Menyorot Pendidikan Imam

”Sudah sedikit calonnya, kwalitasnya menurun lagi….”

Persoalan pendidikan calon imam dari waktu ke waktu kian menarik perhatian umat dan masyarakat pada umumnya. Mulai dari soal mutu semanaris yang dirasakan semakin merosot, soal panggilan menjadi imam yang kian berkurang sampai kepada soal imam yang menanggalkan jubahnya. Persoalan terakhir ini memang sungguh memprihatinkan umat. Tidak sedikit imam yang kegerahan lalu mencopot jubahnya, terus lari meninggalkan imamat jabatannya.

Salah satu persoalan yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan oleh umat ialah tentang langkanya panggilan hidup menjadi imam khususnya dan biarawan-biarawati umumnya.

Imam Ibarat BBM

Hidup edisi 6 juli 2003 menampilkan sebuah karikatur yang dibuat oleh Rm. Koko MSF. Karikatur yang ditampilkan memang sangat sederhana, namun dari kesederhaan itulah Rm. Koko ingin menyampaikan keprihatinannya yang mendalam tentang panggilan. Dalam karikatur itu beliau menampilkan ’figur’ seorang uskup yang sudah bungkuk dengan kalimat demikian ”sudah sedikit calonnya kualitasnya menurun lagi….”

Hal yang sulit dipungkiri, dari waktu ke waktu jumlah calon imam semakin merosot dan soal kwalitas yang semakin dipertanyakan. Wajar kalau yang ditampilkan oleh Rm. Koko dalam karikatur tersebut sudah sangat mewakili aspirasi
sebagian besar umat. Apa sebenarnya yang terjadi dengan sistem pendidikan di seminari dewasa ini? Ada segudang pertanyaan yang bisa muncul, namun dari setiap pertanyaan itu adakah yang menawarkan suatu solusi untuk bisa mengembalikan daya tarik seminari sebagai suatu tempat persemaian yang tak lekang ditinggal zaman? Agar seminari tetap eksis ditengah badai modernisasi? Dalam dunia yang kian modern ini lantas apa yang bisa dibenahi dalam sistem pendidikan seminari supaya bisa menghasilkan imam-imam yang berbobot dan berkwalitas?

Ada yang nyeletuk, imam itu tak ubahnya selembar uang kertas. Seberapa lecek kertas tersebut, toh tetap saja dicari-cari banyak orang, apalagi kalau masih dalam keadaan bagus. Singkatnya, bagaimanapun keadaan imam, pastilah ia dibutuhkan oleh banyak orang. Imam ibarat BBM. Ia langka dan sulit dicari. Imam masuk dalam kalangan orang-orang terpilih. Dengan kata lain, imam menjadi kelompok masyarakat yang hanya segelintir tetapi bersifat menentukan. Kalau demikian, mengapa tidak banyak kaum muda yang mau menjadi imam? Betapapun dasyat tawaran itu disampaikan, tetap saja seminari sepi dari pendaftar.

Ada yang Mesti Dibenahi?

Tentu saja dalam menyikapi situasi yang menjadi keprihatinan Gereja sekitar panggilan yang semakin langka tidak ada yang bisa disalahkan. Kita semua toh akhirnya diajak untuk sejenak berefleksi mengapa sampai terjadi demikian. Bahwa setiap minggu panggilan, Gereja tiada henti-hentinya mengadakan aksi panggilan, tetap saja tidak ada yang merasa tertantang dan tertarik. Kalaupun tertarik paling-paling hanya sesaat. Setelah itu berlalu entah ke mana bersama semilirnya angin. Para seminaris pun tidak kalah gencarnya mengadakan aksi panggilan yang dikemas dalam berbagai gaya atau trend dunia anak muda sekarang. Tetapi tetap saja kurang menghasilkan buah, kalau tidak mau dikatakan gagal sama sekali. Bukankah umat juga selalu berdoa agar semakin banyak kaum muda yang terpanggil menjadi religius? Adakah yang salah dari semua itu? Atau doa umat kurang mendalam?

Barangkali yang perlu dibenahi adalah apakah perilaku, atau lebih tepatnya kesaksian hidup, pembawaan, dan pola hidup kaum berjubah sekarang sungguh bisa menjadi kesaksian hidup mereka yang konkret, atau sebaliknya justru menjadi sandungan bagi sebagian umat, dan juga bagi kaum muda tentunya. Kalau memang demikian wajar kalau kehidupan membiara secara perlahan tapi pasti tidak lagi menjadi daya tarik bagi kaum muda/ anak remaja. Kesakasian hidup memang bersifat subjektif, artinya tergantung individunya sendiri, tidak setiap ukuran bisa dikenakan kepada masing-masing orang. Namun tetap ada rambu-rambu yang berlaku bagi semua religius.

Selain itu, rasanya perlu juga melihat kembali sistem formatio yang dijalankan di rumah-rumah pendidikan. Perlu ada revisi, karena tidak jarang pula sistem formatio inilah yang sering menjadi momok menakutkan bagi para formandi (seminaris).

Ada indikasi bahwa pola-pola yang dijalankan oleh para formator dalam mendampingi para formandi dirasa tidak relevan lagi atau kurang up-to-date. Terkesan para formator dalam pendampingan lebih banyak menghakimi dan menggurui ketimbang memberi suatu arahan. Kalaupun memberi arahan kadang kurang tepat. Dari sebab itu sistem formatio perlu dikaji lebih lanjut, karena bisa jadi para formandi yang sudah menaruh minat untuk menjadi religius, tetapi tak disangka ia harus putus di tengah jalan hanya karena soal pribadi dengan formator yang kurang bijak dalam memberi keputusan.

Tentu tidak fair terlalu memojokkan para formator, karena ada banyak formator yang berkwalitas dan justru dari mereka itulah lahir para religius yang sungguh-sungguh menemukan panggilan hidupnya. Seperti yang diungkapkan oleh A. Widyaputranto: ”poin penting dalam pendidikan imam di Indonesia adalah fakta bahwa seminari menengah masih menjadi sumber calon imam. Dari sisi manajemen pendidikan seminari menengah dan seminari tinggi perlu dikelola secara profesional. Tuntutan ini berarti seminari perlu ditopang sumber daya manusia yang memadai dan program pendidikan yang terkoordinasi dengan baik dengan memperhatikan pembinaan kwalitas manusiawi, dinamika umat dan masyarakat. Kemampuan memahami tantangan dan ideal hidup imamat, kebutuhan Gereja, dinamika umat dan kaum muda haruslah menjadi salah satu titik tolak pengembangan pendidikan imam.” (Hidup, 25 Februari 2007).

Fr. Daniel MSF

One response to “Menyorot Pendidikan Imam

  1. keren …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s