Bruder di antara Panggilan Religius lainnya

Panggilan menjadi Bruder tidak selalu dapat dengan mudah dipahami secara tepat, bahkan mungkin mereka yang tinggal dekat dengan kehidupan para Bruder itu sendiri. Orang sulit untuk mengerti mengapa ada panggilan menjadi bruder? Mengapa hanya menjadi Bruder? Bahkan ada yang mengatakan “Bruder adalah panggilan tanggung atau panggilan setengah-setengah”. Para Bruder hanya dikenal ketika mereka membantu mengajar komuni pertama, membantu membagi komuni, menjadi pengajar disekolah, mendampingi misdinar, legio dan hal-hal kecil lainnya. Sebuah peran yang kurang lebih sama dengan Peran para Pro Diakon. Ditambah lagi kadang kala para imam pun memperlakukan para Brudemya dengan sebelah mata, ketika diparokinya diberi Bruder Ada imam yang mengatakan “ah hanya ditemani Bruder, nantinya tidak akan banyak membentu toh mereka tidak bisa membantu misa”.

Bahkan dimana para Bruder yang bemaung dibawah biara Klerikal, para bruder seolah-olah menjadi tersisihkan apalagi mereka juga disekolahkan berbeda dengan para calon imam. Kalau para calon imam jelas setelah masa novisiat para frater langsung melanjutkan pendidikan disekolah filsafat Theologi, tetapi para Bruder mereka banyak yang menggantung. Sekolah yang mereka jalani seolah-olah menjadi sekolah kelas yang kesekian. Maka tidak mengherankan juga panggilan menjadi seorang Bruder menjadi kurang diminati bahkan tidak diminati. Bisa dikatakan hanya sedikit orang yang bisa men genal dan menggambarkan sosok para Bruder, mereka adalah orang-orang yang mungkin menjadi muridnya sewaktu disekolah, mereka yang mungkin tinggal diasrama yang didampingi para Bruder atau orang yang pemah mengenal para bruder secara lebih dekat.

Panggilan menjadi bruder sebenamya bagian dari seluruh p’anggilan hidup religius dimana dalam hidup religius ada yang menjadi imam, ada yang menjadi Suster, dan yang menjadi bruder. Tetapi kalau mau jujur jumlah orang yang mau menjadi Bruder sampai saat ini diseluruh dunia mungkin hanya 2000 orang. Bila dibandingan dengan mereka yang menjadi suster atau imam jelas tidak sepadan dan sebanding bahkan sangat jauh selisihnya. Memang harus diakui panggilan menjadi Bruder hanya diminati oleh sedikit kaum muda saja, mungkin hal itu dikarenakan kurangnya promosi dalam aksi panggilan atau bahkan kehidupan para bruder itu sendiri yang tidak begitu dikenal dikalangan umat dan kaum muda. Selain itu para Bruder sendiri kadang kala tidak bisa memunculkan kekhasan dari hidup mereka. Bahkan kadangkala para bruder sendiri tidak dapat menjelaskan secara mendalam dan tepat mengapa sebagai pribadi mereka memilih menjadi bruder. Para bruder sendiri tidak mencoba merumuskan secara pasti panggilan yang telah mereka pilih. Biasanya para bruder menganggap bahwa lebih baik umat melihat saja karya nyata yang dilakukan tanpa harus tahu siapa yang melakukan. Akhirnya banyak para bruder yang hanya bekerja dibelakang layar dan akhirnya mereka tidak dikenal.

Panggilan menjadi bruder dalam gereja merupakan salah satu kekayaan. Bruder sebagai pangilan juga seperti panggilan yang lainnya dipilih oleh Tuhan untuk mewartakan injil diseluruh dunia. Bruder adalah kumpulan para religius pria yang dipanggil Allah untuk membentuk satu kelompok dan melakukan karya-karya pelayan dimana karya – karya itu kadang kala memang sudah tidak ditangani lagi oleh para imam karena para imam akan lebih sibuk dengan tugas-tugasnya di paroki.

Bagi saya sendiri sebagai seorang bruder, untuk menjelaskan bruder itu apa kadang kala mengalami kesulitan. Apalagi mereka yang hanya melihat kehidupan kami. Maka tidak mengherankan kalau nada menggugat dari umat yang mengatakan “mengapa hanya menjadi bruder?” Mengapa memilih panggilan tanggung? Atau bahkan ada yang bertanya kapan mau berbalik menjadi pastor?” bahkan ada yang mengatakan yang mau jadi imam saja kurang mengapa harus jadi bruder. Atau nada nada menggugat yang lainnya. Panggilan menjadi bruder dipandang panggilan kelas dua. Maka tidak mengherankan panggilan menjadi bruder seolah-olah menjadi panggilan yang tersisihkan. Bahkan Banyak para bruder yang memposisikan diri seolah-olah seorang imam. Dan akhirnya panggilan menjadi bruder itu sendiri menjadi kabur.

Selain itu kalau saya sebagai bruder dalam tarekat MSF, satu hal yang kadang kala menjadi pertanyaan apa tugas khas yang dimiliki para bruder dalam tarekat ini. Sehingga tidak mengherankan ketika banyak orang menjadi heran bahwa dalam tarekat MSF ini ada brudernya. Bahkan dari kelompok religius lainnya juga kadang kala mengatakan “0 ternyata di MSF ada kelompok Brudernya”, setelah mereka bertemu dengan para brudernya sendiri.

Inilah sekarang yang menjadi keprihatinan dari kelompok Bruder MSF. Dimana para Bruder Belum diberi kesempatan untuk mempromosikan panggilan menjadi bruder seperti halnya untuk mencari panggilan calon imam. Memang mungkin para bruder sudah mempromosikan ketika mereka berkarya ditempat itu atau pada saat mereka pulang liburan. Tapi untuk menjaring calon bruder sebagaimana layaknya mencari para calon imam sepertinya belum terjadi. Maka mungkin saat ini kelompok yang sudah cukup berumur atau diakatakan yang sudah tua mulai menjadi prihatin kapan saya sebagai biarawan MSF bisa melihat kelompok Bruder yang muda berkembang atau paling tidak dapat melihat jumlahnya bertambah. Mudah-mudahan saja untuk kedepan kelompok para bruder MSF ini dapat berkembang dan mendapat perhatian secara lebih baik.

Br. Dominicus Danan Susilo MSF

Iklan

2 responses to “Bruder di antara Panggilan Religius lainnya

  1. Br Totok Purwanto, MSF

    Br Danan…apa kabar? Setelah membaca tulisan njenengan, saya yang di Propinsi Jawa juga mengalami hal yang sama. Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kita terkait panggilan sebagai seorang bruder yang “dinomer sekiankan” , panggilan tanggung, dll justru menjadi pintu untuk menjelaskan pelbagai kebahagiaan sebagai seorang bruder yang tidak dapat dialami oleh orang lain selain oleh seorang bruder. Bukan berarti tidak ada pergulatan yang menyakitkan tetapi saya yakin Br Danan dapat menemukan anugerah Tuhan yang kita alami sebagai bruder MSF. Kita bersyukur menjadi tarekat klerikal yang ada brudernya. karena dengan anugerah ini, kita justru semakin dapat melihat ke-bruder-an kita. Bagiku, dipanggil bruder bukanlah tujuan. yang lebih penting adalah dengan ke-bruder-an ini aku mampu menjadi berkat. Siapapun dia; entah imam, bruder, suster atau awam bila hidupnya tidak menjadi berkat bagi diri dan orang lain adalah orang yang paling malang dalam hidupnya. Salam buat para konfrater di Kalimantan.

  2. Menentukan jalan hidup masing-masing adalah kehendak kita yang didasari oleh sesuatu yang positif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s