Lain Dulu Lain Sekarang

wawancara imajiner

Bagaimana pandangan anda mengenai pendidikan calon imam/bruder dimasa sekarang jika dibandingkan dengan masa dulu?

Pastinya ada banyak perubahan karena dipengaruhi oleh perkembangan dunia modern. Kalau zaman dulu lebih menekankan soal disiplin hidup yang ketat sedangkan sekarang lebih pada pendekatan manusiawi. Maksudnya lebih méngajak para calon untuk bersikap terbuka dan membangun dialog, sehingga lebih mengarah pada keterbukaan pribadi.

Menurut anda usaha apa saja yang perlu diperhatikan agar para calon imam dapat berkembang menjadi pribadi yang sesuai dengan harapan umat?

Barangkali yang perlu diperhatikan, bahwa pendidikan pada segi intelektual seharusnya diimbangani dengan pendidikan humaniora, perlu ada keseimbangan antara teori dan praktek di lapangan. Seorang calon imam/ bruder tidak hanya berada di awang-awang tetapi sungguh berpijak di tanah.

Mengapa pendidikan Seminari pada zaman sekarang sepertinya mulai kehilangan daya tarik (kalah pamor)?

Saya merasa ini terjadi karena perkembangan zaman yang semakin modern yang banyak menjanjikan hal-hal menarik, seperti sarana-sarana hiburan yang jauh lebih menarik. Hal ini justru sebaliknya yang terjadi jika dibandingkan dengan suasana di Seminari-seminari. Di mana para seminaris lebih banyak dituntut duduk manis di kamar untuk mendalami setumpuk buku pelajaran, di samping doa dan meditasi. Tetapi semoga suasana ini sudah semakin berubah.

Menurut anda apa saja yang menjadi keprihatinan, jika anda melihat calon-calon imam/bruder sekarang?

Ada dua hal yang bisa menjadi keprihatinan saya; pertama, saya melihat banyak calon hanya sekedar masuk seminari karena pelarian. Jadi motivasi inilah yang membuat para calon ibarat air yang sekedar mengalir tanpa ada kreativitas. Kedua, saya menyorot dari penghayatan hidup rohani/religius yang kadang-kadang kurang mendalam. Pada hal kalau mereka nanti menjadi imam/bruder ini yang salah satu pendukung hidupnya.

Terkait dengan keprihatinan tersebut, lalu apa yang menjadi harapan anda dan tentunya juga mewakili umat yang lain?

Satu hal yang kami harapkan sebagai umat adalah agar para calon imam/bruder sungguh mengolah kemurnian motivasinya ketika ia merasa tartarik untuk masuk ke seminari, dengan menyadari bahwa seminari menjadi tempat di mana para calon imam/ bruder dipersiapkan sehingga tidak sembarangorang yang masuk ke sana.
Saya mau tambahkan satu hal, bahwa meski sekarang ini minat anak remaja untuk masuk seminari kian merosot tetapi tetap saja masih ada yang mau mencoba, tentu saja ini menjadi kebanggaan trendier bagi kita semua. Artinya bahwa mereka itulah yang perlu kita dukung, agar kelak sungguh bisa sampai pada jenjang imamat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s