Mencintai Liturgi dan Kesetiaan dalam Imamat

I. Pengantar: Sebuah Realitas

Kita begitu sedih, ketika mendengar ada seorang atau beberapa imam yang keluar, meninggalkan imamatnya. Bahkan seorang umat di Philipinnes pernah berkomentar demikian, “Ini sungguh menyedihkan, kalau kita mengingat berapa lama waktu yang telah dibutuhkan untuk pendidikan imam, berapa biaya yang telah dihabiskan, dan berapa orang yang telah terlibat dalam proses persiapan seorang pemuda untuk menjadi seorang imam. Kesedihan kami semakin mendalam ketika imam menghilang begitu saja tanpa sepengetahuan Provinsial atau Uskupnya.” Sebagai seorang imam muda, saya shock mendengar komentar kritis seorang warga paroki ini. Ini adalah sebuah realitas yang menyedihkan.

Namun saya tidak akan menghabiskan waktu dalam kesedihan ini. Saya juga merasa bersuka cita, ketika saya merenungkan betapa banyak imam yang masih tetap setia pada panggilan dan pelayanannya kepada umat Allah. Tahun lalu saya mengadakan retret pribadi ke luar kota Manila. Kebetulan di saat yang bersamaan dan di rumah retret yang sama, ada sekelompok suster yang sedang retret pula. Mereka di dampingi oleh seorang imam asli Philippines yang sudah tua. Dalam homily-sharingnya dia berbicara tentang arti kesetiaannya dalam imamatnya. Sebagai seorang mantan dosen filsafat, dia mengawali sharingnya demikian, “Kesetiaan dalam panggilan imamat adalah sebuah tindakkan Allah dan partisipasi manusia. Sebagai seorang imam saya memahami kesetiaan sebagai sebuah tindakkan untuk melihat, untuk mendengar, dan mengikuti kehendak Allah. Allah sungguh-sungguh memperhatikan saya, dan saya merespon panggilan Allah itu. Mengikuti panggilan Tuhan melalui congregasi ini, saya sungguh merasa dilibatkan dalam karya-Nya. Saya melihat kesetiaan sebagai kehendak bebas Allah, dan saya secara bebas menanggapi dan berpartisipasi dalam kehendak-Nya. Kesetiaan adalah puncak tindakkan dari iman dan kepercayaan saya. Partisipasiku dalam tindakkan Allah menjadi nyata dan konkret dalam hidup keseharianku. Kesetiaan adalah proses. Saya bersyukur boleh dilibatkan dalam karya Allah ini. Setiap hari, saya mencoba untuk semakin menyadri teantang apa yang telah saya lakukan sebagai imam. Ketika saya berdoa atau merayakan perayaan ekaristi, saya mengingat panggilanku sebagai sesuatu yang harus saya persembahkan kepada Allah dan sesama.” Ini adalah sebuah realitas yang membanggakan dan memberikan pengharapan.

Berbicara tentang pendidikan imam atau bruder, bukan hanya berbicara dalam lingkup pendidikan di tahun-tahun postulat, novisiat, atau skolastikat. Refleksi pendidikan imam atau bruder adalah juga refleksi bagaimana seorang imam/bruder menghayati hidupnya setelah dia ditahbiskan atau kaul kekal dan kemudian berkarya. Refleksi yang berpijak pada pertanyaan yang amat positif: Adakah sesuatu di balik kesetiaan para imam/bruder? Apa sih spiritualitas mereka? Dalam kotbah-sharing yang saya paparkan di atas, tersirat dia menyatakan kecintaannya akan liturgy. Maka, dalam tulisan sederhana ini, saya akan merefleksikan pengaruh spiritualitas kecintaan akan liturgi dalam kesetiaan akan panggilan sebagai imam atau bruder.

II. Mencintai Liturgi

Rasa cinta akan tindakan liturgis, tidak bisa dipisahkan dari pemahaman akan liturgy itu sendiri. Seorang imam merasa puas ketiaka dia melakukan pelayanan sakarmental, karena dia mempunyai pemahaman yang hidup tentang tindakkan liturgis. Tentulah, kita masih ingat apa arti dari tindakan liturgis: “descending” (the sanctification of human being) dan “ascending” (the glorification of God). Secara tegas, Konstitusi tentang Litugi ( Sacrosanctum Concilium) No. 7 menyatakan: “Dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna, dan manusia dikuduskan…” Harapannya adalah, hendaknya pemahaman ini tidak hanya dipahami dalam tataran intelektual saja, tapi lebih-lebih juga dicerna dalam tataran hidup spiritual dari seorang imam ataupun bruder.

A. Persiapan Pribadi untuk berliturgi

Bagi seorang pelayan liturgy, seperti imam, liturgy sudah sepantasnya menjadi sebuah peristiwa khusus. Peristiwa ini bukanlah sebuah rutinitas yang dapat dijalankan secara spontan tanpa penyadaran; tetapi berliturgi perlu persiapan serius. Barangkali persiapan itu bisa digambarkan sebagai berikut:

1. Disposisi batin seaorang imam

Disposisi batin seorang imam/pelayan liturgy dapat dipahami sebagai suatu kesadaran akan identitasnya. Identitasnya sebagai imam tak bisa dipisahkan dari peranannya dalam berliturgi. Imam sebagai sakramen Kristus, mengantarkan Sabda Allah dengan berkotbah dan mengajar. “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang denag jerih payah berkotbah dan mengajar.” (1 Tim 5:17). Kemudian Presbiterium Ordinis, No. 4 mengatakan: “Sebab tidak seorang pun dapat diselamatkan, kalua ia tidak beriman, para imam sebagai rekan-rekan kerja para uskup, pertama-tama wajib mewartakan Injil Allah kepada semua orang.” Dua pernyataan ini, secara tegas menunjuk pada identitas dan peran seorang imam.

Ketika seorang imam sedang menghantarkan Sabda Allah kepada individu atau kelompok atau komunitas di dalam peranannya sebagai seorang imam, secara amat berharga dia sedang melakukannya sebagai sakramen Kristus. Dalam kotbahnya, imam menghubungkan umat dengan Allah. Dalam kotbah, imam mengundang umat Allah masuk ke dalam “sanctuary”, bilik tersuci dalam dirinya. Peran ini menempatkan imam sebagai “a man of faith”. Maka, kesadaran akan peran dan identitasnya, sudah seharusnya menjadi sikap atau disposisi batin bagi dirinya. Kesadaran akan identitasnya akan memotivasi seorang imam untuk semakin mencintai “pekerjaannya.” Dalam berliturgi, dia akan mempersiapkan diri secara serius.

2. Doa dalam kehidupan seorang imam

Ada ungkapan demikian: “The place for a priest is in sanctuary.” (Tempat bagi imam adalah di bagian yang paling suci). Ungkapan ini untuk mengatakan bahwa, supaya bisa mengemban perannya sebagai mediator, seorang imam harus hidup di dalam communio dengan Allah. Untuk berada dalam communio bersama Allah, dia harus masuk ke dalam pusat dirinya melalui doa. Dalam doa, kita belajar untuk mendengarkan perasaan-perasaan kita, angan-angan, pemikiran-pemikiran dan kerinduan-kerinduan kita. Santa Teresa dari Avila berkata, “Pintu untuk menuju ke perjalanan batin kita adalah doa.
Berdoa adalah mendengarkan Allah dan menanggapinya dengan cinta. Membaca dan berpikir tentang Allah adalah penting untuk menyediakan iklim dan lingkungan yang mendukung untuk berdoa. Di sinilah Kitab Suci memiliki peran yang amat khusus. Allah terus menerus menyampaikan sabda-Nya untuk kita, dan menginsiprasii kita melalui Roh-Nya. Refleksi harian hidup doa seorang imam sangat membantu pertumbuhan hidup rohaninya dan semakin mendalam dalam hubungannya dengan Allah dan sesama.

B. Menyadari Kehadiran Kristus Dalam Liturgi

Liturgi pertama-tama adalah anugerah Allah, sebelum tanggapan manusia. Dalam liturgy, Allah berpaling kepada kita, dan kita menerima apa yang dia anugerahkan kepada kita, secara khusus pusat misteri penebusan kita melalui Yesus Kristus. Kehadiran Kristus dalam liturgy dialami sebagai suatu perjumpaan yang konkret. SC. 7 menyatakan secara jelas beberapa cara kehadiran Kristus dalam liturgy:
· Kristus hadir dalam kurban misa
· Kristus hadir dalam diri pelayannya
· Kristus hadir secara amat istimewa ekaristi (tubuh dan darah)
· Kristus hadir dalam sakramen-sakramen
· Kristus hadir dalam sabda-Nya ketika kitab suci di bacakan
· Kristus hadir ketika Gereja berdoa dan bernyanyi. Karena Dia berjanji “ di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir ditengah-tengah mereka” (Mt. 18:20).

Orang yang mencintai liturgi adalah orang yang dapat menyadari kehediaran Kristus dalam tindakan liturgis. Kesadaran ini tidak hanya hidup dalam tindakan-tindakan ritual sebagai ungkapan imannya, tetapi juga hidup dalam hidup sehari-hari sebagai perwujudan akan imannya. Kecintaan terhadap Liturgi akan menyuburkan kehidupan spiritual pelayan liturgy, untuk memperkuat diri ke dalam perkembangan menuju pelayan yang setia.

III. Pelayan-Pelayan Setia

Realitas akan pelayan-pelayan yang setia, bisa kita renungkan dari tulisan P. Rosetti. P. Rosetti adalah director Institute St. Lukas di USA. Dia bertugas melayani para imam dan religius yang sedang mengalami masala-masalah dalam panggilan mereka. (Tulisannya bisa di baca dalam Spirituality of the Priesthood, in Human Development, Vol. 18, No. 1, Spring 1997).

Dalam bagian ini, saya akan mencoba menghadirkan secara singkat pemikiran Rosetti tentang spiritualitas kesetiaan dalam imamat, ketika dia dimita berbicara dalam the National Commission Catholic American Bishops Conference, mengenai hidup dan pelayanan imam-imam. Dia membuat survey terhadap 1.186 imam Amerika. Survey itu telah menunjukkan bahwa 91% imam menggunakan bakat dan kemampuannya dalam pelayanan mereka. Lalu hanya ada 7% imam yang punya pikiran untuk keluar, meninggalkan imamatnya. What are some aspects that most become sources of satisfaction to priest? Menurut survey, imam-imam merasa puas dalam hidupnya sebagai imam, ketika mereka melakukan pelayanan sacramental dan mewartakan Sabda Allah. Dan mereka juga merasa puas ketika mereka mempunyai kesempatan untuk bekerja sama dengan banyak orang. Ini adalah kabar baik bagi Gereja. Dan sebagai imam muda, saya bisa belajar dari spiritualitas kesetiaan itu.

Lalu, P. Rosetti juga bercerita tentang P. Jim, yang telah merayakan 25 tahun pesta imamat. Pater Jim yang menjadi seorang administrator di sebuah katedral, tapi dia juga amat perhatian kepada kaum miskin. Banyak kaum miskin yang mengenalnya. Dia membangun banyak rumah murah untuk mereka. Bagaimana ia menjadi seorang imam yang setia? P. Jim bercerita tentang hubungan personal dengan Yesus.

IV. Hubungan Pribadi Dengan Yesus

Sebagai seorang imam, bubungan pribadi dengan Yesus adalah sangat penting. Ini adalah sebuah dasar spiritualitas. Mungkin kita bertanya apa itu spiritualitas? Arti spiritualitas itu bisa bermacam-macam dan berbeda-beda. Seorang clerical mengartikan spiritualitas demikian: “Spiritualitas adalah sebuah tanggapan terhadap Allah. Spiritualitas adalah pencaharian akan visi Allah and restorasi akan diri kita.” Dengan demikian hubungan pribadi dengan Yesus dapat berarti sebuah tanggapan akan Allah, untuk memahami visi Allah dan untuk merestorasi manusia.

Apa artinya memiliki hubungan pribadi dengan Yesus? Menurut P. Rosetti, memiliki hubungan pribadi dengan seorang pribadi, termasuk Allah, berarti bahwa setiap pribadi ditantang untuk berani menghadapi realitas hidup dan menyatakannya. Banyak imam yang merasa takut menghadapi realitas hidupnya. Mereka takut untuk membagikan pengalamannya kepada sesama rekan seimamat. Dan bahkan ada yang takut membagikan pengalamannnya kepada Allah. Mereka berhenti berdoa dan tidak mempunyai hubungan yang personal lagi dengan Allah.

Memiliki hubungan personal dengan Allah berarti juga berani berdoa dari dan di dalam hati. Hati adalah tempat kekuatan vital dari tiap-tiap pribadi. Hati adalah tempat tersembunyi di mana Roh Kudus bersemayam. Berdoa dari dan dalam hati, berarti seseorang membiarkan diri untuk semakin dekat dan dituntun oleh Allah. Ini berarti berdoa, bahkan dalam kelemahan kita, karena biasanya seseorang sangat sulit mengakui kelemahan-kelamahannya. Tetapi, kita tidak sendiri dalam berdoa, karena ada Roh Allah yang tinggal dalam hati kita. Roh Allah memampukan kita dalam doa (Rom 8:26-27).

V. Mencintai Liturgi – Kesetiaan dalam Imamat atau Panggilan

Globalisasi telah mengenalkan berbagai macam model hidup bagi banyak orang: glamour life dan consumerism. Nokia: Connecting People, The New Nissan Sentra, Stronger and Smarter adalah contoh nyata bahasa iklan yang mau mempengaruhi mentalitas customers (para pelanggan). Apakah mungkin bahasa liturgi atau ekpresinya yang amat biasa, bahkan terkesan monoton itu bisa mempengarui mentalitas dari “aktor-nya” (sang imam) dan “Customers-nya” (Umat)? Ini adalah tantangan bagi kehidupan spiritualitas Kekristenan kita, terutama bagi seorang imam.

Mungkin bahasa liturgi memang monoton, tetapi kehidupan untuk menghidupi liturgi adalah adalah sesuatu yang dinamis. Perayaan liturgi tidak bisa direduksikan pada suatu performa ritual belaka. Bagaimanapun juga, dalam perayaan liturgilah kehidupan dan tujuan Gereja terungkap dan ternyatakan sacara mendalam. Seorang imam yang menyadari hakekat dan arti liturgy akan memahami pula keutamaan iman. Hari demi hari ia akan bertumbuh dalam iman, pertobatan, perubahan perilaku dan sikap hidup sebagaimana dia melambungkan pujian liturgis. Mencintai liturgy adalah salah satu sumber untuk semakin mencintai imamat atau panggilan kita.

Realitas pengalaman manusiawi, sebagaimana saya sampikan dalam pengantar, dan juga dari penjelasan Pater Rosetti mengundang kita untuk menyadari, bahwa kita harus mendalami spiritualitas imamat atau pelayanan kita saat ini. Dalam spiritualitas ,kita mencapai suatu keasadaran akan nilai yang paling tinggi; dalam kepenuhan jiwa kita, kita memikul beban yang paling menyenangkan dan paling memberatkan dari pengalaman manusiawi kita. Dengan pemaknaan pada tindakan liturgisnya, seorang imam dimungkinkan untuk berkembang dalam kesucian, “berkobar-kobar dalam cinta Kristus.” Dengan marayakan liturgy secara teratur, seorang imam masuk ke dalam sekolah doa Gereja, melambungkan perjumpaan dialogis dengan Allah, dan membagikan pelayanan Imamat kristus kepada yang lain.

Dalam refleksi tentang imamatnya, seorang imam pernah berkata: “We, priests give thanks by our celibate charity that exemplifies this Eucharistic unity. As this bread is constantly broken yet never divided, we, priests are called to constantly love the many without ever dividing the community by clinging to only one. We love not just one spouse, but the one Church in all her members. As this cup is eternally poured out, but never exhausted, so through our ministry of unity, we continuously empty ourselves without seeking to be filled by our own family. Our family is the Church that is the home of all Christians. The Eucharistic unity is exemplified by our celibacy. Like Christ, in our celibacy, we crucify our flesh for the life of the world. Indeed, the sense of loving of liturgy has nourished fidelity in the priesthood.”
Kecintaan akan liturgi adalah sekolah kita untuk menimba spiritualitas kesetiaan akan panggilan kita. Dalam liturgy, formasi ke-imam-an dan ke-religius-an kita senantiasa disegarkan kembali.

(P. Marhar, MSF)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s