Keluar dari Seminari

Bogang anak Pak Bagong dipaksa bapaknya untuk masuk seminari menengah. Ia hanya bertahan sebulan., lalu mohon diri keluar dari seminari. Sampai di rumah, bapaknya bertanya kepada Bogang, mengapa ia keluar dari seminari. Bogang menjawab apa adanya, ” Di seminari makanannya tidak enak dan selalu tahu-tempe terus. Teman-teman Bogang juga nakal-nakal dan suka berantem. Apalagi kalau romo rektornya sedang pergi, mereka pasti mencuri kesempatan untuk ikutan pergi ke mana-mana.”

Lho, kamu ya jangan ikut-ikutan seperti mereka dong!” seru bapaknya.

”Bagaimana saya tidak boleh ikut-ikutan seperti mereka? Saya sendiri juga senang bila keluar bersama mereka untuk beli makanan tambahan atau nonton hiburan.” kata Bogang penuh kepolosan.

Panggilan khusus sebagai religius: imam, biarawan atau biarawati tidak ditentukan oleh orang lain, melainkan oleh suara hati sendiri. Mereka yang dipanggil secara pribadi menjawab pula secara pribadi kepada Allah yang telah memanggil. Tidak semua yang dipanggil menjawab dan yang menjawab belum tentu berlaku setia sampai mati. Dalam banyak hal bagi mereka yang telah menjawab, harus berani belajar hidup bersama dengan orang lain. Ibarat membentuk sebuah keluarga baru yang tentu akan mengalami banyak perbedaan dalam banyak hal.

Pakaian atau jubah merupakan bungkus luar yang melambangkan kesucian. Namun lebih penting bungkus hati terdalam lambang Hati Yesus sendiri. Kedalaman isi hati selalu dipengaruhi perilaku hidup sehari-hari. Maka berbahagialah orang yang hidup di dalam biara atau komunitas khusus dengan menggunakan bungkus Hati Yesus sebagai dasarnya. Dan jangan melupakan bahwa panggilan Allah secara khusus adalah melayani Allah dalam sesama, bukan untuk menguasai dalam segala hal. Melayani sesama berarti tidak membedakan seturut keinginan hati sendiri. Panggilan Allah sekaligus mengutus kita untuk menjadi saksi dan pewarta Kerajaan Allah yang menyatukan dalam terang. Alangkah bijaknya bagi mereka yang dipanggil Allah secara khusus tetap mengenakan senjata rohani guna penyangkalan diri dan pengendalian nafsu-nafsu yang tak teratur, agar tetap setia selama-lamanya.

”Tidak seorang pun yang datang kepada-Ku jikalu tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” (Yoh 6:44)

Fr. Daniel, re-write from: Mencari jejak kebijaksanaan lewat cerita
Marcu PAP, O. Carm.
Yayasan Pustaka Nusatama (2002)
Yogyakarta

Iklan

3 responses to “Keluar dari Seminari

  1. wooooww…bener bgt tuh….setiap dari kita memiliki panggilan unik dan itu hrs dijawab secara pribadi….nggak usah ikut2an deh….krn setiap org dipanggil Allah dg segala keunikannya…….

  2. nah, kalo ada orang yg memaksa untuk masuk seminari gimana? kerjanya minta nomer telpon, nelponin, minta ketemu, dateng ke rumah, maksudnya utk membujuk2 supaya saya masuk seminari.. saya sebel banget sama orang-orang ini..harus digimanain ini? tiap tahun ada aja orang2 dari kelompok ini[http://www.ftti.org/in/home.php] yang dateng..
    HELP!

  3. nah, kalo ada orang yg memaksa untuk masuk seminari gimana? kerjanya minta nomer telpon, nelponin, minta ketemu, dateng ke rumah, maksudnya utk membujuk2 supaya saya masuk pelatihan.. saya sebel banget sama orang-orang ini..harus digimanain ini? tiap tahun ada aja orang2 dari kelompok ini[http://www.ftti.org/in/home.php] yang dateng..
    HELP!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s