaya bahwa mereka berdua adalah dua pribadi yang sangat baik.

Mengapa Pater Berthier jauh-jauh dari Chatonay tertarik ke La Salette ?

Pada jaman itu di Francis, devosi kepada Bunda Maria memang sangat kuat. Pater Berthier juga mempunyai devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria dan rupanya pesan Rekonsiliasi dari Bunda Maria La Salette sangat menyentuh hatinya sehingga beliau memutuskan untuk masuk Missionaris La Salette serta melayani para pejiarah di gunung La Salette. Gunung La Salette merupakan suatu tempat yang sangat indah (bahasa Francis : Très Joli). Menurut saya sangat cocok dengan pribadi Pater Berthier yang suka berdevosi kepada Bunda Maria dan juga mempunyai kemanpuan untuk berkotbah yang luar biasa sehingga sangat pas sebagai penyambung lidah Bunda Maria La Salette untuk menyampaikan pesan rekonsialiasi kepada seluruh umat manusia khususnya mereka yang berjiarah ke La Salette. Selain hal-hal di atas Pater Berthier sangat gemar menulis sehingga tak heran kalau buku hasil karyanya sangat banyak. Pada saat musim dingin dimana para pejiarah sangat sedikit dan untuk bekerja di luar rumah sungguh tidak memungkinkan karena semua gunung La Salette ditutupi salju. Maka, waktu untuk merenung dan menulis sangat banyak dan hal ini digunakan Pater Berthier untuk menulis tentang Maria La Salette dan Keluarga kudus. Maria La Salette dan Figur Keluarga Kudus sangat mewarnai hidup Pater Berthier sehingga sangat bisa dipahami jika beliau memilih Maria La Salette sebagai pelindung Kongregasi dan Keluarga Kudus sebagai Teladan Kongregasi kita (MSF).

Di dalam keheningan dan keindahan gunung La Salette, Pater Berthier menangkap keprihatinan Bunda Maria La Salette dan juga keprihatinan gereja saat itu melalui ensiklik Bapa Paus Leo XIII (Sancte Dei Civitas, 3 desembre 1880 dan Bref. Neminem Fugit) yang menginginkan misi ke seluruh dunia dan devosi kepada Keluarga Kudus. Pater Berthier bertekad untuk menjawab keprihatinan tersebut dengan mendirikan suatu institut yang khusus mendidik anak muda untuk menjadi tenaga misionaris handal yang siap dikirim ke tanah misi dan mempunyai devosi khusus kepada Keluarga Kudus. Institut inilah yang menjadi cikal bakal kongregasi kita (MSF) sekarang ini.

Maka, kalau saya mengatakan La Salette menjadi penting bagi perjalanan sejarah kongregasi kita, bukan semata-semata karena sekarang ini, kuburan Pater Berthier ada di La Salette tapi karena proses kearah terbentuknya kongregasi kita diawali dari La Salette. Kita juga jangan lupa, Pater Berthier adalah anggota Missionaris La Salette. Pater Berthier untuk selamanya tetap anggota (MS), Saya hanya ingin mengingatkan kita semua, jangan sampai kata pepatah ini “seperti kacang lupa pada kulitnya” terjadi pada kongregasi kita.

Itulah oleh-oleh yang bisa saya bagikan dari puncak La Salette……..jangan juga lupa……Ion adalah orang yang tidak bisa diam……..alias tidak bisa hening……. Saya berharap kita semua lebih banyak lagi bertanya mengapa dan mengapa serta menjawabnya sendiri……..Salam dari Pater Berthier dan beliau berjanji untuk selalu mendoakan kita semua….. dan kita diharapkan juga untuk tetap setia pada panggilan kita….. amin.

P. Ionday, MSF.

Iklan

One response to “Pourquoi á la Salette?

  1. TUHANmu, TUHANku, dan TUHAN kita semua;

    1. Coba lihat kembali sejarah manusia dlm mencari TUHANnya, mulai dari men-TUHAN-kan Patung, Binatang, Matahari sampai Dewa-2, Bagaimana dan apa sj yg dilakukan dengan TUHANnya ?, Mengapa semua terjadi spt itu ?

    2. Kemudian bagaimana, kapan, dan dimana Agama-agama itu lahir ?

    3. Kalau masing-2 Agama mempunyai TUHAN sendiri-2, alangkah banyaknya TUHAN ini ! dan kalau betul demikian, bagaimana TUHAN-2 itu bersahabat dan berdebat ! dan mungkin berkelahi kali ! kalau betul TUHAN lebih dari satu ! (logika Manusia, APA IYA ?).

    4. Pastikan TUHAN ini Cuma satu dan tdk mungkin banyak (logika kita/ akal rasio, coba renungkan dalam-2).

    5. Jadi TUHANnya Orang Budha, Hindu, Kristen, Shinto, Kong Huchu, ISLAM, aliran kepercayaan mungkin SAMA ? dan hanya SATU (maha Esa !) TUHAN.

    6. Kalau TUHAN hanya satu dan Cuma satu-satunya, yang mana diantara TUHAN-TUHAN itu yg mrpk TUHAN sesungguhnya dan siapa beliau ini ? (Mr. X itu ?) dan spt apa wujudnya TUHAN itu ? (setiap orang akan berpikir sesuai dg persepsi masing-2 kan ).

    7. Bagaimana manusia (ciptaannya) mengetahui bhw Dia adl TUHANnya dan bagaimana TUHAN menyatakan dirinya serta memberitahukan bhw Dirinya adl TUHAN yg sesungguhnya bagi alam semesta beserta isinya (manusia, fauna, & flaura) ?.

    8. Silahkan pelajari semua agama (PROTESTAN, KATHOLIK, ADVENT, ISLAM, HINDU, BUDHA, SINTO, KONG HUCHU, Aliran Kepercayaan) berikut kitab-2 sucinya (TAURAT, ZABUR, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, INJIL, AL QUR`AN, WEDA, Dll) apa saja isi kitab-kitab suci dan bagaimana proses diturunkan (dibuatnya) ?

    9. Jangan pernah berhenti mencari TUHAN yg sesungguhnya, niscaya dan insyaa ALLAH, TUHAN yg sesungguhnya akan menemui kita.

    10. SELAMAT MENCARI, semoga TUHAN yg sesungguh akan segera menemui kita, amien.

    BISARA SIANTURI bercerita;

    Lelaki bernama Bisara Sianturi ini bukannya sembarangan lelaki. Dia ialah anak muda yang fanatik dengan agama Prostestan.
    Apa yang menarik mengenai Bisara ini, ialah percubaannya untuk mempengaruhi sebuah keluarga muslim di Medan agar menerima ajaran Kristian Prostestan berkesudahan dengan kegagalan. Namun dari ketewasannya berdialog dengan seorang haji, menjadi penyebab dia mendapat hidayah dari Allah SWT.

    Bisara Sianturi dilahirkan di Tapanuli Utara pada 26hb Jun 1949. Dia dibesarkan dalam didikan keluarga yang taat penganut Prostestan.
    Pada tahun 1968 Bisara telah merantau ke Kota Medan. Nasibnya agak baik kerana berkesempatan berkenalan dengan keluarga Walikota(Datuk Bandar) Medan ketika itu, Ahmad Syah. Dari kemesraan hubungan itu dia mendapat kesempatan tinggal bersama-sama di rumah keluarga walikota berkenaan.

    Bisara mengaku, selama tinggal di rumah keluarga walikota tersebut, dia cuba mendakwah anak-anak walikota itu lagu-lagu gereja. Kebetulan anak-anak walikota dekat dengannya dan suka dengan lagu-lagu yang diajarkannya. Sementara walikota sendiri tidak pernah marah kepadanya. Bahkan dia pernah bertanya kepada walikota tentang agama apa yang baik. Walikota itu menjawab, bahawa semua agama itu baik.

    Pemikiran terbuka walikota seperti itulah uyang membuatnya senang dan berani mengajarkan lagu-lagu gereja kepada anak-anaknya. Menurutnya, kalau orang sudah memeliki pemikiran seperti ini, biasanya akan mudah diajak masuk Kristian.”Saya berniat mengkristiankan keluarga ini. Pertama-tama melalui anak-anaknya dulu. Makanya saya ajari mereka lagu-lagu gereja. Anehnya, mereka suka sekali dengan lagui-lagu yang saya ajarkan,” kenang Bisara Sianturi.

    Usaha Bisara untuk mengkristiankan keluarga walikota melalui anak-anaknya ternyata tidak boleh berjalan dengan lancar. Di rumah walikota itu tinggal juga bapa mertuanya, Haji Nurdin. Meskipun walikota tidak merasa keberatan anak-anaknya diajarkan lagu-lagu gereja, tetapi Haji Nurdin tidak suka kalau cucu-cucunya diajarkan lagu-lagu gereja oleh Bisara.

    Pada suatu petang, di ruang depan rumah walikota, Haji Nurdin mengajak Bisara untuk bercakap masalah serius. Haji Nurdin yang luas pengetahuan agamanya ini mengajaknya berdialog mengenai agama. Bahkan beliau menawarkan diri untuk masuk Kristian jika Bisara mampu menyakinkan Haji Nurdin melalui hujah-hujahnya.

    “Kalau kamu boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan benar, saya berserta keluarga saya seluruhnya dengan ikhlas dan sukarela akan mengikuti kepercayaan kamu,” kata Haji Nurdin waktu itu. Tawaran itu tentu saja menggugat hati Bisara. Dia dengan bersemangat menyanggupinya. Dia mengira akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Haji Nurdin dengan mudah. Ternyata kemudiannya semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Haji Nurdin membuat keyakinnannya terhadap Kristian pula goyah.

    “Mana lebih dahulu Tuhan dengan air?” tanya Haji Nurdin.
    “Pak Haji ini bercanda. Anak kecil juga bisa menjawab,” ucap Bisara.
    “Saya tidak bercanda. Kalau kamu boleh menjawapnya, saya dan keluarga akan masuk agamamu!” tegas Haji Nurdin.
    “Tentu lebih dahulu Tuhan, kerana Tuhanlah yang menciptakan air,” jawab Bisara.

    “Kalau begitu, bila Tuhan kamu lahir? Bukankan Tuhanmu, Jesus, lahir pada tahun 1 Masehi? Bukankah tarikh Masehi yang kita pakai sekarang ini mengikuti tarikh kelahiran Jesus? Bukankah sebelum Jesus lahir setelah ada air? Kalau begitu air lebih dulu ada sebelum adanya Tuhanmu?” balas Haji Nurdin. Bisara kebingungan sendiri. Tetapi dia dengan mudah menjawabnya kembali.
    “Jesus itu’ kan anaknya Tuhan.”
    “Bukankah dalam ajaran agamamu dikenal ajaran “Trinitas” yang menganggap tiga tuhan, iaitu Tuhan Bapak, Jesus dan Roh Kudus sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan? Satu bererti tiga dan tiga bererti satu. Kalau demikian, tidak mungkin kita memisahkan Tuhan Bapak, Jesus dan Roh Kudus.

    “Kalau Tuhan Jesus jatuh atau diragukan dengan pertanyaan seperti tadi, bererti yang lain juga ikut jatuh,” kata Haji Nurdin.
    Bisara tambah bingung. Ianya tidak boleh membantah lagi.
    “Yang kedua. Dalam Injil Matius pasal 27 ayat 46, disebutkan bahawa Jesus meminta tolong ketika sedang disalib. Cuba kamu fikir, bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Sempurna minta tolong, Kalau Tuhan minta tolong, bererti dia tidak pantas dianggap Tuhan,” kata Haji Nurdin.

    Kali ini Bisara tambah terkejut. Dia tidak menyangka Haji Nurdin mengerti banyak tentang Injil. Oleh itu, dia tidak mampu menjawab lagi.
    Bisara kesal, meskipun semua meresap ke dalam hatinya, tetapi ia tidak menerima begitu saja. Dia balik bertanya kepada Haji Nurdin tentang kebiasaan orang islam menyunat anak-laki-lakinya.

    Al-Haj Lord Headly Al-Farooq
    Seorang Bangsawan, Negarawan dan Pengarang
    Mungkin ada kawan-kawan saya yang mengira bahwa saya telah terpengaruh oleh orang-orang Islam. Dugaan itu tidak benar, sebab kepindahan saya kepada agama Islam adalah timbul dari kesadaran saya sendiri, hasil pemikiran saya sendiri.
    Saya telah bertukar pikiran dengan orang-orang Islam terpelajar tentang agama hanya terjadi beberapa minggu yang lalu. Dan perlu pula saya kemukakan bahwa saya sangat bergembira setelah ternyata bahwa semua teori dan kesimpulan saya persis seluruhnya cocok dengan Islam.
    Kesadaran beragama, sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, harus timbul dari kebebasan memilih dan putusan yang spontan, dan tidak boleh ada paksaan. Mengenai hal ini, Jesus Al-Masih menyatakan kepada para pengikutnya:
    “Dan orang tidak akan dapat menerima kamu atau memperhatikan kata-kata kamu, apabila kamu meninggalkan dia.” — Injil Markus, VI, 2.
    Saya banyak mengetahui tentang aliran Protestan yang fanatik, yang berpendapat bahwa kewajiban mereka ialah mendatangi rumah-rumah orang Katolik Roma untuk mengusahakan supaya kawan-kawan se-“kandang”-nya itu bertaubat. Tidak bisa diragukan lagi bahwa tindakan yarig menyolok ini, adalah suatu tindakan yang tidak jujur, bahkan setiap jiwa yang murni akan mengutuknya, karena hal itu dapat membangkitkan pertentangan-pertentangan yang menodai keluhuran agama. Maaf saya katakan, bahwa kebanyakan misi Nasrani juga telah mengambil langkah-langkah yang sama terhadap saudara-saudaranya yang memeluk agama Islam. Saya tidak habis pikir; mengapa mereka selalu berusaha memurtadkan orang-orang yang pada hakekatnya lebih dekat kepada ajaran Jesus yang sebenarnya dari pada mereka sendiri?! Saya katakan demikian, sebab dalam hal kebaikan, toleransi dan keluasan berpikir dalam akidah Islam lebih dekat kepada ajaran Kristus, dari pada ajaran-ajaran sempit dari Gereja-gereja Kristen sendiri.
    Sebagai contoh ialah Kredo Athanasia yang mengecam akidah Trinitas dengan keterangannya yang sangat membingungkan. Aliran ini yang sangat penting dan berperanan menentukan dalam salah satu ajaran pokok dari Gereja, menyatakan dengan tegas bahwa dia mewakili ajaran Katolik, dan kalau kita tidak percaya kepadanya, kita akan celaka selama-lamanya. Tapi kita diharuskan olehnya supaya percaya kepada akidah Trinitas. Dengan kata lain. Kita diwajibkan beriman kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Agung, kemudian pada waktu yang sama kita diharuskan menutupinya dengan kezaliman dan kekejaman, seolah-olah kita menutupi manusia paling jahat. Sedangkan Allah swt. amat jauh dari kemungkinan bisa dibatasi oleh rencana manusia lemah yang mempercayai akidah Trinitas atau Tatslits.
    Masilh ada satu contoh lagi tentang kemauan berbuat baik. Saya pernah menerima surat –tentang kecenderungan saya kepada Islam– dimana penulisnya menyatakan bahwa apabila saya tidak percaya kepada ke-Tuhan-an Yesus Kristus, saya tidak akan mendapat keselamatan. Pada hal soal ke-Tuhan-an Yesus itu menurut pendapat saya tidak sepenting soal: “Apakah Yesus Kristus telah menyampaikan Risalah Tuhan kepada manusia atau tidak?” Jika saya meragukan soal ini, pastilah pikiran saya akan tergoncang. Akan tetapi, alhamdulillah, saya tidak ragu-ragu sedikitpun, dan saya harap bahwa kepercayaan saya kepada Yesus dan segala ajarannya tetap kuat seperti keyakinan setiap orang Islam atau setiap pengikut Yesus Kristus. Sebagaimana yang sering saya kemukakan bahwa agama Islam dan agama Kristen yang diajarkan oleh Yesus sendiri, adalah laksana dua saudara sepupu. Antara kedua agama itu hanya berbeda dengan adanya dogma-dogma dan tatacara yang mungkin tidak diperlukan.
    Sekarang ini manusia sudah mulai menjurus kepada ketiadaan iman kepada Allah s.w.t. manakala mereka diminta supaya percaya kepada dogma-dogma dan kepercayaan-kepercayaan yang berpandangan sempit, dan dalam waktu yang bersamaan manusia haus kepada suatu agama yang dapat berbicara kepada akal dan athifah (sentiment) kemanusiaan.
    Siapakah yang pernah mendengar bahwa seorang Muslim menjadi seorang atheist? Memang mungkin ada beberapa kejadian, tapi saya sangat meragukannya. Saya tahu ada beribu-ribu orang pria dan wanita, yang dalam hatinya adalah Muslim, akan tetapi secara biasa mereka tidak berani mengemukakan isi hatinya secara terang-terangan, dengan maksud supaya bisa menghindari gangguan-gangguan dan kesulitan-kesulitan yang akan dialami kalau mereka menyatakan ke-Islamannya secara terbuka. Justru saya sendiri mengalami yang demikian itu selama 20 tahun dalam keimanan saya secara terang-terangan yang telah menyebabkan hilangnya pikiran baik dari teman-teman saya.
    Saya telah menerangkan alasan-alasan saya, mengapa saya menghormati ajaran-ajaran Islam, dan saya umumkan bahwa saya sendiri telah memeluk Islam lebih baik dari pada sewaktu saya masih seorang Kristen. Saya hanya bisa mengharap bahwa kawan-kawan saya mau mengikuti contoh ini yang saya tahu adalah suatu contoh yang baik, yang akan membawa kebahagiaan kepada setiap orang yang memandang langkah hidup saya sebagai suatu kemajuan dan jauh dari bersifat bermusuhan terhadap agama Kristen.
    Tentang Pengarang : Lord Headly Al-Farooq
    Lord Headly Al-Farooq dilahirkan pada tahun 1855. Beliau adalah seorang bangsawan Inggris, negarawan dan pengarang. Belajar pada Universitas Cambridge dan menjadi seorang bangsawan pada tahun 1877, mengabdikan diri dalam kemiliteran dengan pangkat Kapten, dan terakhir sebagai Letnan Kolonel dalam Batalion IV Infanteri di North Minister Fusilier. Walaupun beliau seorang insinyur, beliau berkecimpung juga dalam bidang kesusastraan. Beliau pernah menjabat sebagai Redaktur s.k. “Salisbury Journal” dan banyak mengarang buku-buku, dan yang paling terkenal ialah “A Western Awakening to Islam”.
    Beliau telah menyatakan ke-Islaman-nya pada tanggal 16 Nopember 1913 dan berganti nama menjadi Syaikh Rahmatullah Al-Farooq. Beliau banyak melakukan perjalanan, dan pernah mengunjungi India pada tahun 1928.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s