Mengayau

bagian 3

Hari yang lalu adalah hari penuh keletihan serta ketegangan. Barangkali karena itu saya tertidur. Sebentar saya masih mendengar orang bergerak-gerak di atas tikar mereka, yang dipasang di atas lantai berpapan kasar. Seekor anjing berbaring di sudut dapur dekat api yang hangat. Berulang kali anjing itu menggaruk diri dengan kakinya belakang sambil memukul dengan bunyi keras pada dinding kayu pondok itu sampai seorang bapa berteriak:
“Alapoh, bangsat aso ati”yang berarti: “Berhentilah, anjing bangsat!”
Anjing itu melihat ke arah dari mana suara berasal. Sebentar saya melihat pemantulan cahaya dari api pijar di dalam matanya; ia berderam sebagai tanda ia kurang senang, tetapi kemudian saya tidak mendengar apa-apa lagi. Masih sebentar terdengar anting-anting ketika seorang ibu membaringkan kepalanya ke atas bantal yang kotor; kemudian saya tertidur lelap.
Menjelang jam 06.00 pagi saya terbangun. Di luar hari sudah terang; tetapi di pondok masih agak gelap. Kepala saya juga masih agak gelap karena saya tidak memperhatikan perubahan-perubahan yang telah terjadi selama beberapa jam saya tidur.
Dalam keadaan masih setengah tertidur saya mundar-mandir mencari tempat sabun saya; saya mengambil handuk dari tali yang sekaligus tali kelambu, kemudian turun ke sungai dengan maksud mandi supaya saya betul-betul terbangun. Tetapi sebelum saya selesai mandi saya terkejut ketika saya melihat bahwa semua perahu hilang kecuali perahu saya. Jadi tuan rumah saya telah berangkat. Ternyata mereka telah tidur kurang tenang dari pada tamu mereka.
Sungai lebih tenang dari pada malam sebelumnya. Air sudah turun beberapa meter sehingga kami sebenarnya bisa berjalan. Saya mandi dalam air yang dingin serta keruh dan saya merasa diri manusia baru. Di hutan di seberang sungai sekawan kera memberi salam kepada hari yang baru dengan berteriak-teriak. Ketika saya masuk pondok lagi Baang sedang masak air untuk kopi dan ketiga pendayung lain sedang duduk di sudut pondok berjongkok dan ucapan selamat pagi dari saya hampir tidak terjawab. Bahkan Baang kelihatan kurang gembira dan rupanya ia mempunyai pandangan muram terhadap masa depan. Seperti mereka berempat dijatuhi hukuman mati dan saya dianggap sebagai penyebab dan algojo.
Setelah saya mengenakan pakaian Baang bertanya apakah sarapan dulu; ia bertanya itu karena orang telah meninggalkan bagi kami nasi serta ikan. Kalau begitu kami makan dulu, saya putuskan. Dengan bersifat tenang dan tidak bertindak terburu saya berusaha memperkuat hati mereka. Tadi malam mereka telah menarik perahu saya ke atas pinggir supaya tidak dihanyutkan oleh air deras. Kini saya menyuruh mereka menurunkan perahu lagi ke dalam air dan barang yang tak kami perlukan sekarang, dimuatkan ke dalam perahu. Saya berharap bahwa kesibukan ini dapat mereka melupakan renungan maut mereka.
Sementara Baang memasak nasi goreng dengan daging babi; juga ikan dipanaskan. Seusai makan panci dan piring dicuci. Baang melipatkan tempat tidur saya dan masukkan alat tidur ke dalam tempat kantong pakaian dan kemudian semuanya dipikul ke perahu. Saya mengamat-amati supaya tidak ada barang ketinggalan dan saya meninggalkan pondok sebagai orang yan g terakhir. Baang masih berbalik sebantar guna mematikan api dengan air, menutup pintu dan meletakkan tangga di bawah pondok. Kemudian Baang berkata, mengangguk ke arah sungai:
“Para pendayung tidak berani mudik lagi; mereka takut.”
“Kita melihat saja”, saya jawab dan kita menuju perahu.
Para pendayung berdiri sambil menggerakkan dayungnya dalam air. Saya duduk dalam perahu dan berkata:
“Berangkatlah.” Tetapi para pendayung terus menggerakkan dayungnya dan tidak berangkat. Belum pernah mereka menolak suatu perintah. Jadi pasti mereka sangat ketakutan sehingga menolak perintah saya. Saya coba sekali lagi:
“Saudara-saudara, kita mau ke Batu Urah, jadi mari kita pergi supaya sampai pada waktunya.”
Para pendayung mendengarkan perkataan saya namun tetap tidak berangkat. Dalam hati saya jengkel kekecilan hati dan ketakutan mereka. Tetapi saya menahan diri dan berkata dengan setenang mungkin:
“Saudara, saya mengerti bahwa kalian takut karena segala peristiwa yang akhir-akhir ini kalian alami. Malam ini juga kurang memperkuat hati kalian. Tetapi pikir baik-baik. Apa yang telah kita dengar tentang orang Heban merupakan hanya kabar angin. Kita tidak mempunyai bukti. Di Long Pakaq saya menerima surat dari pastor Slot dan beliau sama sekali tidak menyinggung adanya orang Heban. Secara jujur saya harus mengatakan bahwa saya juga bingung, tetapi melarikan diri hanya karena kabar angin saya tidak mau. Saya tetap hendak ke Batu Urah untuk mendengarkan berita di sana. Bila kita di tengah jalan menerima berita yang pasti bahwa ada orang yang mengayau kita akan berbalik dengan segera. Saya menanggung bahwa kalian tidak akan terkayau. Saya tidak bermaksud melawan orang Heban: saya tidak bersenjata, hanya punyai tongkat sehingga mustahil saya melawan parang, tombak dan anak sumpit yang beracun. Jadi pada saat kita tahu dengan pasti adanya bahaya kita akan kembali. Melarikan diri untuk musuh, yang barangkali tidak ada, saya anggap kurang berani. Barangkali wanita dan anak melarikan diri tetapi kita laki-laki yang gagah tidak melarikan diri karena kabar angin. Masyarakat Long Pahangai akan mengatakan apa andaikata kita kembali dengan tangan kosong dan bila kemudian menjadi nyata bahwa semuanya hanya berupa omong kosong? Mari kita bertindak selaku laki-laki yang gagah supaya nanti tidak ada alasan kita ditertawakan orang. Berdayunglah kuat, lihat baik-baik dan bertanya kepada orang yang kita lewati apakah mereka ada berita yang lebih lanjut. Kalau demikian kita tetap lebih laju dari orang Heban dan tidak perlu kita takut.”
“Laan ati – memang demikian,” Baang teriak dan ketiga pendayung yang lain mengatakan kurang terang:
“Betul!” Lantas mereka duduk di atas bangku dan kami berangkat menuju Batu Urah.
Baru kami jalan ketika kami bertemu dengan perahu pertama, tetapi orang-orang ini tidak ada berita baru. Kami masih melewati beberapa perahu tanpa kami mendengar berita baru.
Kami maju sedang laju karena air agak baik dan ternyata para pendayung saya mau membuktikan bahwa mereka adalah laki-laki yang gagah dan bukan wanita-wanita tua.
Setelah berdayung kl. dua jam kami sampai Long Cihan. Kampung kosong tetapi di atas karangan kerikil terlihat tiga ekor anjing yang berkurap dan yang menyalakkan tuannya yang telah menghilang. Gunung-gunung tinggi serta gelap di belakang kampung serta anjing-anjing yang menyalak memberi kesan yang menyedihkan tentang kampung itu
Kami berlabuh sebentar, berjalan di atas serambi bersama ketiga anjing itu. Kemudian kami masuk perahu lagi dan meneruskan perjalanan kami. Di atas karangan kerikil anjing ikut berjalan dengan kami sejauh mungkin. Masih lama terdengar salakan mereka.
Tidak lama kemudian, pada suatu tikungan sungai, kami melihat sebuah perahu yang mendekati kami. Seorang anak pria, berumur kl. 8 tahun, duduk di haluan perahu dan seorang pria duduk di buritan. Orang itu kelihatan tinggi sekali menurut ukuran suku Dayak; atau hanya kelihatan tinggi karena ia kurus seperti kayu api. Seorang ibu bersama dua anak duduk di tengah perahu. Selain itu sedikit barang ada dalam perahu. Orang itu adalah guru Tekwan. Ia guru di Long Apari, kampung yang paling di ulu dan paling terancam bahaya di Mahakam.
Seketika perahu itu cukup dekat supaya suara dapat didengar seorang pendayung saya berteriak:
“Bapa dari mana?”
“Dari Long Apari,” jawabannya.
“Kapan berangkat dari sana?”
“Pagi-pagi ini.”
“Apakah kampung dibakar orang?”
“Tidak.”
“Apakah bapa tidak melihat orang Heban?”
“Saya tidak melihat orang Heban, tetapi konon mereka ada dan karena itu saya melarikan diri, pagi-pagi buta sebelum tuan Slot terbangun. Semua orang melarikan diri dan saya khawatir untuk isteri dan anak,” katanya.
Di belakang saya Baang mengatakan secara kurang terang sambil menghina:
“Perempuan!”
Mereka melewati kami, Tekwan mengangguk, mengucap selamat pagi dan kelihatan senang sekali bahwa saya tidak suruh dia kembali.
Seorang pendayung saya masih bertanya apakah tuan Slot masih di Long Apari dan Tekwan mengiakannya. Dengan suara membujuk Tekwan mengucap selamat jalan kepada saya kemudian pembicaraan tidak mungkin lagi karena jarak terlalu jauh.
Bagaimanapun juga saya berterima kasih kepada guru Tekwan karena berita bahwa Long Apari tidak terbakar, seperti orang telah mengatakan malam kemarin, ternyata memberi keberanian kepada para pendayung saya. Juga pernyataan guru Tekwan bahwa ia tidak melihat seorang Heban pun memperkuat hati mereka. Dalam hati kecil Baang senang-senang membayangkan kemarahan pastor Slot pada saat ia mengetahui bahwa gurunya sekeluiarga telah berangkat secara diam-diam. Baang menirukan pertemuan kembali pastor dengan gurunya sedemikian rupa sehingga para pendayung saya yang ketakutan melupa kegelisahan mereka sebentar. Mereka bahkan tertawa.
Para pendayung dalam perahu diam lagi tetapi berdayung kuat. Secara jujur saya mengaku bahwa saya sendiri juga kurang tenang tentang kesudahan perjalanan ini. Karena itu saya berdoa rosario diam-diam guna meminta pertolongan dari Allah dengan perantaraan Maria. Jauh di depan kampung Long Kaai kami makan dulu. Seusai makan kami tidak bertemu dengan perahu lyang milir lagi. Barangkali pengungsian sudah selesai.
Di Long Kaai orang masih sibuk memuatkan perahu-perahu terakhir. Beberapa pemuda bersama seorang bapa yang tua – rupanya ayah mereka – mundar-mandir dari kampung ke perahu, yang dimuat dengan milik mereka. Wanita atau anak tidak kami lihat. Kami bercakap-cakap sedikit kemudian kami terus lagi.
Menjelang jam 15.00 kami sampai riam Kamhe. Kami tidak perlu lewat riam itu karena di samping ada beting yang memungkinkan lewat. Kami maju perlahan-lahan. Para pendayung bekerja keras dan hanya memperhatikan pekerjaan mereka. Karena itu saya orang pertama yang melihat sebuah perahu yang mendekati kami dari ulu. Perahu itu berawak kurang lebih 25 orang pria. Mereka berpakain perang dan bersenjata lengkap. Mereka memakai rompi tebal yang diisi dengan kapok yang bisa menangkis anak sumpit beracun dan punggung mereka ditutup dengan kulit binatang. Kulit ini dihias dengan bulu ekor burung enggang. Kepala mereka ditutup dengan topi dari rotan tebal dan dihias dengan banyak bulu, rambut kambing dan manik.
Saya mengaku bahwa saya kejutan melihat situasi ini karena pada saat itu saya belum tahu apakah mereka musuh atau sahabat.
Dengan setenang mungkin saya berkata kepada para pendayung saya:
“Lihatlah, ada orang.”
Mereka juga kejutan sebentar melihat orang-orang itu. Seorang pendayung melihat bahwa perahu itu adalah perahu dari Mahakam. Perahu dari orang Heban berbeda bentuknya dari perahu yang orang di daerah ini pakai.
Mereka berhenti berdayung sebentar dan beberapa pendayung sudah menyebut nama orang-orang yang dapat mereka kenal. Perahu itu dengan awaknya bersenjata – menyerupai sebuah kapal perang – berlabuh pada awal riam sambil menunggu ketibaan kami. Para pendayung berusaha berdayung kuat supaya cepat sampai, namun masih makan waktu kl. 10 menit baru kami singgah di sisi perahu mereka. Seorang prajurit memberikan saya sepucuk surat dari pastor Slot. Saya membaca:
“Di Long Apari sudah tiba 110 orang Heban. Mereka bermaksud pergi ke Samarinda, kemudian naik kapal menuju Babo di Irian Jaya di mana mereeka mau bekerja pada B.P.M. (Pertamina). Mereka semua mempunyai paspor dengan foto yang sah. Mereka bermaksud baik, jadi tidak perlu cemas.”
Isi surat ini saya beritahukan kepada para pendayung dan orang yang sakit perut tadi melompat-lompat satu meter ke atas. Saya tidak menyesal kelakuannya karena saya sendiri juga merasa lega karena sekarang situasi jelas. Saya masih bertanya apakah di Batu Urah masih ada orang di kampung. Ya, tuan Salm masih di pastoran dan 10 orang besertanya untuk berjuang, bila perlu.
Dari pastoran orang dapat melihat jauh ke ulu. Tiap-tiap perahu yang milir dapat dilihat dari jauh. Masyarakat kampung sudah berencana menaruh beberapa meriam di kolong pastoran untuk melawan orang Heban pada saat mereka kelihatan di sungai. Tetapi mereka tidak tahu bahwa diperlukan mesiu dan penggalak dan sedikit pengetahuan untuk mempergunakan meriam.
Antara jam 16.00 dan 17.00 kami tiba di Batu Urah di mana kami disambut oleh tuan Salm.
Penyambutan pastor itu agak dingin seperti biasanya di antara orang Belanda. Ia memberi kesan keberaniannya yang terlalu besar tentang hal-hal yang akhir-akhir ini mengacaukan seluruh wilayah. Boleh jadi ke-tidak-acuh-acuhan ini disebabkan oleh adanya kepunyaan pengawal yang terbentuk tanpa usaha pastor.
Selama perjalanan kami ke Batu Urah kami telah menemui semua kampung kosong. Juga kampung Batu Urah ditinggalkan orang: hanya kl. 10 orang tinggal di kampung dengan maksud membela pastor mereka. Bahkan mereka pernah mengusulkan menempatkan beberapa meriam tua di kolong pastoran karena pastoran itu terletak tepat pada suatu tikungan sungai sehingga orang dapat melihat jauh di ulu bila ada perahu mendekat. Dengan meriam ini mereka mau menenggelamkan perahu itu. Tetapi waktu mereka merencanakan strategi ini mereka melupakan bahwa mereka tidak mempunyai mesiu dan peluru.
Hari berikut kami mendengar cara terjadinya.
Masyarakat Long Apari – kampung yang paling ulu di sungai Mahakam – selalu mempertimbangkan adanya serangan musuh. Dalam usaha membela diri mereka telah membentuk perondaan yang berjalan baik sekali. Saya kurang tahu apakah perondaan ini dibentuk oleh kepala kampung atau terbentuk secara spontan karena orang selalu takut adanya ancaman serangan musuh.
Sistem perondaan ini sangat sederhana.Bila masyarakat Long Apari membutuhkan kayu mereka mudik ke ulu riam; bila mereka hendak berburu mereka musik ke ulu riam; juga menangkap ikan terjadi di ulu riam. Mengumpulkan sagu, rotan dsb semuanya di laksanakan sejauh mungkin di ulu kampung. Akibatnya ialah bahwa hampir selalu beberapa orang Long Apari berada atau di sungai atau di hutan. Dengan demikian mustahil orang asing dapat mendekati kampung dari ulu tanpa dilihat mereka.
Ke-110 orang Heban, yang disebut pasor. Slot dalam suratnya, telah berperahu dari Kalimantan bagian Inggeris dan berdayung sejauh mungkin. Ketika mereka tidak dapat berperahu lagi mereka telah menyeret perahu mereka masuk hutan lalu menututupinya dengan dahan dan daun. Setelah meninggalkan perahu mereka berjalan kaki guna menyeberang gunung perpisahan. Setelah berjalan beberapa hari mereka sampai puncak gunung lantas mulai turun gunung dan mencapai hulu sungai Mahakam. Mereka merencanakan milir menuju Samarinda. Jadi karena itu perlu mereka membuat perahu yang baru.
Permulaan mereka mendirikan kemah dari dahan dan daun, kemudian mereka membuat armada baru. Pohon-pohon besar ditebang lantas dibelah, dilubangi secara halus. Semua pekerjaan ini mereka laksanakan sejauh mungkin di dekat kemah dan di pinggir sungai.
Setelah suatu perahu dilubangi dan mempunyai tebalnya yang cukup perahu itu ditaruh ke atas suatu batang pohon setinggi kl. setengah meter di atas tanah. Kemudian perahu itu diisi penuh dengan air dan di bawah dasar perahu itu mereka memasang api. Air dalam perahu dipanaskan oleh api itu dan kayu yang keras menjadi lemah dan dapat dikerjakan sehingga dinding samping dengan mudah dapat di bengkokkan ke luar. Kemudian mereka memasang tempat duduk yang sekaligus menghalangi bahwa dinding samping akan masuk kembali ke dalam. Oleh api di bawah perahu kayu terbakar hitam di beberapa bagian sehingga perahu Heban selalu berbelang hitam-putih-hitam dan dari jauh sudah dapat dikenal orang.ewbanH
Pada suatu hari tertentu dua penduduk Long Apari pergi memancing. Tentu di ulu! Di pertengahan jalan mereka menemui belahan kayu baru yang sedang hanyut. Seorang di antara mereka berkata:
“Lihat, ada belahan kayu yang hanyut.”
Langsung orang lain bertanya:
“Siapa gerangan yang menebang kayu hari ini?”
“Saya tidak tahu,” orang pertama menjawab dan mereka dengan tenang meneruskan pekerjaan mereka sampai penangkapan ikan mereka cukup. Lantas mereka pulang kampung. Pada malam hari, di depan rumah kepala kampung, beberapa orang laki-laki duduk di serambi besar sambil bercakap-cakap. Kedua nelayan menceriterakan pengalam mereka dan sekali lagi pertanyaan timbul: siapa yang telah menebang kayu hari itu. Tidak seorang pun di antara para hadirin menebang kayu dan mereka yakin bahwa juga orang lain tidak menebang kayu. Kemudian kedua nelayan disuruh menyelidiki hal ini pada hari besok.
Hari berikut, pagi-pagi buta, mereka mudik lagi. Beberapa perahu lain dengan orang yang ingin tahu mengikuti. Bagian perjalanan pertama yang telah mereka lewati kemarin mereka berdayung kuat, sesudah itu mereka menjadi hati-hati. Perahu-perahu maju seperti merayap di sungai dari teluk yang satu ke teluk yang lain, dari bukit batu yang satu ke bukit batu yang lain; sejauh mungkin mereka menyembunyikan diri di belakang dahan pohon dan semak-semak. Mereka memperhatikan dengan teliti kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigai di kedua pinggir sungai. Berjam-jam lamanya mereka mudik, perlahan-lahan, hati-hati dan siap apa yang bisa terjadi. Mereka menemui kembali belahan kayu yang baru dan kadang-kadang juga dahan pohon yang masih berdaun hijau. Juga mereka menyelidiki pinggir hutan kalau-kalau kelihatan asap api unggun.
Menjelang malam mereka mendirikan bivak di pinggir hutan, tersembunyi di belakang bukit baru yang besar. Mereka mencari sejenis kayu yang berasap sedikit untuk api unggun. Malam itu mereka hampir tidak tidur karena mereka berjaga-jaga bergantian, dua atau tiga orang sekaligus sambil menceriterakan berbisik-bisik satu sama lain kisah-kisah perjalanan pengayauan dulu. Dengan demikian orang lain yang sudah bergiliran untuk menjaga tidak tidur juga.
Pagi-pagi buta hari berikut mereka meneruskan perjalanan mereka. Lagi-lagi belahan kayu dan dahan hanyut dan mereka berdayung dengan hati-hati. Menjelang tengah hari seorang dari mereka berdiri tegak dalam perahu dan menunjuk dengan dayungnya ke depan sambil berkata:
“Di sana ada api.”
Semua mereka memandang ke arah yang ditunjukkan dan di kejauhan mereka melihat deretan asap yang biru. Mereka semua duduk kembali dan diam, dayung mereka digerakkan secara tidak kedengaran dalam air. Pada suatu tikungan sungai mereka melihat jauh di depan kemah orang Heban. Perahu-perahu diikat di pinggir sungai, kemudian dua orang mendekati jalan kaki kemah itu Tidak sulit mereka menyembunyikan diri di belakang belukar dan batu. Dua orang merangkak sejauh mungkin sehingga mereka dengan jelas dapat melihat orang-orang yang sedang membuat perahu. Mereka melihat bivak yang panjang dan perahu-perahu yang berbelang hitam-putih-hitam yang sudah selesai dibuat. Mereka berjongkok di belakang semak-semak sambil berbisik-bisik. Memang, orang-orang yang dilihatnya adalah orang Heban; mereka dapat dikenal pada perahu, pada dahi mereka yang dicukur gundul dan pada cacah di kerongkongan.
Beberapa kelompok orang sedang duduk di karangan kerikel di depan bivak mereka. Rupanya mereka memasak damar untuk menutup perahu, karena tertium bau damar masak. Ketika seorang di antara mereka berbicara kepada teman menjadi paling jelas bahwa mereka adalah orang Heban karena orang itu pakai bahasa Heban dan temannya menjawab dalam bahasa Heban juga.
Mereka merangkak kembali ke perahu mereka, kemudian mereka berunding kembali dengan hasil bahwa orang-orang yang telah dilihat pastilah orang-orang Heban. Dan pengumpamaan adalah dengan sendirinya bahwa mereka datang untuk mengayau. Tetapi jumlah mereka belum ditentukan. Kedua orang itu telah melihat paling banyak duapuluh orang; tetapi sudah beberapa perahu selesai dibuat, sedangkan masih bayak perahu dikerjakan dan bivak lumayan panjangnya; boleh jadi mereka berjumlah ratusan orang.
Mereka naik perahu kembali dan milir pulang, mulanya dengan hati-hati di pinggir sungai, kemudian masuk ke tengah sungai dalam arus deras. Mereka bercakap-cakap lebih keras dan jumlah musuh semakin bertambah. Ketika mereka malam hari ditanyakan pada perundingan di serambi besar tentang jumlah, mereka mengatakan bahwa jumlah musuh barangkali ribuan orang.
Berita ini bahwa orang Heban telah datang cepat sekali tersebar dari kampung ke kampung dan dari ladang ke ladang. Terutama di Batu Urah masyarakat khawatir karena kampung ini dapat dilihat orang dari jauh di ulu apalagi karena di tikungan pastoran yang dikapuri putih muncul sebagai sasaran. Beberapa tukang belian wanita menyembelih beberapa ekor babi dan hati binatang itu ditaruh di atas daun pisang. Semua tukang belian wanita duduk mengelilingi daun pisang itu sambil makan sirih dan mengangut satu sama lain. Kadang-kadang seorang di antara mereka menyentuh hati dan memindahkannya sampai saat seseorang melihat sesuatu yang serupa luka yang baru sembuh pada salah satu hati babi. Para hadirin merasa bahwa terjadi sesuatu karena perundingan para tukang belian wanita menjadi lebih ramai. Akhirnya keputusan ialah bahwa luka kecil dalam hati adalah bukti bahwa orang Heban memang datang guna mengayau dan bahwa akan ada pertumpahan darah dan akan banyak kematian.
Keputusan dewa ini disebarluaskan ke kampung-kampung dan ladang-ladang, kemudian pengungsian, yang telah kami saksikan di pertengahan jalan, dimulai. Orang-orang pria yang dapat bertempur akan melarikan ibu-ibu, anak-anak dan orang –orang tua ke tempat yang lebih aman kemudian mereka akan kembali untuk melawan musuh. Dengan demikian seluruh wilayah digemparkan dan pastor Slot merasa diri wajib untuk pergi ke Longh Apari untuk menenangkan situasi supaya tidak terjadi tindakan yang terburu-buru.
Maka pada saat – beberapa hari kemudian – perahu-perahu Heban yang pertama mendekati kampung Long Apari pastor Slot berdiri di karangan kerikel di depan kampung untuk menjemput mereka. Tetapi di belakang dia, di kampung, seratus mata orang yang bersejata lengkap mengintai lewat celah dinding bagaimana kesudahan pertemuan yang pertama ini. Pastor berdiri di tempat itu sebagai perantara dua kelompok yang saling mencurigai. Seusai pembicaraan singkat dan pemeriksaan paspor pastor bisa pergi menenangkan orang-orangnya. Akhirnya orang-orang Heban diterima dengan ramah-tamah di semua kampung yang mereka singgahi.
Tetapi mereka tidak pernah sampai Babo sebab mereka ditahan di Long Iram. Kepada mereka diberitahu bahwa karena perang di Eropah B.P.M. (Pertamina) tidak mengangkat karyawan baru.
Diantar oleh Pejabat Pemerintah mereka mudik kembali ke kampungnya. Berminggu-minggu lamanya mereka tinggal di Long Pahangai, bekerja di Pemerintahan guna membeli persediaan beras dan sago karena bekal mereka habis. Setelah bekal mereka sudah dilengkapi Pejabat Pemerintah mengantar mereka ke perbatasan Belanda – Inggeris dan dengan demikian petualangan ini berakhir. Tetapi memakan waktu lebih dari dua bulan lagi baru pengungsi yang terakhir pulang dari hutan ke kampung mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s